RELAWAN GAZA

http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1278225001/relawan-gaza
JAKARTA, 4/7 – RELAWAN GAZA. Dua relawan kemanusiaan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) untuk Gaza, Syeh Abdul Qodir (tengah), dan Muhammad Rudi (kedua kiri), didampingi juru bicara tim kemanusiaan BSMI untuk Gaza, Sarpihanto (kiri), berjalan menuju ruang lapor saat akan berangkat menuju Mesir dan Gaza, Palestina, di Terminal 2F, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (4/7). BSMI akan memberangkatkan sejumlah relawan kemanusiaan menuju Gaza, Palestina, untuk memberikan bantuan dan pelatihan bagi tenaga medis di RS Shifa Gaza, serta menjemput 10 mahasiswa Palestina yang mendapat beasiswa pendidikan dokter spesialis di Indonesia. FOTO ANTARA/Ismar Patrizki/nz/10

Rachel Corrie- 5th Grade Speech- "I’m here because I care"

http://www.youtube.com/watch?v=dMO-FQwIRiM
Fifth Grade Press Conference on World Hunger

By Rachel Corrie, aged 10 — 1990

I’m here for other children.
I’m here because I care.
I’m here because children everywhere are suffering and because forty thousand people die each day from hunger.
I’m here because those people are mostly children.
We have got to understand that the poor are all around us and we are ignoring them.
We have got to understand that these deaths are preventable.
We have got to understand that people in third world countries think and care and smile and cry just like us.
We have got to understand that they dream our dreams and we dream theirs.
We have got to understand that they are us. We are them.
My dream is to stop hunger by the year 2000.
My dream is to give the poor a chance.
My dream is to save the 40,000 people who die each day.
My dream can and will come true if we all look into the future and see the light that shines there.
If we ignore hunger, that light will go out.
If we all help and work together, it will grow and burn free with the potential of tomorrow.

910 Tahun!

Bayangkan!
910 tahun sudah sejak dideklarasikannya gerakan Zionisme pada 1099
Demi sebuah negara bernama Israel
Namun hingga hari ini, tahun 2009, Palestina belum takluk

910 tahun
Sembilan abad lebih
Atau mungkin lebih

Sebuah bukti nyata yang telanjang
Bukti nyata kekuatan iman
Seperti Daud yang mengalahkan Jalut dengan katapel
Seperti Musa yang mengalahkan Firaun dengan tongkat kayu

***

PS. Thx to Dikei for the presentation last week 

Ini Bukan Ayam Panggang!

“Ini bukan ayam panggang. Ini adalah korban luka-luka di Palestina akibat bom Israel”, gumamku saat disuguhi sekotak nasi + ayam panggang oleh pengurus Aqila English Centre semalam. Sepotong daging berwarna kecokelatan yang gosong sebagian mengingatkanku pada foto-foto yang kususun pada pagi harinya di markas besar Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).

Pagi itu (7/2), BSMI menggelar jumpa pers mengenai kepulangan tim relawannya dari Gaza, Palestina. Sebagai relawan, aku bantu-bantu mempersiapkan acara tersebut, termasuk menyusun album foto yang isinya foto-foto reruntuhan gedung, pengeboman, para korban jiwa dan luka-luka, juga perjalanan tim relawan BSMI. Sebagian besar staf gak tega melihat foto-foto korban, bahkan ada yang sampai mual. Untungnya aku termasuk orang yang ‘tega’ melihat potongan-potongan tubuh manusia yang sudah tidak berbentuk lagi.

Penampakan daging yang koyak akibat bom itu memang seperti ayam panggang, hanya saja warnanya kemerahan. Tapi ada juga yang cokelat kehitaman, karena terlalu gosong oleh bom. Biasanya tubuh yang berwarna seperti ini sudah tidak bernyawa lagi.

Jangan salah, korban dengan daging yang seperti ayam panggang ini masih bernyawa! Bagian tubuh mereka harus diamputasi. Dari sekian ratus foto yang dicetak, menurut pengamatanku, hampir semua korban terluka di bagian tubuh dari pinggang ke bawah. Padahal senjata yang digunakan Israel bukan ranjau darat. Entah jenis bom apa yang digunakan Israel.

