Anak Kejedot Malah Alhamdulillah

Sholat Ashar Hari Selasa (21/07) kemarin mungkin sholat fardhu saya yang paling tidak khusyuk. Pasalnya kami semua sedang sholat berjamaah di Masjid Al Hikmah Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Indah Kapuk (PIK), dimana TWA ini adalah hutan konservasi tanaman bakau (mangrove).

Masjid Al Hikmah TWA PIK

Masjid Al Hikmah TWA PIK

FYI, hutan bakau merupakan ekosistem berupa rawa-rawa di dekat pantai. Sehingga jika hendak menyusuri hutan ini harus naik perahu atau berjalan kaki di atas jembatan. Jadi, bisa dibayangkan dong bagaimana kondisi Masjid Al Hikmah ini berdiri. Yup, dia berdiri di atas rawa. Sekeliling masjid tak lain adalah rawa-rawa. Sementara pagar pengaman di sekeliling masjid lumayan renggang.

Pagar masjid yang renggang

Pagar masjid yang renggang

Saat hendak mulai sholat, saya dudukkan Qudsi (13 bulan) di depan tempat saya sholat. Namun tanpa bisa saya kendalikan, Qudsi dengan cepat merangkak entah kemana. Spontan sejak rakaat pertama saya asli tidak khusyuk. Sambil mengikuti imam sholat, dalam hati saya hanya bisa mohon sama Allah agar Qudsi tidak tercebur ke rawa.

Sampai di rakaat ketiga, ketika sedang rukuk, saya mendengar suara “Jederrr!!” lalu diikuti suara tangis Qudsi yang melengking. Tak satu pun orang di masjid itu yang menenangkannya karena sedang shalat berjamaah. Namun saya malah berucap alhamdulillah dalam hati, karena Qudsi hanya kejedot dan tidak tercebur ke rawa 😀

Spontan begitu salam, saya langsung lari ke sumber suara. Ternyata Qudsi kejedot daun jendela karena sedang rembetan alias berlatih berjalan 🙂 Alhamdulillah…

Qudsi yang selalu penasaran :)

Qudsi yang selalu penasaran 🙂

Advertisements

Bermain di Perpus DKI

Setelah membaca serunya kisah Bu Retno berkunjung ke Perpustakaan Daerah Provinsi DKI Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM) tempo hari, saya pun bertekad kesana suatu hari nanti. Dan suatu hari itu adalah Selasa (9/6) kemarin. Kebetulan sepupu saya dari Kediri beserta anak-anaknya berkunjung ke Jakarta. Maka kemarin kami sepasukan bermain kesana. Berikut keseruan kami semua di sana 😉

Kai Takut Sama Eyang

Pagi tadi saya temui Kai duduk di pojokan lemari sambil minum susu UHT cokelat.

Saya (S): Kai kok minum susunya di sini? Kenapa?

Kai (K): (senyum malu-malu)

S: Kai lagi ngumpet?

K: (mengangguk)

S: Kenapa ngumpet? Kai takut?

K: (mengangguk)

S: Takut sama apa?

K: Sama eyang

S: Kenapa takut sama eyang?

K: suka mal(r)ah

S: (speechless) Jadi, Kai minum susu cokelat sambil ngumpet karena takut dimarahi eyang?

K: Iya

S: 😥

Gagal Meeting Sukses Piknik

Sabtu (09/05) kemarin saya berencana menghadiri temu penulis web abiummi.com di seputaran Depok Town Square (Detos). Berhubung tidak ada orang yang bisa dititipi bocah-bocah, maka saya memutuskan membawa serta Kai (4 tahun) dan Qudsi (11 bulan). Lagipula kalau saya libur kerja, bocah-bocah pasti maunya ikut kemanapun ibunya pergi. Apalagi kalau perginya naik kereta, Kai sudah pasti minta ikut 😀

Sabtu pagi yang cerah. Kai dan Qudsi sudah beraktivitas, mulai dari berjemur hingga main sepeda, meskipun belum mandi 😀 Tapi setelah sarapan, Kai paling antusias mandi pagi karena mau ikut naik kereta rel listrik (KRL) ke Stasiun Pondok Cina. Detos memang terletak tak jauh dari Stasiun Pondok Cina.

