PRINCESS AL GHUMAISHA

Once upon a time in a far desert land of Arabian Peninsula. There was a beautiful princess named Al Ghumaisha. She married to a brave and handsome prince named Malik bin An-Nadhr. They loved each other. They had a son named Sulaim. That was why Al Ghumaisha was also called ‘Ummu Sulaim’ (mother of Sulaim).

Even tough Ummu Sulaim and Malik bin An-Nadhr loved each other, they loved Allah more than anything in the world. They both praised Allah, because they realized that Allah had created all creatures and beautiful scenery in the world. They also realized that their love was blessed by Allah. That was why Malik An-Nadhr didn’t hesitate to wage war. He fought the enemies bravely in the name of Allah.

Unfortunately, Malik An-Nadhr was killed in the battle. Ummu Sulaim was upset for that. But she didn’t too sad, because she knew that her husband were still alive in the heaven. Everyday she prayed for her Malik An-Nadhr to Allah.

Knowing that Ummu Sulaim had been a widow, every man on that land wanted to marry her. Her beauty and her beautiful manner had attracted all men, including Abu Thalhah. Abu Thalhah was a brave warrior. He was a great archer. He was kind, handsome, and rich too. He loved Ummu Sulaim deeply. So then, he proposed Ummu Sulaim.

Ummu Sulaim then fell in love with Abu Thalhah. She wanted to be her wife. But unfortunately, Abu Thalhah was not a Moslem. He didn’t praise Allah. He worshiped sculptures. Ummu Sulaim couldn’t marry him, unless he became a Moslem. Then, Ummu Sulaim asked for a requirement. Abu Thalhah could marry her if he became a Moslem. “I ask your faith to Allah as a gift for our wedding,” said Ummu Sulaim.

For his true love, Abu Thalhah did anything to marry beautiful Ummu Sulaim. He then learnt much about Islam and being a Moslem. Finally, he praised Allah. He said, “I vow that no God but Allah and Muhammad is His messenger.” Ummu Sulaim was very happy to hear that. Then they married and lived happily ever after.

 ~ THE END ~ 


Al Ghumaisha, Putri Cantik Yang Mencintai Allah

Pada zaman dahulu kala di Jazirah Arab hidup seorang wanita cantik jelita bernama Al Ghumaisha. Ia menikah dengan seorang ksatria tampan dan gagah berani bernama Malik bin An-Nadhr. Keduanya saling mencintai. Mereka kemudian dikaruiniai seorang anak bernama Sulaim. Sejak itu, Al Ghumaisha dipanggil „Ummu Sulaim“ yang berarti ibu dari Sulaim.

Meskipun Ummu Sulaim dan Malik bin An-Nadhr saling mencintai, namun cinta mereka pada Allah SWT jauh lebih dalam. Mereka berdua beriman kepada Tuhan Pencipta alam semesta dan segala isinya, yaitu Allah SWT. Karena cintanya kepada Allah, Malik bin An-Nadhr tidak takut terjun ke medan perang untuk melawan musuh.

Pada suatu ketika, Malik An-Nadhr gugur di medan perang. Ummu Sulaim bersedih atas kepergian suami tercintanya. Namun kesedihan Ummu Sulaim tidaklah begitu mendalam, karena ia yakin bahwa suaminya telah berada di surga.

Kabar gugurnya suami Ummu Sulaim tersebar ke seluruh Jazirah Arab. Semua orang tahu bahwa Ummu Sulaim telah menjanda. Maka hampir semua pria  di Jazirah Arab ingin menikahi Ummu Sulaim. Mereka terpesona dengan kecantikan dan keluhuran budi Ummu Sulaim, termasuk Abu Thalhah.

Abu Thalhah adalah seorang ksatria pemberani. Ia seorang pemanah ulung yang kaya raya. Wajahnya tampan dan baik hatinya. Ia sangat mencintai Ummu Sulaim. Kemudian Abu Thalhah melamar Ummu Sulaim.

