Haji Backpacker

Rating: ★★
Category: Books
Genre: Travel
Author: Aguk Irawan

Haji Backpacker Haji Backpacker by Aguk Irawan

My rating: 2 of 5 stars
Kayaknya judul yang lebih tepat untuk buku ini adalah “Haji Nekat” (hehehe.. jadi kayak “Nekat Traveler” a.k.a. “Naked Traveler”), soalnya memoar perjalanan Haji Aguk Irawan ini benar-benar nekat! Persis seperti sub judul buku ini, “Memoar Mahasiswa Kere Naik Haji”. Membacanya saja membuatku capek (hehe lebay^^), apalagi ikutan merasakan petualangannya yang super nekat.

Apa yang dialami Haji Aguk ini seolah membalik 180 derajat logika kita tentang rukun Islam kelima yang identik dengan ‘harta melimpah’ untuk bisa melaksanakannya. Namun ternyata lewat buku ini, penulis telah membuktikan bahwa syarat “istito’ah” (mampu) untuk berhaji tidak berarti mampu secara materi, tetapi juga mampu secara fisik. Dengan hanya bermodal niat (plus nekat) tanpa uang cukup, Haji Aguk yang saat itu masih mahasiswa Al Azhar Kairo akhirnya mampu berhaji… Meskipun banyak juga gak enaknya. Lantaran gak punya uang untuk sewa penginapan, penulis terpaksa tidur di emperan Hotel Hilton atau kamar mandi Masjidil Haram. Tapi kalo lagi mujur, bisa numpang tidur di penginapan jamaah haji Indonesia, itu pun harus kucing-kucingan dengan satpam hotel yang sangar.

Lantaran duit mepet ini pula, konsentrasi ibadah di tanah suci otomatis terpecah, karena haji nekat ini harus memanfaatkan berbagai kesempatan untuk meraup riyal dengan halal. Alhasil, berbagai profesi dilakoninya, mulai dari mengantar katering jamaah haji, pemandu ziarah, tukang dorong kursi roda, sampai tukang pijat.

Mungkin pengalaman Aguk Irawan ini sudah tak asing bagi para mahasiswa Indonesia di Timur Tengah. Tetapi buku ini menjadi sebuah dokumentasi perjuangan sekaligus kenekatan para anak negeri yang telah membuktikan hukum “The power of ‘kepepet'” ^_^

View all my reviews >>


Islamic Book Fair 1431 H/2010 M

Start:      Mar 5, ’10
End:      Mar 14, ’10
Location:      Istora Gelora Bung Karno, Jakarta

Tema “MEMBANGUN GENERASI ISLAMI, CERDAS DAN MANDIRI”

Six Years in Waiting

Rating: ★★
Category: Books
Genre: Nonfiction
Author: Peggy Orenstein

Akhirnya khatam juga nih buku yang udah nangkring di rak sejak aku belum merit. Buku hadiah gara-gara ikutan Jelajah Meede-nya Goodreads Indonesia ini sebenarnya sudah mulai kubaca sejak Maret 2009, tapi karena ‘sok sibuk’ akhirnya ke-pending deh bacanya.

Anyway, novel memoar ini bercerita tentang perjuangan Peggy Orenstein untuk memiliki bayi di usia 35 tahun. Yep, usia yang ‘rentan’ untuk hamil dan melahirkan. Meskipun gak mau disebut kena ‘karma’, Peggy yang aktivis feminis ini mengakui sempat tidak ingin memiliki anak, karena tidak ingin karirnya yang cemerlang sebagai jurnalis dan penulis terganggu.

Namun kehilangan orang-orang tercinta seolah menyadarkannya bahwa harus ada ‘kehidupan baru’. Maka di tahun ketiga pernikahannya bersama pria keturunan Jepang-Amerika, Peggy ingin memiliki anak.

Namun Peggy harus terpukul, karena di saat ia sangat menginginkan hamil, di saat itu pula ia divonis mengidap kanker payudara. Maka ia dan suaminya harus bersabar selama setahun pengobatan kanker.

