Jarum Bekam Media Penularan HIV/AIDS?

Aku termasuk orang yang concern dengan penyakit HIV/AIDS. Bagaimana tidak, angka penderita penyakit yang belum ditemukan obatnya ini tiap tahun mengalami kenaikan yang signifikan. Data Kemenkes menyebutkan per Juni 2011, ada 742 kasus bayi HIV. Ini berartu dalam 3 tahun, kasus bayi HIV naik 2 kali lipat!

70-80 persen bayi HIV ini tertular dari ibunya yang merupakan ibu rumah tangga penderita HIV dengan resiko rendah. Bayangkan, ibu dari bayi-bayi tak berdosa itu adalah perempuan baik-baik yang setia pada pasangannya (suaminya). Menurut dokter spesialis kebidanan RSCM, dr Yudianto, para ibu rumah tangga tersebut tertular HIV dari suaminya.

Sementara angka penderita baru HIV AIDS di Jakarta pada tahun 2011 mencapai 1.184 orang. Kebanyakan dari penderita adalah profesional muda dan 340 orang adalah ibu rumah tangga!!!

Yang cukup mencengangkan, data Komisi Penanggulangan Aids Nasional tahun 2011, provinsi dengan penderita HIV/AIDS terbanyak adalah Jawa Timur!! OMG . Padahal tahun-tahun sebelumnya provinsi tertatas dengan kasus HIV/AIDS terbanyak dipegang Papua, karena budaya mereka yang perilaku seksualnya beresiko tinggi.

Mengapa Jawa Timur kok ujug-ujug pemegang rekor HIV/AIDS terbanyak? Ternyata ‘penyumbang’ terbesar angka penularan ini adalah para TKI yang berasal dari daerah-daerah di Jawa Timur…. Masyaallah!! Betapa mengerikan! Apa yang terjadi jika para TKI tersebut hamil dan punya anak? Tentu saja bayi-bayi tak berdosa yang mereka lahirkan positif tertular HIV… Ya Robbi…

Jarum Bekam

Lantas apa hubungannya jarum bekam dan penularan HIV/AIDS?

Yang pasti sudah pada paham dong, kalau jarum/silet/alat cukur atau benda apapun yang dapat melukai kulit bisa menjadi media penularan HIV/AIDS jika digunakan secara bergantian tanpa disteril. Gak percaya? silakan klik di sini.

Bekam atau hijamah adalah teknik pengobatan dengan jalan membuang darah kotor (racun yang berbahaya) dari dalam tubuh melalui permukaan kulit. Karena itu alat-alat bekam menggunakan media jarum untuk melukai kulit. Nah, di sinilah letak bahayanya. Jika jarum yang digunakan terapis bekam tidak steril bisa menjadi media penularan penyakit yang belum ada obatnya ini.

Jangankan jarum bekam, pisau cukur saja bisa menjadi media penyebaran HIV/AIDS jika dipakai bergantian. Tidak percaya? Silakan baca di sini. Ngeri ya… Karena itu, siapa pun bisa tertular HIV/AIDS jika tidak waspada.

Bukan maksud hati untuk menakut-nakuti lewat tulisan ini. Bukan pula hendak mendiskreditkan pengobatan bekam. Aku hanya ingin mengajak kita semua waspada pada penyakit ini. Dan untuk para terapis bekam agar semakin meningkatkan kehigenitasan alat-alatnya. Bahkan bila perlu, kemenkes atau MUI atau BPOM memberikan sertifikat khusus untuk klinik dan atau terapis bekam yang banyak bertebaran di negeri ini. Supaya para pasien dan calon pasien lebih merasa yakin dan aman dengan metode pengobatan ala Rasulullah ini. Wallahua’lam..

NB:
Jenis bekam ternyata ada macam-macam, yaitu bekam basah (wet cupping), bekam kering (dry cupping), bekam seluncur (sliding cupping), dan bekam cepat (flash cupping). Untuk lebih lengkapnya bisa dibaca di sini.

Nah, buat yang gak ingin terkena jarum bekam, bisa memilih jenis bekam selain bekam basah, karena hanya bekam basah yang menggunakan jarum sebagai alat untuk mengeluarkan darah kotor dari permukaan kulit.

‘Ngapain ASI Diperes?’