Singkat cerita, pagi itu setelah Kai dan Qudsi sudah rapi, saya pun menyiapkan tas gembolan. Maklum, membawa balita itu artinya membawa serta perlengkapan makan/minum beserta baju dan popok gantinya. Nah, saat sedang menyiapkan tas gembolan itulah saya tersandung kaki kursi. Rasa sakitnya membuat saya meringis seketika. Ingin rasanya rebahan saja, namun mengingat janji yang sudah kadung saya buat, maka saya abaikan rasa sakit itu. Dengan sedikit terpincang-pincang, saya lanjutkan mengemasi tas, lalu menggendong Qudsi yang bobotnya 10 kg.

Kai di KRL menuju St Pd Cina

Kai di KRL menuju St Pd Cina

Sampai di Stasiun Pondok Cina sekitar jam 11 lewat. Saya duduk agak lama di kursi peron, karena kaki mulai cenut-cenut. Saya baru tahu kalau lokasi pertemuan dipindah ke Sawangan setelah whatsapp-an dengan empunya hajat. Itu artinya, kami harus meneruskan perjalanan sampai Stasiun Depok Baru dan berjalan kaki ke terminal Depok yang dilanjutkan dengan naik angkot dan berjalan kaki lagi. Dengan kaki yang mulai cenut-cenut, saya agak ragu. Namun saya akan mengusahakan sampai di tempat.

“Ibu, Kai mau makan di danau,” pinta Kai.

Saya memang merencanakan ‘piknik’ di pinggir danau UI sambil anak-anak makan siang. Lokasi danau UI memang tak jauh dari Stasiun Pondok Cina.

Kai & Qudsi bergaya di pinggir danau UI

Kai & Qudsi bergaya di pinggir danau UI

Meskipun piknik ala kadarnya–karena lupa bawa alas duduk :p –tapi Kai dan Qudsi tampak hepi. Berkali-kali Qudsi menggaruk-garuk tanah dengan sendok. Kai juga bolak-balik memperhatikan semut-semut yang keluar masuk tanah, sehingga pertanyaannya tentang semut dan tanah bermacam-macam. Ternyata hikmah lupa bawa alas duduk adalah anak-anak jadi kreatif hehehehe… #ngeles 🙂

mejeng dulu yaa :)

mejeng dulu yaa 🙂

Usai makan, kami sholat zuhur di Masjid UI yang letaknya di pinggir danau. Air wudhu benar-benar menyegarkan di siang yang terik hari itu. Tapi usai wudhu, PR besar buat saya yang harus naik tangga sambil menggendong Qudsi dengan kaki pincang. FYI, tempat sholat perempuan ada di lantai dua 😦

Usai sholat, saya baru menyadari kaki saya bengkak! Akhirnya saya menyerah. Saya tidak sanggup menghadiri pertemuan di Sawangan 😦 hix.. hix… Maka setelah leyeh-leyeh di masjid, kami memutuskan untuk pulang. Namun sebelum pulang Kai minta dibelikan minum, karena bekal minum kami habis tapi tenggorokan rasanya masih hauuuus banget karena cuaca yang panas terik.

Memang manusia hanya bisa berencana yah, Allah SWT yang menentukan. Qodarullah hari itu saya gagal meeting, tapi ‘sukses’ piknik seadanya dengan kaki pincang. Qodarullah juga pulangnya langsung didatangi tukang urut, karena tetangga melihat saya jalan pincang dan langsung inisiatif manggil ‘Nek Muna’.

Alhamdulillah setelah diurut sudah lebih baik meskipun masih agak sakit. Semoga bisa segera normal dan kembali mengejar kereta 😀 amiiin…

From Gamer to Hafidz Quran

Beberapa hari lalu saya tertegun melihat salah satu foto di akun instagram Aa Gym. Ini dia capture fotonya:

Muhammad Ghaza Al Ghazali bin Abdullah Gymnastiar

Muhammad Ghaza Al Ghazali bin Abdullah Gymnastiar

Seperti tertera pada foto, Aa Gym sendiri mengomentari bahwa anak pangais bungsunya ini saat kecil maniak game. Saya pun mengakui hal itu, karena saya pernah menjadi keluarga besar Daarut Tauhid (DT) dan MQ coorporation.

Masih segar dalam ingatan saya, sekitar tahun 2005. Saat itu adalah sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Masjid DT sesak oleh para pengejar laillatul qadr. Jalan Gegerkalong Girang pun macet, karena dipadati oleh parkir kendaraan dan lalu lalang manusia.

