Rukun Islam Ke-5: Traveling

Haji adalah rukun Islam ke-5. Melaksanakan haji tidak semata-mata tawaf, sa’i, dan wukuf. Lebih dari itu, untuk melakukan ritual haji, seorang muslim harus melakukan perjalanan yang lumayan jauh, terutama kita yang tinggal jauh dari Mekah. Kita harus melintasi samudra dan sejumlah negara. Karena itu, kalo dipikir-pikir, sebenarnya melaksanakan haji tak lain adalah ‘traveling’ yang tujuannya adalah beribadah kepada Allah SWT.

Anehnya, kenapa Mekah jarang sekali menjadi kota pertama di luar negeri yang ingin dikunjungi oleh mereka (muslim) yang hobi traveling. Aku jadi ingat pas jaman kumpul bocah waktu SD dulu pernah ditanya teman, “Kamu kalo bisa ke luar negeri, pengennya kemana?”

“Ke Perancis!” sahut temanku yang lain.

“Ke Amerika!” ujar temanku yang lainnya lagi.

“Ke Mekah,” sahutku sekenanya sambil membayangkan Ka’bah. Padahal Mekah bukan negara ya, tapi kota hehehe..

Alhamdulillah Allah menjawab doaku. Saat pertama kali ke luar negeri, tempat pertama yang kukunjungi adalah Mekah (meskipun mendarat dulu di Jeddah. Red).

Bersyukur sekali aku bisa melaksanakan haji di usia muda dan sehat, karena selama perjalanan haji, aku menyaksikan sendiri bagaimana beratnya perjalanan dan ritual haji bagi para jamaah yang mayoritas sudah sepuh (tua. Red). Tak heran banyak yang sakit dan meninggal di tanah suci. Bahkan baru-baru ini http://www.tempointeraktif.com menurunkan feature yang berjudul “Berhaji di Usia Tua Lebih Mahal Ongkosnya“.

Itulah mengapa sempat terpikir untuk mendidik anak untuk menabung untuk berhaji sejak dini. Setidaknya berikhtiar untuk melaksanakan rukun Islam ke-5. Selain mengajak menabung, tentu yang lebih utama adalah mendidiknya untuk mencintai Allah dan rasul-Nya. Karena mustahil menumbuhkan motivasi berhaji jika anak kita tidak mencintai Allah dan rasul-Nya.

Back to the topic… Well, buat mereka yang masih muda dan ‘mampu’, kenapa kok banyak banget yang berat untuk berhaji, padahal jalan-jalan ke Eropa atau negara-negara lain gampang banget? Bahkan ada yang bela-belain nabung buat pergi ke kota tertentu, seperti Athena atau Paris. So, kenapa enggak mind set-nya dirubah, bahwa berhaji itu tak lain adalah jalan-jalan (perjalanan religi tentunya. Red). Jadi, ‘nikmat’ jalan-jalan dapet, pahala dapet hehehe… .

Wallahua’lam bishawab
 

Sejumput Nasi dan ‘Kelaparan’ di Arafah

Hari ini (9 Dzulhijah) 4 tahun lalu aku bergabung dengan lautan manusia di Padang Arafah. Aku ingat betul saat menjelang wukuf dan saat wukuf kondisi badan sedang tidak fit, karena kurang istirahat. Maklum kami adalah kloter terakhir dari Jakarta yang sampai di Mekah 3 hari menjelang wukuf, sehingga kami tidak sempat istirahat full. Kondisi ini diperparah dengan tidak masuknya makanan ke dalam perut lantaran katering jamaah Indonesia yang bermasalah pada waktu itu–belakangan diberitakan “Jamaah Haji Indonesia Kelaparan”. Ditambah lagi dispenser air di tenda maktab hanya menyediakan air dingin. Hwalah, tambah batuk-batuklah aku.

Udara gurun yang ekstrim–malam duingin banget, siang panas pisan–membuat tubuh rasanya gak karu-karuan. Hidung yang mbeler terus plus badan demam jelas menjadi tantangan tersendiri buatku. “Aku sehat. Aku tidak apa-apa,” demikian sugestiku selalu, karena aku yakin keyakinan dapat menyembuhkan.

Apakah aku sendirian? Tidak. Sebagian besar jamaah haji yang berusia lanjut merasakan hal serupa, bahkan aku yakin lebih parah. Itulah sebabnya dokter dan ketua kloter kami sempat uring-uringan lantaran kelalaian katering untuk jamaah. Aku hanya bisa zikir, pasrah, dan tak henti mensugesti diri… “Aku sehat… aku sehat… aku tidak apa-apa”.

