Lulur Madu Susu Kopi


Description:
Lulur alami dari bahan-bahan rumahan ini terbukti menghaluskan kulit

Ingredients:
1/2 gelas susu murni (susu sapi/susu kambing)
5 sendok penuh makan kopi tubruk
3 sendok makan madu murni

Directions:
-Campur semua bahan jadi satu ke dalam mangkuk
-Aduk-aduk rata dengan sendok
-Lulur siap dipakai

Saran pemakaian:
-Oleskan adonan lulur ke seluruh tubuh, termasuk wajah
-Diamkan minimal 15 menit
-Gosok-gosok seluruh tubuh
-Bilas dengan air hangat
-Rasakan sensasi halusnya kulit Anda 😉

Catatan:
Setelah dibilas, tubuh tidak perlu disabuni lagi, karena butiran kopi yang berfungsi sebagai scrub telah mengangkat kotoran dari permukaan kulit.

Melahirkan

Gara-gara membaca tulisan ini, aku jadi ingin berbagi pengalaman saat menemani prosesi melahirkan seorang teman di Bandung pertengahan 2004;

Pagi itu begitu cerah. Hari yang baik untuk melanjutkan mengerjakan skripsiku yang sempat terlantar beberapa bulan, demikian pikirku. Tak lama sms berbunyi.

“Jati nu bageur (yang baik. Red), boleh minta tlg ke puskesmas Jl Puter? Istri saya mau melahirkan.” Sebuah sms dari Kang Ihsan, seniorku di kampus yang cukup dekat denganku.

Melahirkan? Wah, sesuatu yang urgent matter nih. Langsung pagi itu aku membatalkan niatku manteng di depan komputer untuk mengerjakan skripsi. Setelah mandi, aku bergegas menuju puskesmas Jl. Puter yang letaknya dekat kosanku.

“Lho? Kok tenang-tenang saja?” tanyaku heran saat masuk ruang persalinan dan melihat Kang Ihsan dan Mbak Laila, istrinya. Maklum, prosesi melahirkan yang kulihat selama hanya lewat tv–dan mayoritas di sinetron yang menampilkan ibu melahirkan dengan teriak-teriak .
“Masih bukaan 4 kok,” jawab Mbak Laila tersenyum tenang.

“Nah, sekarang kan udah ada Jati. Abi pergi beli sarapan dulu ya mi,” ujar Kang Ihsan pada istrinya yang rupanya sejak pagi belum sarapan, begitu juga dengan istrinya.

Tahu gitu, tadi aku beli sarapan sekalian buat mereka berdua. Tapi ya sudahlah. Toh mereka berdua tidak panik dan tenang sekali. Mungkin karena ini adalah prosesi kelahiran anak kedua mereka.

“Aku bantu apa nih mbak?” ujarku yang gak berpengalaman soal hamil apalagi melahirkan.

“Tolong pijit-pijit ya jat.” Lalu kupijit-pijit kakinya. “Allahu Akbar,” rintih Mbak Laila pelan.

“Hah? Kenapa mbak? Mijitnya kekencengan ya?” Aku jadi merasa bersalah.

“Enggak kok. Mules aja.” Lalu kulihat mbak Laila bergerak resah di tempat tidurnya. Hmm..  mungkin ia merasa serba salah dengan posisi tidurnya plus gelombang mules yang kadang muncul kadang hilang. Tak lama kemudian mbak Laila perlahan bangkit dari tempat tidurnya.

“Lho mbak, kok bangun?” ujarku heboh. Kayaknya waktu itu aku heboh sendiri deh, secara kami cuma berdua di ruangan.

“Bergerak sedikit, untuk mempermudah kelahiran,” ujar Mbak Laila (sekali lagi) dengan tenang sambil berjalan-jelan pelan di sekitar tempat tidur. Oh… gitu ya?!

Jam 10.00 pagi; “Masih bukaan 4 nih,” ujar bu bidan. Waks! Dari jam 6 sampai jam 10 pagi masih bukaan 4?! Duh, kasihan Mbak Laila, udah mules-mules tapi masih bukaan 4.

Jam 11.00 pagi (menjelang sholat Jumat); Menurut bu bidan, masih bukaan 4. Waa… ternyata lama juga ya, mana Kang Ihsan hari itu dapat giliran sebagai khotib Jumat di masjid dekat rumahnya di bilangan Ujurng Berung, Bandung. Jadilah tinggal Mbak Laila, aku, dan suster di ruang persalinan Puskesmas Jl. Puter, Bandung.

