Ketika Cinta Bestabih (1&2)

Rating: ★★★
Category: Movies
Genre: Drama

3 bintang dari 5 bintang? Yup! Itu opini saya ttg keseluruhan film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) garapan sutradara Chaerul Umam. Sebenarnya banyak kelebihan dalam film ini, namun sayangnya banyak unsur yang menegasikan kelebihan film ini. Alhasil secara keseluruhan film ini pantas menyandang 3 bintang saja.

Dari segi akting para pemain, saya acungkan 2 jempol untuk mereka, terutama para pendatang baru…Standing applause untuk mereka. Kolaborasi para aktor senior maupun junior dapat melebur dengan harmonis sehingga mampu membawa para penonton ke dalam emosi para tokoh. Meski demikian, beberapa figuran aktingnya pas-pasan, bahkan nyata terlihat bersusah payah menghapal dialog, sehingga aktingnya tidak natural. Tapi secara keseluruhan para tokoh utama film aktingnya bintang lima, salut!

Hal lain yang ‘lumayan’ bagus adalah upaya adaptasi novel ke film. Meskipun novel dan film adalah 2 media berbeda, namun hal ini tak bisa dinafikan dari penilaian para penonton yang awalnya adalah pembaca novel KCB. Jujur saja saya belum membaca novelnya. Tetapi sebagai penonton yang belum membaca novelnya, saya bisa memahami jalan cerita dengan baik. Sayangnya–seperti kebanyakan film adaptasi dari novel–alurnya terkesan tergesa-gesa. Sutradara nampak ingin menumpahkan semua yang ada di novel, namun terbentur pada durasi waktu.

Alur yang tergesa-gesa ini dilengkapi dengan dialog/monolog yang “lebay” (kalau tidak mau dibilang “buruk” ^^). Kesan ini sudah nampak dari awal film KCB 2 saat Husna memberikan ucapan terima kasih di acara penganugerahan award sastra. Duh… kata-katanya lebay banget! Sangat hiperbola. Mungkin maksudnya ingin membawa emosi penonton, tapi kok jadinya malah bikin ilfil. Ke-lebay-an ini diperparah dengan ekspresi Azzam yang ujug-ujug menangis terharu oleh kata-kata Husna yang “lebay” menyanjung dirinya.

Ketergesa-gesaan lain dalam dialog film ini menonjol saat adegan tokoh-tokoh yang bertamu dan hendak menyampaikan maksud kedatangannya. Sutradara (atau penulis naskah) nyata nampak dikejar durasi waktu, sehingga dialog langsung to the point, seolah mengabaikan budaya basa-basi orang Jawa–mengingat setting film KCB 2 di wilayah Jawa Tengah.

Ketergesa-gesaan ini membuat emosi penonton menjadi datar-datar saja. Karena belum tuntas emosi suatu adegan, eeeh… sudah pindah ke adegan lain yang membawa ke emosi yang berbeda. Tapi… sempat terharu juga sih waktu ibunya Azzam meninggal. Tragis!

Namun demikian, film ‘khas’ Chairul Umam ini memiliki pesan-pesan religi yang tidak menggurui. Bahkan mungkin bagi penonton umum yang awam dengan proses taaruf tanpa pacaran, film ini menjadi referensi apik bagi mereka yang ingin mengetahui proses mencari jodoh yang sesuai syariat Islam.

After all, film ini lumayan menghibur. Terutama di KCB 2, penonton dijamin akan terhibur dengan harmonisasi akting para aktor. Selamat menonton 😉

Advertisements

Perempuan Berkalung Sorban

Rating: ★★★
Category: Movies
Genre: Drama

Betapa kagetnya saya ketika melihat serombongan ibu-ibu muda mengajak anak-anaknya yang masih SD menonton film Perempuan Berkalung Sorban di Cineplex 21 Kalibata. Plis dong bu, ini film gak pantes ditonton anak-anak. Alis saya juga jadi naik sebelah gara-gara suara anak-anak ABG riuh saat adegan ‘dewasa’. Dooh, norak banget sih! Mendingan pada nonton Scooby Doo aja deh. Sayang tuh tiket, mahal-mahal tidak digunakan untuk mengapresiasi dan memahami esensi sebuah karya, tetapi sekedar untuk rekreasi.

Bukannya saya pro pada Hanung Bramantyo ataupun film adaptasi dari novel ini. Saya hanya mencoba proposional dalam menilai sebuah karya, meskipun itu subyektif. Dari reaksi penonton bioskop di atas—meskipun bukan representasi seluruh penonton di Indonesia—cukup menggambarkan betapa masyarakat Indonesia tidak dewasa dalam mengapresiasi sebuah karya. Sebuah pesan hanya dilihat pada permukaannya saja. Contohnya adegan ‘dewasa’ yang menurut saya masih dalam batas sopan, penonton ribut bersorak dan bersiul layaknya menonton film syuur murahan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi anak-anak SD yang diajak ibunya nonton itu saat adegan ‘dewasa’.

