365 Hari Bersama Nabi Muhammad SAW

Mencintai Rasulullah. 365 Hari Bersama Nabi Muhammad saw.Mencintai Rasulullah. 365 Hari Bersama Nabi Muhammad saw. by Nurdan Damla
My rating: 5 of 5 stars

Sudah sejak 3 tahun lalu saya pingin sekali memiliki buku ini. Dari sejak harganya masih di bawah seratus ribu, sampai harga Rp 170 ribuan, alhandulillah buku ini kebeli juga akhirnya.

Gak menyesal deh punya buku ini sebagai bahan bacaan maupun koleksi buku di rumah!

Meskipun buku ini diperuntukkan untuk anak-anak, namun isinya amat bermanfaat untuk orang dewasa. Lewat bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, kita jadi belajar sirah nabawiyah (sejarah nabi) tanpa harus mengeryitkan dahi. Sambil mendongeng bersama anak-anak, kita juga ikut belajar tentang sejarah Islam, perjuangan Nabi Muhammad, serta sunnah-sunnah (kebiasaan dan perilaku) Nabi Muhammad SAW. Membaca buku ini membuat saya pembacanya persis seperti judul bukunya: “Mencintai Rasulullah”.

Buku ini berisi 365 kisah tentang Nabi Muhammad SAW, mulai dari kelahirannya, kondisi Mekkah pada saat itu, kisah-kisah para sahabat, perilaku dan akhlak mulia Nabi, hingga berpulangnya Nabi Muhammad SAW ke sisi Allah SWT. Buku ini juga dilengkapi dengan gambar-gambar yang menarik. Sangat cocok untuk memperkenalkan sosok teladan kita kepada anak-anak.

View all my reviews

Advertisements

Islam: A Short History

Rating: ★★★★★
Category: Books
Genre: History
Author: Karen Armstrong

Islam: A Short History (Modern Library Chronicles)Islam: A Short History by Karen Armstrong

My rating: 4 of 5 stars

Sebenarnya ini buku udah nangkring lama di rak, secara dulu belinya pas pameran buku and diskon gede-gedean. Tapi baru aja dibaca bener-bener. Ternyata ini buku bagus banget; ringkas, padat, dan jelas. Ditulis oleh seorang Islamolog yang mantan biarawati. Karen Armstrong memaparkan sejarah Islam dengan cukup obyektik dan terstruktur rapi. Bahasa yang mudah dicerna dan mengalir membuat pembaca sangat menikmati perjalanan agama yang dibawa Muhammad ini hingga akhirnya mendunia.

Selain pemaparan yang naratif, Karen juga memaparkan sejarah Islam secara kronologis berdasarkan tahun kejadian secara ringkas. Buku setebal 200-an halaman ini juga disertai peta wilayah kekuasaan Islam dari masa ke masa.

Karena buku ini tidak ditulis oleh seorang Muslim, namun sangat menguasai tentang Islam, buku ini terkesan ‘obyektif’. Karen memotret sejarah Islam dari ‘luar’, atau bisa dibilang secara ‘bird’s eye view’. Karenanya, Karen tidak menghakimi siapa pun. Karen memandang konteks sejarah Islam secara luas. Bahkan menurutnya, ketika Muhammad terpaksa membunuh ratusan orang Yahudi yang berkhianat pada ummat (sebelum Perang Khaybar), itu bukanlah sebuah genocide. Pada konteks sejarah saat itu, langkah tersebut merupakan langkah tepat yang diambil Muhammad untuk mencegah kekerasan yang lebih kejam lagi oleh Yahudi. Bahkan Karen menilai, masyarakat Arab pada saat itu sangat primitif, dimana perang hanya bisa dijawab oleh perang, karena mereka belum mengenal kata ‘damai’.

Penulisan sejarah yang cukup obyektif ini juga terlihat dari cara Karen menulis tentang fitnah pada masa Rasyidun yang menyebabkan terbunuhnya 2 khalifah, yaitu Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Di sini, Karen tidak hendak menyalahkan kaum Syiah maupun kaum Sunni. Ia hanya memaparkan alasan-alasan logis mengapa para pendukung Ali memberontak dan mengapa pendukung Muawiyyah dab Bani Umayyah tidak puas dengan kepemimpinan Ali.

Dalam buku ini, Karen berkali-kali menuliskan bahwa Islam adalah agama damai, seperti asal kata “Islam” (damai). Dan ajaran perdamaian ini dibuktikan oleh Muhammad di penghujung dakwahnya ketika ia bersama 10.000 umat Islam berhasil menaklukan Kota Mekah tanpa pertumpahan darah.