Menurut pengakuan para relawan BSMI yang semuanya adalah dokter spesialis, jenis bom baru yang digunakan Israel adalah bom yang bisa memancarkan serpihan-serpihan logam tajam yang bisa mengoyak kulit dan daging. Jadi, ketika bom itu ditembakkan, otomatis ia memencarkan serpihan logam tajam ke segala arah. Serpihan logam tajam tersebut banyak ditemukan di tubuh pasien. Saat operasi, serpihan yang sangat kecil namun banyak sekali jumlahnya ini sangat sulit dikeluarkan dari tubuh pasien.

Mengenai bom fosfor putih, 80% korban yang terkena bom ini dipastikan meninggal dunia. Senjata yang dilarang PBB ini secara terang-terangan digunakan Israel untuk menggempur warga Palestina. Zat kimiawinya yang sangat keras mampu membakar kulit hingga ke tulang. Bangunan beton yang terkena bom fosfor putih ini bahkan bisa meleleh.

“BSMI akan mengadukan temuan-temuan ini sebagai pelanggaran HAM oleh Israel kepada pengadilan internasional,” ujar dr. Basuki Supartono, Ketua Umum BSMI. Selain itu, BSMI juga meminta agar perbatasan-perbatasan dibuka. Sebab bantuan kemanusiaan akan sulit masuk jika Palestina terus diblokade. “Percuma saja ada gencatan senjata, jika Palestina terus diblokade, karena itu sama saja dengan membunuh warga disana secara perlahan-lahan,” imbuh dr. Basuki.

Selain mengobati para korban, BSMI juga memberikan bantuan alat-alat medis, 3 unit ambulans, dan uang tunai kepada pihak Rumah Sakit Asy Syifa di Gaza. Untuk ke depannya, BSMI berencana memberikan bantuan untuk pembangunan rumah sakit di sana, jika pintu perbatasan dibuka. “Sebab bantuan akan percuma, kalau pintu perbatasan ditutup. Pasokan semen, batu bata, dan fasilitas medis mau masuk dari mana?” ujar dr. Basuki.

Untuk itu, BSMI juga akan memberikan beasiswa bagi para tenaga medis di Palestina untuk belajar di Indonesia. Karena di sana sangat kekurangan tenaga ahli, khususnya dokter spesialis. Bahkan dokter spesialis jantung pun tidak ada di sana. Demikian pula dengan ahli kandungan. Karena sedikitnya tenaga bidan, maka orang-orang awam pun terpaksa menjadi bidan dalam persalinan.

Ada hal menarik yang diungkapkan dr. Sahudi, seorang relawan BSMI yang baru pulang dari Gaza. “Sebenarnya pemerintahan Palestina adalah wujud dari clean government. Bayangkan saja, semua rumah sakit di Palestina gratis untuk semua jenis pengobatan. Bahkan para tenaga medisnya dibayar cukup tinggi oleh pemerintah. Kalau dirupiahkan sekitar Rp 30 juta per tahun,” ujar dokter spesialis bedah umum ini.

Aku kembali menatap menatap seonggok daging ayam di depanku. Aku bergeming. Bukannya aku gak nafsu makan akibat terlalu banyak melihat bukti-bukti kebiadaban zionis Israel loh… tetapi karena aku memang tidak lapar karena sudah makan malam di rumah .

Monas Pun Meradang


Selama aksi berlangsung, awan mendung memayungi para demonstran. Tidak ada hujan sedikit pun, padahal sejak 3 hari berturut-turut sebelumnya, hujan kerap mengguyur Jakarta.

500 ribu massa pro Palestina memadati Lapangan Monas, Jakarta pada Ahad (11/01) kemarin. Aksi bertajuk “Save Palestine with Your Blood and Money” yang digelar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini dihadiri sejumlah tokoh nasional, seperti Ketua MPR RI DR Hidayat Nur Wahid, Ketua Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) dr Basuki Supartono, anggota DPR RI Nursanita Nasution, dan sejumlah rohaniawan dari berbagai agama. Dalam orasi mereka, semua mengutuk kebiadaban Israel dan prihatin dengan krisis kemanusiaan di Gaza.