Sebenarnya saya mengkritisi juga adegan-adegan ‘dewasa’ ini sih. Menurut saya, Hanung setengah-setengah dalam itikadnya mendekonstruksi novel Perempuan Berkalung Sorban. Karena jika pesan tentang hubungan suami istri dalam Islam seperti pada novelnya ingin diangkat, tentunya akan menjadi vulgar jika diangkat dalam film. Sebab dalam novelnya, secara detil dipaparkan bagaimana seharusnya hubungan antara suami dan istri dalam Islam, dimana tidak ada yang dominan dan subordinat.

Dalam novel, Anisa dikisahkan trauma berhubungan seksual dengan suami keduanya akibat kekerasan dan pemaksaan seksual yang dilakukan mantan suaminya, Samsudin. Sampai akhirnya, suami keduanya, Khudori, dengan sabar berhasil membimbingnya dan melepaskan trauma masa lalunya. Lewat novel setebal 600-an halaman, tentu proses yang memakan waktu cukup lama itu dapat diceritakan dengan tidak tergesa-gesa, hingga pembaca paham pada kondisi psikologis Anisa. Sementara dalam film berdurasi sekitar 120 menit ini, proses tersebut hanya direpresentasikan lewat beberapa adegan ‘dewasa’ sehingga bagi penonton awam yang “gak dewasa”, adegan tersebut tak lain seperti adegan cinta-cintaan sebagai bumbu cerita saja. Padahal sebenarnya pengalaman seksual Anisa adalah bagian dari cerita. Alhasil, adegan ini menjadi wagu (janggal. Red).

Menurut saya, jika Hanung Bramantyo yang mengaku telah mendekonstruksi novel Perempuan Berkalung Sorban, maka sebaiknya tidak perlu ‘kemaruk’ mengambil semua cerita, termasuk pengalaman seksual Anisa dengan Khudori. Cukuplah proses pemulihan psikoseksual Anisa digambarkan melalui simbol-simbol.

Simbolik

Film ini banyak sekali menggunakan simbol-simbol visual. Bisa dimaklumi, karena untuk menjelaskan secara denotatif melalui film berdurasi 120 menit tidak akan cukup. Karena itu, saya melihat Hanung banyak memampatkan pesan-pesan yang tidak tersurat lewat simbol. Misalnya kuda untuk merepresentasikan maskulinitas, dalam film ini, kemaskulinan jiwa Anisa. Selain itu, pembakaran buku-buku sebagai simbol pemasungan ilmu dan pemadaman akal. Buku yang disimbolkan oleh Hanung adalah buku “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer sebagai buah karya seseorang yang terpasung namun bebas jiwanya. Karena buku ini memang ditulis oleh Pram saat ia dipenjara di Pulau Buru.

Namun kenapa Bumi Manusia? Kenapa bukan buku lain? Bukan kah banyak buku yang dihasilkan dari penjara? Karena jika disalahartikan, roman sejarah yang ditulis anggota Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) bentukan PKI ini, film ini bisa disangka bermuatan paham komunis. Meskipun dapat dimaklumi bahwa Bumi Manusia juga berkisah tentang seorang perempuan ‘perkasa’ dan mandiri bernama Nyai Ontosoroh.

Namun demikian, Hanung kurang konsisten dalam penggunaan symbol ataupun metafora dalam film ini. Hal ini terlihat saat adegan Khudori kecelakaan. Menurut saya, sebaiknya kematian Khudori cukup dibuat simbolis saja, tidak perlu memakai efek computer yang memperlihatkan orang mental ditabrak mobil ;p

Mengabaikan Detil

Kecerobohan sutradara dalam film ini juga terlihat dimana-mana. Misalnya dialog antara Anisa dengan para santriwati saat bercerita tentang buku karangan Pramoedya Ananta Toer. Anisa berkata, “Penulis buku ini sudah tiada.” Padahal setting film itu adalah awal 1990-an, dimana di tahun itu Pram masih sehat wal afiat.

Ketidakpahaman sutradara pada karakter wanita berjilbab pun sangat kental. Bagi saya yang berjilbab menutupi dada, saya cukup tersinggung dengan adegan ketika seorang santriwati yang biasa berjilbab panjang sedang pacaran di dalam kamar kosnya, kemudian mengancingkan pakaiannya secara tergesa-gesa ketika Anisa datang tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Menurut saya, adegan ini terlalu berlebihan untuk menggambarkan seorang ukhti yang melenceng dari ajaran Islam. Paling enggak, jilbabnya dibikin pendek kek, kalau memang melencengnya sudah sangat keterlaluan. Sebab menurut pengamatan saya—meskipun tidak selalu—kebanyakan tingkat futur (turun iman) seseorang dapat dilihat dari ukuran jilbabnya.