View all my reviews











The Miracle of Enzyme

Rating: ★★★★★
Category: Books
Genre: Health, Mind & Body
Author: Dr. Hiromi Shinya, MD

Buku ini ditulis oleh seorang dokter bedah yang melakukan pengamatan selama 40 tahun membedah perut sekitar 300.000 pasien dan membandingkan dengan pola makan pasien-pasien tersebut. Pengamatan ini didorong oleh rasa ingin tahu apa yang MENYEBABKAN SESEORANG SAKIT.

Shinya mengakui, di sekolah kedokteran ia hanya mempelajari bagaimana menyembuhkan gejala penyakit dan tidak benar-benar mendapatkan penyebab seseorang sakit.

Dari pengamatannya pada 300.000 pasien, hampir bisa dipastikan, orang yang minum susu setiap hari, maka ususnya akan kotor dan bermasalah.

Sebelum tahun 1960, penduduk Jepang tidak mengkonsumsi susu. Ternyata
penduduk Jepang yang berusia lanjut tidak ada yang menderita osteoporosis. Sejak tahun 1960, di Jepang dipopulerkan mengkonsumsi susu dan ternyata setelah itu dijumpai banyak sekali kasus osteoporosis. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Susu tinggi Kalsium dipercaya lebih mudah diserap. Saat minum susu, konsentrasi kalsium dalam darah tiba-tiba meningkat. Ketika konsentrasi kalsium dalam darah meningkat, tubuh berusaha mengembalikan keadaan abnormal ini menjadi normal dengan membuang kalsium dari ginjal melalui urine. Demikian juga tubuh melepas sebagian kalsium dari tulang dan gigi. Dengan kata lain, jika Anda mencoba minum susu dengan harapan mendapatkan kalsium, hasilnya sungguh ironis, yaitu menurunnya jumlah kalsium dalam tubuh Anda secara keseluruhan. Dari empat negara susu besar, yaitu Amerika, Swedia, Denmark dan Finlandia yang banyak mengkonsumsi susu setiap harinya, ditemukan banyak kasus retak tulang panggul dan osteoporosis.

Sebaliknya dengan mengkonsumsi ikan-ikan kecil dan rumput laut yang selama berabad-abad dimakan oleh bangsa Jepang dan pada awalnya dianggap rendah kalsium, ternyata hampir tidak ada kasus osteoporosis
di Jepang selama masa rakyat Jepang tidak minum susu.

Selain susu, Shinya mendapati bahwa inti kesehatan tubuh manusia terletak pada ENZIM PANGKAL. Semakin banyak enzim pangkal, semakin sehat tubuh seseorang. Enzim pangkal akan tergerus habis jika seseorang tidak menjaga makanan dan gaya hidupnya. Salah satu upaya mempertahankan enzim pangkal adalah dengan minum banyak air putih dan rajin olah raga.

Meskipun Shinya seorang dokter, ia justru tidak merekomendasikan pasiennya untuk mengonsumsi banyak obat, karena menurutnya, “Semua obat, asing untuk tubuh”. Ia justru merekomendasikan makanan alami untuk pasien-pasiennya. Menurutnya, porsi makanan ideal bagi manusia adalah: 85% nabati, dan 15% hewani.

Beberapa pasiennya yang mengidap kanker justru berhasil sembuh dengan diet ketat dan menjaga gaya hidup, dan bukan karena obat.

The Naked Traveler 2

Rating: ★★★★
Category: Books
Genre: Travel
Author: Trinity

The Naked Traveler 2 The Naked Traveler 2 by Trinity

My rating: 4 of 5 stars
Mirip dengan buku sebelumnya–The Naked Traveler–, buku ini bikin yang baca cekikikan sendiri. Tapi jujur aja aku lebih suka sama buku pertamanya yang lebih banyak nuansa traveling-nya.

Kalau buku kedua ini lebih membahas tentang orang-orang/penduduk suatu tempat yang dikunjungi penulis. Selain itu, buku kedua ini lebih kepada ‘survei’ pribadi penulis dalam membandingkan unsur antropologis setiap negara/daerah.

But after all, tulisan yang ringan dan apa adanya khas Trinity ini enak dibaca dan perlu. Yang pasti, tulisan mbak Trinity ini membuatku “ngiler” traveling :))

View all my reviews >>


Islamic Book Fair 1431 H/2010 M

Start:      Mar 5, ’10
End:      Mar 14, ’10
Location:      Istora Gelora Bung Karno, Jakarta

Tema “MEMBANGUN GENERASI ISLAMI, CERDAS DAN MANDIRI”

Pesta Buku Jakarta 2009

Start:      Jun 27, ’09 10:00a
End:      Jul 5, ’09 9:00p
Location:      Istora Gelora Bung Karno, Jakarta

Pameran buku tahunan IKAPI Jakarta

Nggak Kuper & Ngebisnis Lewat Facebook

Rating: ★★★★★
Category: Books
Genre: Professional & Technical
Author: Jatining Siti Handayani

Nggak Kuper & Ngebisnis Lewat Facebook Nggak Kuper & Ngebisnis Lewat Facebook by Jatining Siti Handayani

My review


rating: 5 of 5 stars
Dijamin gak rugi punya buku ini, karena bisa jadi panduan bermanfaat dalam ber-facebook 😉

View all my reviews.