Sampai menjelang zuhur, Bu Dokter kloter tiba-tiba datang membawa semangkuk kecil nasi putih tanpa lauk. “Ibu-bu, ini ada nasi sedikit, dibagi ramai-ramai ya,” ujarnya. Tanpa aba-aba, para jamaah wanita dalam tenda kami langsung ngariung tertib dan mencomot nasi tersebut. Apakah kami berebutan? Sama sekali tidak! Karena kami saling mengerti bahwa kita semua lapar, jadi tidak ada yang egois. Di sinilah saya melihat praktek itsar (mendahulukan orang lain) yang sejatinya.

“Saya ada abon nih bu, buat lauk,” ujar seorang jamaah wanita.

Alhamdulillah. Meskipun hanya nasi berlauk abon rasanya nikmaaat sekali. Padahal setiap orang hanya kebagian sejumput nasi putih plus sedikit abon, namun nasi yang sedikit itu bisa menjadi tenaga baru untukku dan mungkin juga jamaah yang lain… Allahu Akbar!

Dari manakah datangnya nasi itu? Ternyata Bu Dokter nekat meminta nasi kepada jamaah haji Malaysia yang tendanya bersebelahan dengan tenda kami. Subhanallah… terima kasih Bu Dokter…. meskipun kenekatannya itu di kemudian hari membuatku tersipu saat duduk bersebelahan dengan jamaah haji Malaysia waktu di Masjid Nabawi, Madinah.

“Saya dengar, jamaah Indonesia tidak dapat makanan ya waktu di Arafah?” tanya seorang jamaah haji Malaysia padaku.

BATUK

Sedikit mengenang perjalanan haji 1427 H lalu bersama ibunda tercinta….

Kata orang, pada saat haji ‘kejelekan-kejelekan’ kita di tanah air akan ditampakkan oleh Allah di tanah suci. Pun ketika kita ujub (sombong) atau melakukan kekhilafan lain, akan dibalas instan di tanah suci. Benarkah demikian?

Pengalaman menggelikan terjadi ketika kami (saya, ibu, dan beberapa jamaah perempuan) terserang batuk. Doh!! Seumur-umur gak pernah batuk parah kayak waktu di Mekkah. Saking seringnya batuk, perut sampai ‘six-pack’ . Bisa dibilang, tidak ada yang tidak batuk di Mekkah. Jutaan manusia dari penjuru dunia menderita batuk. Bahkan sang imam Masjidil Haram pun batuk-batuk–ini terjadi saat ia memimpin sholat jamaah.

Derita inilah yang membuat kami rajin mengunjungi dokter kloter. Ternyata, rutinitas ini diamati oleh seorang jamaah satu kloter kami, sampai-sampai iya berkomentar, “Wah, ibu-ibu ini rajin banget ke dokter.”

Diakui memang si bapak yang berkomentar itu kondisinya paling sehat pada saat itu. Alhasil bapak itu sering sendirian saja untuk bertawaf dan sholat di Masjidil Haram. Yeah, mungkin karena teman-teman satu rombongannya pada tumbang.

Namun apa yang terjadi, saudara-saudara? Beberapa hari setelah komentarnya pada kami, si bapak itu jatuh sakit, jauh lebih parah ketimbang sekedar batuk. Badannya demam, pusing, sakit tenggorokan, lemas, dsb. Alhasil justru beliaulah yang sendirian saja mendekam di kamar penginapan karena tak mampu ikut bertawaf dan sholat di Masjidil Haram.

Mendengar si bapak itu sakit, spontan kami menjenguknya. Kondisinya memang terlihat parah. Ia tak pernah lepas dari sleeping bag-nya. Iba juga aku melihatnya. Padahal usia bapak itu masih tergolong muda, sekitar 40 tahun. Namun pengakuannya kemudian membuatku beristighfar.

“Maaf ya, ibu-ibu,” ujar bapak itu.

Kami hanya melongo mendengarnya, karena merasa ia tak pernah membuat salah.

“Maaf ya, tempo hari saya sempat membatin, ‘Manja benar ibu-ibu ini. Baru batuk sedikit saja bolak-balik ke dokter’,” ujarnya penuh sesal.