Selain itu, sosok Khulsum, istri kedua Samsudin, kurang tepat jika digambarkan berjilbab. Apalagi dalam novel, Khulsum dikisahkan sebagai perempuan biasa-biasa saja yang tidak kenal ilmu agama. Karena itulah ia berzina denga suami Anisa sampai hamil di luar nikah. Sekali lagi, Hanung tidak konsisten dalam simbolisasi. Kecuali jika ia memang ingin mendekonstruksi simbol jilbab.

Kontroversial

Lewat simbolisasi yang tidak konvensional inilah akhirnya film Perempuan Berkalung Sorban menuai protes. Pencitraan pondok pesantren sebagai ‘penjara’ pun dinilai banyak pihak mendiskreditkan pesantren pada umumnya. Padahal pesantren yang dimaksudkan Hanung dalam film ini adalah pesantren tradisional yang mewajibkan para santri untuk membaca dan menghafal kitab kuning. Padahal sumber hukum dan pengetahuan Islam bukan di kitab kuning, melainkan pada Al Quran dan hadist, dimana kebebasan perempuan telah termaktub di dalamnya. Namun sayangnya maksud Hanung ini kurang tersampaikan dalam filmnya. Yang terbaca justru sebaliknya.

Selain itu, wanti-wanti Hanung Bramantyo terhadap karyanya ini, ibarat angin lalu. ”Tolong lepaskan dari wacana tentang Islam. Ini merupakan sebuah cerita tentang perempuan yang kebetulan dilahirkan dari latar belakang keluarga pesantren,” pintanya saat konperensi pers. Namun pada kenyataanya, wacana Islam tidak bisa dilepaskan dari film ini, karena latar belakang pesantren ini menjadi bagian dari konflik cerita.

Yah… memang benar kata Roland Barthes, “Pengarang telah mati”.

NB. review novelnya ada di http://mbakje.multiply.com/reviews/item/26

Hans Christian Andersen: My Life As a Fairytale

Rating: ★★★★★
Category: Movies
Genre: Drama

Mencintai berarti membebaskan. Karena cinta sejati seorang Jetta Collins, nama Hans Christian Andersen melegenda karena karya-karyanya.

Dibesarkan oleh keluarga miskin dengan ayah seorang veteran yang suka berfantasi, Hans tumbuh sebagai remaja yang kaya akan imajinasi. Di umur 15 tahun, Hans menjadi yatim piatu karena kepergian ayahnya yang memang sudah tua dan sakit-sakitan.

Hans yang sebatang kara kemudian pergi ke Copenhagen berkat ramalah seorang Gypsy yang meramalkan ia akan menjadi tenar di sana. Keberuntungan memang berpihak pada Hans saat tak sengaja bertemu dengan Jetta Collins, gadis cacat dari keluarga kaya yang baik hati di Copenhagen. Hans lalu diangkat sebagai anak oleh keluarga tersebut. Ia disekolahkan secara layak, hingga akhirnya ia bisa menuliskan fantasi-fantasinya menjadi cerita.

Jetta-lah yang selalu memotivasinya untuk menulis dan rutin mengiriminya surat. Kumpulan ceritanya kemudian dibukukan dan diterbitkan, bahkan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Ratu dan raja Denmark bahkan sangat menyukai cerita-ceritanya, sehingga Hans sering diundang sebagai story-teller di kerajaan.

Lalu bagaimana nasib Jetta? Hans sangat menyayanginya. Namun rasa sayangnya pada Jetta tak lebih sebagai rasa sayang seorang kakak kepada adik. Hans tidak pernah menyadari cinta terpendam Jetta, apalagi Hans tengah tergila-gila pada penyanyi tenar pada masa itu, Jenny Lind. Suara merdu Jenny Lind menginspirasi Hans untuk menulis cerita “The Nightingale”. Karena itu pula, Jenny pada masa itu dijuluki “Jenny The Nightingale”.

Nasib baik memang tidak berpihak pada Jetta. Namun cintanya yang tulus kepada Hans-lah yang membuat Hans bebas berekspresi dan pergi mengelilingi Eropa sehingga mendapatkan banyak inspirasi untuk cerita-ceritanya. Jetta adalah ‘martir’ dalam kehidupan Hans Christian Andersen. Karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan, ia memutuskan pergi ke New York, Amerika. Naas menimpa kapal dari Austria ke Amerika. Ia meninggal dalam kebakaran kapal yang akhirnya tenggelam tersebut.