Aksi solidaritas ini dimulai di Silang Monas sejak pukul 8 pagi hingga 11 siang. Aksi dilanjutkan dengan long march menuju kantor perwakilan PBB di Jl. MH. Thamrin. Sejumlah happening art digelar di depan kantor perwakilan PBB.

Selama aksi berlangsung, awan mendung memayungi para demonstran. Tidak ada hujan sedikit pun, padahal sejak 3 hari berturut-turut sebelumnya, hujan kerap mengguyur Jakarta. Namun setelah aksi berakhir, pukul 13.00, hujan deras pun mengguyur Jakarta. (jat)

Donate to Palestine!

If you care to human rights, peace, and against war do something! Show that you care to Palestine and the victims of humanitarian crisis in Gaza, please donate throurgh:

  • Type sms “MERC(space)PEDULI” and send to 7505 for Rp 5000/sms.
  • a.n. Nurdin QQ KISPA (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina)
    Bank Muamalat Indonesia (BMI) Cab. Slipi: 311.01856.22 or BCA account no. 7600325099
  • a.n. Aksi Cepat Tanggap (ACT)
    BCA: 676.030.0860
    Bank Syariah Mandiri (BSM): 101.000.5557
    Bank Permata Syariah: 0971.001.224
    BMI: 304.0023.015
    Jemput donasi juga dapat dilakukan dengan mengirimkan SMS
    ke:081908187708
  • a.n. Medical Emergency Rescue Committee (MER-C)
    BCA: 686.0153.678
    BMI: 301.0052.115
    BSM: 009.0121.773
  • a.n. Dompet Dhuafa Republika
    BCA Cab. Pondok Indah: 237.300.6343
    BNI Cab. Fatmawati: 000.529.9527
    BMI Pusat: 3001.002.1815
  • a.n. Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI)
    BSM Cab. Jatinegara: 001.0102.555
  • a.n. Yayasan Daarut Tauhiid QQ Dana Kemanusiaan
    BSM KPO Hasanudin 001 003 9581

Beside that, we have to pray to God for peace on earth… Freedom for Palestine!

Pesan Dari Seberang Samudra*

Di tepian pantai yang
lengang dan cerah sesuatu menyandung kakiku yang telanjang dan basah. Sesuatu
berkilauan itu teronggok kaku di permukaan pasir putih yang tersapu ombak.
Sebuah botol kaca.

Entah kekuatan apa yang
memaksaku memungutnya dan membuka penutupnya. Lalu kedua jariku menggamit
kertas putih yang ada di dalamnya. Sepucuk surat
tanpa identitas dan tujuan jelas…

Teruntuk Saudaraku di seberang lautan sana,

Engkau mungkin tidak pernah mengenalku bahkan menjumpaiku. Dan bila kau
tanya apakah aku sangat mengenalmu, aku pun akan menjawab hal yang sama. Untuk
itulah
surat ini kukirim dari seberang samudra.

Wahai Saudaraku di seberang benua, mungkin kau tidak pernah menyadari
bahwa namaku selalu kau sebut dalam doa-doamu. Atau mungkin kau bahkan lupa
berdoa untukku? Sementara aku di sini tak pernah kering bibirku melantunkan doa
bagi keselamatanmu?

Saudaraku, sepucuk surat yang ada di tanganmu ini bukanlah sihir,
dimana mesin-mesin bernama teknologi berhasil meretas jarak dan ‘mendamaikan’
dunia. Sebaliknya,
surat ini hanyalah sebentuk mantra pengusir sihir
mesin-mesin dingin itu.
Surat
ini hanyalah sebuah bentuk keterasinganku diantara mesin-mesin yang kini
mengatur manusia.

Ketika surat ini sampai di
tanganmu, aku tak tahu bagaimana keadaanku saat itu, pun keadaanmu kala itu.
Namun satu hal pasti, aku yakin
surat
ini akan sampai di tanganmu.

