SMS Yang Mengubah Hidup

Aslm. Pa kbr ja? Jati niy… Ja, BSMI lg butuh tenaga humas gk?
Demikian bunyi sms yang kukirim ke Jaja, staf humas Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) yang kebetulan temanku semasa kuliah. Januari 2009. Kala itu Gaza tengah membara dan BSMI adalah salah satu lembaga kemanusiaan yang mengirim bantuan ke Palestina. Lama sms itu tidak dibalas sampai keesokan harinya HP-ku berdering.

“Jat, lo serius mau bantuin humas?” ujar suara di seberang telepon.
“Iya, insyaallah,” sahutku. Percakapan via telepon itu akhirnya menyepakati aku menjadi relawan humas BSMI yang bertugas meng-update website BSMI.

Terhitung sejak 4 Februari 2009, aku meluangkan waktuku sepulang bekerja di kantor BSMI untuk meng-update websitmenjadi relawan BSMI.

“Kenalin, ini Andika. Yang itu Syekh. Itu Fadil. Ini Arya,” Jaja memperkenalkanku ke setiap staf BSMI.

Subhanallah… aku tak pernah menyangka ternyata di kemudian hari sms ‘iseng-iseng berhadiah’ itu mengubah hidupku. Ya, karena Allah mempertemukan aku dengan seseorang insyaallah menjadi suamiku lewat aktivitasku sebagai relawan BSMI.

Maha Kuasa Allah…. Betapa mudah bagi-Nya menggerakkan tanganku untuk mengirim sms. Begitu mudah bagi-Nya menyatukan dua insan yang sebelumnya terpisah jauh. Sungguh, jika Allah berkehendak, maka semua akan terjadi dengan mudahnya…

Sebulan setelah aku menginjakkan kaki di BSMI pertama kali sebagai relawan, tepatnya 9 Maret 2009, seseorang meng-khitbah-ku. Ia adalah salah seorang staf yang dikenalkan oleh Jaja. Insyaallah, 30 Mei 2009 kami akan menikah.

Laa ilaahaillallahu wahdahu laa syarikalah lahulmulku wa lahulhamdu wa huwa’alakulli syai’in qodiir (Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kekuasaan dan segala puji. Dan Ia berkuasa atas segala sesuatu).

Bu Guru Cantik

“Halo… Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam. Bisa bicara dengan Rizal?”

“Rizal sedang latihan silat. Maaf ini dengan siapa?”

“Saya Jati, guru Bahasa Inggris-nya Rizal di Masjid Al Istikmal”

“Oh… Miss Jati ya? Rizal sering cerita tentang Miss Jati. Katanya orangnya baik, pinter, cantik lagi… Dan ternyata suaranya merdu!”

“Hahaha… Ibu bisa ajah! Ini dengan ibunya Rizal ya?”

”Betul, saya ibunya Rizal”

“Kebetulan bu, saya mau kasih tahu tanggal 7 Juni jam 8 malam ada pembagian rapor di Istikmal. Mohon kehadiran ibu sebagai orang tua Rizal”

“Oh iya, insyaallah saya akan datang. Saya jadi pingin ketemu sama ibu gurunya Rizal yang cantik”

”Baik bu, terima kasih. Sampai ketemu. Assalamu’alaikum”

”Wa’alaikumsalam Miss Jati”

Jakarta, 02/06/08 20:40

note: percakapan di atas bukan fiksi loh… ini benar-benar terjadi semalam Hehehehe… jadi tambah narsis akut neh!!!

Hiks… jadi terharu, ternyata “anak bandel” itu menilai aku seperti itu…

Debut Pertama

Belom sebulan kerja di penerbitan Penebar Swadaya (PS), eeeh… udah ditodong ikut memeriahkan HUT Trubus yang ke-38. Inilah aksi “Pasukan Bertopeng”!!! ^_^

We are, we are PS…!! (4x)

Di setiap ada PS mengapa jantungku berdetak
berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang
Di setiap ada PS mengapa darahku mengalir
mengalir lebih deras dari ujung kaki ke ujung kepala

Aku sedang ingin gembira hari ini
Trubus ulang tahun semua jadi happy
Aku sedang ingin bertanding karena
Pasti ada PS di sini yakin menang

Ada 32 karyawan Penebar Swadaya
Terdiri dari 5 divisi yang ada di dalamnya
Ada PS
Ada Griya
Penebar Plus+
Penebar CIF
Dan ada Pacu Minat Baca…..