Doa di Hadapan Ka’bah

Menyimak berita-berita tentang haji membuatku menoleh ke Bulan Dzulhijah 1427 H alias dua tahun lalu saat menunaikan rukun Islam ke-5 bersama ibunda tercinta. Ditambah lagi akhir-akhir ini ibu sering bertanya ‘gak penting’, seperti, “Jat, dulu kita penginapan haji jaraknya berapa km ya dari Masjidil Haram?” atau “Jat, dulu kita ke Jabal Rahmah juga kan ya?” dll.

Hihihi… Jadi ingat teks daftar titipan doa dari handai taulan di tanah air yang selalu kuselipkan dalam mushaf Quran supaya gak lupa. Pada suatu kesempatan di hadapan Ka’bah kupanjatkan daftar doa tersebut. Dan tanpa sadar, spontan kupanjatkan sebuah doa di luar daftar. Ya Allah… semoga suatu saat nanti permohonan itu Kau Wujudkan… amin ya Robbal’alamin.

Dari Padang Pasir ke Banjir

Sebenarnya mau posting ini dari pekan lalu. Berhubung listrik dan air mati seminggu plus sibuk angkut-angkut air gara-gara banjir, baru posting sekarang deh….

“Jakarta banjir lo,” kata temanku di tanah air via HP sesaat sebelum pesawat take off dari Madinatul Hujaj. Ah… Jakarta banjir mah biasa.

“Jakarta banjir, jalan Thamrin aja kerendem,” kata temanku lagi via sms waktu pesawatku transit di Abu Dhabi. Hmmm…. Masak sih Thamrin ampe kerendem? Ah, paling karena genangan air.

“Jat, Jakarta banjir dimana-mana,” kata nenekku via sms pas pesawatku sudah mendarat di Cengkareng jam 07.19 pagi, Jumat 2 Februari lalu. Waduh… kok perasaanku gak enak nih.

“Assalamu’alaikum. Jati udah nyampe Cengkareng ya? Maaf Jati, Tante gak bisa jemput karena kebanjiran ampe seleher. Sekarang Tante lagi di pengungsian. Maaf ya Jat, tolong sampein ke ibu…” Innalillahi wa inna illaihi roji’un, ternyata banjir kali ini parah ya??

Ironis sekali, padahal beberapa hari sebelumnya di Masjid Nabawi, Madinah, kami melakukan sholat istisqa (minta hujan. Red) secara berjamaah dengan jamaah haji dari negara-negara lain. Masyaallah…. dari kekeringan ke kebanjiran. Atau jangan-jangan karena yang ikut sholat istisqa kebanyakan jamaah haji asal Indonesia, makanya dikabulkannya di negri sendiri… hehehehehe…

Masyaallah… ternyata banjir besar 2 Feb 2007 kali ini lebih parah dari banjir besar 2 Feb 2002 lalu. Entah kebetulan yang sangat kebetulan atau apa. Kok tanggalnya sama ya? Dan berulang 5 tahun kemudian? Wallahu’alam.

Aku Cuma bisa istighfar saat bus yang membawa kami ke asrama haji Pondok Gede terjebak banjir di tol bandara. Perjalanan yang seharusnya cuma 2 jam, gara-gara air yang melimpah jadi 5 jam!!

Sampai di Pondok Gede pun kami harus menunggu berjam-jam karena truk barang masih terjebak banjir di tol Kapuk, Jakarta Utara. Phew…! Di asrama haji pun kami terpaksa tayamum karena tidak ada air untuk wudhu.

Sirna sudah bayangan indah mandi air hangat, lalu makan masakan Indonesia yang terenak, kemudian tidur nyenyak di rumah. Karena sampai di rumah gelap gulita dan tidak ada air. “Lampu sama air mati,” kata nenekku menyambut kedatanganku dan ibuku. Mau tidak mau, setelah menenteng tas dan koper yang cukup berat, aku harus mengangkut air beberapa ember dari tetangga yang punya sumur.

Alhamdulillah… aku masih sangat bersyukur karena aku masih termasuk beruntung karena rumahku gak kemasukan air. Tetangga-tetanggaku yang rumahnya terletak di tempat yang rendah cuma bisa pasrah melihat rumahnya terendam hingga tak terlihat lagi atapnya.

Kekurangan air, tayamum, gak mandi, angkut-angkut beban (baca: air. Red), sampai kekurangan makanan menjadi sesuatu yang tidak asing lagi buatku sepulang dari haji. Aku jadi berpikir, jangan-jangan memang seperti inilah skenario yang 4JJI siapkan buatku. Inilah ‘training’ yang aku dapatkan dari tanah suci. Wallahu’alam bishawab…

Journey to Al Haram

Alhamdulillah 1427-1428 H ini aku dan ibu menunaikan haji dan pulang ke tanah air dengan ‘utuh’ dan tidak kelaparan 🙂

Selamat Tinggal Dunia!

