You Will When You Believe

There can be miracles
When you believe
Through hope is frail
It’s hard to kill
Who knows what miracles you can achieve
When you believe
Somehow you will
You will when you believe

(“When You Believe” sung by Mariah Carey & Withney Houston)

Dalam 3 tahun ini, 2 buku–selain Al Qur’an–yang paling sering kubaca adalah “Quantum Ikhlas” dan “Law of Attraction“. Selain karena bukunya handy dan mudah dipahami, tapi alasan utama sering baca buku itu adalah karena BUTUH. Yup, aku butuh diingatkan bahwa apa yang kita inginkan sesungguhnya telah tersedia di alam raya ini, tinggal bagaimana kita meraihnya.

Sering aku mendengar keluhan orang-orang di sekelilingku tentang keinginan-keinginan yang tidak tercapai. Sebenarnya,–menurut 2 buku itu–bukan keinginan itu yang tidak tercapai, tapi mereka tidak berusaha meraihnya. Mereka terlalu fokus pada hal-hal yang TIDAK mereka inginkan, bukan pada APA YANG DIINGINKAN.

Jujur, aku pun kadang terjebak pada pikiran seperti yang dikeluhkan oleh orang-orang di sekelilingku itu. Itulah sebabnya aku butuh diingatkan bahwa Allah memperkenankan setiap doa, dimana doa adalah keinginan. Aku butuh diingatkan bahwa Rasulullah berpesan agar kita selalu yakin dalam memanjatkan doa. Dan salah satu upayanya dengan membaca lagi 2 buku itu.

Well, sebenarnya ada banyak banget buku motivasi yang bisa dibaca yang menurutku intinya sih sama aja… tapi karena kebetulan cuma punya 2 buku itu dan aku suka bangett, pas gitu di otak dan di hati … jadi ya yang dibaca itu. Apalagi buku “Quantum Ikhlas” memaparkannya lewat perspektif Al Qur’an, jadi ya cucok deh buatku yang muslim.

Sedikit sharing… Aku membaca ulang buku itu dan mempraktekkannya ketika ingin hamil dan menjelang persalinan. Alhamdulillah Allah mengabulkan apa yang kuinginkan!!! Ini bener lho, gak lebay.

Masih terngiang dalam ingatan rasa takut memasuki bulan ke-9. Yup, ada sedikit ketakutan untuk melahirkan, baik normal maupun cesar…. Meskipun lebih takut kalo melahirkan cesar sih . Selain karena takes plenty of money, melahirkan cesar yang aku tahu resikonya lebih banyak ketimbang normal. Dan aku adalah orang yang suka segala sesuatu yang alami.

Karena itulah aku tidak memfokuskan pikiranku pada hal-hal yang TIDAK aku inginkan, tetapi fokus pada apa yang AKU INGINKAN, yaitu: insyaallah aku melahirkan dengan mudah dan alami. Alhamdulillah itulah yang aku alami.

Selain memanjatkan apa yang aku inginkan lewat doa, ikhtiar atau usaha tentu saja diperlukan. Usaha dan doa adalah 2 hal yang tidak bisa dipisahkan, mereka berjalan beriringan, dimana jerih payah kita akan memperkuat keyakinan terkabulnya doa kita, dan doa adalah spirit yang menjiwai usaha.

Karena itulah aku rajin berenang setiap pekan agar dapat melahirkan dengan mudah dan alami–selain karena hobi dan manfaat olah raga tentunya . Selain berenang, aku juga rajin yoga untuk ibu hamil (senam hamil) di rumah dengan instrukturnya VCD . Dan karena aku orang visual, maka berkali-kali aku putar video animasi 3D proses kelahiran alami yang kuunduh dari youtube.

Lantas, apakah ketakutan-ketakutan itu hilang? Tidak. Aku berdamai dengan ketakutanku. Aku yakin, ketakutan atau kekhawatiran itu ada agar kita bertindak antisipatif. Yup, aku tetap melakukan langkah antisipatif terhadap ketakutanku itu–tetapi tidak fokus di situ lho–antara lain dengan menabung sejak usia kandungan 1 bulan, jaga-jaga kalau aku terpaksa di-cesar. Selain itu juga berusaha menetralkan pikiran tentang kelahiran cesar.