“Saya dimarahi bidan Posyandu karena meres ASI (untuk stok ASI perah. Red),” kata ibu muda itu. “Kata Bu Bidan, ‘Ngapain ASI-nya diperes, mendingan dikasih langsung ke bayinya. Kalo diperes kan bayi kamu jadi minum ASI sisa’,” lanjut ibu muda itu.

OMG!!! Ternganga aku mendengar pernyataan ibu muda itu. Kalo di pilem kartun nih mulut udah jatoh ke lantai kali…

“Nggak bener itu mbak! Bayi gak akan minum ASI sisa, karena setiap kali bayi menyusu langsung ke ibunya, tubuh akan memproduksi ASI baru,” ujarku.

“Oh… gitu ya? Wah, berarti saya harus meres lagi nih, karena sebulan lagi masuk kerja. Udah lama nih saya gak meres, karena dibilang begitu sama Bu Bidan,” ujar ibu muda yang ternyata berprofesi sebagai perawat.

Yup, saudara-saudara… ibu muda tersebut seorang perawat. Sebuah profesi yang menurut kita paham betul tentang kesehatan, termasuk laktasi. Tapi ternyata… OMG…!!! Bahkan bidan Posyandu yang notabene seorang ‘opinion leader’ bagi masyarakat kelas bawah pun mengutarakan hal yang keliru… OMG!! Ini yang salah sekolah keperawatan atau kebidanannya yak?

Well, kalo main salah-salahan gak akan beres persoalan. Mungkin karena ilmu kesehatan adalah ilmu yang terus berkembang, sehingga meskipun sudah lulus sekolah keperawatan/kebidanan/kedokteran/kesehatan, para lulusan tsb harus terus meng-up date ilmunya supaya tidak ketinggalan jaman.

“Ayo mbak, mulai sekarang menabung ASI perah lagi, supaya stoknya cukup kalau nanti udah masuk kerja lagi,” sahutku menyemangati ibu muda yang perawat tersebut.

Gak masalah deh, mbak perawat ini gak up date. Yang penting ia semangat ‘belajar’ dan ingin tahu.

Vaccination – The Hidden Truth

This is the 2 minute trailer of the shocking but extremely informative video documentary “Vaccination – The Hidden Truth” where 15 people, including Dr. Viera Scheibner (a PhD researcher), five medical doctors, other researchers, and parents’ experiences, reveal what is really going on in relation to illness and vaccines.

With so much government and medical promotion of vaccination for prevention of disease, ironically, the important facts presented here come from the orthodox medicine’s own peer-reviewed research, of which a total of well over 100,000 pages has been studied by those interviewed. The result is a damning account of the ineffectiveness of vaccines and their often harmful effects.

It shows that parents are not being told the truth by the media, the Health Department and the medical establishment, with a medical doctor, Dr. Mark Donohoe, confessing that “It is a problem for me that I am part of a profession that is systematically lying to people.”

Find out how vaccines are proven to be both useless and have harmful effects to your health and how it is often erroneously believed to be compulsory.

Many people simply refuse to believe the truth regardless of how clear it is, but the impeccable documentation presented in this amazing video has changed the minds of many who have seen it.

To see the full video, go to (Vaccination Information Service) web site http://www.vaccination.inoz.com

The Miracle of Enzyme

Rating: ★★★★★
Category: Books
Genre: Health, Mind & Body
Author: Dr. Hiromi Shinya, MD

Buku ini ditulis oleh seorang dokter bedah yang melakukan pengamatan selama 40 tahun membedah perut sekitar 300.000 pasien dan membandingkan dengan pola makan pasien-pasien tersebut. Pengamatan ini didorong oleh rasa ingin tahu apa yang MENYEBABKAN SESEORANG SAKIT.

Shinya mengakui, di sekolah kedokteran ia hanya mempelajari bagaimana menyembuhkan gejala penyakit dan tidak benar-benar mendapatkan penyebab seseorang sakit.

Dari pengamatannya pada 300.000 pasien, hampir bisa dipastikan, orang yang minum susu setiap hari, maka ususnya akan kotor dan bermasalah.

