Sibuk…

Orang yang sibuk dengan benar,
selalu memiliki waktu untuk berlibur.

Orang yang sibuk,
tetapi tidak bisa melepaskan dirinya
dari kesibukan, harus memeriksa
ketepatan dari yang dilakukannya.

Tujuan utama dari kesibukan
adalah membebaskan kita dari kesibukan.

Dan,

Pekerjaan bukanlah pengejaran
tanpa tujuan dan tanpa henti.

Pekerjaan seharusnya menjadikan
kita pribadi yang bebas,
bukan yang terpenjara.

(Mario Teguh)

Menjauhkan Diri Dari Hal Yang Kurang Manfaat


“Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa
‘Ala Alihi Wa Sallam: ‘Diantara kebaikan Islam seseorang ialah ia meninggalkan apa saja yang tidak penting baginya‘.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Syarh dan Kandungan Hadis:

  1. Berkata Ibnu Rajab rahimahullah: “Hadis ini adalah salah satu prinsip agung (ushul) dari prinsip-prinsip Adab (etika).”
  2. Anjuran memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan hal-hal yang bermanfaat di dunia dan di akhirat.
  3. Anjuran agar seorang hamba menjauhkan dirinya dari perkara-perkara sia-sia dan menyibukkan dirinya dengan perkara-perkara yang mulia lagi berguna.
  4. Anjuran untuk selalu melakukan mujahadah (perjuangan) menaklukkan nafsu dan memperbaiki diri dengan menjauhkannya dari perkara-perkara hina dan rendah yang disukainya dan merupakan seleranya.
  5. Ikut campur dalam urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan seseorang adalah menyebabkan terjadinya permusuhan dan persengketaan.
  6. Menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang tidak ada kepentingannya dengan seseorang adalah perbuatan sia-sia dan tanda lemahnya iman.
  7. Hati yang sibuk dengan Allah pasti menjauhi semua urusan makhluk yang tidak berguna.
  8. Bukti keistiqomahan seorang muslim adalah tidak ikut campur dalam urusan orang lain yang tidak ada sangkut paut dengannya.
  9. Berbahagialah orang yang tidak mempunyai waktu untuk gelisah di siang hari dan terlalu mengantuk untuk gelisah di malam hari.
  10. Tugas utama manusia yang juga merupakan hikmah diciptakannya manusia dan jin adalah beribadah kepada Allah.
  11. Hadis di atas bukan berarti anjuran meninggalkan amar makruf nahi mungkar, karena kewajiban setiap muslim adalah menegakkan amar makruf nahi mungkar semampunya.
  12. Yang dimaksud dengan perkara-perkara yang bermanfaat adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupannya di dunia dan keselamatannya di akhirat.
  13. Diantara perkara-perkara yang tidak penting adalah segala perkara duniawi yang melalaikannya dari akhirat dan perbuatan-perbuatan mubah yang tidak bermanfaat serta banyak berbicara tanpa ada perlunya.
  14. Berkata sebagian Al-Arifin: “Apabila kamu berbicara ingatlah pendengaran Allah terhadapmu, dan apabila kamu diam ingatlah penglihatan Allah kepadamu”

(Penjelasan Hadis Ke 12 Dari 50 / Arbain Nawawi Plus Tambahan Ibnu Rajab / Hadis-Hadis Inti Ajaran Islam) oleh: Abdullah Saleh Hadrami.

Diambil dari http://www.kajianislam.net. Semoga bermanfaat

Ketegasan Pak Anton Soal Halal

Di perjamuan makan resmi pemerintah Rumania, (mantan) Menteri Pertanian RI hanya mencicipi salad, roti tawar, air putih, dan buah.

Suatu hari empat tahun lalu, Anton Apriyantono sedang mengajar di Kampus IPB Darmaga ketika ditelepon Sudi Silalahi untuk bertemu SBY di Puri Cikeas. Mulanya, ia tak begitu saja percaya pada si penelepon, sampai Sudi memberikan keterangan yang meyakinkan bahwa dirinya memang ‘’orang SBY’’ – yang baru saja terpilih sebagai presiden menggantikan Presiden Megawati.

Anton sempat menawar agar ia diberi waktu lebih longgar untuk datang. ‘’Bukan apa-apa, soalnya saat itu saya sedang ngajar. Saya juga harus mencari sopir yang tahu jalan ke Cikeas,’’ ungkap Anton dalam sebuah buka bersama di rumah dinasnya. Ternyata, sopir yang dibutuhkan tidak didapat. Akhirnya Anton memutuskan menyetir sendiri, didampingi rekan sepengajiannya, Dr Ahmad.

Ketika sampai di Puri Cikeas, para petugas jaga mengira Anton hanyalah sopir yang membawa calon menteri. Ia pun disuruh memarkir mobil pada kaplingnya dan diminta menunggu di ruang tunggu. Eh, ternyata si ‘’sopir’’ justru berjalan menuju tempat SBY sementara rekannya ke ruang tunggu.