Periksa gigi sama Puteri Indonesia

Kemarin (2 Okt ’06) wawancara runner up Puteri Indonesia 2006, Rahma M. Landy. Mau bikin profil doi ceritanya. Kebetulan doi lulusan FKG Trisakti, dan sedang Ko As. So, nyambung sama majalah SKALA (majalah sains untuk remaja. Red).

Berhubung butuh foto-foto ‘Rahma on duty’. Alhasil kita numpang klinik gigi Trisakti yang lagi kosong dan udah mau tutup. Dan berhubung gak ada pasien…. I was the victim then….

Gpp deh, sekalian periksa gigi gratis ;p Ternyata banyak karang giginya bo’! 😥

Kita ‘Membunuh’ Mereka

Setelah longsor gunungan sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, kini di
Bantar Gebang, Bekasi, 8 September lalu. Sama seperti di Leuwigajah,
longsor sampah di Bantar Gebang juga memakan korban jiwa.

Sadarkah kita, khususnya penghuni Jakarta, secara tidak langsung telah
membunuh 3 pemulung yang tewas tertimbun sampah di TPA Bantar Gebang?

Setiap hari dengan mudahnya kita melempar benda-benda yang sudah tidak
terpakai lagi ke dalam tong yang kita sebut ‘tong sampah’. Kemudian,
sampah rumah tangga itu kita buang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS)
di lingkungan RW kita. Lalu oleh dinas kebersihan kota sampah yang kita
buang itu diangkut oleh truk sampah ke TPA Bantar Gebang.

Meskipun hanya 10 meter kubik sampah yang kita buang dalam sehari,
namun berapa ratus meter kubik sampah yang kita buat dalam sebulan? Dan
berapa juta meter kubik gunungan sampah yang kita buat bersama jutaan
penduduk Jakarta yang lain dalam sebulan? Maka  berapa ribu meter
gunung sampah yang akan dihasilkan dalam setahun? Maka, secara gak
langsung kita sudah membunuh mereka yang mengais rezeki dengan
mengumpulkan sampah. Masyaallah…

Mungkin ada yang berkilah, “salah sendiri kenapa mereka memulung sampah
di sana?”. Well, bukankah lebih baik menjual sesuatu, meskipun hanya
sekedar botol/gelas plastik bekas, daripada mencopet atau mengemis.

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Namun peristiwa mengenaskan
ini pastinya peringatan bagi kita sebagai warga negara yang peduli.
Peringatan ini tidak hanya bagi warga Jakarta, namun untuk semua
manusia di bumi ini. Karena longsor sampah ini mungkin terjadi dimana
pun.

Janganlah pernah berpikir, “Apalah artinya seorang saya”. Banyak sekali
yang dapat kita lakukan untuk menyelesaikan problem sampah ini.

Misalnya, bila kita mengurangi produksi sampah, otomatis tong/kotak
yang kita sebut ‘tempat sampah’ tidak akan terlalu penuh muatannya.
Dengan mengurangi produk-produk sekali pakai, maka kita akan mengurangi
produksi sampah. Dengan mengubah gaya hidup yang sering main buang
benda-benda yang dianggap tidak berguna, maka akan mengurangi sekian
meter kubik gunungan sampah di TPA. Bila sekian juta penduduk Jakarta
melakukan hal ini, maka timbunan sampah di TPA tentu tidak akan
menggunung.

Hal lain yang bisa dilakukan, mengelola sendiri sampah rumah tangga.
Antara lain dengan memilah sampah organik dan anorganik. Sampah organik
dapat kita kubur sendiri di pekarangan. Atau jika tidak ada pekarangan,
bisa menggunakan lahan tanah terbuka bersama-sama dengan para tetangga.
Sampah organik ini dapat menyuburkan kembali tanah. Maka secara tidak
langsung berfungsi sebagai pupuk alami.

