Penasehat Obama Mengundurkan Diri Terkait 9/11

Van Jones menyatakan mundur sebagai penasehat Presiden Barack Obama setelah ia ketahuan pernah melontarkan pernyataan bahwa pemerintah AS ikut berperan dalam serangan teroris 11 September 2001. Pernyataan itu memicu kontroversi dan kritik terhadap Jones yang saat ini menjabat sebagai penasehat khusus Gedung Putih untuk bidang kualitas lingkungan.

Dalam pernyataan pengunduran dirinya, Jones mengatakan,”Saya mengundurkan diri dari posisi saya di Dewan Kualitas Lingkungan.” Nancy Sutley, kepala Dewan menyatakan menerima pengunduran diri Jones dan berterima kasih atas pengabdian Jones selama menjabat sebagai penasehat khusus di Dewan itu.

Jones disebut-sebut ikut menandatangani sebuah petisi yang mengklaim bahwa pejabat pemerintahan Bush telah dengan sengaja memberi peluang pada terjadinya serangan 11 September, kemungkinan untuk dijadikan alasan bagi pemerintahan Bush untuk mengobarkan perang.

Tapi dalam pernyataan pengunduran dirinya, Jones mengatakan bahwa sudah ada “kampanye hitam untuk menjatuhkannya. Jones mengaku mendapat dukungan dari banyak pihak yang memintanya untuk “tetap memegang jabatannya dan melakukan perlawanan” terhadap desakan yang menginginkan dirinya mundur.

“Tapi saya datang ke sini untuk memperjuangkan orang lain, bukan untuk memperjuangkan diri saya sendiri. Saya tidak bisa meminta kolega-kolega saya untuk menghabiskan waktu dan energi hanya untuk membela atau memberikan penjelasan tentang apa yang saya lakukan di masa lalu,” tukas Jones.

Jones mendapat kritikan tajam terutama dari kalangan Republikan di AS yang mendesaknya mundur dari jabatan penasehat bidang lingkungan hidup Presiden Obama, setelah terungkapnya petisi itu.

Mike Pence, wakil Republikan dari Indiana misalnya, membuat pernyataan khusus yang isinya menyerukan Jones untuk melepas jabatannya. Pence bahkan menyebut Jones memiliki pandangan-pandangan yang ekstrim. “Retorika-terorikanya tidak mendapat tempat di pemerintahan maupun di ruang debat publik,” kata Pence.

Terlepas dari keikusertaan Jones menandantangani petisi berisi tudingan bahwa pemerintah AS berperan dalam serangan 11 September 2001, peristiwa itu sendiri masih menyisakan banyak pertanyaan besar yang sampai detik ini belum terjawab, misalnya;

– Mengapa batere misil dan pertahanan udara yang katanya dipasang di sekeliling Pentagon, tidak diaktifkan saat serangan terjadi? – Mengapa tak ada seorangpun yang dipecat, dihukum atau mendapat teguran karena ketidakmampuan untuk mencegah apa yang terjadi pada hari serangan? -Mengapa Sibel Edmonds, mantan penerjemah di FBI yang mengklaim tahu adanya peringatan dini soal serangan, disuruh tutup mulut atas perintah Jaksa Agung Ashcroft ? -Bagaimana mungkin pesawat dengan nomer penerbangan 77-yang dilaporkan menghantam gedung Pentagon- bisa terbang ke Washington DC selama 40 menit tanpa terdeteksi radar otoritas penerbangan komersial atau radar militer?

Banyak para pakar yang meragukan bahwa serangan 11 September 2001 adalah serangan teroris murni. Mereka menduga bahwa ada peran dari dalam negeri AS yang sengaja mendisain serangan tersebut.

sumber : VOA News, Senin, 07/09/2009

Advertisements

Jurnalisme Teror: Agar Aktivis menjadi Hedonis !

Sebuah tayangan televisi pada 14 Februari lalu membuat saya tercengang. Komedian yang sedang terbaring sakit, Pepeng(“pembawa acara Kuis JariJari”) diberi hadiah Valentine oleh pembawa acara Espresso di ANTV. Keterkejutan saya karena hadiah tersebut adalah Al Quran.