Keabadian Telah Dimulai (Eternity Has Already Begun)

Rating: ★★★★
Category: Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Harun Yahya

Keabadian Telah Dimulai, Eternity Has Already Begun Keabadian Telah Dimulai, Eternity Has Already Begun by Harun Yahya

My review


rating: 3 of 5 stars
Buku ini sebenarnya adalah salah satu bab dalam buku Harun Yahya yang lain, berjudul “Mengenal Allah Lewat Akal” (Allah Is Known Trough Reason), dimana bercerita tentang relativitas waktu. Harun Yahya yang bernama asli Adnan Octar ini secara cerdas dan memikat menjelaskan sifat waktu yang fana. Membaca buku ini seperti membangunkan kita dari mimpi panjang yang sebenarnya adalah tidur beberapa menit saja. Dan inilah hakikat hidup yang sementara itu… masyaallah.

View all my reviews.





Perempuan Berkalung Sorban

Rating: ★★★
Category: Books
Genre: Romance
Author: Abidah el Khalieqy

Gara-gara melihat poster iklan film “Perempuan Berkalung Sorban” di perempatan Cililitan, saya jadi tergoda menggali ingatan saya tentang novel berjudul sama yang saya baca 7 tahun lalu.

Ya, film ini memang diangkat dari novel karya penulis perempuan, Abidah el Khalieqy, yang besar di lingkungan pesantren. Tak heran jika novel ini mengisahkan kehidupan dengan latar belakang serupa.

Secara narasi atau teknik penceritaan, kelihaian Abidah cukup diacungkan jempol. Ia bisa membawa pembaca pada penghayatan cerita. Deskripsinya juga detil. Hanya saja, novel ini jauh dari label “novel Islami”. Karena memang isinya jauh dari nilai-nilai Islam. Mulai dari cara penceritaannya yang vulgar hingga representasi Islam itu sendiri, menurut saya sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Bahkan di sebuah resensi ada yang menyebutnya sebagai “sastra lendir”.

Sebagai muslim, saya menyayangkan novel ini tidak mensyiarkan nilai-nilai Islam yang sesungguhnya. Ia malah menampilkan kontroversi yang alilh-alih mendiskreditkan Islam. Lebih parahnya lagi, mengajarkan hal-hal yang sebenarnya malah bertentangan dengan nilai Islam.

Novel ini berkisah tentang seorang anak seorang Kyai bernama Annisa yang hidupnya terlunta-lunta lantaran dipaksa menikah dengan seorang bromocorah. Perceraian akhirnya menjadi gerbang kebebasan bagi Annisa. Pada episode kedua kehidupan Annisa, ia diceritakan jatuh cinta pada paman jauhnya, Khudori, yang sedari kecil mengajarkannya banyak hal. Nah, episode inilah yang saya kritisi, karena proses pdkt keduanya sangat jauh dari nilai-nilai Islam, bahkan mendekati zina. Ironinya, dalam novel ini, cinta mereka berdua justru digambarkan sebagai cinta yang sesungguhnya, yang benar, yang sejati, dll. Gawat!

Dalam novel ini, Abidah juga mengkritisi kewajiban berjilbab bagi muslimah. Ia mengibaratkan muslimah berjilbab itu seperti guling yang tertutup rapat. Selain itu, banyak lagi hal-hal yang kontroversial dalam novel ini.

Saya belum menonton versi layar lebarnya. Saya hanya berharap. Semoga film ini menampilkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan bukan sebagai ajaran yang ‘mengekang’ dan bertentangan dari hak-hak asasi manusia.

Semoga juga, film ini bertutur lebih santun dan tidak vulgar seperti pada novelnya.

Maryamah Karpov

Rating: ★★★
Category: Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author: Andrea Hirata

Maryamah Karpov: Memoar Yang Surealis

Saat membaca lembar demi lembar Maryamah Karpov, sulit bagi saya untuk percaya bahwa buku itu adalah memoar. Pun saat tamat membacanya, saya sangsi.

Maryamah Karpov mengajak pembaca bertualang dalam dunia khayalan yang hiperbolis. Dahsyat nan menggugah imaji. Begitu imajinatif hingga condong kepada surealis, meskipun—menurut dugaan saya—Andrea mati-matian membuatnya realis. Karena itu, pada titik ini Andrea Hirata telah gagal.

Apakah ini lantaran persepsi yang telah tertanam pada pembaca bahwa tetralogi Laskar Pelangi adalah memoar? Maka setiap kisah yang ‘tidak masuk akal’ dalam Maryamah Karpov membuat pembaca skeptis, sehingga menilainya condong kepada surealis alih-alih mengada-ada.