Namun apakah setahun kemudian mereka berhasil? Tidak! Peggy harus jatuh bangun demi mewujudkan keinginannya memiliki bayi. Beberapa kali positif hamil, keguguran, dan beberapa kali kuretase ia lalui. Tentu ini tidak mudah baginya. Keinginannya untuk punya anak bahkan mengancam kehidupan perkawinannya yang (sebelum ada keinginan punya anak) sangat langgeng dan romantis. Obsesi ini membuat Peggy menjadi serba mekanis. Bahkan hubungan badan dengan sang suami dilakukannya semata-mata karena ia membutuhkan sperma sang suami. Ia mencari seribu satu cara agar ia dan suaminya hanya berhubungan seks di masa subur. Apakah upayanya berhasil? Tidak juga!

Dalam pergulatan usahanya menjadi seorang ibu, ia sempat merasakan ketidakadilan Tuhan, lantaran sahabatnya dan istrinya memiliki 15 anak hanya dengan 15 kali berhubungan. “Kami sangat subur,” ujar sang sahabat. “Dan aku tidak,” gumam Peggy lirih.

Apakah Peggy menyerah? Tidak! Upaya bayi tabung yang memakan biaya ribuan dolar pun dijalaninya hingga beberapa kali. Ternyata gagal pula. Rata-rata alasan yang diungkapkan para pakar kesuburan adalah “Usia Peggy yang tidak lagi muda”.

Sadar pengobatan Barat tidak membuahkan hasil, Peggy mencoba terapi akupuntur yang telah berhasil membuat seorang teman perempuannya hamil di usia 36. Yup, ia berhasil hamil. Namun di usia 3 bulan kehamilan, lagi-lagi Peggy harus menerima janinnya keguguran (lagi).

Kesedihan Peggy membawanya ke sebuah kuil di Tokyo yang khusus untuk mendoakan mizuko (janin yang gugur). Karena dalam tradisi leluhur di Jepang, penelantaran janin-janin yang gugur dapat membawa karma pada kedua orang tuanya. Meskipun Peggy seorang Yahudi, namun ia adalah seorang agnostic. Ia pun melakukan doa dan membawa sesaji ke kuil itu untuk para ‘calon anaknya’ yang telah gugur.

Dalam kesedihannya yang mendalam, Paggy terus berusaha. Meskipun setengah hati–Peggy dan suaminya mencoba donor sel telur dari seorang gadis 21 tahun. Meskipun Peggy menyadari tidak akan ada guratan wajahnya pada bayinya kelak melalui proses ini, tapi ia tetap mencobanya. “Kita tidak akan pernah tahu, jika kita tidak pernah mencoba,” ujar Jess, sang pendonor sel telur. Apakah berhasi? Ternyata tidak!

Keputusasaan hampir menguasai Peggy. Untung suaminya yang super sabar terus membesarkan hatinya. Mereka kemudian mengevaluasi diri tentang keinginan mereka untuk menjadi orang tua. Lalu mereka sepakat untuk mengadopsi anak keturunan Jepang lewat seorang kenalan mereka saat Peggy melakukan riset di Jepang. Apalagi mereka telah jatuh hati pada bayi laki-laki yang mereka beri nama “Kai”.

Apakah proses adopsi internasional ini berjalan mulus? Ternyata tidak. Tak dinyana, dalam proses mengurus adopsi yang menguras waktu, tenaga, dan uang ini, Peggy ternyata positif hamil. Namun kali ini Peggy tidak seantusias sebelumnya, karena trauma berkali-kali keguguran. “Dua bayi. Satu bayi. Tidak ada bayi,” ujar Peggy selama proses mengurus adopsi.

Sampai lima bulan mengurus adopsi, ternyata permohonan adopsi mereka ditolak lantaran negara bagian tempat mereka tinggal pernah berkasus jual-beli bayi-bayi asal Jepang. “Satu bayi. Tidak ada bayi,” ujar Peggy.

