You Will When You Believe

There can be miracles
When you believe
Through hope is frail
It’s hard to kill
Who knows what miracles you can achieve
When you believe
Somehow you will
You will when you believe

(“When You Believe” sung by Mariah Carey & Withney Houston)

Dalam 3 tahun ini, 2 buku–selain Al Qur’an–yang paling sering kubaca adalah “Quantum Ikhlas” dan “Law of Attraction“. Selain karena bukunya handy dan mudah dipahami, tapi alasan utama sering baca buku itu adalah karena BUTUH. Yup, aku butuh diingatkan bahwa apa yang kita inginkan sesungguhnya telah tersedia di alam raya ini, tinggal bagaimana kita meraihnya.

Sering aku mendengar keluhan orang-orang di sekelilingku tentang keinginan-keinginan yang tidak tercapai. Sebenarnya,–menurut 2 buku itu–bukan keinginan itu yang tidak tercapai, tapi mereka tidak berusaha meraihnya. Mereka terlalu fokus pada hal-hal yang TIDAK mereka inginkan, bukan pada APA YANG DIINGINKAN.

Jujur, aku pun kadang terjebak pada pikiran seperti yang dikeluhkan oleh orang-orang di sekelilingku itu. Itulah sebabnya aku butuh diingatkan bahwa Allah memperkenankan setiap doa, dimana doa adalah keinginan. Aku butuh diingatkan bahwa Rasulullah berpesan agar kita selalu yakin dalam memanjatkan doa. Dan salah satu upayanya dengan membaca lagi 2 buku itu.

Well, sebenarnya ada banyak banget buku motivasi yang bisa dibaca yang menurutku intinya sih sama aja… tapi karena kebetulan cuma punya 2 buku itu dan aku suka bangett, pas gitu di otak dan di hati … jadi ya yang dibaca itu. Apalagi buku “Quantum Ikhlas” memaparkannya lewat perspektif Al Qur’an, jadi ya cucok deh buatku yang muslim.

Sedikit sharing… Aku membaca ulang buku itu dan mempraktekkannya ketika ingin hamil dan menjelang persalinan. Alhamdulillah Allah mengabulkan apa yang kuinginkan!!! Ini bener lho, gak lebay.

Masih terngiang dalam ingatan rasa takut memasuki bulan ke-9. Yup, ada sedikit ketakutan untuk melahirkan, baik normal maupun cesar…. Meskipun lebih takut kalo melahirkan cesar sih . Selain karena takes plenty of money, melahirkan cesar yang aku tahu resikonya lebih banyak ketimbang normal. Dan aku adalah orang yang suka segala sesuatu yang alami.

Karena itulah aku tidak memfokuskan pikiranku pada hal-hal yang TIDAK aku inginkan, tetapi fokus pada apa yang AKU INGINKAN, yaitu: insyaallah aku melahirkan dengan mudah dan alami. Alhamdulillah itulah yang aku alami.

Selain memanjatkan apa yang aku inginkan lewat doa, ikhtiar atau usaha tentu saja diperlukan. Usaha dan doa adalah 2 hal yang tidak bisa dipisahkan, mereka berjalan beriringan, dimana jerih payah kita akan memperkuat keyakinan terkabulnya doa kita, dan doa adalah spirit yang menjiwai usaha.

Karena itulah aku rajin berenang setiap pekan agar dapat melahirkan dengan mudah dan alami–selain karena hobi dan manfaat olah raga tentunya . Selain berenang, aku juga rajin yoga untuk ibu hamil (senam hamil) di rumah dengan instrukturnya VCD . Dan karena aku orang visual, maka berkali-kali aku putar video animasi 3D proses kelahiran alami yang kuunduh dari youtube.

Lantas, apakah ketakutan-ketakutan itu hilang? Tidak. Aku berdamai dengan ketakutanku. Aku yakin, ketakutan atau kekhawatiran itu ada agar kita bertindak antisipatif. Yup, aku tetap melakukan langkah antisipatif terhadap ketakutanku itu–tetapi tidak fokus di situ lho–antara lain dengan menabung sejak usia kandungan 1 bulan, jaga-jaga kalau aku terpaksa di-cesar. Selain itu juga berusaha menetralkan pikiran tentang kelahiran cesar.