Ketakutan pada rasa sakit menjelang persalinan normal juga aku antisipasi dengan mempelajari beberapa pose melahirkan dan teknik pernapasan. Di samping tas travel persiapan melahirkan, aku juga menyiapkan 1 kantong plastik besar berisi bantal empuk yang sudah disarungi sarung bantal katun yang adem. Sekedar jaga-jaga kalau aku harus berjam-jam menahan mules/rasa sakit di RS. Berbagai mp3 musik-musik relaksasi dan murotal juga sudah aku copy ke ponsel. Karena aku tidak ingin memakai obat penghilang rasa sakit.

Hasilnya? Alhamdulillahirabbil’alamin bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan… proses melahirkanku lancar, mudah dan alami persis seperti apa yang aku inginkan. Hanya 2,5 jam mules, terus langsung brojol. Dan aku tidak membutuhkan musik relaksasi dan bantal empuk. Alhamdulillah…. Allah tidak pernah ingkar janji, bahwa Dia pasti memperkenankan doa hamba-Nya.

Semoga curhat ini bermanfaat buat yang baca dan juga buat mengingatkan diriku sendiri. Yakinlah, You will when you believe!

Keyakinan Yang Menyembuhkan*

Mungkin ini sebuah keajaiban bahwa aku masih hidup sampai detik ini.

Awal tahun 1990. Aku hampir tak mempercayai pendengaranku sendiri. Aku sampai pergi ke empat dokter berbeda untuk meyakinkan diri bahwa aku mengidap tumor di payudara. Setiap dokter yang memeriksaku menyampaikan hal senada, yaitu aku harus segera operasi tumor payudara dan umurku mungkin tinggal dua tahun lagi.

Jelas aku syok sekali saat itu. Apalagi pada masa itu penderita tumor masih sangat jarang. Mendengar itu, rasanya hidupku sudah tak bernilai lagi. Setiap hari aku hanya menangis. Aku malah menzholimi diri dengan tidak makan, bahkan aku meninggalkan sholat. Ketiga anakku yang masih kecil juga kuterlantarkan.

Tak satupun yang menyemangatiku. Suamiku juga pasrah saja. Habis mau apa lagi? Yang pasti aku tidak mau dioperasi. Aku tahu operasi itu hanya mengangkat tumor dari luar. Aku juga tahu bahwa operasi bisa jadi gagal. Apalagi biaya operasi tidak murah.

Sebulan itu aku merasa seperti debu tertiup angin. Aku merasa tidak berarti apa-apa. Sampai di suatu malam, di tengah isak tangisku, aku melihat ketiga anakku tengah tertidur pulas, Ranny yang waktu itu masih 3 SD, Sandy yang baru masuk SD, dan si kecil Dipa yang masih TK. Wajah mereka begitu polos, begitu murni. Mereka tidak tahu apa yang sedang dialami mamanya.

Tanpa sadar bulir air mata tambah deras mengalir. Ya Allah, anak-anakku yang masih polos ini. Siapa nanti yang akan mengasuh dan mendidik mereka jika aku tiada? Aku tidak mau intan-intanku tumbuh menjadi anak durhaka.

Akhirnya aku bangkit dari keterpurukanku selama sebulan itu. Aku harus sembuh, pikirku. Sejak itu aku meyakinkan diri bahwa aku bisa sembuh. Tentu sambil mencoba berbagai pengobatan alternatif. Sedapat mungkin aku menghindari dokter. Karena menurutku, vonis dokter hanya membuatku down.

Bermacam jamu kusikat dengan keyakinan bahwa aku sembuh. Berbagai nasihat kuturuti, bahkan ada yang menyarankan makan cicak mentah setiap hari sebulan penuhpun kuturuti. Dan selama pengobatan, aku tidak pernah meraba benjolan pada payudaraku. Maka aku tidak tahu apakah benjolan itu kempes atau menghilang begitu saja. Hanya satu keyakinanku, aku sembuh.