Pada titik ini, Peggy tidak berharap banyak dari kehamilannya di usia 41 tahun, tentu saja karena riwayat kegugurannya. Akan tetapi setelah dilakukan uji kromosom pada sang janin, semuanya normal dan baik-baik saja. Sedikit tidak percaya, namun kisah Sarah (istri Nabi Ibrahim) yang hamil di usia 92 tahun membuat Peggy cukup bersemangat.

Maka 9 bulan kemudian lahirlah seorang bayi perempuan yang sehat dan diberi nama “Daisy Tomoko”.

Bagiku, kisah Peggy tak lain karena kehendak Tuhan ditambah usaha dan kepasrahan Peggy di titik nadir. Tapi sayangnya aku tidak menemukan pandangan ini dalam novel. Aku maklum, karena Peggy seorang agnostik.

Anyway, semoga kisah nyata Peggy Ornstein dapat menjadi hikmah bagia siapapun yang membacanya.

My Artworks

Iseng-iseng berhadiah niy… 🙂

Ketika Cinta Bestabih (1&2)

Rating: ★★★
Category: Movies
Genre: Drama

3 bintang dari 5 bintang? Yup! Itu opini saya ttg keseluruhan film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) garapan sutradara Chaerul Umam. Sebenarnya banyak kelebihan dalam film ini, namun sayangnya banyak unsur yang menegasikan kelebihan film ini. Alhasil secara keseluruhan film ini pantas menyandang 3 bintang saja.

Dari segi akting para pemain, saya acungkan 2 jempol untuk mereka, terutama para pendatang baru…Standing applause untuk mereka. Kolaborasi para aktor senior maupun junior dapat melebur dengan harmonis sehingga mampu membawa para penonton ke dalam emosi para tokoh. Meski demikian, beberapa figuran aktingnya pas-pasan, bahkan nyata terlihat bersusah payah menghapal dialog, sehingga aktingnya tidak natural. Tapi secara keseluruhan para tokoh utama film aktingnya bintang lima, salut!

Hal lain yang ‘lumayan’ bagus adalah upaya adaptasi novel ke film. Meskipun novel dan film adalah 2 media berbeda, namun hal ini tak bisa dinafikan dari penilaian para penonton yang awalnya adalah pembaca novel KCB. Jujur saja saya belum membaca novelnya. Tetapi sebagai penonton yang belum membaca novelnya, saya bisa memahami jalan cerita dengan baik. Sayangnya–seperti kebanyakan film adaptasi dari novel–alurnya terkesan tergesa-gesa. Sutradara nampak ingin menumpahkan semua yang ada di novel, namun terbentur pada durasi waktu.

Alur yang tergesa-gesa ini dilengkapi dengan dialog/monolog yang “lebay” (kalau tidak mau dibilang “buruk” ^^). Kesan ini sudah nampak dari awal film KCB 2 saat Husna memberikan ucapan terima kasih di acara penganugerahan award sastra. Duh… kata-katanya lebay banget! Sangat hiperbola. Mungkin maksudnya ingin membawa emosi penonton, tapi kok jadinya malah bikin ilfil. Ke-lebay-an ini diperparah dengan ekspresi Azzam yang ujug-ujug menangis terharu oleh kata-kata Husna yang “lebay” menyanjung dirinya.

Ketergesa-gesaan lain dalam dialog film ini menonjol saat adegan tokoh-tokoh yang bertamu dan hendak menyampaikan maksud kedatangannya. Sutradara (atau penulis naskah) nyata nampak dikejar durasi waktu, sehingga dialog langsung to the point, seolah mengabaikan budaya basa-basi orang Jawa–mengingat setting film KCB 2 di wilayah Jawa Tengah.

Ketergesa-gesaan ini membuat emosi penonton menjadi datar-datar saja. Karena belum tuntas emosi suatu adegan, eeeh… sudah pindah ke adegan lain yang membawa ke emosi yang berbeda. Tapi… sempat terharu juga sih waktu ibunya Azzam meninggal. Tragis!

Namun demikian, film ‘khas’ Chairul Umam ini memiliki pesan-pesan religi yang tidak menggurui. Bahkan mungkin bagi penonton umum yang awam dengan proses taaruf tanpa pacaran, film ini menjadi referensi apik bagi mereka yang ingin mengetahui proses mencari jodoh yang sesuai syariat Islam.

