Kosa Kata Baru Kai (19m)

Anakku, Kai (19 bulan), lagi bawel-bawelnya. Kecuali sedang tidur, mulut kecilnya pasti mengeluarkan suara. Yang diucapkannya pun sangat beragam, mulai dari kata atau kalimat yang biasa didengarnya, sampai meniru geraman atau suara orang batuk. Tapi Kai bukanlah tipe anak yang dominan. Ketika ada orang lain yang mendominasi keadaan (atau percakapan), maka ia akan diam menyimak.

Saat libur Lebaran kemarin, seorang kawan lama main ke rumah bersama suami dan anaknya yang masih 3,5 tahun.

“Waah, Kai sudah besar! Mana nih celotehannya?” ujar temanku itu, “Kalau di telepon Kai bawel ya. Suaranya kedengeran. Kok ini diem aja?” lanjutnya.

Singkat cerita, anak temanku yang masih 3,5 tahun dan sedang aktif-aktifnya itu ‘menjajah’ mainan Kai. Alhasil, mainan Kai yang tadinya tertata rapi jadi berantakan di ruang tengah. “Aduuuuh, berantakan!” jerit temanku itu. Sebuah ekspresi wajar seorang ibu atas perilaku anaknya yang membuat berantakan rumah orang.

“Ayo Hafid, diberesin lagi mainannya! Tuh, kan jadi berantakan!” ujar temanku setengah panik. Namun Hafidh bergeming. Ia malah mengajak Kai main bersama 🙂 Kai sebagai empunya mainan pun diam saja menyimak keadaan. Aku maklum. Kai selalu bersikap pasif terhadap orang yang baru dikenalnya.

Singkat cerita lagi, Kai tidak mengeluarkan suara sampai temanku itu pamit pulang. Ketika rumah kami sudah sepi, aku pun membereskan cangkir dan cawan bekas minum tamu. Mainan Kai yang masih berantakan belum sempat kubereskan. Dan Kai pun mengeluarkan kosa kata baru sambil menunjuk mainannya, “ADUUUH, BERANTAKAN!” 😀

Diposting juga di sini https://mbakje.wordpress.com/2012/08/28/kosa-kata-baru-kai/

Anakmu Bukan Anakmu

Puisi karya Kahlil Gibran ini adalah favorit saya, karena selalu menyadarkan diri yang ‘serakah’ ini akan hakikat kehidupan dan menjalankan amanah Tuhan sebagai orang tua

Anakmu Bukan Anakmu
Anak adalah kehidupan,
mereka sekedar lahir melaluimu
tetapi bukan berasal darimu

Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayangmu tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya,
karena jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun

Bisa saja mereka mirip dirimu,
tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan,
dan tidak tenggelam di masa lampau

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur
Sang Pemanah Mahatahu sasaran bidikan keabadian
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap

Kai ngaji

Daftar Kosakata Kai (14m)

Nene (nenen)
Ibu
Bapak
Apa tuh
Sapa tuh
Ituh
Amma (Al Ma’tsurat atau Al Quran)
Bobok
Popok
Ganti popok
Mamam
Mmooo (suara sapi)
Auumm (suara singa)
Uuuu (kukuruyuk)
Ck ck ck (suara cicak)
Ditutup
Tata (tante)
Duduk
Bababa (laba-laba)
….

Wasiat untuk anakku

- Kuasai Bahasa Arab, karena al-Quran & hadits berbahasa Arab.
– Kuasai Bahasa Inggris, karena Bahasa Inggris adalah bahasa teknologi.
– Pahami al-Quran, lalu amalkan.
– Pelajari sejarah, agar kau lebih arif memandang hidup.
– Ikatlah ilmu dg menuliskannya.
– Peduli & empatilah terhadap sesama makhluk Allah.
– Hiduplah dg sederhana, jauhi bermewah-mewahan.
– Miliki sebanyak mungkin aset, lalu infakkan sebagian hartamu.
– Teruslah bermimpi dan berusaha untuk meraihnya.
– Jangan pernah menyerah & bersedih hati, karena Allah selalu bersamamu.