Sebelum tahun 1960, penduduk Jepang tidak mengkonsumsi susu. Ternyata
penduduk Jepang yang berusia lanjut tidak ada yang menderita osteoporosis. Sejak tahun 1960, di Jepang dipopulerkan mengkonsumsi susu dan ternyata setelah itu dijumpai banyak sekali kasus osteoporosis. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Susu tinggi Kalsium dipercaya lebih mudah diserap. Saat minum susu, konsentrasi kalsium dalam darah tiba-tiba meningkat. Ketika konsentrasi kalsium dalam darah meningkat, tubuh berusaha mengembalikan keadaan abnormal ini menjadi normal dengan membuang kalsium dari ginjal melalui urine. Demikian juga tubuh melepas sebagian kalsium dari tulang dan gigi. Dengan kata lain, jika Anda mencoba minum susu dengan harapan mendapatkan kalsium, hasilnya sungguh ironis, yaitu menurunnya jumlah kalsium dalam tubuh Anda secara keseluruhan. Dari empat negara susu besar, yaitu Amerika, Swedia, Denmark dan Finlandia yang banyak mengkonsumsi susu setiap harinya, ditemukan banyak kasus retak tulang panggul dan osteoporosis.

Sebaliknya dengan mengkonsumsi ikan-ikan kecil dan rumput laut yang selama berabad-abad dimakan oleh bangsa Jepang dan pada awalnya dianggap rendah kalsium, ternyata hampir tidak ada kasus osteoporosis
di Jepang selama masa rakyat Jepang tidak minum susu.

Selain susu, Shinya mendapati bahwa inti kesehatan tubuh manusia terletak pada ENZIM PANGKAL. Semakin banyak enzim pangkal, semakin sehat tubuh seseorang. Enzim pangkal akan tergerus habis jika seseorang tidak menjaga makanan dan gaya hidupnya. Salah satu upaya mempertahankan enzim pangkal adalah dengan minum banyak air putih dan rajin olah raga.

Meskipun Shinya seorang dokter, ia justru tidak merekomendasikan pasiennya untuk mengonsumsi banyak obat, karena menurutnya, “Semua obat, asing untuk tubuh”. Ia justru merekomendasikan makanan alami untuk pasien-pasiennya. Menurutnya, porsi makanan ideal bagi manusia adalah: 85% nabati, dan 15% hewani.

Beberapa pasiennya yang mengidap kanker justru berhasil sembuh dengan diet ketat dan menjaga gaya hidup, dan bukan karena obat.

Why You Should Avoid Taking Vaccines

http://www.newswithviews.com/Howenstine/james.htm
Do Vaccines Actually Prevent Disease?

This important question does not appear to have ever been adequately studied. Vaccines are enormously profitable for drug companies and recent legislation in the U.S. has exempted lawsuits against pharmaceutical firms in the event of adverse reactions to vaccines which are very common. In 1975 Germany stopped requiring pertussis (whooping cough) vaccination. Today less than 10 % of German children are vaccinated against pertussis. The number of cases of pertussis has steadily decreased[3] even though far fewer children are receiving pertussis vaccine.

WAVE – World Association for Vaccine Education

http://www.novaccine.com/
WAVE provides updated database of documents that concern vaccine risk and uselessness. It’s intent is to redress the balance of information available to parents on vaccination issues, acknowledge people who experience vaccine reactions, and adamantly advocate and maintain freedom of choice.

No Vaccine For My Baby

Menjelang (insyaallah) menjadi ibu, saya menjadi sangat concern terhadap pengasuhan dan kesehatan bayi. Alhasil, saya menjadi rajin browsing informasi seputar dua hal tersebut.

Belakangan, saya fokus mencari informasi mengenai vaksinasi untuk bayi dan balita, karena hal satu ini membuat saya ragu. Pasalnya, vaksin mengandung zat-zat haram dan berbahaya (beracun), seperti virus, merkuri, alumunium, darah, enzim babi, pankeas kera, ginjal janin manusia yang diaborsi. Namun di sisi lain, saya ingin anak saya tetap terlindungi dari berbagai penyakit berbahaya.

Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, tentu saya harus menolak pemberian vaksin kepada anak saya kelak, karena dalam Al Qur’an tertera jelas, bahwa yang HARAM itu DILARANG. Karena itu saya sempat menulis status di facebook, bahwa ini benar-benar ujian keimanan. Kepada siapa kita beriman? Kepada dokter/ahli kesehatan atau kepada Allah SWT dan rasul-Nya?