After all, film ini lumayan menghibur. Terutama di KCB 2, penonton dijamin akan terhibur dengan harmonisasi akting para aktor. Selamat menonton 😉

Pesta Buku Jakarta 2009

Start:      Jun 27, ’09 10:00a
End:      Jul 5, ’09 9:00p
Location:      Istora Gelora Bung Karno, Jakarta

Pameran buku tahunan IKAPI Jakarta

Nggak Kuper & Ngebisnis Lewat Facebook

Rating: ★★★★★
Category: Books
Genre: Professional & Technical
Author: Jatining Siti Handayani

Nggak Kuper & Ngebisnis Lewat Facebook Nggak Kuper & Ngebisnis Lewat Facebook by Jatining Siti Handayani

My review


rating: 5 of 5 stars
Dijamin gak rugi punya buku ini, karena bisa jadi panduan bermanfaat dalam ber-facebook 😉

View all my reviews.




Perempuan Berkalung Sorban

Rating: ★★★
Category: Movies
Genre: Drama

Betapa kagetnya saya ketika melihat serombongan ibu-ibu muda mengajak anak-anaknya yang masih SD menonton film Perempuan Berkalung Sorban di Cineplex 21 Kalibata. Plis dong bu, ini film gak pantes ditonton anak-anak. Alis saya juga jadi naik sebelah gara-gara suara anak-anak ABG riuh saat adegan ‘dewasa’. Dooh, norak banget sih! Mendingan pada nonton Scooby Doo aja deh. Sayang tuh tiket, mahal-mahal tidak digunakan untuk mengapresiasi dan memahami esensi sebuah karya, tetapi sekedar untuk rekreasi.

Bukannya saya pro pada Hanung Bramantyo ataupun film adaptasi dari novel ini. Saya hanya mencoba proposional dalam menilai sebuah karya, meskipun itu subyektif. Dari reaksi penonton bioskop di atas—meskipun bukan representasi seluruh penonton di Indonesia—cukup menggambarkan betapa masyarakat Indonesia tidak dewasa dalam mengapresiasi sebuah karya. Sebuah pesan hanya dilihat pada permukaannya saja. Contohnya adegan ‘dewasa’ yang menurut saya masih dalam batas sopan, penonton ribut bersorak dan bersiul layaknya menonton film syuur murahan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi anak-anak SD yang diajak ibunya nonton itu saat adegan ‘dewasa’.

Sebenarnya saya mengkritisi juga adegan-adegan ‘dewasa’ ini sih. Menurut saya, Hanung setengah-setengah dalam itikadnya mendekonstruksi novel Perempuan Berkalung Sorban. Karena jika pesan tentang hubungan suami istri dalam Islam seperti pada novelnya ingin diangkat, tentunya akan menjadi vulgar jika diangkat dalam film. Sebab dalam novelnya, secara detil dipaparkan bagaimana seharusnya hubungan antara suami dan istri dalam Islam, dimana tidak ada yang dominan dan subordinat.

Dalam novel, Anisa dikisahkan trauma berhubungan seksual dengan suami keduanya akibat kekerasan dan pemaksaan seksual yang dilakukan mantan suaminya, Samsudin. Sampai akhirnya, suami keduanya, Khudori, dengan sabar berhasil membimbingnya dan melepaskan trauma masa lalunya. Lewat novel setebal 600-an halaman, tentu proses yang memakan waktu cukup lama itu dapat diceritakan dengan tidak tergesa-gesa, hingga pembaca paham pada kondisi psikologis Anisa. Sementara dalam film berdurasi sekitar 120 menit ini, proses tersebut hanya direpresentasikan lewat beberapa adegan ‘dewasa’ sehingga bagi penonton awam yang “gak dewasa”, adegan tersebut tak lain seperti adegan cinta-cintaan sebagai bumbu cerita saja. Padahal sebenarnya pengalaman seksual Anisa adalah bagian dari cerita. Alhasil, adegan ini menjadi wagu (janggal. Red).