Ketakutan pada rasa sakit menjelang persalinan normal juga aku antisipasi dengan mempelajari beberapa pose melahirkan dan teknik pernapasan. Di samping tas travel persiapan melahirkan, aku juga menyiapkan 1 kantong plastik besar berisi bantal empuk yang sudah disarungi sarung bantal katun yang adem. Sekedar jaga-jaga kalau aku harus berjam-jam menahan mules/rasa sakit di RS. Berbagai mp3 musik-musik relaksasi dan murotal juga sudah aku copy ke ponsel. Karena aku tidak ingin memakai obat penghilang rasa sakit.

Hasilnya? Alhamdulillahirabbil’alamin bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan… proses melahirkanku lancar, mudah dan alami persis seperti apa yang aku inginkan. Hanya 2,5 jam mules, terus langsung brojol. Dan aku tidak membutuhkan musik relaksasi dan bantal empuk. Alhamdulillah…. Allah tidak pernah ingkar janji, bahwa Dia pasti memperkenankan doa hamba-Nya.

Semoga curhat ini bermanfaat buat yang baca dan juga buat mengingatkan diriku sendiri. Yakinlah, You will when you believe!

Lancar Melahirkan Berkat Renang?

”Cepet banget bu, sudah bukaan 9. Jarang-jarang lho anak pertama cepat begini,” ujar bidan jaga saat memeriksaku di ruang bersalin.

Banyak yang bilang, proses bersalinku termasuk lancar dan cepat. Hanya 2,5 jam sejak mulai kontraksi hingga brojol. Bahkan saat tiba di RS ternyata sudah pembukaan 9 dan siap mengejan. Malahan sehari sebelumnya masih berenang. Yah.. Alhamdulillah, sudah dilancarkan Allah.

“Mungkin berkat rajin berenang,” ujar suamiku. Emang sih, sejak kehamilan 4 bulan, tiap pekan aku rajin berenang. Selain karena hobi, yang kutahu, renang adalah olah raga yang aman utk ibu hamil. Alhasil, selama hamil Kai, aku terhindar dari nyeri punggung, fit selalu, dan alhamdulillah melahirkan dg lancar. Wallahua’lam :-)…

Kronologi Kelahiran Putra Pertama Kami (Part 2)

04.15: ketika mules mereda, segera meluncur ke JIH
04.20: terjebak macetan Pasar tumpah Kramat Jati dan angkot ngetem Suamiku turun ke jalan dan menegur para supir angkot yg ngetem, “Bang, maju dong. Istri saya mau ngelahirin!”
04.30: setelah terbebas sedikit dari kemacetan, kami putar balik, mengambil jalan alternatif lewat Condet
04.50: sampai di JIH. Bidan jaga menyatakan aku sudah bukaan 9
05.35: dr Prita tiba di ruang bersalin
06.10: dengan dibantu dr Prita, didampingi bidan Dian di sebelah kanan dan suamiku di sebelah kiri, alhamdulillah lahir dg selamat putra pertama kami, Kairo Mujahid Tangguh.
06.11: prosesi IMD. Kai diazani bapaknya saat IMD berlangsung selama 1 jam.

Jakarta, 18 Januari 2011
Mbakje & Masyekh

Kronologi Kelahiran Putra Pertama Kami

03.00: terbangun krn ngompol. Belakangan baru tahu klo itu pecah ketuban
03.15: kembali tidur
03.31: mules ringan
03.37: mules lagi
03.41: mules lagi, kali ini mulai sakit
03.52: mules tak tertahankan
04.00: suamiku menelpon Jakarta Islamic Hospital (JIH) memastikan apakah ini tanda2 melahirkan
04.05: suamiku menelpon tetangga yg punya mobil
04.10: mobil siap, tapi aku payah untuk berjalan krn gelombang mules yg menghebat

Diantar Jemput Suami, Emang Harus Ya?

“Dijemput ya?”, “Dijemput suami?”, “Diantar suami?”, atau “Kok gak dijemput suami?”

Demikian pertanyaan yang dilontarkan hampir beribu kali kepadaku setiap mau pulang kantor atau baru tiba dari kantor. “Emang harus ya?” pikirku.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin sering dilontarkan ketika aku hamil. Yah, aku mengerti, ‘lazimnya’ di negeri ini memang para suami mengantar dan jemput istrinya, termasuk ke kantor.

Jujur saja, suamiku mengantar atau menjemputku ke dan dari kantor bisa dihitung dengan jari. Kecewa? Tidak juga. Malah seringkali kupikir sangat tidak praktis dan tidak hemat jika suamiku harus mengantar dan menjemputku ke kantor. Pasalnya, kantor suamiku dekat sekali dari rumah. Sementara kantorku kurang lebih 1 jam perjalanan kalo kena macet.