Ini merupakan bentuk ‘ecanggihan’ orang/kelompok/organisasi yang berusahamenghancurkan Islam secara halus. Betapa tidak, Al Quran, sebuah Kitab Suci yang berisikan wahyu Allah, (dinistakan) dengan cara dijadikan sebagai hadiah pada acara Valentine yang bermuasal dari agama paganisme.

Hak dan batil dicampuradukkan

Cara itu menggiring opini pemirsa yang mayoritas umat Islam, bahwa Valentine itu kompatibel dengan Islam. Toh, Al Qur ‘an dijadikan sebagai gift. Luar biasa halusnya. Cara halus mereka  yang tentu saja telah dilakukkan lebih dari seratus tahun telah berhasil.

Contoh kecil tapi menyedihkan: Di hari yang sama, vokalis band terkemuka (antara Radja dan Pasha Ungu) yang istrinya melahirkan tepat pada Hari Valentine, menamakan anaknya:  Muhammad Valentino. (Muhammad itu nama Nabi, dan Valentino sebagai bentuk untuk mengingat hari kasih sayang,) kata mereka.

Kisah enam bulan lalu itu saya angkat kembali untuk mengingatkan, betapa media–cetak apalagi elektronik– memiliki kekuatan dahsyat untuk membentuk opini, mengubah mind-set, dan membentuk budaya. Ingat kata futurolog Alvin Toffler. (Abad 21 adalah era informasi. Siapa yang menguasai informasi, maka akan menguasai dunia.)

Satu bulan terakhir ini (setelah Marriot dan Ritz Carlton meledak) sesungguhnya kita tengah digiring oleh hampir seluruh media untuk sependapat bahwa: teroris itu Islam; teroris itu berjanggut, bercadar dan dari pesantren; teroris itu ahli bekam dan herbal; teroris itu aktifis masjid; teroris itu orang yang pernah ke Poso, Ambon dan Afghanistan. Tak percaya?

Lihat saja bagaimana para jurnalis itu beraksi. Koran Tempo kerap kali menampilkan foto para tersangka teroris dengan wajah khas para aktivis Islam: berjanggut, bersorban dan lainnya. Pernah, dalam headlinenya  (salah satu Koran yang juga bersemangat menentang UU Pornoaksi)  itu menulis pemikat beritanya dengan sangat tendensius dan stigmatif.

Ahli bekam dan pengobatan herbal, tulisnya menunjuk pada sosok Syaifudin Zuhri, ustadz yang menurut mereka merupakan teroris.

Setali tiga uang dengan media elektronik. Mereka– TV One, Metro TV, SCTV, ANTV, RCTI,  tak bosan-bosannya menampilkan wawancara dengan para keluarga Yang diduga teroris.  
Perhatikan apa yang terlihat dalam gambar! Para anggota keluarga itu, memakai simbol-simbol kekaffahan seorang muslim saat diwawancarai: berjilbab, bersarung, bercadar dan berbaju gamis. Visual itu seolah ingin mengatakan: Ini loh, orang-orang yang berjilbab itu sesungguhnya sumber lahirnya teroris.

Konspirasi

Anda pernah menyaksikan film  Conspiracy Theory, yang dibintangi Mel Gibson dan Julia Roberts. Film yang dirilis tahun 1997 itu menceritakan tentang seorang maniak teori konspirasi bernama Jerry Fletcher (Mel Gibson) yang bekerja sebagai sopir taksi.

Pria tampan berpenampilan cuek tapi terlihat cerdas tersebut memiliki kekasih bernama Alice Sutton (Julia Roberts) yang bekerja untuk pemerintah. Jerry yang sangat kritis terhadap kebijakan pemerintah memiliki teori yang disebutnya Conspiracy Theory atas dugaan pembantaian yang dilakukan oleh beberapa tokoh politikus. Ternyata, tanpa diduga salah satu teori Jerry menjadi kenyataan.