Sampai sekitar satu tahun kemudian. Aku mencoba meraba benjolan itu. Dan subhanallah ternyata tidak ada sama sekali. Aku tidak tahu kapan tepatnya benjolan itu hilang, karena memang aku tidak pernah merabanya. Kemudian aku mencoba periksa ke dokter. Dokter menyatakan tumor itu hilang sama sekali dan dia juga heran.

Sudah hampir 14 tahun sejak kejadian itu dan aku masih bisa menghirup udara-Nya. Di usia ke-46, alhamdulillah aku masih dikaruniai sehat tanpa keluhan sakit seperti yang kuderita 14 tahun lalu. Kini ketiga anakku yang sudah duduk di bangku kuliah masih bisa merasakan belaian tanganku.

Ternyata ayat yang mengatakan bahwa, Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya, tidaklah main-main. Karenannya; yakin, berusaha, dan berdoa, menjadi hal tak terpisahkan dari diriku. Dan itu pula yang selalu kutanamkan pada anak-anakku. (jat)

*Seperti dituturkan Ibu Hartinah kepada reporter Majalah Amal ‘Amanah (edisi Maret 2004)

Istiqomah Pada Resolusi

Di minggu-minggu pertama awal tahun 2010 ini banyak sekali saya temukan bahasan dengan kata kunci serupa, yaitu “resolusi”. Yup, entah itu artikel di majalah, koran, internet, blog, status di jejaring sosial, ceramah ustadz, sampai di buku harian saya sendiri .

Enggak heran, karena awal tahun adalah ‘musimnya’ orang-orang membuat rencana atau rancangan hidupannya dalam satu tahun ke depan. Semboyannya, “tahun baru, semangat baru”. Karena itu, pergantian dan awal tahun seolah membawa harapan tersendiri bagi setiap orang, sehingga masing-masing menggantungkan berbagai harapan dalam rentang waktu 365 hari (satu tahun) ini.

Apakah salah? Tentu tidak, sama sekali tidak! Bukankah dalam Al Qur’an surah Al Hasyr ayat 18 Allah SWT memperingatkan kita untuk merencanakan hari esok?

“… dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok…” (Al Hasyr : 18).

Hanya saja, buat saya, yang tersulit adalah tetap fokus dan istiqomah (konsisten) pada resolusi yang telah kita tetapkan sendiri. Fokus? Tentu saja. Gak usah jauh-jauh lah, coba sedikit menengok ke belakang. Apakah resolusi kita–kita? elo kali?!–tahun lalu sudah benar-benar tercapai? Jika sudah, alhamdulillah. Tentu formulasi pencapaiannya bisa kita terapkan lagi di tahun ini. Jika belum, tentu harus dievaluasi.

Bisa jadi kegagalan resolusi kita tahun lalu lantaran kita tidak fokus dalam menjalankannya. Misalnya, target/resolusi lulus tahun ini tapi ternyata di tengah jalan dapat tawaran pekerjaan yang menggiurkan. Kalau kita tidak fokus dengan target/resolusi kita, tentu tawaran yang belum tentu datang dua kali itu akan kita terima sehingga fokus kita pada skripsi/tesis/disertasi untuk lulus menjadi buyar. Dalam hal ini saya sepakat dengan Pak Mario Teguh, bahwa orang yang berhasil adalah orang yang memfokuskan diri pada kebaikan-kebaikan yang mendukung pencapaiannya untuk sukses (kurang lebih redaksionalnya seperti itu).

Mirip dengan fokus, dalam mewujudkan resolusi, kita juga harus istiqomah alias konsisten dalam menjalankannya. Di awal tahun lazimnya memang semangat kita meluap-luap. Yakin se-yakin-yakinnya bahwa kita akan menjalankan semua resolusi kita, dan pada akhirnya resolusi tersebut akan terwujud. Namun, apakah semangat dan keyakinan serupa akan terus konsisten pada tengah tahun hingga akhir tahun?

