Breastfeeding Family

“Mbak kok pake breast pad segala? Emang ASI-nya sampe ngerembes?” tanya seorang akhwat yang baru sepekan jadi ibu.

“Iya mbak. Kalo gak, baju saya bisa basah,” jawabku sambil membetulkan posisi Kai yang asik nenen di ruang menyusui RS JIH. Saat itu aku baru 4 hari jadi ibu.

“Kok bisa mbak? ASI saya kok sedikit ya? Padahal saya sudah banyak makan, minum madu, makan daun katuk, tapi ASI-nya sedikit. Sampai-sampai keluarga saya suruh kasih sufor. Padahal saya kan ingin ASI eksklusif,” curhat sang akhwat.

“Faktor psikologis kali mbak. Kata orang, stres mempengaruhi produksi ASI,” jawabku sekenanya.

“Iya kali ya? Barangkali saya stres. Habis, setiap ada apa-apa dengan bayi saya, pasti saya disalahi keluarga, mertua, termasuk suami saya sendiri,” ujar sang akhwat lirih sambil memandang bayi laki-laki yg sdg disusuinya. “Mana saya di-caesar, jadi butuh recovery lebih lama. Sementara keluarga menuntut macam-macam. Kemarin aja, waktu bayi saya sempat kuning, saya lagi yang disalahin..”

Astaghfirullah.. Aku turut prihatin mendengar curhat spontan akhwat tersebut. Bagaimana seorang ibu baru yang belum berpengalaman dituntut ‘sempurna’ oleh keluarganya, mana tidak dapat dukungan, bahkan oleh suaminya sendiri. Padahal jika suami dan keluarga besar mendukung ibu menyusui, mereka ikut ‘menyusui’ seorang bayi dan turut membesarkan dengan baik seorang anak manusia.

Advertisements