Maafkan aku wahai Saudaraku atas keluh kesahku ini. Aku berharap belum
terlambat saatnya ketika
surat
ini sampai di tanganmu. Semoga kata cinta yang tak mungkin kuucap di negriku
yang terjajah dapat kulantunkan padamu lewat
surat ini.

Sekali lagi maafkan aku, Saudaraku. Mungkin bagimu surat ini hanyalah sebuah ratapan cengeng orang
yang kesepian. Sungguh tiada maksudku menyusahkanmu. Aku hanya ingin menyapa
saudaraku yang berada diantara puing-puing peradaban. Aku hanya ingin menyapa
bagian tubuhku yang lain.

Aku mencintaimu, Saudaraku… Aku mencintaimu karena Allah. Meskipun aku
tak mengenalmu dan kau pun tak mengenalku, namun namamu selalu kusebut dalam
doa-doaku, karena kita satu tubuh. Kita adalah saudara.

Ketika aku terluka di sini, aku yakin kau pun meradang di sana. Dan aku yakin, kau merasakan pula
kemerdekaan kami yang terenggut di seberang sini. Kumohon, jangan lupakan kami…

Tak sadar air mataku
menitik. Tidak… Aku tidak akan melupakan kalian, wahai saudara-saudaraku di
seberang samudra. Ketika kalian meradang di sana, kami pun menjerit di sini. (Jatining Siti Handayani)

* )Pernah dimuat di Majalah ‘Amal Amanah edisi November 2004

Paradise Now

Rating: ★★★★
Category: Movies
Genre: Drama

Paradise Now opens strong, with a wordless confrontation at a checkpoint between an Israeli soldier and a clear-eyed Palestinian woman (who turns out to be Suha [Lubna Azabal]). In this brief, cannily shot and edited, prosaic little encounter, director Hany Abu-Assad focuses primarily on the eyes of the two characters as one tries to size the other up and the other defiantly resists being sized up. It’s clear that in this quiet little seemingly inconsequential moment — a moment that might happen a hundred times a day — a battle is being waged, and it’s a battle for something more than just a piece of land. Later in the film, there are strong moments, and weaker ones. There are scenes, like the surprisingly witty one in which two prospective suicide bombers videotape messages to their loved ones proclaiming the divinity of their actions, that cut brilliantly against our expectations. There are moments, like the scene after Said (Kais Nashef) crosses the fence, and he’s contemplating boarding a bus full of Israeli settlers, in which Abu-Assad and his fine cast wordlessly take us an unresolvable gamut of human emotion, and there are others scenes wherein the dialogue seems disappointingly pedantic. But it holds together surprisingly well, and Abu-Assad finds an emotional richness in the material, while honing in on the righteous anger that springs from a life lived in humiliated futility. A tragedy regardless of its conclusion, Paradise Now is an important and powerful effort to explicate the inexplicable. — Review by Josh Ralske

Palestine

Rating: ★★★★★
Category: Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author: Joe Sacco

Komik yang jadi objek skripsiku ini hukumnya WAJIB baca buat kamu-kamu yang peduli pada kemanusiaan. Sacco sang jurnalis komik memotret kehidupan Palestina cukup objektif. Goresan tangannya menampilkan kesan suram pada kehidupan rakyat Palestina. Dalam liputannya menyusuri Tepi barat, jurnalis lepas dari Amerika Serikat ini tak jarang jatuh iba–meski wajahnya tanpa ekspresi–menyaksikan kehidupan bangsa Palestina yang perjuangannya tiada henti. []

Martir

Manusia ini berjalan dalam bayangan

Hatinya bergemuruh mendengar pekik

Terik matahari terasa guyuran hujan

Peluhnya tak sampai menuju bumi

Menguap di udara

Bajunya rapat tertutup

Bahkan wajahnya menampakkan dua mata saja

Tangannya siap dengan sebuah tombol

Ibu jarinya bergerak cemas

Hanya satu keyakinannya

Surga di depan mata

Allahu Akbar!