Jerry pun diburu oleh sekelompok orang asing atas suruhan politikus yang terlibat dalam teori konspirasi tersebut. Bahkan Jerry harus dibunuh sebelum teori itu menjadi pusat perhatian masyarakat. Satu-satunya orang yang dapat dipercaya oleh Jerry adalah Alice, wanita yang dicintainya. Namun sayangnya Alice tidak tahu apa yang harus diperbuat karena semua mengandung misteri.

Konspirasi-konspirasi seperti yang digambarkan di dalam film Conspiracy Theoryitu memang ada.  Di dalam dunia usaha  global, perusahaan besar membeli produk-produk setiap harinya, adalah bagian dari konspirasi untuk memperbaiki harga di pasar dan mengurangi kompetisi. Begitu pula dalam ranah politik, sosial dan lainnya.

Bagi orang yang tidak percaya selalu menganggap semua hanya olok-olok, mengada-ada, menyia-nyiakan waktu, kurang kerjaan, dan sebagainya. Orang-orangJIL, misalnya, menyebut para penganut teori ini sebagai kemalasan Berpikir..

Namun, bagi saya, percaya pada konspirasi merupakan kejernihan  berpikir. Tak sulit untuk menyimpulkan sebuah peristiwa adalah konspirasi atau tidak. Cukup menelaah pra kejadian, saat kejadian dan setelah kejadian. Biasanya, jika kita mau sedikit cermat, ada saja ditemukan kejanggalan-kejanggalan dan benang merah.

Mari kita bedah peristiwa pemboman Marriot dan Ritz Carlton. Sebelum bom meledak, travel warning diberikan pemerintah Australia kepada warganya agar tak mengunjungi Indonesia. Kemudian, polisi menemukan bom di Cilacap.

Sebelum itu, polisi juga menangkap teroris di Palembang. Pola ini selalu sama dengan pemboman yang sudah-sudah: Bom Bali I, II, dan Kedubes Australia (2004). Sebelum peledakan terjadi, didahului travel warning, penemuan bom dan lainnya.

Lalu, hari H peledakan, terdapat banyak kejanggalan. Bagaimana mungkin JW Marriot dan Ritz Carlton bisa disusupi, padahal pengamanan di sana, sejak dibom pada 2003, sangat ketat. Saya pernah masuk ke Marriot pada Juni 2007. Pengamanannya berlapis, tak sembarang orang bisa masuk.

Kalaupun dugaan saya di atas masih lemah, mari kita lihat apa yang terjadi setelah bom meledak, yang menurut saya mengindikasikan dengan kuat adanya konspirasi. Pasca peledakan, semua media gencar memberitakan kasus ini, hingga sekarang. Liputan langsung dibuat. Tak cukup dengan itu, juga diundang para nara sumber yang memiliki pandangan sama, salah satunya mantan Kepala BIN.

Dua kali ia diwawancarai TV One, dan satu kali oleh Metro TV. Statementnya selalu sama: Teroris itu akan selalu bermunculan jika akar penyebabnya tak dihabiskan, yakni wahabisme dan ikhwanul muslimin, kata dia.

Buku Ilusi Negara, LibForAll Sudutkan Islam

Pernyataan ini menjadi menarik. Pertama, beberapa bulan sebelum peledakan, muncul buku Ilusi Negara Islam yang diterbitkan orang-orang liberal. Isinya idem ditto dengan ocehan mantan Kepala BIN itu. Buku yang diedit Abdurrahman Wahid Itu lucu juga..  kok bisa Gus Dur yang penglihatannya tak sempurna bisa  mengedit, menyatakan bahwa di Tanah Air ada ideologi transnasional yang harus  diwaspadai: wahabisme, ikhwanul muslimin. Disebutkanlah nama-nama organisasi pengusung ideologi tersebut: MMI, DDII, HTI, PKS, dan FPI.