Deg-degan juga aku, sebab hanya aku seorang (plus suster sama bidan sih. Red) yang menemani seorang ibu yang akan melahirkan. Tapi aku salut dengan Mbak Laila yang mengikhlaskan suaminya pergi meninggalkan dirinya yang tengah berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan anak mereka, demi mengemban amanah sebagai khotib Jumat… Subhanallah.

Kulihat wajah harap-harap cemas di wajah Kang Ihsan saat ‘terpaksa’ pergi meninggalkan istrinya. “Titip istri saya ya, Jati nu bageur nu sholihah,” pesannya padaku.

Jam 13.00; Air ketuban sudah pecah. Ternyata sudah bukaan 10. Saatnya tiba, pikirku.

Kalender masa subur

http://bidanku.com/index.php?/component/option,com_womancalendar/action,render/josDate,2008-09-22/josML,8/josMP,27/lang,in/

Kunyit Asem Yang Menggugurkan

Ramadhan kemarin, ada yang tak biasa dengan karakteristik haidku. Setelah hari pertama flek, kok hari kedua dan ketiga tidak keluar sama sekali? Padahal biasanya hari kedua dan ketiga lagi deras-derasnya. “Waduh, utang puasaku bisa jadi banyak nih,” pikirku.

Maka di hari ketiga haid, aku langsung ke dapur meracik ramuan andalan, yaitu KUNYIT ASAM. Kunyit asam memang telah terbukti melancarkan darah haid. Alhasil setelah tiga hari berturut-turut minum kunyit asam dua kali sehari, haidku lancar. Tapi durasi haidnya lebih panjang daripada biasanya, yaitu 9 hari. So, utang puasa jadi 9 hari deh . Padahal normalnya kalo ‘dapet’ cuma 7 hari. Mungkin hal ini disebabkan karena darah haid yang tidak lancar. Sempat ragu-ragu juga siy, kalau darah yang 2 hari itu masuk ke dalam darah istihadah. Jadi, hutang puasanya tetap 7 hari. Wallahua’lam.

Anyway, kejadian minum kunyit asem ini belakangan membuatku merasa sangat menyesal, terutama setelah membaca sejumlah artikel seputar kehamilan. Yup, ternyata ramuan KUNYIT ASEM DAPAT MENYEBABKAN KEGUGURAN!! Hix… aku baru tahu . Apalagi, flek atau bercak darah yang diikuti dengan tidak keluarnya darah di hari-hari berikutnya adalah salah satu petanda menempelnya janin di dinding rahim… Hix..hix… Maaf ya nak, ibu sama sekali tidak bermaksud menggugurkanmu…

Aku tahu ini semua terjadi atas kehendak-Nya. Mungkin memang Ia belum berkehendak mengamanahkanku sebuah nyawa. Aku yakin skenario-Nya sangat sempurna dan segala sesuatunya akan indah pada waktunya. Wallahua’lam bishawab.

Bagi teman-teman yang membaca tulisan ini, aku berharap pengalamanku bisa menjadi pelajaran berharga. Beberapa pelajaran yang kupetik dari pengalaman ini antara lain:

  • Betapa (calon) manusia itu sangat lemah, bahkan karena kunyit asam pun ia bisa tiada, karena itu kita tidak pantas sombong.
  • Betapa untuk hamil dan selama hamil itu perlu ekstra hati-hati, karena itu bersyukurlah yang telah dikaruniai buah hati yang sehat.
  • Betapa perempuan itu harus tak putus belajar dan mencari ilmu, bukan untuk siapa-siapa tapi untuk dirinya sendiri. Karena ketidaktahuan (baca: kebodohan) dapat mencelakakan dirinya sendiri.
  • Betapa mudahnya jika Allah berkehendak… Kun fa ya kun! Karena itu bertawakallah.
  • Betapa mengikhlaskan sesuatu itu tidak bisa hanya di bibir, tapi di hati dan di perbuatan.
  • ………………………..

Silakan menambahkan list pelajaran yang bisa dipetik

Aku Takut Hamil…!!!

Badan anget, mual, pusing-pusing, sakit perut bagian bawah, sering pipis adalah gejala-gejala yang aku alami 2 minggu terakhir. “Jangan-jangan kamu ‘isi’,” kata beberapa orang. Percaya gak percaya, karena haidku belum telat. Tapi karena rasa mual yang makin menjadi plus diare, aku merasa harus memastikan positif tidaknya, karena aku ingin minum obat–karena kalo positif hamil kan gak boleh sembarangan minum obat.