Kemudian sampah anorganik seperti plastik, kertas, bisa kita jual ke
lapak–seperti yang dilakukan para pemulung. Kita bisa memperoleh
sejumlah uang. Atau kalau ingin membantu pemulung, berikan saja sampah
anorganik ini pada mereka. Beres kan?

Sebenarnya mudah ya mengolah sampah!

 

Aku Bukan Wartawan Infotainment, Marshanda


Seorang gadis buru-buru menunduk ketika fotografer
Majalah Sains ‘SKALA’ masuk kelas XII IPA 1 untuk mengambil gambar suasana
belajar di SMA Labschool Kebayoran, Senin (03/09) kemarin. Sementara anak-anak
lain berpose di depan kamera, gadis kucir kuda itu menenggelamkan
wajahnya ke atas meja.

“Om, foto saya om!” seru seorang cowok sambil pasang
aksi. Suara tawa riuh di kelas yang sedang pelajaran BP (Bimbingan Penyuluhan.
Red) itu. Aku hanya senyum-senyum dari luar pintu kelas. “Yeah… begitulah
anak-anak,” ujar Pak Buang, guru yang menangani bidang akademik SMA Labschool.

“Kebetulan kelas-kelas di sini termasuk kelas besar,”
jelas Pak Buang, “Karena satu kelas isinya 38 anak,” lanjutnya. “Ooooh,” jawabku
seraya mencatat beberapa data penting di buku catatanku.

“Itu sebabnya mereka duduk bertiga?” tanyaku sambil
menunjuk gadis berkucir kuda yang terus menunduk itu. Ia memang duduk
bertiga di barisan paling depan, tepat di depan papan tulis. Gadis yang tak
sempat kulihat wajahnya itu duduk diapit dua teman ceweknya.

“Mungkin gadis itu sedang menangis. Kasihan sekali…,”
pikirku.

“Kita di sini ada artis juga lho mbak,” ujar Pak Buang.

“Oya? Siapa pak?”

“Masak gak tahu?”

“Hmmm…. Emang siapa pak?”

“Marshanda,” seru Pak Buang.

“Oya? Kelas berapa, pak?”

“Kelas berapa ya? Sebentar…,” Pak guru berkacamata itu
kemudian bertanya ke guru lain yang kebetulan lewat. “Oh, di kelas ini mbak,”
ujarnya sambil menunjuk ruang kelas di hadapan kami.

“Oya?! Mana, pak??” seruku sambil menebar pandangan ke
dalam kelas yang tengah jadi obyek foto rekan fotograferku. Satu per satu
kuamati wajah-wajah ceria murid-murid kelas XII IPA 1, tapi tidak satu pun
kutemui wajah pemeran Lala di sinetron Bidadari itu.

“Mbak, Marshanda tuh yang sedang menunduk itu,” kata bu
guru yang tadi ditanya Pak Buang. 

“Oh…,” aku hanya menahan napas.

Tiba-tiba aku jatuh iba pada gadis yang terus menunduk
itu. Sebegitu trauma kah dia pada pers? Begitu kasar kah pemberitaan media
massa tentang gadis belia itu? Begitu dalam kah beban psikologis dalam dirinya,
sehingga ia takut pada dua sosok wartawan majalah sains ‘SKALA’? Padahal aku
bukan wartawan infotainment, Marshanda. Dan aku tidak akan menggosipkan kamu… []  

Jakarta, 4 September 2006.

Menunggu

Kalau ditanya hal apa yang aku benci, salah satunya adalah “menunggu”.
Ironisnya, saat ini aku tengah melakukan hal yang kubenci. Ya, aku
melakukan aktivitas menunggu…

Seseorang pernah bilang, “Jangan ditunggu, nanti jadi (terasa) lama”.
Well yeah… menunggu jelas membosankan, makanya aku benci. Tapi
ternyata mau tidak mau, aku harus menunggu. Bahkan KITA semua ternyata
harus menunggu.