Kedua, seolah ingin menindaklanjuti pernyataan mantan Kepala BIN itu, pihak kepolisian mulai membabi buta memberantas teroris. Di Purbalingga, anggota Jamaah Tabligh ditangkap karena dicurigai teroris saat mereka khuruj di masjid. Dan yang paling memprihatinkan, kepolisian akan mengawasi ceramah agama di masjid dan mushola, termasuk di bulan Ramadhan. Neo Orde Baru telah datang.

Pasca peledakan, sudah teramat jelas, pihak yang paling dirugikan oleh kepolisian dan pemberitaan media adalah umat Islam. Kolaborasi  ini tentu saja akan memudahkan mereka untuk melakukan “teror” kepada umat Islam. Dan media pun akan kian mudah menciptakan opini bahwa teroris itu adalah Islam berjanggut, berjilbab dan aktivis masjid.

Dengan cara ini mereka berharap: para remaja, pemuda dan umat Islam pada umumnya, akan takut datang ke masjid, mengikuti pengajian, dan menjadi Islam yang kaffah. Dari pada ditangkap, lebih baik menjadi kaum hedonis: yang asyik masyuk berdugem ria, menonton film porno, menyaksikan sinetron. Juga lebih baik menjadi kaum liberalis dan sekularis: yang mempromosikan Islam yang bebas tak bertanggungjawab.

Dan jangan kaget, bila suatu saat nanti, Al Qur’an akan menjadi hadiah Wajib saat Hari Valentine. Naudzubillahminzalik. Masihkah kita mengaggap ini bukan rekayasa? Wallahua’lam. (eramuslim)

Rabu, 02 September 2009

Ditulis Oleh : Erwyn Kurniawan, S.Ip, (Alumni FISIP Universitas Nasional dan sekarang sebagai Editor di Maghfirah Pustaka)

Eramuslim Digest (magz) – Satanic Finance

Rating: ★★★★
Category: Other

Majalah edisi hardcopy terbitan eramuslim ini highly recommended to read! Majalah edisi ke-8 yang mengangkat tema “Satanic Finance” ini akan membuka mata kita semua tentang UANG KERTAS (fiat money) yang selama ini kita percaya sebagai “harta” dan alat pembayaran yang sah. Padahal, uang kertas yang nilai nominalnya jauuuuh lebih besar daripada nilai intrinsiknya ini tak lain adalah tipuan belaka alias akal-akalan Yahudi untuk menghegemoni dunia. Karena nilai uang kertas itu tercipta lewat konvensi atau kepercayaan bersama, tidak lebih! Dan di situlah terdapat riba itu sendiri.

Selain itu, secara gamblang dijelaskan tentang motif ‘bank Islam’ yang kini tengah menjamur di dunia internasional yang tak lain hanyalah kosmetik sistem ribawi yang dipelopori oleh (lagi-lagi) Yahudi. Karena sistem perbankan didasari oleh konsep fiat money. Karena itu, sistem bagi hasil yang katanya sesuai dengan syariat Islam tidaklah mengubah esensi ribawi tadi, tetapi hanya memolesnya menjadi seolah-olah syar’i.

Masalahnya, sistem perbankan di dunia ini telah berabad-abad mengurat akar. Karena itu, untuk memerangi sistem perekonomian kafir ini, diperlukan ‘gerilya’ yang sungguh-sungguh. Salah satu upayanya adalah dengan menggencarkan penggunaan dinar (emas) dan dirham (perak) seperti pada perekonomian di masa Rasulullah dan masa sebelumnya.

Asal muasal fiat money ini sebenarnya adalah surat sertifikat/jaminan kepemilikan emas seseorang. Jadi, pada masa itu, orang yang memiliki fiat money sudah pasti memiliki emas. Fiat money pada masa itu dikeluarkan untuk membeli barang-barang yang nilainya sangat murah, jauh di bawah harga emas. Namun pada perjalanannya, uang kertas (fiat money) dicetak sesuka hati tanpa back up cadangan emas. Dan inilah yang dilakukan AS pasca perang dunia. Kestabilan nilai tukar dolar AS sebagai patokan kurs mata uang di seluruh dunia tidak di-back up oleh cadangan emas, melainkan oleh kekuasaan dan kekuatan militernya.