Apakah kondisi ini mengharuskan suamiku mengantar-jemput aku? Padahal kami tidak punya kendaraan, sehingga kalaupun mengantarjemput, pasti kami naik kendaraan umum. Malah berat di ongkos toh? Selain itu, rute perjalanannnya pun ‘ngepot’. Kalau aku menunggu dijemput, bisa-bisa aku pulang lebih malam. Atau jika aku harus diantar, suamiku jadi terlambat ke kantor.

Yah… mungkin jalan pikiran orang emang beda-beda. Yang jelas, diantar/dijemput atau tidak oleh suami, bukan berarti dia gak sayang kan… apalagi kalau ternyata ‘cintaku habis di ongkos’. Lebih baik ongkos bensin atau kendaraan umumnya dialihkan ke pos pengeluaran yang lebih bermanfaat… Jadi makin sayaaaang dech!

Balada Ibu Hamil dan Supir Angkot

Karena perut yang semakin mancung dan susah membungkuk, setiap naik angkot, Ibu Hamil memilih duduk di kursi depan samping pak supir.

Supir angkot : (nampak bosan dengan kemacetan, lalu mengambil sebatang rokok dan korek api dari dashboard)

Ibu hamil : “Maaf Bang, ngerokoknya bisa nanti aja gak setelah saya turun? Saya turun di Cililitan kok”

Supir angkot : “Oh iya, gak papa, bu. Nah… kalo ngomong gini kan enak. Daripada diem aja, terus tutup idung. Ntar dikira saya gak mandi dua hari”

Ibu hamil : “Hahaha… si Abang bisa ajah”.

Balada Ibu Hamil dan Busway

Ibu hamil terpaksa naik bus transjakarta yang lumayan padat, karena sudah setengah jam lebih menunggu tak kunjung ada bus yang ‘kosong’. Alhasil ibu hamil harus berdiri bergelantungan di dekat pintu, meskipun seorang pemuda ABG duduk nyaman di dekatnya.

Tiba-tiba seorang bapak setengah baya yang duduk di dekat pemuda ABG tersebut berdiri sambil berteriak, “Bu, duduk sini bu! Anak-anak muda ini pada gak tahu diri.”.

Balada Ibu Hamil dan Kopaja

Kenek Kopaja : Tugu Tani kiri!!!

(Supir Kopaja ngerem mendadak sehingga penumpang yang berdiri hampir jatuh)

Kenek Kopaja : Ibu turun dimana? Tugu Tani di sini!

Ibu Hamil : (bergeming di dekat pintu Kopaja)

(Supir Kopaja kembali menarik gas dengan kencang sehingga tubuh penumpang berguncang dan yang berdiri harus berpegang erat pada tiang agar tidak jatuh)

Kenek Kopaja : Ayo bu, buruan turun! (sementara posisi Kopaja ada di tengah jalan dan belum direm)

Ibu Hamil : (bergeming di dekat pintu Kopaja)

Supir Kopaja : (mengurangi gas sehingga laju Kopaja menjadi perlahan, tapi tidak berhenti sempurna. Posisi Kopaja masih di tengah jalan) Buruan turun, bu! Mau turun dimana sih?!

Ibu Hamil : Abang mau saya jatuh ya?!

(Sejurus kemudian lampu lalu lintas menyala merah. Supir bus mengerem kendaraan dengan sempurna. Lalu ibu hamil dapat turun dengan aman dan selamat).

Bayi Sungsang Lebih Aman Lahir Alami

PARA peneliti di Universitas Tel Aviv menyatakan bahwa dalam beberapa kondisi, persalinan alamiah melalui vagina bagi bayi sungsang dinilai lebih aman tak hanya untuk bayi, tapi juga bagi sang ibu.

Khusus bagi bayi sungsang yakni bayi yang lahir dengan posisi pantat atau kaki yang keluar pertama kali, biasanya dokter akan segera melakukan operasi caesar. Namun, Prof Marek Glezerman dan koleganya memercayai bahwa melahirkan bayi sungsang dengan cara tradisional lebih aman bagi ibu dan bayi.

Pada caesar, prosedur operasi pembedahan, C-section, tak hanya berisiko bagi perempuan karena tak akan menyebabkan risiko tidak dapat menyusui, tapi juga menimbulkan risiko pada kehamilan yang berikutnya.