Ummu Sulaim pun jatuh cinta pada Abu Thalhah. Namun sayangnya Abu Thalhah belum beriman pada Allah SWT. Saat itu, Abu Thalhah masih menyembah berhala. Akhirnya, Ummu Sulaim mengajukan syarat pada Abu Thalhah. “Wahai Abu Thalhah, aku bersedia menjadi istrimu, jika engkau beriman pada Allah SWT dan rasul-Nya,” ujar Ummu Sulaim.

Demi cintanya, Abu Thalhah menyanggupi syarat itu. Akhirnya Abu Thalhah mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang muslim. Ummu Sulaim dan Abu Thalhah pun menikah. Mereka hidup bahagia selamanya.

~ TAMAT ~

Advertisements

Suatu Pagi di Surga

Suatu pagi di surga, seorang tokoh NU duduk di teras rumahnya yang asri. Dalam ketenangan pagi, ia khusyuk membolak-balik halaman kitab kuning seperti kebiasaannya di dunia dulu. Di meja sebelah, sepiring kacang rebus dan secangkir kopi susu mengepulkan asap hangat. Sesekali tokoh NU ini menjumput sebutir kacang rebus, membuka kulitnya, dan mengunyahnya pelan-pelan sambil matanya tak beranjak dari halaman buku yang tengah ia pegang.

Ini surga. Pagi di surga pastilah terasa sangat damai.

Tepat di depan rumah si tokoh NU, terdapat pula sebuah rumah yang tak kalah asrinya. Rumah itu terletak di seberang jalan. Bentuk, ukuran, keindahan serta kemewahan rumah itu persis sama seperti rumah jatah si tokoh NU itu. Pastilah kedua rumah itu merupakan hasil investasi yang sepadan.

Pintu rumah di seberang jalan itu membuka pelan. Sang pemilik keluar rumah menuju halaman depannya yang sangat indah. Wajah si pemilik rumah memancarkan cahaya yang menebarkan damai. Dulu di dunia, ia adalah seorang tokoh Muhammadiyah yang cukup dikenal. Intelektual yang rajin berdakwah, itulah dia.

Dan pagi itu, terkejutlah si tokoh Muhammadiyah itu, ketika ia dari halaman rumahnya memandang ke rumah tetangga di seberang jalan.

“Ya Allah, ya Rahman ya Rahim,” gumamnya, “Aku seperti kenal wajah tetangga di depan rumah itu.”

Bergegas, ia berjalan melintasi jalan di depan rumahnya untuk memastikan. Dugaannya benar. Orang di seberang jalan itu memang adalah orang yang dulu ia kenal di dunia.

Maka diucapkanlah salam. “Assalamualaikum.”

Sedikit terkejut, si tokoh NU di seberang jalan mengangkat pandangan dari kitab kuningnya, dan membalas salam, “wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh.”

Lalu makin terkejutlah ia ketika melihat siapa yang baru saja menyapanya. “Ya akhi, ternyata antum. Ngapain di sini?”

“Lah, itu juga yang saya ingin tanyakan sama panjenengan,” jawab si tokoh Muhammadiyah. “Ngapain anda di sini?”

“Saya tidak tahu mengapa saya ada di sini. Seingat saya semenjak usai yaumul-hisab tiba-tiba saja saya mendapati diri berada di tempat yang indah ini. Sangat menyenangkan.”

“Ya memang menyenangkan. Tapi yang bikin saya bingung, bagaimana anda bisa masuk surga?”

“Kenapa bingung ya akhi?”

“Bukankah di masa hidup dulu anda ini terkenal banget dengan ibadah yang penuh TBC, tahyul-bid’ah-churafat, itu. Anda seingat saya gemar sekali nyampur-nyampur ajaran agama dengan tradisi masyarakat. Anda itu senangnya menyanjung-nyanjung Rasulullah dengan cara yang mengkhawatirkan.”

“Mengkhawatirkan?” Tanya si tokoh NU.

“Iya, mengkhawatirkan, sebab mudah sekali membuat anda terjerumus pada mengkultuskan Muhammad.”

“Jadi, kenapa kalau mengkultuskan Muhammad?”

“Lho, itu kan bisa menggelincirkan orang pada syirik kalau tak hati-hati.”

“Lha iya, kan saya sudah hati-hati biar kultus itu tak berubah jadi syirik.”

“Anda ini gegabah. Dan itu yang bikin saya heran.”