Assalamu’alaikum wr wb.

Teman-teman, maafkan segala khilaf dan salah ya. Maaf jika tulisan dan
foto-foto di situs ini ada yang menyinggung hati. Mohon semua
diikhlaskan.

Insyaallah saya akan segera memenuhi panggilan-Nya ke rumah-Nya yang
penuh rahmat. Mohon doa yaa….. Terima kasih atas segala kebaikan.
Semoga 4JJI balas berlipat ganda…

Wassalamu’alaikum wr wb.

Kapan Ratipan?

“Jat, kapan ratipan?”

Pertanyaan ini gak sekali dua kali diajukan. Hmmm…. bingung juga
jawabnya. Setahuku tidak pernah ada riwayatnya Rasulullah SAW
mengadakan ‘slametan’ sebelum pergi haji.

Gara-gara bayak yang nanya pertanyaan semacam ini, aku jadi kepikiran
juga. Apalagi ibuku–yang sama-sama mau berangkat haji–juga
ikut-ikutan nanya, “Jat, kita kapan ratipan?” *halah…*

Padahal kan syarat diterimanya ibadah itu adalah ikhlas dan ittiba’
(mengikuti sunnah Nabi. Red). Apalagi 4JJI jelas-jelas mengingatkan
dalam Al Isra’:36 yang artinya “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu
yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, pengelihatan, dan hati
nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”

Well, kalau aku dan ibuku ikut-ikutan bikin ratipan alias ‘pesta’
perayaan sebelum berangkat haji, maka aku dan ibu melakukan bid’ah…
na’udzubillah. Belum lagi akibat dari pesta yang sering disebut
‘walimatul safar’ ini, bisa menimbulkan rasa riya bagi yang akan
berhaji.

Lebih heran lagi, kenapa kok orang-orang yang (kupikir) cukup berilmu
malah ikut-ikutan nanya, “Jat, kapan ratipannya?”. Weleh-weleh….
gimana ya orang alim ini, kok dalam setiap ‘ceramahnya’ menyuruh
menjauhi bid’ah, tapi dalam kesehariannya seperti itu sih?? Well, orang
alim juga manusia kali ya?

Lagipula aneh, bukankah ibadah haji itu sama halnya dengan sholat dan
ibadah lainnya? Makanya gak perlu dirayain apalagi kalau sampai
menghabiskan banyak uang. Kan keluarga yang ditinggalkan pergi juga
perlu biaya tho?

Tapi alhamdulillah… seiring berjalannya waktu, aku bisa meyakinkan
ibuku untuk tidak melakukan ‘walimatul safar’. Tapi ya itu, karena ada
pesan sponsor dari ibu untuk menghindari ‘bisik-bisik tetangga’,
jadinya aku dan ibu punya ide lain.

“Walau gimana juga, kita pergi 40 hari kan pasti titip rumah ke
tetangga, Jat. Masak kita gak ngadain apa-apa?” kata Ibu waktu itu.

Makanya aku punya ide untuk bagi-bagi ‘berkat’ ke tetangga dan beberapa
saudara yang dituakan. Yah, sebagai tanda cinta saja buat mereka. So,
gak ada ratipan, gak ada walimatul safar…. adanya walimatul ursy ajah
hehehehe…

Wallahu’alam bishawab.

perjalanan haji & ziarah

Start:      Dec 24, ’06 1:00p
End:      Feb 2, ’07
Location:      Mekkah, Madinah

semoga 4JJI mudahkan dan lancarkan perjalanan dan ibadah hajiku dan ibuku… amin

Panggilan Itu


Setiap kudengar panggilan itu

Kenapa setiap itu pula mataku kaca?

Setiap teringat panggilan itu

Kenapa setiap itu pula aku bersedih?

Entah apa yang aku tangisi

Mungkin dosa-dosa ini

Mungkin tabungan amal yang masih sedikit

Padahal waktu semakin dekat

Pergi haji

Katanya pergi menuju Allah

Pergi haji

Katanya pergi membawa diri yang hina

Pergi haji

Katanya pergi meninggalkan dunia

Ya Allah…

Padahal masih kuyup diri ini dengan dosa

Padahal terlalu sering diri ini melupakanmu

Namun Engkau tak pernah melupakanku

Bakhan Kau panggil namaku

Labaikallahumma labaik

Labaikala syarikalaka labaik….