Bila seorang perempuan telah menjalani operasi kelahiran C-section, biasanya ia berpeluang kecil untuk dapat melahirkan secara alami pada kehamilan berikutnya karena dinding dan otot rahim berisiko pecah.

Glezerman mengatakan kelahiran dengan operasi memang dinilai lebih aman dan mudah bagi bayi sungsang jika dibandingkan dengan persalinan alami. Meski begitu, nyatanya semakin hari semakin banyak perempuan yang menginginkan persalinan secara alami.

“Pengetahuan orang mengenai kelahiran secara alami semakin berkurang saja dan para dokter senior pun makin kurang dalam menyosialisasikannya. Maka itu, ke depan, kita semestinya mesti mempelajari kembali apa yang telah dilupakan,” katanya. (Pri/OL-06)

Saran Dokter Yang Menyesatkan

Peristiwa ini terjadi beberapa bulan lalu, saat usia kandunganku masuk 13 minggu. Saat di kantor aku merasakan otot-otot perut, panggul, dan (maaf) wilayah sekitar dubur kok senut-senut. Buat duduk gak nyaman, buat jalan juga sakit, apalagi kalo dari duduk ke berdiri, aduh rek! Aku pikir ini ada hubungannya dengan hemorrhoids. Karena rasanya mirip ketika hemorrhoids-ku kambuh saat SMA dulu. Berhubung sampai menjelang pulang kantor, rasa sakitnya gak ilang-ilang, akhirnya aku memutuskan pulang naik taksi.

Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan tidur dengan harapan besok segera pulih. Namun esoknya, ketika hendak bangkit dari tempat tidur untuk wudhu sholat subuh, sakitnya gak ketulungan. Perut rasanya seperti diiris-iris. Bergerak sedikit saja sakitnya bukan main. Sehingga aku membutuhkan waktu setidaknya 15 menit plus meringis-ringis hanya untuk bangkit dari tempat tidur. Lalu dengan sangat perlahan dan posisi tubuh sedikit membungkuk, terhuyung-huyung aku menuju kamar mandi.

Usai sholat shubuh aku memutuskan untuk periksa ke RS terdekat. Usai mandi dan sarapan kaya akan serat–karena saat itu aku yakin sakit ini karena hemorrhoids–aku langsung ke RS sendirian. Ibuku tidak bisa mengantar karena ada perlu. Suamiku pun sedang tugas ke Kairo.

“Mbak, ke poli umum,” ujarku pada petugas kasir pendaftaran pasien.
“Poli umum gak ada, mbak. Memang keluhannya apa?”
“Saya sedang hamil 3 bulan, dan hemorrhoids saya kambuh,” ujarku.
“Kalo gitu ke poli kebidanan saja ya mbak. Letak poli-nya di lantai 4 ya,” ujarnya ramah.

Setelah membayar uang pendaftaran dan menerima nomor antrian pertama di poli kebidanan, langsung aku menuju lantai 4. Masih jam 7.00 pagi saat itu dan lantai 4 masih sepi. Kubunuh waktu dengan membaca “The Baby Book” sambil selonjoran di kursi tunggu pasien yang masih melompong.

Jam 9.00 dokter belum datang, namun para perawat yang bertugas mengukur tensi, menimbang badan, dan mencatat keluhan pasien di medical record sudah siap di ruang periksa. Ketika namaku dipanggil aku masuk. Setelah ditensi dan ditimbang, sang perawat menanyakan keluhanku.

“Saya hamil 3 bulan, hemorrhoids saya kambuh,” ujarku.
“Lho, bu. Kalo hemorrhoids ke poli bedah,” ujar sang perawat.
“Lho, tadi pas di pendaftaran saya disuruh ke kebidanan?!”
“Sekarang ibu ingin diobati kehamilannya apa hemorrhoids-nya?”
“Ya hemorrhoids-nya,” ujarku mulai sewot.
“Kalo gitu ibu mesti ke tempat pendaftaran lagi di lantai 2.”
“Jadi, saya harus turun lagi??!!!”
“Ya harus begitu, bu.”
Dengan menahan emosi, aku bangkit sambil menahan nyeri dan berkata sinis, “Terima kasih suster atas pelayanannya yang sangat ‘memuaskan'”.

Sambil menahan nyeri, aku kembali antri ke tempat pendaftaran pasien untuk tukar poli. Walhasil aku mendapat nomor antrian ke-48 di pol bedah.