Tokoh Hans Christian Andersen diperankan secara apik oleh aktor Kieran Bew. Peran Jetta Collins dan Jenny Lind juga sangat memikat. Pokoknya, film ini highly recommended untuk ditonton segala usia. Dan yang terpenting buatku, film ini bersih 😉 *muak dengan film yang ada adegan2 ‘gak jelas’*

EUROPE ON SCREEN

Start:      Oct 25, ’08
End:      Nov 2, ’08
Location:      Erasmus Huis, Jl HR Rasuna Said Kav S-3, Jakarta

Europe on Screen Film Festival
26 October – 2 November 2007

EUROPE ON SCREEN

Screening of the films will be taken place at four European cultural centres in Indonesia: Goethe Haus, Erasmus Huis, CCF Jakarta and Istituto Italiano di Cultura. Screening of the films will also be held from 3 – 25 November 2007 in seven cities in Indonesia: Bandung, Medan, Aceh, Yogyakarta, Surabaya, Bali & Makassar.

Ticket/invitation (for free) can be obtained at least 30 minutes before the screenings take place.

Contactperson: Lulu Ratna/Veronica Kusuma, 021 – 2355 0208

Emailadres prakt1@jakarta.goethe.org

Screening at the Erasmus Huis

Saturday, 27 October

25 Degrés en Hiver 13.00

(25 Degrees in Winter)

Stéphane Vuillet. Belgium 2003. 92 min.

French with some dialogues in Spanish, Russian and Dutch

with English subtitles.

Externe link http://www.qfilmfestival.org

Peronika

Bowo Leksono. Indonesia 2004. 13 min.

Javanese with English subtitles.

En Garde 15.00

Aye Polat. Germany 2004. 94 min.

Kara, Anak Sebatang Pohon

(Kara, A Daughter of A Tree)

Edwin. Indonesia 2005. 9 min. Indonesian with English subtitles

Herkes Kendi Evinde 17.00

(Away from Home)

Semih Kaplanoglu. Turkey 2001. 110 min.

Turkish / English / Russian with English subtitles.

Tyttö sinä olet tähti 19.30

(Beauty and the Bastard)

Dome Karukoski. Finland 2005. 102 min.

Finnish with English subtitles.

Find a Beautiful Place

Vera Ita Lestafa & Dwiandhika Citrabudi Dharmapermana.

15 min. 2006. Indonesian.

Sunday, 28 October

Polleke 13.00

Ineke Houtman. Netherlands 2003. 95 min.

Dutch with English subtitles.

Metu Getih

Heru C. Wibowo. Indonesia 2006. 10 min.

Javanese with English subtitles.

Almost Adult 15.00

Yousaf Ali Khan. UK 2006. 75 min. English

Still Life

Ariani Darmawan & Hosanna Heinrich. 2006. 7 min.

fiction. Indonesian, French, Dutch, English

Zozo 17.00

Josef Fares. Sweden 2005. 103 min. Swedish/Arabic withEnglish subtitles.

Lisboetas (Lisboners) 19.30

Sérgio Tréfaut. Portugal 2004. 100 min.

Portuguese, Mandarin, Ukrainian, Russian, Romanian with English subtitles.

Monday, 29 October

No screening

Tuesday, 30 October

Lisboetas (Lisboners) 15.00

Sérgio Tréfaut. Portugal 2004. 100 min.

Portuguese, Mandarin, Ukrainian, Russian, Romanian with English subtitles.

Les Mauvais Jouers (Gamblers) 17.00

Frédéric Balekdjian. France 2005. 85 min.

French with English subtitles.

Your Learn is very God

Ivan Handoyo. Indonesia 2004. 3 min. English.

Extranjeras (Foreign Women) 19.30

Helena Taberna. Spain 2003. 75 min.

Spanish with English subtitles.

Indonesian Workers in England

Zeke Haris. 2004. 5 min.

Indonesian with English subtitles.

Wednesday, 31 October

A Porcelánbaba (The Porcelain Doll) 15.00

Péter Gárdos. Hungary 2005. 75 min.

Hongarian with English subtitles.

Across the Universe

Steven F. Winata. 2007. 15 min. Fiction.

Indonesian with English subtitles.

Vadászat angolokra 17.00

(Hunting for Englishmen)

Bertalan Bagó. Hungary 2005. 86 min.

Hongarian with English subtitles.

Djedjak Darah: Surat Teruntuk Adinda

(Blood Print: A Letter For Beloved)

M. Aprisiyanto. Indonesia 2004. 12 min.

Fiction. Javanese with English subtitles.

Best European Shorts 19.30

Various short films from the European countries.