Menurut saya, jika Hanung Bramantyo yang mengaku telah mendekonstruksi novel Perempuan Berkalung Sorban, maka sebaiknya tidak perlu ‘kemaruk’ mengambil semua cerita, termasuk pengalaman seksual Anisa dengan Khudori. Cukuplah proses pemulihan psikoseksual Anisa digambarkan melalui simbol-simbol.

Simbolik

Film ini banyak sekali menggunakan simbol-simbol visual. Bisa dimaklumi, karena untuk menjelaskan secara denotatif melalui film berdurasi 120 menit tidak akan cukup. Karena itu, saya melihat Hanung banyak memampatkan pesan-pesan yang tidak tersurat lewat simbol. Misalnya kuda untuk merepresentasikan maskulinitas, dalam film ini, kemaskulinan jiwa Anisa. Selain itu, pembakaran buku-buku sebagai simbol pemasungan ilmu dan pemadaman akal. Buku yang disimbolkan oleh Hanung adalah buku “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer sebagai buah karya seseorang yang terpasung namun bebas jiwanya. Karena buku ini memang ditulis oleh Pram saat ia dipenjara di Pulau Buru.

Namun kenapa Bumi Manusia? Kenapa bukan buku lain? Bukan kah banyak buku yang dihasilkan dari penjara? Karena jika disalahartikan, roman sejarah yang ditulis anggota Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) bentukan PKI ini, film ini bisa disangka bermuatan paham komunis. Meskipun dapat dimaklumi bahwa Bumi Manusia juga berkisah tentang seorang perempuan ‘perkasa’ dan mandiri bernama Nyai Ontosoroh.

Namun demikian, Hanung kurang konsisten dalam penggunaan symbol ataupun metafora dalam film ini. Hal ini terlihat saat adegan Khudori kecelakaan. Menurut saya, sebaiknya kematian Khudori cukup dibuat simbolis saja, tidak perlu memakai efek computer yang memperlihatkan orang mental ditabrak mobil ;p

Mengabaikan Detil

Kecerobohan sutradara dalam film ini juga terlihat dimana-mana. Misalnya dialog antara Anisa dengan para santriwati saat bercerita tentang buku karangan Pramoedya Ananta Toer. Anisa berkata, “Penulis buku ini sudah tiada.” Padahal setting film itu adalah awal 1990-an, dimana di tahun itu Pram masih sehat wal afiat.

Ketidakpahaman sutradara pada karakter wanita berjilbab pun sangat kental. Bagi saya yang berjilbab menutupi dada, saya cukup tersinggung dengan adegan ketika seorang santriwati yang biasa berjilbab panjang sedang pacaran di dalam kamar kosnya, kemudian mengancingkan pakaiannya secara tergesa-gesa ketika Anisa datang tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Menurut saya, adegan ini terlalu berlebihan untuk menggambarkan seorang ukhti yang melenceng dari ajaran Islam. Paling enggak, jilbabnya dibikin pendek kek, kalau memang melencengnya sudah sangat keterlaluan. Sebab menurut pengamatan saya—meskipun tidak selalu—kebanyakan tingkat futur (turun iman) seseorang dapat dilihat dari ukuran jilbabnya.

Selain itu, sosok Khulsum, istri kedua Samsudin, kurang tepat jika digambarkan berjilbab. Apalagi dalam novel, Khulsum dikisahkan sebagai perempuan biasa-biasa saja yang tidak kenal ilmu agama. Karena itulah ia berzina denga suami Anisa sampai hamil di luar nikah. Sekali lagi, Hanung tidak konsisten dalam simbolisasi. Kecuali jika ia memang ingin mendekonstruksi simbol jilbab.