Saya mengakui, menjaga semangat dan keyakinan butuh perjuangan juga, sama halnya dengan upaya mewujudkan resolusi itu sendiri. Saya jadi teringat resolusi saya di tahun 2006, saya akan bekerja dan tinggal di Jakarta. Kebetulan waktu itu saya masih bekerja sebagai reporter Radio MQ FM Bandung. Banyak yang menyayangkan tekad saya untuk resign, termasuk para petinggi MQ FM. Bahkan salah satu dari mereka menawarkan saya seorang ikhwan untuk ta’aruf. Wow! Sebuah tawaran yang menguji ‘keimanan’, apalagi menikah juga menjadi resolusi saya di tahun itu. Dilematis memang… tapi bukankah Allah pun selalu menguji azzam (tekad) hamba-Nya? Maka, saat itu saya istiqomah pada tekad untuk pulang ke Jakarta, untuk menemani ibu saya yang tinggal seorang diri di rumah.

Back to the topic… So, menurut saya, fokus dan istiqomah pada resolusi merupakan hal yang harus dijaga. Bahkan keyakinan akan kesuksesan kita pun harus dijaga. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lengah dan ragu”. Karena itu, kita harus yakin bahwa Allah akan mengabulkan resolusi kita, jika kita yakin pada-Nya.

Yang terakhir dan terpenting… tentu saja resolusi yang kita buat semata-mata kita niatkan karena Allah. Mungkin tanpa kita sadari resolusi yang kita buat bersifat duniawi semata. Untuk itu, dalam menetapkan sebuah resolusi perlu ada motivasi (niat) yang mendasarinya. Semoga rencana-rencana itu semata-mata karena Allah SWT. Wallahua’lam bishawab.

NB. Buat yang masih belum punya resolusi, atau sudah punya resolusi tapi bingung memformulakannya, silakan klik di sini. Semoga bisa membantu  

Another Law of Attraction…?

“Ya Allah, mudahkan dan lancarkan perjalananku,” gumamku sambil menyeberang jalan menuju ‘terminal bayangan’ pintu tol Kebon Jeruk. Malam itu, sehabis ngantor, gerimis tipis dan angin lumayan kencang membuatku memohon pada-Nya agar aku tetap ‘kering’ hingga sampai di rumah.

Lalu kuburu langkahku, karena saat itu bus jurusan Kampung Rambutan tampak beranjak perlahan meninggalkan ‘terminal bayangan’. Namun tiba-tiba sebuah mobil Avanza hitam berhenti di sisiku.

“Mau bareng, Mbak? Tapi paling sampai Pancoran aja,” ujar sang pengemudi kepadaku.

Setengah kaget, di tengah temaram lampu indoor mobil aku amati wajah si empunya suara. “Oh, ternyata si mas yang sekantor denganku pulangnya ke arah Pancoran toh?”, gumamku.

Melihat aku masih bergeming, sang pengemudi berujar lagi, “Emang turun dimana, Mbak?”

“Di UKI, mas!”

“Gimana, mau bareng nggak?”

“Boleh deh,” sahutku seraya buru-buru melompat ke dalam mobil, karena mobil-mobil di belakang yang mengantri sibuk mengklakson. Alhamdulillah dapat tebengan, jadi tidak perlu berdiri sepanjang perjalanan pulang .

“Pulangnya ke arah Pancoran tho, mas?” ujarku mengakrabkan diri dengan mas teman sekantor yang aku gak hafal namanya.

“Kebetulan tadi habis nganter dokumen ke daerah Meruya,” sahutnya. “Mbak kerja dimana?”

What?! Kerja dimana?? Bukannya si mas ini salah satu karyawan kantor tempat aku bekerja?? Wah, ternyata aku salah! Jadi, saat ini aku semobil dengan orang yang ‘tidak’ kukenal. Ini Jakarta gitu loh…!

Panikkah aku? Surprisingly no! Entah mengapa perasaanku saat itu damai-damai saja. Aku sama sekali tidak merasakan getaran negatif yang kata orang sering disebut sebagai “perasaan gak enak”. Namun demikian tak henti aku berzikir dalam hati dan ber-husnuzon pada orang ‘asing’ yang wajahnya mirip si mas teman sekantorku.