Meskipun singkat, majalah ini cukup komprehensif menjelaskan A-Z tentang uang kertas (fiat money), mulai dari sejarahnya, implikasinya, hingga solusinya. Kalau Anda menemukan majalah ini di mana saja, jangan ragu untuk membeli dan membacanya. Saya bukanlah bagian marketing ataupun redaksi majalah ini. Saya hanyalah pembaca yang terkesan dengan isi dan berita dalam majalah eramuslim digest ini.

Accident

If I am asked about my unforgetable moment on duty, I would probably tell about accident on my way to cover a news.

It happened in February 2005 when I was a reporter at MQ FM Radio Bandung. I was assigned to cover Leuwigajah garbage slide in Cimahi, West Java, which killed more than 100 people lived near the dump site. It was actually my first duty as a radio reporter.

The path toward the location was semi off-road. So I had to take ojek (motorcycle taxi) to reach the exact location. The accident actually happened when I  got lift on the ojek. When the ojek driver speed up the motorcycle, my backpack’s rope was hooked with another motorcycle handle-bar which speed to the opposite way. Then I fell down from the motorcycle. My unhelmeted head hit the rocky road. Thank God my head was hard enough so it wasn’t crushed. I was very shocked, but fortunately I didn’t get serious injury or brain concussion.

Some local residences crowded around me. They thought I fainted, but I was totally conscious. I was just very shocked. So I didn’t make any movement for a while at that time. Some of them urged me to stay to their house, because they thought that I might be injured. I refused their offering. I told them that I was a reporter and had to gather news.

Afterwards, all the MQ FM crews didn’t know about the accident until I told them after I reported the live report news. My news director was very surprised and worried about me after knowing the accident. Indeed, I didn’t give up although I had been shocked by a motorcycle accident. 

9 Etika Jurnalistik Dalam Al Qur’an

Sembilan etika kewartawanan tertulis di Alquran, seperti dipaparkan
penceramah dan imam Nasaruddin Umar pada acara buka puasa bersama
Presiden SBY dengan para pemimpin media dan wartawan yang sehari-hari
bertugas di Istana Kepresidenan di Istana Negara, Jakarta, Kamis
(28/9).

“Profesi kewartawanan dan dunia pemberitaan mendapat tempat yang

sangat mulia di dalam Alquran. Bahkan terdapat satu surah khusus di

dalam Alquran bernama Surah Al-Naba yaitu surah ke-78,” ujar

Nasaruddin.

Dalam ceramahnya, Nasaruddin memaparkan sembilan etika kewartawanan

seperti terdapat dalam Alquran. Pertama, mencari informasi pada

sumber
yang lebih tepat dan akurat. Kedua, menanyakan sesuatu yang

tidak justru menimbulkan resiko kepada para penanya.

Ketiga, melakukan check and recheck terhadap sebuah informasi.

Keempat, tidak melakukan pemerasan terhadap obyek informasi. Kelima,

menjauhi prasangka dan prejudice dalam investigasi. Keenam,

menghindari trial by the press yang mengakibatkan pembunuhan karir

dan karakter seseorang atau sekelompok orang.

Ketujuh, senantiasa memohon perlindungan kepada Allah agar terhindar

dari resiko negatif karena kekeliruan investigasi. Kedelapan, tidak

bernada mengejek, mengungkap aib orang lain, atau menggunakan inisial

yang merugikan orang lain. Kesembilan, memberikan hak jawab dan

klarifikasi kepada mereka yang menjadi obyek pemberitaan.

“Tampaknya, hanya profesi kewartawanan yang secara khusus ada

surahnya di Alquran,” ujar Nassaruddin.[]

Diambil dari:

Laporan Wartawan Kompas Wisnu Nugroho A

“Sembilan Etika Kewartawanan Pengantar Berbuka”

http://www.kompas.co.id/ver1/ Nasional/ 0609/28/174324. htm