11:59

Johan Kramer. Netherlands 2004. Short fiction.8 min.

Dutch with English subtitles.

A film that articulates nine nervous minutes in the life of Khalid, a teenage Morrocan boy. At 11.50am he makes a decision to return to school one last time for an encounter that will change his life forever. Shot in one take, 11.59 shows how long a short film can be.

League of Legends

Jeffrey Elmont. Netherlands 2004. Short fiction. 12 min.

Dutch with English subtitles.

The secret organization ‘League of Legends’ consists of legendary soccer players who select young players to give them the chance to proof their talent, through a secret test. Two young men, Lenny and Edward, are invited to participate and play a duel against each other. In a remote factory, they discover what it’s all about: passion

and love for the game…

Thursday, 1 November

Vidange Perdue (The Only One) 15.00

Geoffrey Enthoven. Belgium 2006. 88 min.

Dutch with English subtitles.

Klayaban

Farishad I. Latjuba. Indonesia 2005. 15 min.

Indonesian with English subtitles

Nous nous sommes tant haïs 17.00

(After Years of Hate)

Franck Apprédéris. European Commission. 2006. 120 min.

French and German with English subtitles.

Life and Lyrics 19.30

Richard Laxton. UK 2005. 75 min. English.

Free As a Bird

Dessy Darmayanti. Indonesia 2006. 8 min.

Indonesian with English subtitles

Free admission

Date: 26 October 2007 – 2 November 2007
Location

At 4 European cultural centres in Indonesia

klik
http://www.mfa.nl/erasmushuis/en/algemeen/events/europe_on_screen
http://www.itacultjkt.or.id/

The Kite Runner

Rating: ★★★★★
Category: Movies
Genre: Drama

2 kali nonton, 2 kali nangis… hix…
Ni pilem T-O-P B-G-T!!

Film ini diangkat dari novel best-seller karya Khalled Hossaini tentang kisah persahabatan 2 bocah, Amir dan Hasan. Meskipun belum pernah baca novelnya, menurutku film ini bisa menghanyutkan emosi penonton dan membawa penonton ikut merasakan dalamnya persahabatan mereka meski terpaksa berpisah karena ‘perbedaan kasta’ dan tragedi perang di tanah kelahiran mereka, Afganistan.

Secara sinematografi dan penyutradaraan, film ini okeh banget dah! Nah, saking okeh nyah, film ini secara harus mendoktrin penonton yang kurang kritis. Melalui penceritaan berlatar belakang sejarah ini–yaitu invasi Uni Soviet dan rezim Taliban–film ini secara tak langsung mendiskreditkan dua golongan.

Secara, film ini diproduksi oleh Dreamworks picture Amrik, gak heran kalau film ini mendiskreditkan Uni Soviet. Dan sebagai pihak yang menginvasi Afganistan, film produksi negeri Paman Sam ini juga secara tidak langsung mendiskreditkan Taliban yang alih-alih mendiskreditkan penegakan syariat Islam…. yang tentu saja ujung-ujungnya menjauhkan ummat Islam dari agamanya, dari syariatnya, dari hukum-hukum dalam Al Qur’an. Maka dari itu… waspadalah! Tetap kritis dan skeptis dalam mengapresiasi sebuah karya!

Peace 😉

The Messiah, Yesus Tidak Pernah Disalibkan!

Rating: ★★★★★
Category: Movies
Genre: Cult

Review ini dikutip dari:
http://sultanhaidar.multiply.com/reviews/item/11/The_Messiah_Yesus_Tidak_Pernah_Disalibkan

Sebuah film Yesus yang dituturkan dari cara pandang Islam baru saja
diluncurkan di Iran. Hal ini menyebabkan berbagai reaksi dari
komunitas Kristen, karena di film tersebut Yesus tidak mati
disalibkan tetapi digantikan oleh Yudas Iskariot.

Judul film ini “The Messiah” – ditulis, diproduksi dan disutradarai
oleh seorang pembuat film dari Iran bernama Nader Talebzadeh. Film
ini dibuat di Iran dan Yesus pun dimainkan oleh seorang aktor Iran.
Film ini dibuat berdasarkan apa yang Alquran tuliskan tentang Yesus
dan berdasarkan Injil Barnabas – sebuah kitab yang tidak termasuk
dalam kanonisasi Alkitab.

Film ini menyajikan dua penutupan film – dari sudut muslim dan
Kristen tentang Yesus dan salib-Nya. Film ini memenangkan penghargaan
dari Roma, Rome’s Religion Today Film Festival sebagai nominasi
dialog antar umat beragama.