Sepanjang perjalanan aku sangat bersyukur karena lalu lintas lumayan lancar. Padahal pada jam pulang kantor, jalur Tomang-Cawang langganan macet. Keputusan kami untuk tidak lewat jalan tol dalam kota pun alhamdulillah tepat, karena sepanjang jalan aku melihat arus kendaraan di dalam tol tidak bergerak. Seandainya tadi aku jadi naik bus jurusan Kp. Rambutan, mungkin aku masih jauh tertinggal di belakang.

“Tapi lo semobil sama orang asing gitu loh!” seru teman sekantorku keesokannya saat kuceritakan.

“Tapi alhamdulillah gue baik-baik aja tuh,” ujarku. Aku sendiri masih tak habis pikir mengapa saat itu aku bisa begitu yakin, padahal sebagai orang lama di Jakarta, aku termasuk orang yang cukup waspada.

Anyway, apa pun itu aku sangat bersyukur. Hari itu perjalanan pulang amat sangat lancar. Bukannya GR, tapi aku merasa saat itu doaku langsung Dijawab. Pengalaman ini mengingatkanku pada hukum ketertarikan (Law of Attraction), seperti firman-Nya, “Aku sesuai prasangka hamba-Ku”.

Dan hal serupa terjadi semalam saat pulang kantor (lagi). Sepanjang jalan menuju ‘terminal bayangan’ pintu tol Kebon Jeruk, aku berharap, “Semoga ada Patas 74,” sambil membayangkan sosok bus mayasari biru berkaca gelap dengan plang berlampu redup bertuliskan P74 di sisi depan atas bus. Subhanallah… tak lama menunggu, bus yang aku bayangkan muncul di depan mataku.

Belum selesai sampai di sini. Saat menaiki tangga bus, aku merasa yakin akan mendapatkan tempat duduk. Padahal sejauh mata memandang, seluruh tempat duduk dalam P74 sudah terisi penuh. Namun entah mengapa aku merasa yakin, no doubt!

Setelah menyisir setiap baris bangku bus tersebut, akhirnya aku sampai di baris paling belakang. Ternyata tidak ada satu pun bangku kosong. Jadilah aku orang pertama yang berdiri dalam bus itu. “Tak mengapa,” pikirku sambil melipir ke tengah bus untuk berdiri dengan nyaman. Lalu… “Duduk bu,” ujar seorang bocah usia SMP mempersilakan bangkunya untukku. Alhamdulillah…

Subhanallah… aku seolah diingatkan kembali betapa Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya, betapa Ia berjanji pasti mengabulkan setiap doa. Meminjam teorinya Michael J. Losier dalam “Law of Attraction”-nya dan Erbe Sentanu dalam “Quantum Ikhlas“-nya, bahwa apa yang kita pikirkan/rasakan/inginkan/yakini dengan ikhlas pasti akan terwujud dengan izin-Nya. Wallahua’lam bishawab….

Bagaimana dengan Anda?

PS. Terima kasih buat Pak Santoso atas ketulusannya memberiku tebengan sampai ke Pancoran. Semoga Allah membalasnya dengan berlipat ganda !!

another ‘law of attraction’

kemarin sore menjelang magrib, gw tiba-tiba ngerasa kangeeeen banget sama2 sohib2 jaman kuliah dulu. kangen sama diskusi2 asik soal apapun tanpa harus jaim… tetap jadi diri sendiri…. abis kayaknya selepas pindahan dari Bandung, kayaknya gw gak nemuin temen-temen seperti mereka… Then after that, subhanallah; A phone call for me

“Jat, lo gk kemana-mana kan? Kita mau ke rumah lo nih”

“Enggak duy, gw enggak kemana-mana!”

God… what a wish come true!!!

Terkabul…!!

Gara-gara baca postingan bapak Ogie … Jadi pengen ikutan share…

Kejadian ini terjadi jauuuh hari sebelum baca buku Law of Attraction (LOA)-nya Michael J. Losier. Hanya saja, ketika membaca buku itu, aku jadi yakin bahwa kejadian-kejadian berikut ini merupakan bukti bekerjanya LOA.

