Kita ‘Membunuh’ Mereka

Setelah longsor gunungan sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, kini di
Bantar Gebang, Bekasi, 8 September lalu. Sama seperti di Leuwigajah,
longsor sampah di Bantar Gebang juga memakan korban jiwa.

Sadarkah kita, khususnya penghuni Jakarta, secara tidak langsung telah
membunuh 3 pemulung yang tewas tertimbun sampah di TPA Bantar Gebang?

Setiap hari dengan mudahnya kita melempar benda-benda yang sudah tidak
terpakai lagi ke dalam tong yang kita sebut ‘tong sampah’. Kemudian,
sampah rumah tangga itu kita buang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS)
di lingkungan RW kita. Lalu oleh dinas kebersihan kota sampah yang kita
buang itu diangkut oleh truk sampah ke TPA Bantar Gebang.

Meskipun hanya 10 meter kubik sampah yang kita buang dalam sehari,
namun berapa ratus meter kubik sampah yang kita buat dalam sebulan? Dan
berapa juta meter kubik gunungan sampah yang kita buat bersama jutaan
penduduk Jakarta yang lain dalam sebulan? Maka  berapa ribu meter
gunung sampah yang akan dihasilkan dalam setahun? Maka, secara gak
langsung kita sudah membunuh mereka yang mengais rezeki dengan
mengumpulkan sampah. Masyaallah…

Mungkin ada yang berkilah, “salah sendiri kenapa mereka memulung sampah
di sana?”. Well, bukankah lebih baik menjual sesuatu, meskipun hanya
sekedar botol/gelas plastik bekas, daripada mencopet atau mengemis.

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Namun peristiwa mengenaskan
ini pastinya peringatan bagi kita sebagai warga negara yang peduli.
Peringatan ini tidak hanya bagi warga Jakarta, namun untuk semua
manusia di bumi ini. Karena longsor sampah ini mungkin terjadi dimana
pun.

Janganlah pernah berpikir, “Apalah artinya seorang saya”. Banyak sekali
yang dapat kita lakukan untuk menyelesaikan problem sampah ini.

Misalnya, bila kita mengurangi produksi sampah, otomatis tong/kotak
yang kita sebut ‘tempat sampah’ tidak akan terlalu penuh muatannya.
Dengan mengurangi produk-produk sekali pakai, maka kita akan mengurangi
produksi sampah. Dengan mengubah gaya hidup yang sering main buang
benda-benda yang dianggap tidak berguna, maka akan mengurangi sekian
meter kubik gunungan sampah di TPA. Bila sekian juta penduduk Jakarta
melakukan hal ini, maka timbunan sampah di TPA tentu tidak akan
menggunung.

Hal lain yang bisa dilakukan, mengelola sendiri sampah rumah tangga.
Antara lain dengan memilah sampah organik dan anorganik. Sampah organik
dapat kita kubur sendiri di pekarangan. Atau jika tidak ada pekarangan,
bisa menggunakan lahan tanah terbuka bersama-sama dengan para tetangga.
Sampah organik ini dapat menyuburkan kembali tanah. Maka secara tidak
langsung berfungsi sebagai pupuk alami.

Kemudian sampah anorganik seperti plastik, kertas, bisa kita jual ke
lapak–seperti yang dilakukan para pemulung. Kita bisa memperoleh
sejumlah uang. Atau kalau ingin membantu pemulung, berikan saja sampah
anorganik ini pada mereka. Beres kan?

Sebenarnya mudah ya mengolah sampah!