Nama 3 Kata

Belakangan ini aku selalu berkutat dengan perihal yang namanya “Nama 3 kata”! Kenapa? Karena hanya mereka yang memiliki nama 3 kata yang mudah beribadah ke tanah suci Mekkah dan Madinah. Itu pun dengan syarat, 3 kata itu tidak mengandung nama “Abdul”, “Abdullah”, “Achmad/Ahmad”, “Nur”, dan “Siti”, karena nama-nama itu tidak dianggap nama oleh Kedutaan Besar Arab Saudi.

Gila ya? Padahal orang Indonesia banyak yang namanya hanya 1 kata, seperti Sukarno, Suhartini, Sumiyati, Suharto, Suparman, dll. Dan nasib ini menimpa ibu saya yang hanya bernama “Latifah”. Untungnya petugas keimigrasian memahami perihal ini, sehingga dengan menunjukkan bukti-bukti autentik berupa akta, surat nikah, dan ijazah, nama ibu saya bisa menjadi 3 kata, yaitu “Latifah Achmad Basiran”.

Lalu, dari mana tambahan 2 kata itu? “Achmad” adalah nama ayah ibu saya, dan “Hardjo Basiran” adalah nama kakek ibu saya. Tadinya sih kami mengajukan nama 4 kata untuk ibu saya, yaitu “Latifah Achmad Hardjo Basiran”. Namun menurut petugas imigrasi, 4 kata terlalu panjang di paspor sehingga dihapus satu, menjadi “Latifah Achmad Basiran”.

Kami baru menyadari bahwa nama “Achmad” tidak dianggap nama oleh Kedubes Arab Saudi setelah paspor hampir jadi. Buru-buru kami menghubungi kantor imigrasi dan menanyakan apakah nama ibu saya masih bisa ditambah. Mereka bilang bisa, karena paspor belum jadi. “Alhamdulillah,” ucapku dalam hati.

Namun apa yang terjadi ketika kami mendatangi kantor imigrasi?

“Wah, bu. Kalo ini paspornya sudah dicetak,” ujar petugas TU keimigrasian.

“Jadi gimana dong, pak?” ujarku

“Begini saja. Ibu ambil saja paspor yang sudah jadi besok. Nanti temui Pak Hartawan di bagian civic dan membawa foto copy berkas-berkas pengajuan paspor. Bisa kok namanya ditambahkan,” ujar sang petugas yang membuatku lega.

Esoknya aku dan ibuku melakukan apa yang disarankan sang petugas TU.

“Mbak, kalo Pak Hartawan di bagian civic di sebelah mana?” tanya ibuku ke mbak-mbak di loket pengambilan paspor.

“Ada perlu apa, bu?” sahut mbak-mbak loket dengan agak ketus.

Lalu ibuku menjelaskan panjang lebar plus detail soal namanya yang terancam tidak dapat visa umroh. Kemudian dengan nada yang tidak sabaran, mbak-mbak loket itu menegaskan bahwa nama ibuku di paspor sudah tidak bisa diapa-apain lagi titik, tanpa koma. Dengan pasrah, ibu saya menerima paspornya yang telah jadi.

Lalu bagaimana nasib nama 3 kata milik ibu saya? Demi mendapatkan visa umroh, nama 3 kata ibu saya tetap harus ditambah 1 kata lagi, karena nama “Achmad” tidak dianggap nama. Gila ya? Kakek saya dianggap gak punya nama sama kedubes Arab !!! Ternyata…. untuk menambahkan nama di bagian “endorsement” buku paspor, harus dilakukan di kantor Depkumham, tentu saja dengan tambahan biaya lageee…. cappee deee….

*Moral of the story : nanti kalau punya anak sebaiknya diberi nama 3 kata dengan tidak mengandung kata “Abdul”, “Abdullah”, “Ahmad”, “Nur”, “Siti” supaya mudah untuk umroh dan haji

related story

BATUK

Sedikit mengenang perjalanan haji 1427 H lalu bersama ibunda tercinta….

Kata orang, pada saat haji ‘kejelekan-kejelekan’ kita di tanah air akan ditampakkan oleh Allah di tanah suci. Pun ketika kita ujub (sombong) atau melakukan kekhilafan lain, akan dibalas instan di tanah suci. Benarkah demikian?

Pengalaman menggelikan terjadi ketika kami (saya, ibu, dan beberapa jamaah perempuan) terserang batuk. Doh!! Seumur-umur gak pernah batuk parah kayak waktu di Mekkah. Saking seringnya batuk, perut sampai ‘six-pack’ . Bisa dibilang, tidak ada yang tidak batuk di Mekkah. Jutaan manusia dari penjuru dunia menderita batuk. Bahkan sang imam Masjidil Haram pun batuk-batuk–ini terjadi saat ia memimpin sholat jamaah.