Apalagi dewasa ini, orang-orang (Indonesia khususnya) yang emoh diberi vaksin kerap dianggap aneh. Berbagai alasan medis dan (seolah) ilmiah dilontarkan oleh mereka yang pro vaksinasi, alih-alih menakut-nakuti mereka yang kontra vaksinasi.

Well, saya tidak ingin menyalahkan siapa pun. Semua berhak beropini dan berargumen. Toh, setiap detil perbuatan di dunia akan ada pertanggungjawabannya di akhirat nanti, ya kan?

Anyway, setelah tanya sana-sini, diskusi sana-sini, juga membaca referensi dari sana-sini… bismillah, saya memutuskan tidak akan memberi vaksin untuk anak-anak saya kelak. Kenapa?

Zat Haram dan Berbahaya Dalam Vaksin

Seperti yang sudah saya sebut di atas, bahwa vaksin mengandung zat-zat haram dan bersifat toxic atau racun. FYI, vaksin merupakan suatu produk biologik yang terbuat dari kuman/virus, komponen kuman/virus, atau racun kuman/virus yang telah dilemahkan atau dimatikan yang digunakan untuk merangsang kekebalan tubuh seseorang.

Dalam proses pembuatannya pun, kuman/virus tersebut dibiakkan dalam organ tubuh hewan yang haram, seperti babi. Bahkan kompenen pembuat vaksin pun tidak kalah menjijikkan, najis, bahkan haram, seperti darah, enzim babi, dan embrio bayi yang digugurkan.

Selain haram, vaksin juga mengandung zat berbahaya. Misalnya vaksin DPT buatan Sanofi Pasteur dengan merk ‘Adacel’, mengandung Formaldehyde, Glutaraldehyde, 2-Phenoxyethanol, Pertussis toxin, Filamentous hemagglutinin (FHA), Aluminum phosphate, Diphtheria toxoid, Tetanus toxoid.

Ketidakefektifan Vaksin

Apakah bayi-bayi yang sudah divaksin dijamin aman dari penyakit tertentu? Jawabannya TIDAK! Hal ini karena vaksinasi sendiri menimbulkan sejumlah resiko. Bukan resiko demam setelah divaksin lho, tetapi resiko yang lebih serius.

Sebenarnya banyak sekali temuan yang tidak dipublikasi luas tentang bahaya vaksin. Mengapa? Karena jika terpublikasi luas, tentu saja pabrik pembuat vaksin bisa bangkrut!

Penyebaran penyakit pertusis misalnya, ternyata tidak dapat dicegah melalui vaksinasi. Berikut ini kutipan seorang ahli kesehatan. Dr. James Howenstine, MD., yang saya ambil dari sini :

“In 1986 there were 1300 cases of pertussis in Kansas and 90 % of these cases occurred in children who had been adequately vaccinated. Similar vaccine failures have been reported from Nova Scotia where pertussis continues to be occurring despite universal vaccination. Pertussis remains endemic[4] in the Netherlands where for more than 20 years 96 % of children have received 3 pertussis shots by age 12 months.”

Beberapa pendapat lain dari para pakar yang saya ambil dari sini tentang vaksin :

“Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan.”
~ Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi Kesehatan Nasional Amerika

“Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi menimbulkan reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem imun.”
~ Dr. Richard Moskowitz, Harvard University

“Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.”
~ Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris

“Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.”
~ Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962

Konspirasi Di Balik Kewajiban Vaksinasi

Vaksin yang telah diproduksi dan dikirim ke berbagai tempat di belahan bumi ini (terutama negara muslim, negara dunia ketiga, dan negara berkembang), adalah sebuah proyek untuk mengacaukan sifat dan watak generasi penerus di negara-negara tersebut.

Vaksin tersebut dibiakkan di dalam tubuh manusia yang bahkan kita tidak ketahui sifat dan asal muasalnya. Kita tahu bahwa vaksin didapat dari darah sang penderita penyakit yang telah berhasil melawan penyakit tersebut. Itu artinya dalam vaksin tersebut terdapat DNA sang inang dari tempat virus dibiakkan tersebut. Pernahkah berpikir apabila DNA orang asing ini tercampur dengan bayi yang masih dalam keadaan suci?