Dengan basmallah aku menuju ruang tunggu poli bedah yang ramai. Tak kutemui satu pun kursi kosong di situ, sehingga aku tak bisa mengistirahatkan diriku. Tak dapat kubayangkan kalau aku harus menunggu sampai nomor antrian ke-48, padahal saat itu baru pasien nomor 9 yang diperiksa.

Sekali lagi dengan basmallah, aku mencoba masuk ke ruang poli bedah dan menjelaskan kesalahan prosedur yang aku alami. Untungnya perawat yang sedang bertugas sudah kukenal. Ia biasa dipanggil “Teh Entin”. Orangnya baik dan sabar. Dengan gaya SKSD (Sok Kenal Sok Deket. Red), aku dekati dia. Dengan Bahasa Sunda, kujelaskan duduk perkara masalahku. Alhamdulillah dia paham dan mau membantuku.

“Udah, Jatining duduk aja di sini. Abis ini langsung diperiksa,” ujar Teh Entin mantap. Terima kasih, ya Allah.

“Hemorrhoidsnya gak apa-apa kok. Cuma ada bekas luka aja, tapi kayaknya udah lama sekali,” ujar dokter usai memeriksaku. Bekas luka itu pasti waktu hemorrhoids-ku kambuh saat SMA dulu, pikirku.

“Ini gak apa-apa kok. Banyak jalan aja, banyak olah raga, dan makan makanan berserat,” ujar dokter.
“Tapi kok sekeliling perut saya sakit banget ya dok?”
“Gak apa-apa kok. Banyak jalan aja,” ulangnya. Kemudian sang dokter meresepkan obat.
“Lho dok, pake obat segala? Katanya saya gak apa-apa.”
“Lha itu ada bekas luka.”
“Kan bekas lukanya udah lama. Dokter sendiri yang bilang.” Kulihat sang dokter menatapku setengah kesal.

“Maaf, bisa tolong dijelaskan ini obatnya apa aja?” Ini adalah pertanyaan wajibku setiap kali berobat.
Dengan nada setengah kesal, ia menjelaskan, “Ini antibiotik…”
“Antibiotik? Kan saya nggak infeksi dok. Kok dikasih antibiotik?”
“Lha itu ada lukanya!”
“Kan dokter bilang tadi itu bekas luka? Lagipula saya kan nggak demam, dok.”
“Lha siapa suruh?” jawab dokter itu kehabisan kata-kata. Aku hanya diam menatapnya.
“Terus, apa lagi obatnya, dok?” lanjutku.
“Udah, tanya aja nanti di apotek,” sahutnya kesal. Masyaallah… baru kali ini kutemui dokter yang sangat tidak kooperatif. Bukankah hakku sebagai pasien untuk mengetahui apa yang diresepkan dokter? Aku tidak mau kasus macam Prita Mulyasari terjadi padaku.

Sambil terus memegangi perut karena menahan sakit, aku meninggalkan RS. Tak satu pun resep dokter kutebus. Satu-satunya saran dokter spesialis bedah yang kuturuti adalah BANYAK JALAN. Maka kuputuskan untuk menuju pasar swalayan untuk sekedar berjalan dan membeli buah dan sayur.

Tapi oh la la… Saat harus mengantri menimbang buah, aku sungguh tak sanggup untuk berdiri. Maka aku mengantri sambil berjongkok. Sumpah, aku sudah tak tahan lagi. Usai menimbang, aku langsung menuju kasir untuk membayar semua belanjaan, kemudian pulang.

Di rumah aku sendirian, karena ibu masih sibuk dengan urusannya. Aku hanya bisa rebah di tempat tidur. Kumandang azan zuhur mengudara. Aku tak sanggup bangkit untuk sekedar berwudhu. Maka aku tayamum dan sholat sambil duduk. Aku lapar, tapi tak sanggup untuk memasak makanan. Ya Allah… apa yang terjadi padaku? Padahal aku sudah mencoba banyak jalan seperti saran dokter, tapi kenapa malah tambah sakit?

Lalu kutelepon kenalan seorang bidan dan kujelaskan kondisiku. “Oh, itu namanya kontraksi mbak. Justru jangan banyak jalan, harus berbaring saja,” ujarnya. Masyaallah… sungguh menyesatkan saran dokter bedah tersebut. Alhamdulillah setelah diperiksa ke dokter kandungan keesokan harinya, bayiku baik-baik saja dan aku disuruh bedrest 5 hari. []