Dr. Emir Caner, seorang dekan dari Southwestern Baptist Theological
Seminary merekomendasikan untuk orang Kristen menonton film ini, dan
menanyakan beberapa hal berikut ini :

Kapan Yesus digantikan, menurut yang tertulis di Alquran ?
Kenapa ibu dan para murid Yesus tidak mengenali bahwa orang yang
mereka ikuti itu telah ditukar sebelum berada di atas kayu salib ?
Apa tujuan Allah’ membutakan semua kerumunan termasuk murid -murid
Yesus dan Maria ibu Yesus, sehingga mereka tetap berpikir bahwa Yesus
lah yang sedang disalibkan ?

Caner, yang juga seorang professor bidang sejarah, mengatakan bahwa
dia percaya pada akhirnya dengan cara kita menonton sambil bertanya
berdasarkan sudut pandang itu, kita bisa menerima film ini.

“Mungkin Orang Muslim dan Kristen akan menyadari melalui film ini
bahwa Alquran hanya menawarkan suatu kemungkinan cerita yang mungkin
terjadi saat itu, walaupun Alkitab sudah dengan jelas menuliskan
sejarah mendetail yang dapat dipercaya dan telah dibuktikan bahkan
pada saat ini.” Demikian Caner menuliskan pernyataannya.

Hampir secara keseluruhan “The Messiah,” penampilan Yesus dalam film
ini mirip dengan versi Yesus yang dibuat oleh dunia barat. Rambut
pirang dan melakukan mukjizat. Hanya yang berbeda adalah bagaimana
Yudas tiba – tiba secara ajaib berubah menyerupai Yesus dan
menggantikan Yesus disalibkan.

“Dia ( Yesus-red ) bukan Anak Allah dan tidak pernah menjadi Anak
Allah. Dia hanya nabi dan Dia tidak pernah disalibkan, itu adalah
orang lain yang disalibkan menggantikan Dia,” Talebzadeh menyatakan
kepada CNN.

Film fenomenal yang melibatkan hampir lebih dari 1000 orang ini
merupakan sebuah film terbesar yang pernah dibuat di Iran. Film ini
telah dirilis di Iran saat ini, dan segera akan dapat disaksikan di
Internet melalui CNN.

official website:
http://cmi.irib.ir/messiah/

Becoming Jane

Rating: ★★★
Category: Movies
Genre: Romance

Becoming Jane is a 2007 film inspired by the early life of author Jane Austen (portrayed by Anne Hathaway), and her posited relationship with Thomas Langlois Lefroy (played by BAFTA-winning Scottish actor James McAvoy).

Jane Austen (Anne Hathaway) is the younger daughter of Reverend Austen and his wife (Julie Walters) and has yet to find a suitable husband. She wishes to be a writer — to the disdain of her mother and pride of her father (James Cromwell). She turns down the affections of numerous men, including the nephew of Lady Gresham (Maggie Smith), a Mr. Wisley. Wisley proposes, but Jane turns him down cold. It is not until the mischievous Thomas Lefroy(James McAvoy) — the later inspiration for Pride and Prejudice’s Mr. Darcy — shows up in town that Jane begins to take the idea of marriage seriously.

Though Lefroy is a promising lawyer with a good reputation, after a bad first impression, Jane cannot stand the arrogant Londoner. The two get to know each other gradually, however, and eventually fall in love. Tom takes Jane to London to try and convince his uncle and benefactor, Judge Langlois, to let him marry Jane. The Judge considers it, but after receiving a letter informing him of Jane’s poor family, he refuses, declaring that Tom will be disowned if he marries Jane. Jane insists that she and Tom may still marry, but Tom says he has his family to think about and, outraged, she leaves London.

On her return home, and after finding out that Tom has come back to town with a new fiancee, Jane informs Mr. Wisley that she will marry him. Meanwhile, Jane’s sister Cassandra has learned that her fiancee, Robert Fowle, has died of yellow fever. The girls are both devastated. Jane meets Tom again in a wood, where he asks her to run away with him. She agrees, but halfway there, she learns that Tom’s parents, along with his many brothers and sisters, depend on the allowance he receives from his uncle to survive. Despite protestations from Tom, Jane ends their affair for his family’s sake, returns home to her own family, and begins writing Pride and Prejudice.

Years later, Jane, accompanied by her brother Henry and his wife Eliza (Jane’s cousin, a contesse), encounters Thomas Lefroy again at a social function. He is with his eldest daughter, also named Jane, who turns out to be a fan of Jane Austen’s writing.

Bad Day at The Black Rock (Supernatural TV Series)

Rating: ★★★★★
Category: Movies
Genre: Mystery & Suspense

Episode serial TV thriller yang satu ini dijamin mengocok perut Anda! Tenang, ‘mengocok’ di sini bukan dalam artian ‘brutal’ loh! Meskipun masuk kategori film thriller alias menegangkan, tapi “Bad Day at The Black Rock” asli kocak abiez!