Yeah… menunggu atau menanti ternyata aktivitas ‘membosankan’ yang
tengah kita lakukan. Mulai dari menunggu bus jemputan, menunggu giliran
tes kesehatan, menunggu pengumuman kelulusan, menunggu ‘kedatangan sang
pangeran’, menunggu tanggal pernikahan, menunggu kelahiran, hingga
menunggu maut.

Namun seringkali makna menunggu ini kita sempitkan. ‘Menunggu’ menjadi
sebatas menunggu sesuatu yang sifatnya keseharian saja, seperti
menunggu jemputan, menunggu kedatangan teman, atau menunggu pengumuman
kelulusan. Padahal dalam hidup ini, setiap diri tengah menunggu maut.
Namun kita tidak menyadari, kalau sejatinya kita tengah menunggu
giliran dipanggil oleh-Nya.

Kita tidak merasa menunggu maut, karena kita tidak menyadarinya.
Sesuatu yang menjadi alasan kita menunggu, selama ini sifatnya
sementara. Menunggu bus jemputan misalnya. Setelah bus jemputan datang,
maka aktivitas menunggu usai, dan tujuan tercapai. Tapi sejatinya
aktivitas menunggu ini masih berlanjut. Di dalam bus jemputan, kita
menunggu sampai di tempat tujuan, dan ketika sampai dengan selamat maka
aktivitas menunggu usai, dst…

Ternyata, setiap detik kita melakukan aktivitas menunggu. Anehnya, kita
tidak menyadari bahwa kita menunggu. Tentu saja kita tidak menyadari,
karena kita mengisi waktu luang kita saat menunggu. Sehingga tanpa
terasa waktu berlalu dan apa yang kita tunggu telah lewat. Maka, saat
membaca tulisan ini pun sejatinya kita tengah mengisi waktu luang di
sela aktivitas menunggu…. Ya, menunggu maut. Wallahu’alam bishawab

Bogor, 22 Agt 2006

I’m Flight Of Idea!

Curhat dikit ya…

I’M FLIGHT OF IDEA! I wish I’m not out of my mind. Yeah…
flight of idea is a symptom of schizophrenia.

Well, can you imagine doing so many things at one time??
Phew…! I have to focus on three different media which has different
segmentation.

At one moment I have to pretend to be a ten-year-old
child because I write an article for ZONA. And in the next moment I have to
pretend to be a teenager because of K-Plus. Then, I have to comprehend about
science and make it simple for senior-high student.

But not only writing! I also have to gathering the facts
by people, paper, and electronic trail. After that, I processing the facts,
then presenting the news. Well, gathering, processing, and presenting news is
the function of journalism itself.

Sorry for the sigh…. But… yeah… I’m flight of idea during
this week. I know that’s my job. Doing interview face to face or by phone is
also my job, including re-write all the interviews.

Yesterday my editor, Mas Sigit, ask me, “How many rubric do you
handle in ZONA?”

 “Four,” I answered.

 “For SKALA?”

 “Three. And also three for K-Plus.”

 “Do you also make the story (or article. Red)?”

 “Yeah…”

I just realized that my job is exceeding the editor’s
job, and Mas Sigit agree with me. That’s why he asked me to be an editor—editor
in media’s view—and make a ‘revolution’ for job desk among the editorial staff
in our division.

Well, basically I’m fine with my position right now. But
I’m afraid it’ll be some kind of time bomber for our magazine. It will be
unfair for each of us.

Once again, I’M FLIGHT OF IDEA! I began to feel there are
some boxes in my brain, three boxes actually. One box for ZONA, one other for
K-Plus, and the rest for SKALA. When the deadline is coming, the partitions of
those three boxes seem to be disappear. That’s why I’m flight of idea. Every
box seems to be screaming by saying, “Jati, pay attention please. I’m the most
important! I’m the most important!”

Oh my God…

Bogor, July 5, 2006

UN Oh UN…

Kutipan berita hari ini:

Guru Bongkar Kecurangan UN

Kalibata, Warta Kota

Sejumlah
guru bersama praktisi pendidikan dari berbagai daerah mendatangi kantor
Indonesian Corruption Watch (ICW), Selasa (27/6). Mereka mengungkapkan
berbagai kecurangan ujian nasional (UN).