DNA berisi cetak biru atau rangkuman genetik leluhur-leluhur kita yang akan kita warisi. Termasuk sifat, watak, dan sejarah penyakitnya. Lalu apa jadinya apabila DNA orang yang tidak kita tahu asal usul dan wataknya bila tercampur dengan bayi yang masih suci? Tentunya bayi tersebut akan mewarisi genetik DNA sang inang vaksin tersebut. Intinya, propaganda kewajiban vaksinasi tujuannya tak lain adalah melemahkan generasi muda. Nauzubillahiminzaliik…

Jujur saja, sebelum berdiskusi dan membaca sejumlah referensi seperti yang saya tulis di akhir tulisan ini, saya sempat ragu jika harus menjauhkan anak saya kelak dari vaksin. Tetapi ternyata banyak saksi hidup yang tumbuh dewasa dengan sehat wal afiat tanpa vaksin. Suami saya salah satunya. Ia tidak pernah divaksin sejak lahir. Beberapa teman saya juga mengalami hal serupa. Dan alhamdulillah mereka tumbuh dengan sehat dan cerdas.

Well, kalau kita kembali kepada Al Qur’an dan Hadits, cukuplah kita ‘mengimunisasi’ anak-anak kita dengan cara-cara yang dianjurkan Allah dan rasul-Nya, antara lain dengan ASI hingga dua tahun dan mentahniknya saat baru lahir. Hanya Allah sumber segala ilmu…

Jadi, masih mau memvaksin anak keturunan Anda?

Dari berbagai sumber:
http://books.google.co.id/books?id=lsiXhIC9sXkC&printsec=frontcover&dq=deadly+mist&hl=id&ei=d3rKTLfMB86HcaWZxcAO&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CCgQ6AEwAA#v=onepage&q&f=false
http://en.wikipedia.org/wiki/Vaccine_controversy
http://books.google.co.id/books?id=ViexJgBVZksC&printsec=frontcover&dq=vaccine&hl=id&ei=MTC9TIUEh6Zwkq_g_w0&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=4&ved=0CDYQ6AEwAw#v=onepage&q&f=false
http://books.google.co.id/books?id=EahoRAAACAAJ&dq=vaccine&hl=id&ei=MTC9TIUEh6Zwkq_g_w0&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=3&ved=0CDIQ6AEwAg
http://www.eramuslim.com/konsultasi/sehat/halal-haram-vaksinasi.htm
http://www.halalguide.info/2009/05/04/kehalalan-vaksin/
http://elfrieda.wordpress.com/2008/11/10/vaksinasi-perlukah-bahaya-imunisasi/#comment-26
http://www.halalguide.info/2008/09/22/pedoman-berproduksi-halal-di-rph-dan-restoran/
http://www.shirleys-wellness-cafe.com/vaccines.htm
http://ustadzrofii.wordpress.com/2010/08/25/imunisasi-dan-strategi-yahudi/
http://www.mahdi-antichrist-freemasonry.com/
http://www.novaccine.com/
http://www.newswithviews.com/Howenstine/james.htm
http://dinkes.acehprov.go.id/dinkes/uploadfiles/data2006/kamus_dinkes/v.pdf

Free e-book of Health from Hesperian Foundation

http://www.hesperian.org/publications_download.php
Kumpulan e-book gratis ttg kesehatan.

Salah satu judul yang udah jadi ‘al kitab’ di rumah sejak aku kecil, yaitu “Where There Is No Doctor” yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Yayasan Essensia Medica menjadi “Apa Yang Anda Lakukan Bila Tidak Ada Dokter”. Ternyata saat sudah besar, buku ini tersedia dalam format PDF gratis 🙂

Semoga bermanfaat!

Wilayah Abu-abu COKLAT

”Katakan dengan coklat”. Begitu pesan iklan produk coklat berbagai merek di televisi. Ada santai, ada Silverqueen. Ada break, ada KitKat. Memang, coklat digemari banyak orang. Bahkan tak hanya anak-anak dan kaum remaja. Dalam parcel lebaran misalnya, coklat menjadi salah satu menu wajib. Ia juga menjadi buah tangan favorit antar-negara, sehingga hampir selalu ada di bandara internasional setiap negara.

Coklat berbentuk padatan pada suhu ruang, yang akan mudah meleleh begitu tiba di mulut. Dikombinasikan dengan gula dan susu, coklat memiliki sensasi kelezatan yang menggoyang lidah. Begitu masuk mulut, kelezatannya mengguyur seluruh tubuh. Demikian sebuah iklan menggambarkan secara berlebihan.