‘’Wah, tapi tas dan sepatu saya nggak lusuh seperti yang diberitakan. Tapi barangkali kalau dibandingkan dengan penampilan calon menteri lain memang begitu ya,’’ kenang Anton sambil tertawa.

Anton memang dikenal bersahaja sejak dulu. Saat ia diangkat menjadi Mentan dalam Kabinet Indonesia Bersatu yang dikomandoi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Daisy Irawan lewat surat elektronik panjang memberi kesaksian tentang sosoknya. Daisy adalah sarjana alumnus UGM Yogyakarta yang dekat dengan Anton tatkala mengambil master di bidang food science di IPB. Tulis Daisy:

Hari ini, kecelelah orang-orang yang selama ini memandang rendah terhadap beliau. Tergondok-gondoklah orang yang menertawakan kaus kakinya yang bolong. Terhinalah mereka semua yang hobi menghina-hina orang karena hal-hal duniawi. Pak Anton yang sederhana, yang bertahun-tahun tidak punya televisi karena menurut beliau lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya, yang suka ‘’merepotkan’’ karena sifatnya yang perfeksionis, yang rewel dengan status kehalalan makanan — sifat yang ini menguntungkan saya sebagai tukang cicip 🙂 — eh, hari ini sudah resmi jadi menteri!

‘’Sungguh perjalanan hidup yang tak disangka pula saya berkesempatan mengenal beliau secara pribadi baik sebagai mahasiswa Program Studi Pasca Sarjana IPB maupun asisten beliau semasa kuliah. He is one of the best!’’ lanjut perempuan beragama Katolik yang bekerja di Indofood.

Dalam Resonansi-nya di Republika, Zaim Uchrowi yang alumnus IPB menulis: ‘’Sebagai ilmuwan, Anton Apriyantono dikenal perfeksionis, konsisten, pekerja keras, dan fokus. Ia memperjuangkan ’halal’ di tengah masyarakat yang katanya agamis ini. Ia mengikhlaskan hidup untuk perjuangannya itu.’’

Perjuangan Anton didukung anugerah berupa indera penciuman yang tajam untuk menggeledah jenis dan kualitas makanan atau minuman. ‘’Sebagai seorang flavour scientist, saya selalu curious dengan bau-bauan. Saya punya kebiasaan mencium apa-apa yang akan dimakan,’’ aku pakar pangan IPB ini.

Suatu pagi Rossi, sang istri, menyodorkan mie goreng buat sarapan suami. Dengan bersemangat, Anton menuju meja makan. Tapi, dari jarak agak jauh, hidungnya sudah membau kurang enak. Ia lalu mengendus bau mie goring tersaji. Eh, ternyata benar, mie tersebut sudah menyimpang baunya.

‘’Ini mie kemarin ya Ma,’’ kata Anton. ‘’Iya tuh, maaf yah,’’ sahut sang istri malu-malu. ‘’Aduh, maaf nih Ma, saya nggak bisa memakannya. Mie ini sudah rusak, saya khawatir dengan perut saya,’’ kata Anton.

Lain pagi, iseng-iseng Anton ikut pesan jamu keliling langganan pembantunya. Tak tanggung-tanggung, ia mengorder jamu sehat lelaki. ‘’Pakai telur mboten, Pak,’’ tanya si Mbok jamu. Sambil mengiyakan, Anton lalu membuka tutup botol-botol jamu, lalu membauinya satu per satu. ‘’Bapak emang biasa begitu, Mbok,’’ kata istri Anton melihat kelakuan suaminya. ‘’Ya ndak apa-apa, to Bu,’’ sahut si Mbok sambil tertawa.

‘’Nah,’’ kata Anton tiba-tiba. ‘’Iki opo Mbok?’’ katanya sambil menunjukkan botol yang mengobarkan aroma alcoholic beverages.

‘’Iku anggur,” jawab si Mbok kalem.

Masya Allah, betul dugaan Anton. Ia pun lalu memberi pengertian pada penjual jamu. ‘’Tolong ini jangan diberikan untuk orang Islam, ya Mbok. Nggak boleh sama Gusti Allah,’’ pinta Anton dalam dialek Jawa. Saat itu ia belum tega untuk melarang si Mbok jualan anggur sama sekali.
Jangan kira Anton beraninya hanya pada wong cilik. Pernah, seusai mengaudit sebuah pabrik milik perusahaan besar, Anton dan rekan-rekan auditor LPPOM MUI disuguhi makan siang oleh tuan rumah. Saat itu dengan lugunya para petinggi perusahaan menyilakan tamunya menyantap makanan paket bermenu Jepang dari sebuah resto Jepang terkenal.

‘’Maaf, ini belum bersertifikat halal. Tolong saya minta nasi Padang saja,’’ kata Anton sambil menyingkirkan hidangan dari hadapannya.