Akhirnya aku membeli tespek seharga Rp 18.500 yang mengaku 99% akurat dan bisa mendeteksi kehamilan minimal 6 hari setelah berhubungan. Sesuai dengan SOP yang ada pada kemasan, aku lakukan tes urin pagi-pagi saat baru bangun tidur. Viola! Hasilnya negatif.

Sedih? Nggak tuh, biasa aja. Tapi penasaran ajah, apalagi banyak teman yang sudah berpengalaman hamil bilang bahwa tespek bisa jadi salah, karena kehamilan usia muda seringkali belum terdeteksi, sementara gejala yang menimpaku (kata orang) mirip dengan orang hamil muda.

Honeymoon syndrome (infeksi ringan saluran kencing) kali. Biasa itu,” ujar temanku yang suaminya dokter. Hal senada juga diungkapkan oleh dokter dan perawat klinik BSMI. Iya kah? Wallahua’lam. Yang pasti, gejala tersebut akhirnya diikuti dengan haid. PMS (Pre Menstrual Syndrome) kah gejala yang aku alami? Tapi kok begini? Dulu sebelum menikah kalo PMS paling-paling sakit perut bagian bawah saja dan sedikit uring-uringan. Tapi kok kali ini plus mual, panas, bahkan kemarin sempat migrain.

What’s wrong with me…? Hormon? Berdasarkan sejumlah referensi dan konsultasi, ketidakseimbangan hormon progesteron dan estrogenlah penyebabnya.

Subhanallah… Aku jadi membayangkan bagaimana kalau (insyaallah) nanti positif hamil. Lha wong belum hamil saja badan rasanya gak karu-karuan gini plus mood yang enggak banget deh niy gara-gara ketidakstabilan hormon, apalagi kalau hamil ya? Wallahua’lam.

Aku sedang membaca buku “Chicken Soup for Expectant Mother’s Soul“, dan beberapa hari ini aku sering berbagi sama teman-teman yang sedang hamil, sudah punya anak, baru saja melahirkan, sudah pernah keguguran, bahkan yang melahirkan anak cacat. Banyak sekali pelajaran yang bisa aku petik. Ternyata hamil itu memang tidak mudah. Bahkan punya anak pun adalah ‘beban’ (tentu dari sisi mana kita melihat. Red). Apakah aku siap muntah-muntah saat hamil nanti? Apakah aku siap merelakan baju-bajuku karena tak muat lagi? Apakah aku siap membawa ‘tambur’ kemana-mana? Mungkin gak punya anak tanpa hamil terlebih dulu…? Mungkin ajah, dengan adopsi hehehe…

Bahkan ketika menjadi seorang ibu; Apakah aku siap kurang tidur karena tangis bayi? Apakah aku siap kelelahan karena harus menyuci baju tambahan anggota keluarga baru? Apakah aku siap selalu tersenyum meski kelelahan? Apakah aku siap mencurahkan kasih sayang dengan adil kepada bayiku, ayah dari bayiku, dan orang-orang di sekitarku? Apakah aku siap anggaran untuk tetek bengek kelahiran, dan pendidikan anakku kelak? Apakah aku siap merasa was-was ketika menonton berita kriminal dan bergumam, “Apa jadinya jika wajah anakku yang muncul dalam berita itu?” Bahkan apakah aku siap jikalau Tuhan menakdirkanku untuk membesarkan anak yang cacat (nauzubillahiminzalik)??

Well, meskipun aku belum diizinkan Allah menerima amanah sebuah nyawa, aku tidak kecewa dan menyesal. Aku yakin Ia punya rencana. Meminjam kata-kata Mario Teguh, “Apa pun rencana Tuhan pada Anda, semata-mata untuk memuliakan Anda”. Ya, aku yakin itu. Kita manusia hanya berusaha, masalah hasil mutlah milik-Nya. Karena itu aku pernah berkata pada seorang teman, “Kalau positif hamil ya alhamdulillah, tapi kalau negatif ya alhamdulillah juga.”. Karena apa pun rencana-Nya, kita harus senantiasa bersyukur.

Yang pasti aku minta maaf dan pengertiannya untuk orang-orang terdekatku yang mau gak mau terkena radiasi efek ketidakstabilan hormon ini …… Dan seandainya saat itu tiba, semoga aku siap menjalaninya begitu juga dengan orang-orang terdekatku. Wallahua’lam bishawab.