Tapi, tentu saja, hidup bukan sekadar memanja selera. Sebelum pertimbangan lain-lain, orang Islam akan menggugat makanannya: halalkah?

Sebagaimana produk olahan yang lain, coklat juga memiliki wilayah abu-abu. Artinya, bisa jadi dia haram dimakan. Kenapa?

Proses Pembuatan

Coklat dibuat dari biji coklat yang dihasilkan dari tanaman cacao (Theobroma cacao, L.). Cacao pertama kali dikenal oleh bangsa Maya di Yukatan selatan, Amerika Selatan. Ketika ekspedisi Eropa pertama tiba di Amerika Tengah, mereka mendapatkan cacao ditanam oleh bangsa Aztec di Meksiko dan bangsa Inca di Peru. Biji coklat pada masa itu dijadikan mata uang, juga dibuat menjadi minuman dengan nama chocolatl. Dari nama minuman itulah agaknya asal-muasal nama coklat.

Setelah dikeluarkan dari buah coklat, biji coklat kemudian difermentasiagar menghasilkan bahan-bahan kimia yang dibutuhkan dalam pembentukan flavor (aroma dan rasa) coklat yang khas.

Setelah fermentasi, biji coklat dikeringkan dan disangrai. Selain untuk memantapkan flavor coklat, penyangraian juga untuk membunuh mikroorganisme. Sehingga, biji coklat kian awet. Setelah itu, dilakukan pemisahan kulit biji coklat sehingga hanya bagian dalam biji coklat saja yang diproses lebih lanjut.

Penggilingan biji coklat kemudian akan menghasilkan cocoa mass atau cocoa liquor. Agar menghasilkan coklat bubuk yang mudah larut dalam air panas atau susu, juga mempengaruhi flavor dan warna, setelah itu biasanya dilakukan proses Dutching. Yakni menambahkan larutan alkali, biasanya potasium karbonat.

Cocoa liquor mengandung lemak sekitar 55%. Jika dikeringkan akan menghasilkan coklat berlemak tinggi, yang kurang bisa larut merata dalam air panas. Karena itu lemak cocoa mass biasanya dikurangi melalui pengepresan. Hasilnya, kadar lemak cocoa mass berkurang menjadi sekitar 8% – 24%.

Dari hasil pengepresan cocoa mass akan dihasilkan lemak yang disebut dengan cocoa butter dimana bahan ini sangat dibutuhkan untuk membuat berbagai jenis produk coklat. Sisa hasil pengepresan cocoa mass adalah apa yang diistilahkan dengan cocoa press cake yang nantinya digiling sehingga menjadi coklat bubuk dengan kandungan lemak 10% – 22%.
 
Untuk membuat produk-produk coklat maka dibuat coklat dalam bentuk cair. Ada yang disebut dengan dark chocolate, yang dibuat dari pencampuran gula, biji coklat dan cocoa butter. Ada juga yang disebut dengan coklat susu (milk chocolate) yang dibuat dengan mencampurkan gula, cocoa butter, biji coklat dan susu penuh. Agar diperoleh bahan yang seragam, flavor yang enak dan tekstur yang lembut maka dilakukan proses conching dengan menggunakan alat khusus dimana bahan-bahan campuran diaduk pada suhu dan waktu tertentu sehingga dicapai sifat yang diinginkan. Coklat cair ini selanjutnya digunakan sebagai bahan dasar pembuatan produk-produk coklat termasuk digunakan sebagai bahan pelapis (coating).

Status Kehalalan

Sampai cocoa liquor, cocoa mass, maupun cocoa press cake, tidak ada masalah dengan kehalalannya. ‘’Yang jadi soal adalah penggunaan bahan alternatif yang lebih murah dan bersifat menyerupai coklat. Di samping itu tentu saja dalam pembuatan produk coklat diperlukan bahan-bahan aditif dan ingredien lainnya yang tentu saja harus kita perhatikan kehalalannya,’’ tutur DR Anton Apriyantono, mantan menteri pertanian RI yang juga staf pengajar Teknologi Pangan dan Gizi IPB.

Bahan-bahan utama dalam pembuatan produk coklat adalah susu, pemanis, lesitin, dan flavor. Susu dan produk turunanannya seperti whey banyak digunakan dalam pembuatan produk coklat. Bahkan salah satu jenis produk coklat yang favorit adalah coklat susu. Jika susu yang digunakan susu skim, yaitu susu yang telah dipisahkan lemaknya (krimnya), menurut Anton tidaklah jadi masalah.