“Heran gimana toh antum ini?”

“Ya saya heran, bagaimana bisa anda masuk surga”

“Lha ya itu. Apa antum kira saya tidak heran juga?”

“Lho kok heran juga. Apa maksudnya?”

“Ya saya ini heran juga. Kok bisa antum ini masuk surga. Padahal antum dulu sukanya beribadah yang minim-minim saja. Tidak ada afdhol-afdholnya sama sekali ibadah antum itu. Antum suka naruh Al Qur’an sembarangan, tergeletak begitu saja di meja, seperti buku-buku biasa. Dan bukankah antum dulu sering sekali salat idul fitri di tanggal 30 Ramadlan? Ck… ck… ck… ”

“Lho, itu hasil hisab.”

“Iya hasil hisab. Kami juga hisab dulu sebelum rukyat. Dan hasil hisab kami gak senekad antum itu.”

“Itu metode anda saja yang sudah ketinggalan jaman.”

“Ah kami selalu belajar ilmu falakh terbaru, dan metode kami juga terbaru. Tapi saya gak heran kalau dalam hal ini. Dari dulu antum ini paling susah kalau diminta untuk tawaddu’ ya akhi…”

“Terus, apa maksudnya?” Tanya si tokoh Muhammadiyah lagi.

“Ya maksudnya, antum ini kok bisa basuk surga. Saya heran.”

Keduanya lalu tertegun. Benar juga. Dengan dua ragam ibadah yang satu sama lain saling berbeda, mengapa keduanya bisa sama-sama masuk surga? Bahkan, rumah mereka pun sangat mirip.

Mereka berdua lalu memutuskan untuk mencari jawaban, apa sebenarnya yang membawa mereka ke surga. Si tokoh Muhammadiyah mengajak tetangganya si tokoh NU itu untuk masuk ke rumahnya. Berdua mereka menuju ke ruang kerja si tokoh Muhammadiyah, dan duduk di depan sebuah superkomputer yang teramat canggih. Komputer itu bisa mendeteksi niat dan tujuan penggunanya. Begitu kedua tokoh ini duduk dan menatap si komputer, alat ini pun mulai mengolah kata kunci yang terbaca di benak keduanya. Tak lama, di layar komputer muncullah hasil pencarian mereka.

Komputer itu mulai dengan menyajikan statistik amal ibadah kedua tokoh ini. Betapa mengesankan nilai ibadah mereka berdua. Masing-masing tersenyum bangga membaca catatan statisitk ibadah mereka.

Tapi senyum itu tak lama. Komputer kemudian mengkonversi prestasi ibadah mereka masing-masing ke dalam nilai tukar untuk membeli tiket ke surga. Ternyata, seluruh nilai ibadah mereka berdua itu tak memiliki nilai tukar yang berarti. Dengan seluruh prestasi ibadah itu, mereka tak akan sanggup membeli sekuntum bunga surga pun–apalagi rumah indah-mewah-megah seperti yang kini mereka tinggali.

Jadi, kata komputer itu, ibadah mereka mungkin bernilai, tapi nilainya sangat kecil.

Lalu apa yang membawa mereka berdua ke surga? Komputer menjawab, yang membawa mereka ke surga adalah ridla Allah.

“Apa yang membuat Allah ridla pada kami?” tanya mereka berdua.

“Hanya Allah yang tahu,” jawab si komputer.

“Lalu tak berguna sama sekalikah ibadah kami itu?”

“Tentu berguna. Ibadah itu adalah cara anda berdua untuk meminta ridla Allah.”

“Lha bagaimana dengan ibadah teman saya ini yang penuh bid’ah?” tanya si tokoh Muhammadiyah.

“Iya,” si tokoh NU menimpali cepat. “Bagaimana pula dengan ibadah dia yang serba minim dan hambar itu?”

“Dalam penilaian Allah yang penting adalah hati yang menggerakkan ibadah itu,” jawab si komputer, “dan bukan ragam-rinci ibadah itu sendiri.”

“Jadi dengan hati yang tulus, Allah me-ridlai kami?”

“Belum tentu juga. Ridla Allah ya sepenuhnya hak Allah.”