“You are what you think” kata seorang filusuf (namanya lupa), seperti firman Allah dalam Al Qur’an, “Aku seusai dengan prasangka hamba-Ku”. Dan ini benar! Aku pernah mengalami itu beberapa kali.

#Kejadian 1

Pas SMA aku sempat mbatin, “Aku ingin sekali nge-kost”. Padahal aku anak tunggal. Kalo secara logika dan perasaan kayaknya gak mungkin banget aku ninggalin orang tuaku. Lagian, mereka mana mau aku sekolah jauh-jauh… Ternyata, semua terjawab melalui kejadian berikut…

#Kejadian 2

“Kamu pilih jurusan apa, Jat? Pokoknya paling jauh di Bogor lho!” ujar (alm) Bapakku sesaat sebelum aku mengumpulkan formulir UMPTN (sekarang SPMB. Red).

Karena waktu itu aku lagi sebeeel banget sama bapakku—maklum ABG—aku jawab ngasal dengan nada menantang, “Pokoknya saya akan kuliah di Bandung! Saya akan kuliah jauh dari Bapak!!”

Alhasil aku lulus UMPTN dan diterima di Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung.

#Kejadian 3

Kuliah di jurusan jurnalistik UNPAD pas angkatanku itu identik dengan “lama lulus”. 5 tahun adalah waktu standar, bahkan relatif cepat, untuk menyelesaikan studi. “Paling gue lulus akhir 2004,” celetukku suatu ketika pas masuk tingkat tiga kuliah. Dan saudara-saudara… aku lulus sidang pada November 2004, lalu diwisuda Desember 2004.

#Kejadian 4

Menjelang kelulusan, aku rasanya ingiiin sekali membalas pengorbanan ibu sebagai orang tua tunggal (karena bapak sudah meninggal. Red) yang telah membiayai kuliahku. Lalu aku sempat mbatin, “Nanti kalau udah lulus kuliah, pingiiiin banget deh pergi haji berdua sama ibu.”. Padahal waktu itu gak tau caranya gimana dan duit dari mana, pokoknya pingiiin banget. Subhanallah… 2 tahun setelah lulus kuliah, aku dan ibu menunaikan haji.

Masih banyak lagi kejadian-kejadian yang membuktikan bekerjanya LOA itu. Tapi kejadian berikut ini adalah “ketertarikan sadar” yang aku alami pasca baca buku LOA;

#Kejadian 5

Angkot T11 jurusan Cililitan – Mekarsari tergolong jarang yang bertolak dari Cililitan, karena biasanya angkot merah dari Mekarsari ini hanya sampai Pasar Rebo. Makanya aku beberapa kali terlambat sampai kantor hanya karena lama menunggu angkot satu ini. Padahal perjalanannya sendiri hanya membutuhkan waktu 30 menit!

Maka pada suatu hari, dalam perjalanan menuju perempatan Cililitan yang ramai dengan kendaraan bermotor, aku memvisualisasikan kejadian yang ternyata sama persis dengan yang terjadi kemudian. Aku membayangkan pada saat menyebrang jalan di perempatan ramai itu, tampak angkot merah T11 yang sedang mengetem. Padahal biasanya T11 gak pernah ngetem di perempatan Cililitan loh, soalnya ada polisi. Tapi ternyata sejurus kemudian pada saat aku setengah berlari melalui zebra cross yang membentang di sisi lampu merah, kulihat ‘angkot tercintaku’ sedang mengetem, saudara-saudara!! Luar biasaaah…! Subhanallah…!!***

Law of Attraction

Rating: ★★★★★
Category: Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Michael J. Losier

Pernahkah Anda mengalami sederet ‘kebetulan-kebetulan’ seperti bayangan Anda? Misalnya, ketika Anda sedang menginginkan sesuatu tiba-tiba sesuatu itu muncul di hadapan Anda. Atau ketika Anda sedang memikirkan seseorang, ternyata orang tersebut menelpon Anda. Bahkan sebaliknya, ketika Anda sedang sangat tidak menginginkan sesuatu, sesuatu itu justru terjadi.