Saat kebanyakan orang sedang berjamaan shalat tarawih, saya baru melangkahkan kaki pulang merampungkan pekerjaan sebagai pewarta di Radio MQ FM. Rasanya gimanaaa gitu deh, orang-orang pada tarawih, saya malah sibuk bekerja. Tapi yang membuat saya lebih ‘gimana gitu’ adalah ketika Ghaza (kecil) ngeloyor begitu saja asik dengan sepedanya lewat di depan saya. Ia tidak peduli dengan pandangan orang di sekitarnya yang mungkin membatin sama dengan saya, “Anak kyai kok malam Ramadhan malah main sepeda.”

Yah… itulah anak-anak. Saya rasa bukan hanya Ghaza kecil yang berlaku demikian, hampir semua anak-anak bersikap dan bertingkah yang membuat orang dewasa menyebutnya baong alias bandel alias nakal. Namun siapa sangka si ‘baong‘ Ghaza di kemudian hari menjadi penghapal Quran atau hafidz Quran.

Sebuah teguran buat saya sebagai orang tua, bahwa kesolehan dan prestasi anak-anak kita di kemudian hari bukanlah karena andil orang tuanya semata, melainkan karena andil besar Allah SWT. Maka, doa orang tua yang tak pernah putus untuk anak-anaknya merupakan senjata. Bukankah doa adalah senjatanya orang beriman?

Rabbi habli minassolihiin… amiin.

Kai Mau ke Ka’bah Naik Pesawat

Jadi ceritanya yah… pasca disunat tempo hari, alhamdulillah Kai dapat banyak amplop–beserta isinya tentu saja–dari para tetangga, saudara, dan handai taulan. Panen nih Kai hihihi… Terima kasih yah buat om, tante, bude, pakde, dan eyang-eyang yang sudah berbaik hati 🙂 Dan tahukah saudara-saudara, apa celetukannya saat ‘panen’ ini?

“Kai mau ke Ka’bah ya naik pesawat, kan duitnya udah banyak,” ujar Kai ringan.

“Tapi duitnya belum cukup buat ke Ka’bah, Kai,” ujar saya.

“Kan duit Kai udah banyak,” sergahnya ngotot.

Baiklah Nak, semoga sisa duitnya Allah cukupkan yah untukmu mengunjungi Ka’bah… amiiin.

Entah dapat inspirasi dari mana, bahwa Ka’bah menjadi top of mind Kai saat duitnya banyak. Mungkin juga karena Kai sering saya pertontonkan film animasi “Muhammad The Last Prophet” dan “The Story of Prophet Ibrahim and Ismail“. Atau bisa jadi karena buku cerita “365 Hari Bersama Nabi Muhammad Saw“. Wallahua’lam. Alhamdulillah…

Foto kenangan saat haji tahun 2006. Semoga Allah izinkan kembali mengunjungi Baitullah sekeluarga, amiin.

Foto kenangan saat haji tahun 2006. Semoga Allah izinkan kembali mengunjungi Baitullah sekeluarga, amiin.

Anyway, selepas celetukannya itu, saya jadi terinspirasi untuk berumroh sekeluarga. Mimpi yang agak nekat yah hehehe… Ya iyalah nekat, wong buat umroh satu orang aja duitnya belum ada… Lha ini mau sekeluarga lagi?! Mimpi boleh kaan? Mumpung gratis 🙂

Melihat kondisi keuangan saat ini yang rasanya mustahil berumroh sekeluarga membuat hasrat lama saya kembali bergelora, yaitu umroh backpacker 😀 Semoga bapaknya bocah-bocah juga ikut tertantang yaahh 🙂 Dan saya merasa makin yakin setelah beberapa hari kemarin membaca sejumlah blog orang-orang yang telah menjalani umroh backpacker ini.

Ya Allah, ridhoilah keinginan hamba-Mu ini. Izinkanlah keinginan hamba-Mu ini terwujud… amiiin Ya Robbal’alamin. Labaiikallahumma labaik… Labaiikallasyarika labaiik…

Saat Kembali Ditinggal Bekerja

Ketika menghitung hari seiring berakhirnya masa cuti melahirkan, rasanya sediiiih banget plus khawatir. Sedih karena gak bisa lagi seharian penuh bersama anak-anakku tercinta. Khawatir kalau-kalau Kai tantrum melihat saya pergi ke kantor, apalagi di hari-hari menjelang saya bekerja, Kai masih belum mau ditinggal sebelum berbaris dan masuk kelas bersama. Rasa khawatir juga jika si kecil Qudsi rewel tidak dibuai ibunya dan harus minum asi perah (asip) dari botol.