“Jadi, wahai komputer, ente pun tak bisa sepenuhnya tahu apa yang membuat Allah ridla?”

“Begitulah.”

“Ah, payah ente.”

“Lho, tapi saya tahu apa yang bisa membuat ridla Allah lenyap musnah.”

“Apa itu?”

“Kesombongan, dan hati yang merasa diri paling benar sedang orang lain pasti salah.”[]

Catatan: Cerpen ini pertama kali ditulis di http://agkarim.staff.ugm.ac.id/2007/10/22/suatu-pagi-di-surga/

LINGKARAN-LINGKARAN CINTA

http://cerpenonline.multiply.com/journal/item/1595/LINGKARAN-LINGKARAN_CINTA
It is a short story

VERTIGO*

Jam 6 pagi. Saatnya bangun dan mandi, lalu berangkat ke kantor. Duh, tapi kok pandanganku berputar-putar begini? Dinding kamar terlihat bergetar seperti ada gempa. Tapi aku yakin tidak terjadi gempa, karena aku masih merasakan badanku terbaring di tempat tidur.

Sekali lagi aku mencoba membelakakkan mata dan memfokuskan pandangan. Dinding dan langit-langit kamar tetap bergetar. Sepertinya gejala vertigo. Memang ini bukan yang pertama kali kualami. Sesekali pandangan bergetar macam ini pernah kualami, tapi aku tidak pernah memeriksakan diri ke dokter.

Well, sepertinya hari ini aku harus memeriksakan diri ke dokter sebelum vertigo-ku tambah parah. So, agenda berangkat kantor harus kubatalkan hari ini. Aku harus segera ke rumah sakit pagi-pagi agar dapat nomor antrian kecil. Phew… kebayang deh kalau harus menunggu berjam-jam di rumah sakit bersama para penderita penyakit yang beragam!

Habis mandi dan berganti pakaian aku langsung menuju RSUD Budi Asih yang tidak jauh dari rumah. Polikliniknya lumayan lengkap dan harganya tidak terlalu mahal. Sebuah pilihan pas

Jam 8 pagi. Sudah lumayan banyak yang antri. Aku sedikit telat karena harus bergerak pelan-pelan dengan pandangan yang kadang bergetar. Baiklah, aku harus menunggu dengan sabar bersama puluhan pasien lain.

“Jatining Siti!” seru petugas loket pendaftaran.

“Ya!” sahutku sambil setengah berlari menuju sumber suara.

“Mau ke poli apa, bu?”

“Umm… Kalau vertigo itu masuknya poli apa ya, mbak? Ke internis bukan?”

“Vertigo?” dahi petugas kasir itu berkerut. Kemudian ia memanggil temannya yang perawat dan mengulang pertanyaanku pada sang perawat. “Tunggu sebentar ya bu, kami tanyakan dulu,” ujar petugas kasir itu.

Setelah menunggu beberapa menit, namaku dipanggil lagi. “Maaf bu, vertigo bukan ke poli internis,” ujar petugas kasir itu.

“Coba ibu tanya ke bagian syaraf, apakah mereka menangani vertigo juga,” saran sang perawat.

Baiklah, aku menuruti saran petugas medis itu. Lalu aku melangkah menjauhi loket dan menebar pandangan mencari “poli syaraf”. Ternyata poli yang dimaksud tidak berada di bagian ini. Kemudian aku menuju loket lain yang (barangkali) melayani pasien poli syaraf. Ternyata di loket berikutnya tidak tertera tulisan “poli syaraf”. Mungkin di loket berikutnya lagi, pikirku.

Poli anak, poli THT, poli bedah, poli orthopedic, poli, poli, poli,…. Mana poli syaraf? Ini adalah loket terakhir. Jangan-jangan ada loket yang terlewat. Duh, pandanganku mulai bergetar lagi seperti ada gempa bumi. Namun lantai yang kupijak diam kukuh.  

Dengan sedikit terhuyung-huyung aku kembali ke loket pertama. Poli gigi, poli internis, poli umum, poli mata, poli… Mana poli syaraf? Loket dua. Poli kulit, poli kebidanan, poli teknik, poli phonic, poli, poli…. Oh my God, pandanganku kembali bergetar. Kali ini tambah berputar-putar. Kenapa kakiku rasanya tak lagi menapak? Kenapa badanku rasanya seberti terbaring? Tuhan, apa yang terjadi padaku…?