Saya sendiri sangsi tentang waktu pembuatan novel keempat tetralogi Laskar Pelangi ini; apakah sebelum Andrea tenar atau sesudah novel pertamanya booming? Apakah ketika shooting film Laskar Pelangi sedang berlangsung atau jauh hari sebelum itu? Sebab saya merasakan ‘kenarsisan’ Ikal yang cukup akut dalam buku ini. Jauh berbeda dari tiga buku sebelumnya yang relative rendah hati.

Yang menjadi tanda tanya berikutnya adalah; jika novel ini ditulis setelah Andrea tenar, ia sangat tidak antisipatif, karena berkali-kali ia gagal mengejutkan pembaca. Dengan gaya bertuturnya yang khas pada tiga novel sebelumnya, pembaca sudah sangat mahfum dengan jalinan kata-kata Andrea, sehingga kejutan yang telah disiapkannya tidak lagi mengejutkan.

Sebagai contoh; lika-liku kata-kata Andrea tentang mimik ayahnya yang hendak mengungkapkan sesuatu saat pertama kali melihatnya pulang dari Eropa, sangat dapat ditebak arahnya. Sehingga klimaks di akhir bab tidak lagi mengejutkan. Sangat berbeda ketika membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Saya bisa tertawa terbahak-bahak atau terisak-isak mendapati klimaks di akhir bab. Bisa jadi, karena pada era tiga novel sebelumnya, pembaca masih awam dengan gaya bertutur Andrea.

Roxana

Kehadiran Roxana di infotainment sedikit banyak mengganggu persepsi pembaca saat membaca novel ini. Apalagi Roxana amat jauh dari deskripsi tentang A-Ling. Sehingga—sekali lagi—membuat pembaca sangsi bahwa Ikal benar-benar bertemu A-Ling. Apalagi di akhir cerita, Andrea menggantung kisah antara Ikal dan A-Ling. Entahlah, apakah ini strategi bisnis agar mungkin dibuat sekuelnya.

Namun demikian, eksistensi Roxana menjadi misteri baru dalam wacana riwayat hidup ‘Pendekar Ikal’, karena kehadirannya seolah menjadi bayang-bayang A-Ling. Tapi jangan khawatir, bagi yang tidak mengikuti infotainment, tidak akan terpengaruh pada sosok Roxana berikut pernyataannya yang cukup membuat penggemar Andrea kecewa atau malah tidak percaya.

Pernyataan itu adalah tentang ‘bualan’ Andrea dalam memoar tetralogi Laskar Pelangi. Roxana menyebut Andrea Hirata berani berbohong di muka publik lewat keempat novelnya ini. Entahlah… hanya saja, setelah membaca Maryamah Karpov, pernyataan Roxana tersebut menjadi cukup dipertimbangkan. Apalagi saya mencium aroma kisah ‘mengada-ada dalam buku ini. Hal ini terbaca lewat inkonsistensi Andrea pada beberapa ‘fakta’.

Salah satu contohnya adalah tokoh Mahar. Pada novel pertama, Mahar dikisahkan telah insaf dari fanatisme dunia gaib dan akhirnya menjadi guru seni di sebuah sekolah. Namun aneh, tokoh Mahar dalam Maryamah Karpov dikisahkan justru makin menjadi-jadi ilmu perdukunannya. Pun Societeit de Limpai yang telah bubar di akhir buku Laskar Pelangi, di novel keempat ini mereka hidup lagi.

Pesan Moral

Membaca Maryamah Karpov jauh berbeda dengan membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, atau Edensor. Meskipun gayanya masih mirip (atau tidak terlalu sama), satir dan hiperbolis, namun kesan yang ditimbulkannya sangat berbeda. Pesan moral yang inspiratif hampir tidak ditemukan di sini.

Saya menganggap pada titik ini Andrea pun gagal, sebab kesan yang tertangkap tak lebih dari sekedar petualangan khayali melintasi samudara nan garang demi cinta pada seorang gadis Tionghoa. Selebihnya, tidak ada pesan moral yang menggugah pembaca seperti tiga novel sebelumnya.

Saya mendapati banyak orang terinspirasi untuk belajar lebih giat gara-gara membaca Laskar Pelangi. Menekuri kisah Lintang dalam novel pertama ini membuat semua yang membaca menjadi lebih mensyukuri hidup. Mirip dengan novel pertama, banyak orang terinspirasi untuk melanjutkan sekolah tinggi dan mencari beasiswa ke luar negeri lantaran membaca Sang Pemimpi dan Edensor. Sayangnya, tidak demikian halnya dengan Maryamah Karpov. Entah karena saya overestimate ketika hendak membaca, atau memang karena karya ini kurang membumi? []