Itulah sederet bukti “hukum ketertarikan” atau “law of attraction”. Hukum ketertarikan sendiri dapat didefinisikan sebagai “Segala sesuatu yang Anda pikirkan dengan segenap perhatian, energi, dan konsentrasi pikiran, baik hal positif maupun negatif yang kemudian datang ke kehidupan Anda” (p.14). Jadi, sebenarnya semua itu bukan ‘kebetulan’, tapi ‘kesengajaan’ karena Andalah yang mengundangnya menjadi kenyataan.

Pada hakikatnya, setiap kita memancarkan getaran-getaran energi, baik itu postif maupun negatif. Dan energi itu berasal dari suasana hati kita. Dan suasana hati kita berasal dari pikiran-pikiran kita. Ini mengingatkan saya pada sebuah ayat Al Qur’an yang melarang kita berprasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa. Dosa di sini tentu saja adalah prasangka negatif yang dapat menimbulkan getaran negatif. Sebab getaran negatif ini dapat menimbulkan hal-hal negatif pula. Begitu pun sebaliknya, getaran positif akan menimbulkan hal-hal positif pula.

Mungkin sudah banyak buku yang menjelaskan tentang hukum ketertarikan ini, mulai dari ilmu fisika hingga kejiwaan. Karena kaidah hukum ketertarikan ini memang berasal dari ilmu fisika tentang “hukum kekekalan energi”. Bahwa energi itu tidak bisa dimusnahkan, ia hanya berubah menjadi wujud yang lain.

Bahkan fisikawan Johanes Surya pun dalam bukunya “Mestakung” (singkatan dari Semesta Mendukung) menjelaskan secara ilmiah bagaimana alam semesta akan bersatu padu mewujudkan keinginan kita jika kita benar-benar menginginkan sesuatu.

Kelebihan buku karangan Michael J. Losier ini adalah paparannya yang mudah dimengerti, praktis, dan disertai dengan lembar kerja praktis yang dapat langsung dipraktekkan.

Buku ini mengedepankan bagaimana agar kita senantiasa mengeluarkan getaran positif dalam hidup dengan membuat “ketertarikan sadar”. Ada tiga tahap formula ketertarikan sadar yang diajarkan Losier, yaitu:
1. Kenali hasrat keinginan Anda
2. Berikan perhatian pada hasrat itu
3. Biarkan hasrat itu menjelma nyata.

Mungkin ada yang bertanya-tanya perihal fokus pada hasrat keinginan, “Apakah hasrat ini akan menjadikan kita menjadi ambisius dan menghalalkan segala cara?”. Pada tahap ketiga “Biarkan hasrat itu menjelma nyata”, Losier mengajarkan pembaca untuk rela atau ikhlas. Karena keinginan yang menggebu-gebu tanpa keikhlasan malah menghasilkan getaran negatif yang justru menegasikan keinginan Anda semula.

Sekali lagi, saya teringat lagi pada firman Allah SWT, “Barangsiapa bertawakal pada-Ku, maka Aku akan mencukupkan keperluannya”…. Subhanallah.

Bagi yang penasaran bisa buka situsnya:
http://www.lawofattractionbook.com/

Merencanakan Masa Depan Dengan NLP

Sedikit berbagi. Aku dapat ‘formulasi’ ini dari seorang karib yang
tergila-gila pada NLP (Neuro Linguistic Program). Kalau tidak salah NLP
ini merupakan salah satu metode pengembangan diri yang tergolong baru
di Indonesia. Menurut Master NLP Indonesia (aku lupa namanya), NLP ini
tak lain adalah Al Qur’an. Lho kok bisa?

NLP mencoba merinci dan memformulasikan apa yang diperintahkan Al
Qur’an. Bukan bermaksud menandingi hadist, NLP adalah ayat kauniyah
yang berhasil ditangkap seseorang non muslim (aku lupa juga siapa
pencetusnya). Tapi menurutku, tidak ada salahnya formulasi NLP ini coba
kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

NLP memulai segala sesuatunya dengan kata. Ya, KATA. Mirip dengan ayat
pertama yang turun berbunyi ‘iqro’! NLP mencoba mem-break down diri
kita dengan kata-kata. Mulai dari tujuan hidup kita, apa yang kita
lakukan untuk mencapai tujuan itu, hingga langkah konkret apa yang
telah kita lakukan untuk mencapai tujuan itu. Nah, bukankah hal ini
sesuai dengan Surat Al Hasyr ayat 18?