Warung Padang pula yang akhirnya menjadi solusi bagi tuan rumah di sebuah acara resmi di NTT, tatkala menteri Pertanian Anton Apriyantono berkunjung ke sana. Semula panitia ngeri, sambutannya bakal dinilai keterlaluan untuk menghargai seorang petinggi negara. Tapi ternyata Pak Anton makan dengan lahapnya di warung Padang itu.

Skenario tersebut susah payah di-arrange oleh Sekretaris Menteri, Dr Abdul Munif, berdasarkan pengalaman sebelumnya mendampingi Mentan di Bali. Waktu itu, panitia menjamu Mentan dan rombongan di sebuah restoran besar. Hidangan memang tidak menyuguhkan babi. Tapi, demi melihat menu babi di daftar menu reguler restoran tersebut, Pak Menteri kontan mengurungkan makan.

‘’Saya makan pop mie (yang bersertifikat halal) dan air putih saja,’’ kata Anton tanpa basa basi.

Kementrian Pertanian dan Peternakan Rumania pun pernah mencicipi ketegasan Anton Apriyantono dalam soal makanan halal. Waktu itu, mereka mengundang Mentan dan rombongan Kedubes RI di Bukarest dalam sebuah jamuan kenegaraan.

‘’Silakan, ini halal food, tidak ada babi,’’ tuan rumah yang sudah berkoordinasi dengan Sekretaris Menteri Pertanian RI, mempersilakan Menteri Anton.

Saat itu, selain menu vegetables, juga tersaji daging bison dan kalkun muda nan mengundang selera. Anggota rombongan Mentan yang memang sedang lapar, sudah membayangkan bakal bersantap besar yang uenak tenan.

Olala, ternyata Pak Anton hanya memakan salad, makan roti tawar, minum air putih, lalu mengakhiri makan dengan buah-buahan. That’s all. Sebab, perkara halal bukan sekadar ada tidaknya daging babi. Daging binatang halal pun mesti dikejar lagi bagaimana cara penyembelihannya. Terlebih di negeri Barat yang umumnya tidak mengenal halal-haram.
Ketika tuan rumah Rumania setengah memaksa mencicipi hidangan besar lainnya, Menteri Pertanian hanya berucap, ‘’Sudah cukup buat saya, terima kasih.’’

Tak hanya shohibul bait yang melongo. Rombongan Pak Menteri pun terpaksa mengikuti jejak boss-nya.

Anton Apriyantono dengan ketegasannya, di masa kiwari tentulah menjadi sosok pribadi asing (al ghuraba). Kata Rasulullah SAW, “Islam bermula dalam keadaan asing (gharib), dan akan kembali di anggap asing sebagaimana bermula. Maka beruntunglah orang-orang asing itu (ghuraba)” (HR Imam Muslim).

“Siapakah Al ghuraba itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan ketika orang-orang lain rusak” (HR Imam Thabrani dari Sahal ra).
Dalam riwayat Imam Baihaqy dan Imam Tirmidzi, maksud ghuraba adalah “Orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada manusia.” Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabrani, maksud ghuraba adalah “Manusia shalih yang sedikit di antara manusia yang banyak. Orang yang menentang mereka lebih banyak di banding yang mentaati mereka.” (nurbowo/majalah ALIA nop 09)

di-copy paste dari sini

Pembukaan

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Yang menguasai di Hari Pembalasan
Hanya Engkaulah yang kami sembah,
dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan
Tunjukilah kami jalan yang lurus
Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka;
bukan mereka yang dimurkai dan bukan mereka yang sesat

Grow Old With You

I wanna make you smile whenever you’re sad
Carry you around when your arthritis is bad
All I wanna do is grow old with you

I’ll get your medicine when your tummy aches
Build you a fire if the furnace breaks
Oh it could be so nice, growing old with you

I’ll miss you
I’ll kiss you
Give you my coat when you are cold

I’ll need you
I’ll feed you
Even let ya hold the remote control

So let me do the dishes in our kitchen sink
Put you to bed if you’ve had too much to drink
I could be the man who grows old with you
I wanna grow old with you

(Grow Old With You/Adam Sandler from OST “The Wedding Singer“)

self hypnosis

I can do it!
I can do it!
I can through it all!
4JJI is my final destiny!!!

3 GOLONGAN MANUSIA YANG PASTI DITOLONG 4JJI

Rasulullah saw bersabda: Tiga golongan manusia yang pasti
ditolong oleh Allah; Mujahid yang berjuang di jalan Allah, Mukatab (hamba
sahaya yang hendak memerdekakan diri) yang hendak membayar tebusannya, dan
orang yang menikah (kerana) ingin menjaga kehormatannya.” (HR.Ahmad)

Anak-anak

Rasanya aku tahu kenapa Barat maju

Karena mereka ‘mendengarkan’ anak-anak

Karena mereka tidak malu belajar dari anak-anak

Jakarta, 20 Juli 2006