Episode Bad Day at The Black Rock ada di season 3 serial TV Supernatural. Petualangan dua bersaudara pemburu hantu, Sam dan Dean Winchester, kali ini tentang sebuah jimat keberuntungan. Cerita diawali dengan kabar pembobolan gudang rahasia milik almarhum ayah mereka, John Winchester. Sam dan Dean sendiri baru mengetahui bahwa ayah mereka punya gudang rahasia. Setelah dicek, ternyata satu kotak keramat hilang. Sam dan Dean kemudian menelusuri kemana hilangnya kotak tersebut tanpa tahu apa isi kotak itu.

Kotak tersebut ternyata berisi jimat keberuntungan berwujud kaki kelinci. Siapapun yang memegang jimat ini akan mendapat keberuntungan berturut-turut. Tapi ketika jimat tersebut berpindah tangan, maka sial berturut-turutlah yang didapat, bahkan berakibat kematian di hari keenam!

Keberuntungan berturut-turut ini tanpa sengaja dialami Sam, karena tak sengaja memegang kaki kelinci itu. Mulai dari lolos dari tembakan, mendapat doorprize makan gratis di kedai tempat mereka makan, bahkan menang undian scratch and win. Tapi sial berturut-turut menimpa Sam saat kaki kelinci itu dicuri orang. Mulai dari jatuh terjerembab saat mengejar musuh, menginjak permen karet, kehilangan sepatu, sampai nyawa yang nyaris melayang.

Akhirnya Dean mengunci Sam dalam sebuah kamar dan melarangnya melakukan apapun termasuk menggaruk hidungnya sendiri. Tapi dasar apes, ada saja kesialan yang menimpa Sam. Pokoknya episode ini membuat pemirsa tertawa geli melihat keberuntungan dan kesialan yang menimpa dua bersaudara Winchester ini… hihihihi…

Pastinya “Bad Day at The Black Rock” belum ditayangkan di TV Indonesia. Karena di Indonesia, Supernatural masih masuk season 2. Sekedar informasi, di negri asalnya dan negara-negara lain yang me-relay langsung dari Amrik, Supernatural sedang tayang sampai season 3. Bahkan dalam pembuatannya sudah sampai season 4. Untuk momen natal tahun ini ada episode khusus bertajuk “A Very Supernatural Christmas” yang bakal tayang 13 Desember nanti.

Well, Supernatural lovers… can hardly wait to watch the newest episode don’t ya?!!

In My Time of Dying (Supernatural TV series)

Rating: ★★★★★
Category: Movies
Genre: Mystery & Suspense

In My Time of Dying adalah episode 23 serial TV Supernatural yang merupakan bagian pertama Season 2. Episode ini adalah sekuel episode sebelumnya “Devil’s Trap” yang merupakan bagian akhir Season 1. He… he… mungkin agak membingungkan buat yang tidak mengikuti serial thriller ini.

Setelah berkali-kali lolos dari perangkap setan yang membunuh ibu mereka, Dean, Sam Winchester, serta ayah mereka, John Winchester, akhirnya bisa melarikan diri. Dengan mengendarai Chevy Impala 1967 warna hitam, mereka menyelamatkan diri mereka yang terluka parah ke RS. Tiba-tiba dalam perjalanan, sebuah truk besar menghajar mereka sehingga mobil yang mereka kendarai ringsek.

Dari ketiganya, Dean terluka paling parah. Ia kehilangan banyak darah. Batok kepalanya retak, terdapat pembengkakan otak, ginjal dan hatinya mengalami kerusakan. Dalam keadaan koma, ruh Dean bertemu dengan malaikat maut yang siap mencabut nyawanya. Namun Dean belum siap. Ia merasa tugas menjaga adiknya, Sam, belum usai. Ia kemudian mencoba melakukan tawar-menawar dengan malaikat maut.

Di saat Dean sekarat, sang ayah, John Winchester, masih mengkhawatirkan keberadaan ‘The Colt’, pistol sakti yang bisa membunuh segala macam makhluk supernatural. Hal ini membuat anak bungsunya, Sam Winchester, marah besar.

“Your son is dying and you still worry about the colt?” pekik Sam yang selalu tidak akur dengan ayahnya.

Ternyata John punya rencana sendiri. Ia merasa sangat bertanggung jawab atas Dean yang sekarat. Tanpa sepengetahuan Sam, John diam-diam memanggil setan jahat yang telah membuhuh istrinya dan hampir membunuh Sam saat masih bayi.