Para guru juga mengemukakan kecurangan di
banyak sekolah akibat standar kelulusan yang ditargetkan pemerintah.
Menurut mereka, kecurangan dilakukan banyak sekolah demi tercapainya
tingkat kelulusan yang tinggi untuk mengangkat prestasi sekolah dan
daerah. Di Garut (Jawa Barat) dan Cilegon (Banten), misalnya,
kecurangan muncul berupa tindakan guru yang memberikan hasil jawaban
melalui pesan pendek (SMS) dan menjadi joki. Kecurangan seperti ini
bahkan terjadi sejak dua tahun lalu dan sudah jadi rahasia umum.

Yeah… kecurangan seperti ini sudah jadi rahasia umum, bahkan aku
mengalami sendiri saat masih duduk di kelas 6 SD, sekitar 13 tahun lalu.

Masih terngiang di kepalaku, aku kecil mendapat ‘nasihat’ dari kepala
sekolah, “Jati, nanti  pas ujian jangan pelit-pelit ya sama yang
lain.”

“????” jawabku

“Nanti kalau pengawas ujiannya kasih kamu kunci jawaban, terima saja,” lanjut sang kepala sekolah.

“Lho, kok begitu bu?” protesku.

Wajah kepala sekolah mendadak tak bersahabat di hadapanku. Sepertinya
dia kecewa atas sikap murid yang juara kelas. Di akhir pembicaraan,
kepala sekolah berusaha meyakinkanku agar aku membagi ‘kepintaranku’
saat EBTANAS (waktu itu namanya belum UN. Red).

Benar saja, saat waktu ujian tiba, teman-teman yang duduk tak jauh
dariku sibuk bertanya jawaban padaku. Aku pura-pura gak dengar.
“Menyontek kan perbuatan curang,” pikirku.

Yang paling membuatku terbelalak, para pengawas ujian diam-diam
memberikan jawaban kepada murid-murid, termasuk aku. Sedikit tergoda
juga waktu itu untuk melirik kunci jawaban. Namun aku bersikeras pada
pendirianku, “AKU TIDAK AKAN MENYONTEK!”

Nah… apa yang terjadi kemudian saudara-saudara? Aku gagal meraih NEM
(Nilai Ebtanas Murni) tertinggi di sekolah. NEM-ku peringkat kedua di
sekolah. Ajaib, temanku yang tidak pernah menonjol dalam pelajaran,
tiba-tiba menjadi ‘bintang’ dengan NEM tertinggi. Namun aku tidak
pernah menyesal. Aku masih merasa menang dari sang ‘bintang’, karena
aku mengerjakan ujian dengan jujur.

Tapi yang membuatku terenyuh, salah satu sahabatku yang sama-sama
idealis–Sari, aku bangga padamu–gagal masuk sekolah favorit gara-gara
NEM yang rendah. Yeah… NEM-nya rendah karena dia tak mau sedikitpun
menyontek, meski sang pengawas ujian telah memberinya kunci jawaban.

Masyaallah… akan seperti apakah potret dunia pendidikan kita di masa
depan, jika institusi pencetak generasi (yang harusnya) unggul justru
mencoreng dirinya sendiri???   

Photo by Triswan/PRO Edukasi zine

I wish…

I really wanna write something… but I have no idea!

I really wanna express my mind… but I don’t know what it is

Dear Diary, you have been so kind to me. You are the best listener and
most patient ‘person’ to me. Well, it’s been a long time since I knew
you… You never speak up, but you always listen to me patiently.
Even though you never give me solution of my problems, you always
relieve my pain.

But I don’t know why… I feel proximity between us now days. I just
wanna share my ‘master plan’ with you! Yeah… my master plan of my own
life! What myself wanna be next month, next year, even next 10 years.

Yeah… I wanna realize my dreams. I wanna realize my outcomes in my
life and life after this life. For better life and the best ending. And
it begins from now… Oh my Lord, I wish You bless me… Amin