Namun bila menggunakan susu rekombinasi, tidak tertutup kemungkinan susu ini mengandung whey yang syubhat. Sebab, proses pembuatan whey dari keju sebagian besar menggunakan enzim yang salah satunya bisa berasal dari babi atau sapi yang tidak disembelih secara Islami.

Pemanis yang acap digunakan dalam produksi coklat adalah gula pasir, syrup glukosa, fruktosa, atau sorbitol. Anton menjelaskan, hamper tidak ada keraguan pada gula pasir. Sedangkan dalam pembuatan sirup glukosa, sebagian besar melibatkan enzim alfa-amilase. Nah, salah satu sumber enzim alfa-amilase adalah hewan, khususnya babi, sehingga kehalalan sirup glukosa patut dipertanyakan. Walaupun demikian, sebenarnya ada sirup glukosa halal.

Dengan kandungan yang sama, jenis lain dari sirup glukosa adalah dekstrosa dimana dekstrosa sebetulnya nama lain dari glukosa, hanya saja desktrosa biasanya dalam bentuk padat, bukan cair.

Jenis pemanis lainnya adalah sirup fruktosa dimana kehalalan sirup fruktosa tidak dipermasalahkan. Cara pembuatan sirup fruktosa mirip dengan cara pembuatan sirup glukosa dimana enzim terlibat dalam pembuatannya, hanya saja enzim yang digunakan tidak sama dengan enzim yang digunakan dalam pembuatan sirup glukosa dan belum diketahui ada enzim yang bermasalah dalam pembuatan sirup fruktosa. Pemanis non kalori sorbitol layak dipertanyakan, karena sorbitol dibuat dari glukosa.

Lesitin komersial lesitin berasal dari kedele. Jika dilihat dari sumber asalnya, kehalalan lesitin tidak dipermasalahkan. Yang jadi soal adalah jenis turunan lesitin atau lesitin yang sudah diolah lebih lanjut.

Elemen rawan dalam pemrosesan lesitin adalah enzim fosfolipase A yang berasal dari pankreas babi untuk mengubah struktur kimia lesitin, alkohol untuk mengekstraksi lesitin, dan bahan pengemulsi yang secara umum berstatus syubhat karena sebagian dibuat dari bahan hewani.

Perasa favorit yang digunakan dalam proses produksi coklat adalah flavor vanilin. Vanilin sendiri secara umum ada 2 jenis. Yang buatan (sintetik), yakni bahan kimia etil vanilin, biasanya dalam bentuk padat dan kehalalannya tidak dipermasalahkan. Jenis kedua adalah vanilin alami yang sebenarnya ekstrak vanilla. Jenis ini kehalalannya diragukan karena biasanya pelarut yang digunakan untuk mengekstrak vanila adalah campuran alkohol (etanol) dengan air. Ekstrak vanila yang diperoleh masih mengandung alkohol yang relatif tinggi.

Banyak sekali jenis flavor lain sedlain flavor vanila yang digunakan dalam pembuatan produk coklat. Dan seperti sering diingatkan oleh DR Anton, secara umum status kehalalan flavor adalah syubhat. Apalagi flavor coklat sintetik yang banyak di pasaran dengan harga murah. (dari majalah ALIA/Nurbowo) []

tulisan diambil dari milis Halal-Baik-Enak

Bahaya Susu Sapi Olahan untuk Manusia

“Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian daripadanya kamu makan,” (QS Al Mu’minuun (23): 21)

Gara-gara baca tulisan ini, jadi pingin berbagi tentang bahaya susu sapi olahan terhadap manusia. Sebelumnya sih emang pernah baca dan dengar tentang bahaya susu sapi olahan untuk manusia. Hanya saja, karena sekedar ‘membaca’ dan tidak menyimak, makanya pengetahuan itu tidak saya tindaklanjuti dengan langkah nyata.