Derita inilah yang membuat kami rajin mengunjungi dokter kloter. Ternyata, rutinitas ini diamati oleh seorang jamaah satu kloter kami, sampai-sampai iya berkomentar, “Wah, ibu-ibu ini rajin banget ke dokter.”

Diakui memang si bapak yang berkomentar itu kondisinya paling sehat pada saat itu. Alhasil bapak itu sering sendirian saja untuk bertawaf dan sholat di Masjidil Haram. Yeah, mungkin karena teman-teman satu rombongannya pada tumbang.

Namun apa yang terjadi, saudara-saudara? Beberapa hari setelah komentarnya pada kami, si bapak itu jatuh sakit, jauh lebih parah ketimbang sekedar batuk. Badannya demam, pusing, sakit tenggorokan, lemas, dsb. Alhasil justru beliaulah yang sendirian saja mendekam di kamar penginapan karena tak mampu ikut bertawaf dan sholat di Masjidil Haram.

Mendengar si bapak itu sakit, spontan kami menjenguknya. Kondisinya memang terlihat parah. Ia tak pernah lepas dari sleeping bag-nya. Iba juga aku melihatnya. Padahal usia bapak itu masih tergolong muda, sekitar 40 tahun. Namun pengakuannya kemudian membuatku beristighfar.

“Maaf ya, ibu-ibu,” ujar bapak itu.

Kami hanya melongo mendengarnya, karena merasa ia tak pernah membuat salah.

“Maaf ya, tempo hari saya sempat membatin, ‘Manja benar ibu-ibu ini. Baru batuk sedikit saja bolak-balik ke dokter’,” ujarnya penuh sesal.

4JJI I’m coming

Labaikallahumma labaik

Labaikallasyarikalaka labaik

Innal hamda wa ni’mata

Laka wal mulk laa syarikala…

HAJI

“Katanya sebentar lagi Jati mau ‘berangkat’ ya?” tanya
ibu kosku.

“Ha? Berangkat kemana?” aku tak mengerti.

“Katanya mau berangkat haji?”

“Oh… iya insyaallah. Doakan ya, bu.”

Bukan sekali itu aku ditanya soal ‘berangkat’, sangat sering. Dan sering pula aku gak mudeng* dengan kata ‘berangkat’. Berbeda
dengan ibuku yang juga akan berhaji bersamaku. Ibu langsung mudeng kalau orang
bilang ‘berangkat’.

Entahlah… bagiku ibadah haji tak lain dengan
ibadah-ibadah lain. Tidak ada yang spesial dalam berhaji, sebab bukankah semua
ibadah itu spesial, tergantung dari kekhusyu’an pelakunya?

Mungkin sebagian besar orang saat ini, haji merupakan
ibadah super spesial. Di dunia yang makin materialis ini, haji menjadi super
special karena ia terkait dengan materi yang cukup besar. Kita tahu sendiri,
Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) tidaklah murah (Sudah gitu, sering
dikorupsi lagi… na’udzubillahimindzalik!!-Red), yaitu berkisar Rp 27 juta untuk
saat ini. Karena itu tak heran kalau gelar haji menjadi prestige.

Haji pada akhirnya menjadi ibadah simbolik yang beneran
simbolik. Pasalnya, gelar haji sendiri akhirnya menjadi simbol ‘keshalehan’
seseorang. Ibadah haji ibarat cuci tangan dari kebejatan sehari-hari. “Masak
sih dia korupsi? Dia kan haji?”
Mungkin begitu pikir kebanyakan orang, padahal???

Tak heran kenapa ada tradisi baru ‘slametan keberangkatan
haji’. Tradisi ini seolah menjadi sebuah keharusan sesorang yang akan berangkat
ke tanah suci. Namun, apakah Rasulullah mencontohkan hal ini? Mungkin ada yang
berdalih bahwa slametan ini sebagai ajang silaturahmi untuk meminta doa dan
maaf kepada handai taulan, jika saja kita meninggal di tanah suci nanti.

Tapi… apakah itu sejatinya? Bukankah Islam mewajibkan
kita untuk meminta maaf segera jika kita berbuat salah? Bukankah dalam tiap
sholat kita selalu saling mendo’akan saudara-saudara kita sesama muslim? Atau
jangan-jangan ada ‘udang di balik batu’? Jangan-jangan secara tak langsung
slametan ini sekedar pengumuman ‘gelar keshalihan’ yang akan segera didapat.
Wallahu’alam bishawab.

*) mudeng = nyambung