Jakarta, 3 Nov 2011

Untuk Anakku

Mungkin kau hanya mengenalku di akhir pekan
karena di hari-hari lain aku harus berkejaran dengan waktu
demi seonggok materi agar perutmu tetap terisi

Mungkin kau hanya mengenalku di penghujung hari
kala kantukmu tak tertahankan
hingga kau tertidur nyaman dalam dekapanku

Mungkin kau hanya mengenalku dalam gelap malam
saat tidurmu terusik oleh dahaga
atau karena popokmu yang basah

Mungkin kau hanya mengenalku di pintu pagar
kala aku hendak pergi di awal hari dan kembali lagi di penghujung hari

Mungkin kau hanya mengenalku lewat air susuku
yang dengan segenap kasih kualirkan ke dalam bejana-bejana cinta

Mungkin kau hanya mengenalku lewat hidangan sehat yang kau santap
yang kubuat dengan sepenuh hati saat kau masih terlelap

Mungkin aku tak pernah hadir setiap kau merayakan kemampuan barumu untuk pertama kali,
kala gigi pertamamu tumbuh
kala kau mampu duduk sendiri tanpa ditopang
kala kedua kakimu mulai bertumpu
atau kala langkah perdanamu berhasil membuatmu berjalan

Mungkin aku bagai sosok tak kasat mata buatmu
Karena aku tak selalu di sisimu
Karena aku jarang bermain denganmu
Namun tak mengapa bagiku
Karena cintaku buatmu tak pernah surut
Sebab Sang Pencipta pun tak pernah nampak di hadapanmu
Namun kasih sayang-Nya begitu nyata

I love you, my dear son…

Jakarta, 1 Oktober 2011

Smile Kai


Senyum (lebih tepatnya KETAWA) Kai 7 bln 😀

Kai ternyata murah senyum. Sejak masih usia 1 bulan Kai suka tersenyum. Ternyata sampai sekarang Kai masih suka melempar senyum, sehingga membuat orang yang melihatnya pun turut tersenyum. Bahkan terkadang Kai tertawa terbahak-bahak sampai terbatuk-batuk atau cegukan kalau melihat hal lucu, sehingga yang memandangnya pun ikut tertawa 😀

Teruslah tersenyum Kai, agar dunia tersenyum padamu!
Smile and the world will smile at you 🙂

Belajar Membaca

Kai.. Kai.. Kai…

Kairo Muhammad Karkasa (Kai) lahir normal pada 18 Januari 2011 jam 6:10 dengan berat 3,45 kg dan panjang 50 cm. Semoga menjadi anak sehat, sholeh dan berakhlak mulia ya nak… amin

Cairo Means Victorious

Nama ‘Kairo’ sebagai nama depan putra pertama kami sama sekali tidak ada kaitan dengan demo besar2an di Kairo baru2 ini. Pun tidak karena sang ayah ke Kairo 1 bulan sebelum menembus jalur Gaza bersama tim BSMI saat aku hamil muda.

Sejak aku positif hamil, aku selalu memanggil bayiku ‘The Winner’. Maklum, diagnosa kista endometriosis dan penantian 1 tahun membuat kami amazed dengan khamilan ini. Buat kami, bayi ini memang ‘sang juara’ yang bisa mematahkan pesimisme kami lantaran diagnosa dokter–selain tentu saja karena kuasa Allah.

Jadilah nama Kairo yang berasal dari kata Al Qahira yang berarti ‘kemenangan’ kami sematkan sebagai nama depan, dengan panggilan ‘Kai’ yang dalam Bahasa Jepang berarti anak laki2.

Tadinya, bapaknya ingin nama lengkapnya ‘Kairo Mujahid Tangguh’. Tapi aku kurang sreg dengan kata ‘Tangguh’. Aku usul kata dari Bahasa Sansekerta ‘Karkasa’ yang artinya ‘Perkasa’. Lalu eyangnya request ada kata ‘Muhammad’-nya. Akhirnya semalam sebelum membuat akte lahir, suamiku sholat istikharah. Ternyata doi dapat ‘wangsit’ nama ‘Kairo Muhammad Karkasa’ dan aku setuju :-).