Singkatnya, NLP memformulasikan ciri orang sukses ada 4, yaitu mereka yang memiliki outcomes, action, acuity, dan flexibility.

  • Outcomes, yaitu tujuan hidup dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam hidupnya,
  • Action, yaitu tindakan nyata untuk mencapai tujuan hidupnya maupun tujuan-tujuan yang menjadi turunan tujuan hidupnya,
  • Acuity,
    yaitu kepekaan terhadap lingkungannya, misalnya bagaimana memanfaatkan
    kesempatan yang ada dalam rangka mencapai apa yang dituju atau
    dicita-citakan,
  • Flexibility,
    yaitu fleksibilitas ‘skenario’ dalam menggapai tujuannya, jadi harus
    ada plan A, plan B, bahkan plan C dalam merancang masa depan.

Kemudian, bagaimana sebenarnya menyusun outcome alias tujuan itu sendiri? Berdasarkan formulasi NLP, SUCCES menjadi syarat outcome. SUCCES merupakan singkatan dari State positive, Undeniable, Context, Congruent, Ecology, dan Self initiate.

  • State positive;
    mulai tujuan Anda dengan kalimat positif. Jangan kalimat negatif,
    karena ternyata otak kita sulit menginternalisasi kata ‘tidak’,
    ‘bukan’, ‘jangan’. Misalnya, “Aku Akan Menikah”, BUKAN “Aku tidak
    akan melajang”,
  • Undeniable; jangan sangkal tujuan Anda itu. Bayangkan kalimat positif di atas dari segi visual, audtitif, dan rasa,
  • Context;
    merupakan jawaban-jawaban dari pertanyaan 5W+1H. Contoh: What? Married;
    Why? bernilai separuh dien yang menjadi tabungan amal untuk ke surga,
    menjaga kesucian diri, meneruskan keturunan; Where? di sebuah masjid di
    Jakarta; When? September 2006; Who? si fulan/ah (kalau sudah ada calon)
    atau kriteria orang (kalau belum tahu yang mana calonnya), e.g. ikhwan
    ‘pengajian’ yang tidak merokok, sudah berpenghasilan, bergaul dengan
    orang-orang sholeh, cerdas, kreatif, bersedia menetap di rumah mertua,
    dll; dan How? minta dicarikan teman/ustadz, tidak pacaran, bergaul
    dengan orang-orang sholeh, aktif dalam kegiatan2 da’wah, dll,
  • Congruent; Apakah outcome yang
    telah kita tetapkan dengan kalimat positif ini sesuai dengan outcome
    besar hidup kita? Apakah rencana kita menikah itu sesuai dengan tujuan
    besar hidup kita?
  • Ecology;
    Jangan lupakan faktor eksternal yang mempengaruhi tujuan kita. Mereka
    antara lain keluarga, pekerjaan, teman, masyarakat, pasangan, dll,
  • Self Initiate; Ini yang penting! Outcome atau tujuan kita ini harus murni berasal dari diri sendiri, bukan paksaan dari luar.

NLP menekankan hal detil. Jika ditulis, maka break down dari tujuan
hidup kita ini akan ‘menganak sungai’ hingga sekecil-kecilnya. Dan
apa-apa yang hendak kita capai ini HARUS DITULIS. Karena berdasarkan
sebuah penelitian psikologi, jika kita menuliskan apa yang kita
inginkan, maka 60% keinginan itu akan tercapai. Subhanallah… Bukankah
ini merupakan realisasi firman-Nya, “Aku sesuai dengan prasangka
hamba-Ku”?

Sebenarnya masih banyak lagi formulasi-formulasi NLP yang tidak akan
muat kalau dipaparkan sekarang. Lagipula, baru segini niy yang aku
dapat dari sohibku itu. Thanx to Ophie !!

Kalau ada yang mau menambahkan, monggo monggo…