Pertemuan John dengan sang setan kali ini bukan untuk memusnahkannya, tapi melakukan transaksi/pertukaran. John hendak menukar ‘The Colt’ dengan nyawa Dean, dengan taruhan nyawa John sendiri. Tapi John minta satu syarat; sebelum mati, John ingin memastikan Dean selamat.

Setelah sepakat, Dean yang hampir mati tiba-tiba sadar dan sembuh total. Dokter pun heran dengan keajaiban ini. Sang adik, Sam, tentu saja gembira sekali dengan kesembuhan Dean.

Kemudian sang ayah, John, masuk ke kamar Dean. Seperti biasa, Sam dan John kembali berdebat. Dan seperti biasa pula, Dean yang menenangkan mereka. “Can we not argueing?” ujar John kemudian. Lalu ia meminta Sam membelikan kopi untuknya.

Inilah detik-detik perpisahan mendebarkan antara John dan Dean. Seperti yang sudah-sudah, John minta agar Dean selalu menjaga Sam. Kemudian ia membisikkan sesuatu di telinga Dean yang membuat Dean tampak setengah terkejut. Setelah itu John meninggalkan kamar Dean.

Drama kematian John berlangsung slow motion, dimulai dari kopi yang jatuh dari tangan Sam saat ia melihat ayahnya tergeletak di lantai. Kemudian tim dokter berusaha keras memacu jantungnya berkali-kali. Sam dan Dean hanya bisa menatap tak percaya ayah mereka yang tidak berdaya sampai akhirnya dokter mengatakan, “Waktu kematian: 10.40….”.

Meskipun sudah tahu jalan cerita episode ini sebelumnya, sebagai penggemar Supernatural, aku ikut-ikutan tidak percaya seperti halnya kakak beradik Winchester (cieeeh..). Lebih gemesnya lagi, ternyata serial ini berakhir di episode ini (Trans7 gimana seeeh?!!). Padahal setahuku masih banyak episode Supernatural yang belum ditayangkan.

Anyway, hal yang membuatku sangat terharu adalah kasih sayang tak terkira orang tua pada anaknya hingga rela mengorbankan nyawanya sendiri. Dan yang tak kalah mengharukan adalah pertengkaran yang kerap terjadi antara Sam dan ayahnya.

Meskipun sering bertengkar, bukan berarti Sam membenci ayahnya, begitu pula sebaliknya. Mereka sebenarnya sangat menyayangi. Itulah kenapa aku jadi tercenung; seringkali orang yang kita ‘sakiti’ adalah orang yang paling kita cintai, orang yang paling dekat dengan kita… Ironis memang, tapi itulah kenyataannya.

Hix..hix.. jadi ingat (alm.) ayah dan ibuku. Semoga aku bisa selalu membahagiakan mereka… amin.

PS. I wont let my parents sacrifice themselves to demon like what John has done…;p
Coz Allah is the best rescuer!

BETINA

Rating: ★★
Category: Movies
Genre: Independent

Film garapan Lola Amaria ini berbau surealis–meskipun Lola sendiri menganggap filmnya ini realis. Film dengan setting tempat dan waktu antah berantah ini mencoba menampilkan sisi irrasional ‘cinta’ dalam tingkatannya yang paling rendah, yaitu nafsu atau birahi.

Film yang dibintangi Kinaryosih sebagai ‘Betina’ ini menceritakan kisah cintanya yang tak sampai pada penjaga makam yang tampan. Kematian orang lain menjadi sesuatu yang dinantikannya, karena sang penjaga makam hanya muncul apabila ada kematian.

Ketika menonton film ini, ada kesan bahwa lakon-lakon dalam film ini semuanya ‘sakit’. Menurutku juga begitu. Betina sendiri merupakan gadis aneh. Dia hanya bersahabat dengan seekor sapi bernama Dewa. Tidak heran, karena Betina dibesarkan dengan orang-orang yang aneh juga, mulai dari ibu, kakak, hingga lingkungan tempat hidupnya di peternakan sapi.

Dari judulnya, bisa ditebak adegan-adegan yang mungkin muncul dalam film ini. Beberapa adegan yang mempertontonkan ‘nafsu kebinatangan’ mewarnai film garapan sutradara yang mengaku masih belajar ini.

Untuk akting para aktor dan aktris film ini patut diacungi jempol. Mereka all out dalam memerankan orang-orang yang ‘sakit’.

Film ini sendiri dirilis 16 Agt lalu di Goethe Institute Jakarta melalui konferensi pers. Rencananya, film ini akan road show di kampus-kampus di beberapa kota di Indonesia dengan harga tiket lumayan terjangkau Rp 7500. Kampus yang akan disambangi Film Betina ini diantaranya, UI, ITB, UNPAD, UNISBA, dll.