“Jati…”. Samar-samar aku mendengar namaku dipanggil. Siapa yang memanggil? Apakah petugas loket itu menemukan poli syaraf?

“Jati…”. Ya, ya, jawabku tanpa suara. “Jati…,” lanjut suara itu.

“Jat, kamu gak ke kantor? Sekarang sudah jam 6.15!!!” seru ibu sambil mengetuk pintu kamarku.

Ha….???!!!

***

Jakarta, 15 November 2007
*) kisah nyata tadi pagi.

Selengkapnya tentang vertigo, bisa dibaca di sini

Lingkaran-lingkaran Cinta

LINGKARAN-LINGKARAN CINTA

       “Selamat
malam, bidadariku,” sapa bintang-bintang. Mereka tersenyum menatapku. Kutahu
itu kau, pangeranku, karena kau kirim selamat malam lewat kilau gemintang di
langit.

      “Selamat
tidur, bidadariku,” sapa kelinci bulan yang setia mengawasiku setiap purnama.
“Pangeranmu selalu merindukanmu,” lanjutnya sambil mengerlingkan mata. Lalu
kecup selamat malam mendarat di pipiku lewat sang bayu. “Semoga mimpi indah,
bidadariku,” ujarmu.

      Kini, kilau
bintang-bintang itu memudar. Mereka tersenyum malu sambil melirik kilau di jari
manis kananku. Sang bayu pun urung berhembus tatkala kugamit jemari pangeranku,
dan langit malam pun memandang cemburu. Sebab kini kaulah yang membelai pipiku,
kau kecup selamat malam, dan kau belai jemariku dengan lembut.

      Mata beningmu
penuh cinta, mata yang selalu menatap tajam ke detak jantungku. Sambil
menggamit erat tanganku, kau belai lingkaran cinta di jariku. Kurasakan getaran
pada lingkaran-lingkaran cinta di jemari kita. Perlahan kau kecup kedua
tanganku. 

      Kilau
lingkaran-lingkaran cinta kita mengalahkan purnama. Kerlip berliannya membuat
gemintang pun malu. Lingkaran-lingkaran cinta ini memancarkan ikatan abadi
penyatuan suci kita. Karenanya, tak lagi kuarungi langit malam untuk menemuimu.

      Lingkaran
cinta pada jemari kita menjadi saksi ikrar suci ini. Pantulan sinar putihnya
bercerita banyak tentang cinta suci kita. Karena padamu kulabuhkan bidukku, dan
cincin platina bertabur berlian ini adalah tambatnya. Semoga penyatuan ini
kekal hingga di surga nanti, karena kita adalah perwujudan lingkaran cinta
suci. Aku bidadarimu, dan kau pangeranku. []

Mama, Aku Mau Nikah

“Mama, aku mau nikah”

“Becanda kamu…”

“Serius ma”

“Lha wong mbak-mu saja belum menikah”

“Terus masalahnya apa?”

“Ya gak bisa lah!”

“Lho, kok gak bisa?”

“Ya iya laah!”

“Ha…?”

“Apa kamu gak mikirin perasaan kakakmu?”

“Jadi, aku harus gimana??”

“Ya sabarlah sampai kakakmu menikah”

“HA?? Menunggu sampai kapan ma? Si mbak aja belum punya
calon”

“Memangnya kamu sudah punya calon?”

“Insyaallah sudah ma”

“…….”

“Mama, are you okay?”

“Kamu gimana sih?? Sebagai adik kamu mestinya
empati sama
kakakmu dong!! Pastinya mbak-mu sakit hati lah kalau dia dilangkah sama
adiknya. Lagipula, kok kamu gak mikirin kakak sendiri sih? Kenapa gak
calonmu buat mbak-mu saja? Kan
mbak-mu lebih ‘urgent’ untuk segera menikah. Umurnya sudah kepala tiga! Kamu
sadar gak sih???!!!”

“Ma, Mama… sadar ma. Ini Toni ma, anak laki-laki mama.…”

~END~