Jujur, kegusaran tersebut membuat saya sempat stress di hari-hari menjelang saya kembali bekerja, ditambah lagi ART yang biasa datang setiap hari menyatakan tidak bisa datang di hari pertama saya masuk kantor. Hal ini membuat saya tambah tidak bisa tidur malam sehingga saya hanya bisa mohon sama Allah agar dilancarkan dan dimudahkan segala urusan dengan cara yang damai.

Maka ketika hari pertama kembali bekerja pada 4 September lalu, saya cuma bisa pasrah… La hawla wa la quata illabillah. Saya pun meninggalkan Qudsi bersama eyangnya (ibu saya. Red) dengan stok asip di freezer beserta botol-botol dot yang sudah disteril. Saya juga meninggalkan Kai bersekolah. Namun di hari pertama saya ngantor, Kai bersama ayahnya mengantarkan saya ke stasiun naik motor. Kami berpisah di pintu stasiun. Lalu mereka menuju TK Mutiara.

Cemas berkecamuk di pikiran saya. Namun menurut penuturan suami saya, Kai happy happy saja ditinggal ayahnya. Dengan riang gembira ia main perosotan bersama teman-temannya. Alhamdulillah… 🙂

Kai bersiap ke sekolah :)

Kai bersiap ke sekolah 🙂

Semakin lega hati ini ketika siang hari dapat sms dari ibu saya, bahwa Kai dan Qudsi tidak rewel. Kai mau pulang dijemput ojek langganan. Bahkan Kai membantu eyangnya selama di rumah, mulai dari memasukkan baju yang sudah kering ke dalam lemari, sampai makan sendiri tanpa disuapi. Alhamdulillahirabbil’alamiin. Makin berseri hati ini ketika petang hari pulang ke rumah disambut riang sang buah hati di muka pintu… Masyaallah 🙂

Ternyata ketakutan dan kekhawatiran itu hanya ada dalam pikiran kita. Sebaik-baik Penjaga, Pengasuh, dan Perawat anak-anak kita adalah Allah SWT, karena mereka adalah milik-Nya. Kita, orang tua mereka, hanya dititipi-Nya. Dan sebagai orang yang dititipi tak jarang kita lalai.

Ya Allah, semoga kami tak pernah alpa dari menyertakan-Mu dalam mengasuh dan membesarkan anak-anak kami. Amin.

Diusir MP?

Jantung rasanya mau copot waktu baca imbauan ini. Gimana gak copot, multiply (MP) yang udah kayak kompleks perumahan dengan penghuninya yang hangat akan ‘diusir’ per 1 Desember 2012 . Isi blog, foto, buku tamu, dll akan dihapus per tanggal tersebut.

Jujur saja, banyak sekali teman-teman baru yang aku dapat karena bergabung di jejaring sosial MP. Tidak seperti jejaring sosial lain, seperti facebook atau twitter yang cuma pamer status dan foto, MP lebih mendalam dari itu. Di MP kita bisa berkontemplasi, bertukar pikiran, transfer ilmu, dll. Sehingga teman-teman yang kukenal lewat MP benar-benar ‘dekat’.

Dan jujur, lewat MP ini pula aku pernah terhubung dengan seseorang hingga taaruf, meskipun tidak jadi hehehe… Dan tidak sedikit juga teman-teman MP yang bertemu jodohnya lewat MP ini. Pokoknya banyak lah yang terjadi di kompleks MP ini. Apalagi aku sudah menghuni MP sejak 2005.

Well, sebenarnya secara sistem, aku tidak perlu panik, karena yang akan dihapus konten dan akunnya adalah blogger MP yang profilnya tidak berlalbel ‘online seller‘. Nah, karena aku online seller, maka nasib rumah mayaku ini aman. Tapi…..

Tapi tidak semua teman MP-ku online seller!!!!  Sebenarnya mereka cukup merubah profil mereka menjadi online seller agar tidak diusir. Tapi (lagi) apa yang mereka jual?? Karena mereka memang bukan online seller (OS). Jadi kupikir, ini sebuah pemaksaan !!! Online seller akan dipisahkan dengan para blogger yang bukan online seller.

Yah…. mau gimana lagi yah, secara bukan aku yang punya MP. Meskipun di forum MP Indonesia Seller banyak para OS yang protes, karena blogger biasa adalah pasar potensial untuk mereka, tapi MP tetap bergeming. MP keukeuh pada pendiriannya… hix

Buat teman-temanku semua di MP, aku harap silaturahmi kita tidak putus ya, meskipun sudah pada pindah rumah/perumahan.