Setelah baca tulisan tersebut, moral of the story yang saya petik;

  • Sunnah (apa yang dicontohkan) Rasulullah meminum susu kambing sebagai minuman terbaik, terbukti secara ilmiah lebih menyehatkan–karena ternyata susu kambing jauh lebih baik daripada susu sapi.
  • Susu segar adalah air susu yang terbaik untuk diminum.
  • Susu (sapi) olahan yang banyak beredar di pasaran belum tentu menyehatkan.
  • Jangan mudah tergoda iklan!
  • Yakinlah pada Al Qur’an dan Hadits, bukan pada iklan!!!
  • Wallahua’lam bishawab

Berikut copy paste tulisannya… selamat menyimak

Hiromi Shinya MD, dalam bukunya, The  Miracle of Enzyme, mengupas habis tentang susu. Kesimpulan ini  diperolehnya dari pengamatan selama 40 tahun membedah perut sekitar  300.000 pasien dan membandingkan dengan pola makan psien tersebut. Hampir bisa dipastikan, orang yang minum susu setiap hari, maka ususnya akan kotor dan bermasalah. Buku ini diberikan kata sambutan oleh Menkes RI dan Dekan FK Unair.

Sebelum tahun 1960, penduduk Jepang tidak mengkonsumsi susu. Ternyata  penduduk Jepang yang berusia lanjut tidak ada yang menderita  osteoporosis. Sejak tahun 1960, di Jepang dipopulerkan mengkonsumsi  susu dan ternyata setelah itu dijumpai banyak sekali kasus osteoporosis. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Susu tinggi Kalsium dipercaya lebih mudah diserap. Saat minum susu, konsentrasi kalsium dalam darah tiba-tiba meningkat. Ketika konsentrasi kalsium dalam darah meningkat, tubuh berusaha  mengembalikan keadaan abnormal ini menjadi normal dengan membuang  kalsium dari ginjal melalui urine. Demikian juga tubuh melepas sebagian kalsium dari tulang dan gigi. Dengan kata lain, jika Anda mencoba minum susu dengan harapan mendapatkan kalsium, hasilnya sungguh ironis, yaitu menurunnya jumlah kalsium dalam tubuh Anda secara keseluruhan. Dari empat negara susu besar, yaitu Amerika, Swedia, Denmark dan Finlandia yang banyak mengkonsumsi susu setiap harinya, ditemukan banyak kasus retak tulang panggul dan osteoporosis.

Sebaliknya dengan mengkonsumsi ikan-ikan kecil dan rumput laut yang  selama berabad-abad dimakan oleh bangsa Jepang dan pada awalnya  dianggap rendah kalsium, ternyata hampir tidak ada kasus osteoporosis di Jepang selama masa rakyat Jepang tidak minum susu.

Fakta-fakta lain tentang susu yang diperoleh adalah sebagai berikut :

Tidak ada makanan yang lebih sulit dicerna daripada susu. Kasein yang banyak terdapat pada susu sapi, langsung menggumpal saat memasuki lambung sehingga menjadi sangat sulit dicerna.

Komponen susu yang dijual di toko telah dihomogenisasi dan menghasilkan radikal bebas dan telah teroksidasi. Susu yang mengandung zat lemak teroksidasi mengacaukan lingkungan dalam usus meningkatkan jumlah  bakteri jahat dan merusak keseimbangan flora bakteri dalam usus.

Kebanyakan susu dipasteurisasi dengan sistem UHT (Ultra High Temperature). Pasteurisasi ini dengan memanaskan hingga suhu 120-130 derajat selama 2 detik. Enzim sensitif terhadap panas dan mulai terurai pada suhu 48 derajat dan pada suhu 115 derajat telah hancur seluruhnya.

Kadar Kasein dan Laktoferin dalam susu sapi sangat berbeda jauh dibandingkan dengan ASI. Sehingga boleh disimpulkan bahwa susu sapi memang hanya untuk anak sapi. Manusia dewasa tidak memiliki cukup banyak enzim laktase untuk mengurai Laktosa dalam susu. Hal ini menyebabkan susu tidak dapat diolah oleh pencernaan dengan baik, ditambah lagi dengan banyaknya komponen teroksidasi menjadikan susu sangat memberatkan kerja pencernaan.

Demikian kesimpulan tentang susu, untuk jelasnya silahkan dibaca sendiri buku The Miracle of Enzyme yang menjadi referensi saya dalam tulisan ini. Semoga bermanfaat.

* Tambahan dari penulis: Hasil kajian dari lembaga penelitian di Malaysia, susu kambing lebih dekat dan sesuai dengan tubuh manusia. Jika diolah dengan baik bisa jadi alternatif pengganti.