Mendramatisir Keadaan

Pernah melihat anak kecil yang sedang belajar berjalan terjatuh? Apa yang terjadi jika orang-orang di sekitarnya pura-pura tidak tahu dan menyemangatinya untuk berdiri kembali? Jawabannya bisa dipastikan anak tersebut tidak menangis karena lupa pada ‘jatuhnya’.

Namun apa yang terjadi bila orang-orang di sekitarnya mendramatisir keadaan (baca: lebay) sampai-sampai mengkambinghitamkan lantai sebagai penyebab jatuhnya si anak? Bisa ditebak si anak menangis meraung-raung dan ikut mengutuki lantai.

Dalam kehidupan sosial sehari-hari, orang dewasa pun ternyata seringkali ‘terjatuh’ atau ‘tersakiti’. Namun karena keadaan yang disebabkan oleh sesuatu yang tidak disengaja ini sering ditanggapi secara lebay alias didramatisir, maka hasilnya pun jadi lebay. Sakit yang amat sangat tak pelak menimbulkan amarah. Bahkan tak jarang menimbulkan dendam kesumat (tuh kan lebay deh ah…).

Andai saja keadaan ter- (sesuatu yang tidak disengaja) tersebut tidak didramatisir, tentu hasilnya seperti anak yang sedang belajar jalan tadi. Ia menganggap angin lalu rasa sakit yang disebabkan oleh ‘terjatuhnya’. Lebih dari itu, ia berani bangkit dan tak gentar berjalan lagi. Wallahua’lam bishawab

Pekerjaan Bergengsi

Setelah membuat iklan lowongan ini, saya jadi tergelitik menulis…

Beberapa menit setelah saya klik tombol publish, beberapa e-mail, komentar, dan sms masuk menanyakan perihal lowongan tersebut. Ketika saya beri tahu besaran honor yang akan diterima, para pengontak tersebut masih berminat. Saat saya beri tahu jam kerja yang fleksibel, para pengontak tersebut juga tak bergeming. Namun ketika masuk pada pembahasan au pair, saya pun menjelaskan deskripsi pekerjaannya. Maka spontan mereka mundur perlahan.

Memang au pair itu apa sih?

Menurut wikipedia, ‘au pair’ adalah sebuah profesi yang fungsinya sebagai asisten rumah tangga, dimana pekerjaannya seputar pekarjaan rumah tangga dan merawat anak. Istilah “au pair” sendiri berasal dari Bahasa Perancis yang artinya “sama”. Ini mengindikasikan bahwa, au pair mendapat perlakuan “sama” seperti anggota keluarga lainnya. Inilah yang membedakan antara ‘au pair’ dan ‘servant’ (pembantu).

Di Eropa dan Amerika, au pair biasanya adalah pelajar atau mahasiswa dari negara lain yang bekerja pada sebuah keluarga di suatu negara. Au pair tersebut tinggal bersama keluarga tempat ia bekarja. Layaknya anggota keluarga, au pair diperlakukan seperti anak sendiri. Ia mendapat uang saku, kursus bahasa, dan tentu saja makan bersama di satu meja yang sama di keluarga tersebut.

Di negara-negara maju, au pair adalah hal lumrah. Bekerja pada sebuah keluarga untuk melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak tidak pernah dipandang sebelah mata. Bahkan tidak jarang para pelajar atau mahasiswa di sana memanfaatkan kesempatan ini untuk mengisi liburan mereka. Sambil berlibur, tambah pengalaman, tentu saja mereka juga mendapatkan tambahan uang jajan.

Namun sayangnya di Indonesia, pekerjaan domestik masih dipandang sebelah mata. Tidak peduli besaran honor yang diberikan, jika pekerjaan tersebut tidak prestis, lebih baik tidak. Gaji kecil tapi berdasi dianggap lebih layak, daripada gaji lebih besar tapi ‘tak berdasi’.

Saya tidak menyalahkan para calon pelamar yang mundur teratur. Mungkin saja pekerjaan ini tidak bisa membuat bangga calon mertua mereka

Saya juga tidak menyalahkan budaya kita yang memandang sebelah mata pekerjaan domestik. Saya hanya ingin zaman berubah. Mungkin pengalaman ini mengajarkan saya dan anak saya kelak untuk menghargai semua profesi yang menghasilkan uang secara halal. Insyaallah saya juga akan mendorong anak saya untuk bekerja sebagai ‘au pair’ saat musim libur sekolahnya nanti.