Kontroversial

Lewat simbolisasi yang tidak konvensional inilah akhirnya film Perempuan Berkalung Sorban menuai protes. Pencitraan pondok pesantren sebagai ‘penjara’ pun dinilai banyak pihak mendiskreditkan pesantren pada umumnya. Padahal pesantren yang dimaksudkan Hanung dalam film ini adalah pesantren tradisional yang mewajibkan para santri untuk membaca dan menghafal kitab kuning. Padahal sumber hukum dan pengetahuan Islam bukan di kitab kuning, melainkan pada Al Quran dan hadist, dimana kebebasan perempuan telah termaktub di dalamnya. Namun sayangnya maksud Hanung ini kurang tersampaikan dalam filmnya. Yang terbaca justru sebaliknya.

Selain itu, wanti-wanti Hanung Bramantyo terhadap karyanya ini, ibarat angin lalu. ”Tolong lepaskan dari wacana tentang Islam. Ini merupakan sebuah cerita tentang perempuan yang kebetulan dilahirkan dari latar belakang keluarga pesantren,” pintanya saat konperensi pers. Namun pada kenyataanya, wacana Islam tidak bisa dilepaskan dari film ini, karena latar belakang pesantren ini menjadi bagian dari konflik cerita.

Yah… memang benar kata Roland Barthes, “Pengarang telah mati”.

NB. review novelnya ada di http://mbakje.multiply.com/reviews/item/26

Hans Christian Andersen: My Life As a Fairytale

Rating: ★★★★★
Category: Movies
Genre: Drama

Mencintai berarti membebaskan. Karena cinta sejati seorang Jetta Collins, nama Hans Christian Andersen melegenda karena karya-karyanya.

Dibesarkan oleh keluarga miskin dengan ayah seorang veteran yang suka berfantasi, Hans tumbuh sebagai remaja yang kaya akan imajinasi. Di umur 15 tahun, Hans menjadi yatim piatu karena kepergian ayahnya yang memang sudah tua dan sakit-sakitan.

Hans yang sebatang kara kemudian pergi ke Copenhagen berkat ramalah seorang Gypsy yang meramalkan ia akan menjadi tenar di sana. Keberuntungan memang berpihak pada Hans saat tak sengaja bertemu dengan Jetta Collins, gadis cacat dari keluarga kaya yang baik hati di Copenhagen. Hans lalu diangkat sebagai anak oleh keluarga tersebut. Ia disekolahkan secara layak, hingga akhirnya ia bisa menuliskan fantasi-fantasinya menjadi cerita.

Jetta-lah yang selalu memotivasinya untuk menulis dan rutin mengiriminya surat. Kumpulan ceritanya kemudian dibukukan dan diterbitkan, bahkan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Ratu dan raja Denmark bahkan sangat menyukai cerita-ceritanya, sehingga Hans sering diundang sebagai story-teller di kerajaan.

Lalu bagaimana nasib Jetta? Hans sangat menyayanginya. Namun rasa sayangnya pada Jetta tak lebih sebagai rasa sayang seorang kakak kepada adik. Hans tidak pernah menyadari cinta terpendam Jetta, apalagi Hans tengah tergila-gila pada penyanyi tenar pada masa itu, Jenny Lind. Suara merdu Jenny Lind menginspirasi Hans untuk menulis cerita “The Nightingale”. Karena itu pula, Jenny pada masa itu dijuluki “Jenny The Nightingale”.

Nasib baik memang tidak berpihak pada Jetta. Namun cintanya yang tulus kepada Hans-lah yang membuat Hans bebas berekspresi dan pergi mengelilingi Eropa sehingga mendapatkan banyak inspirasi untuk cerita-ceritanya. Jetta adalah ‘martir’ dalam kehidupan Hans Christian Andersen. Karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan, ia memutuskan pergi ke New York, Amerika. Naas menimpa kapal dari Austria ke Amerika. Ia meninggal dalam kebakaran kapal yang akhirnya tenggelam tersebut.

Tokoh Hans Christian Andersen diperankan secara apik oleh aktor Kieran Bew. Peran Jetta Collins dan Jenny Lind juga sangat memikat. Pokoknya, film ini highly recommended untuk ditonton segala usia. Dan yang terpenting buatku, film ini bersih 😉 *muak dengan film yang ada adegan2 ‘gak jelas’*

Keabadian Telah Dimulai (Eternity Has Already Begun)

Rating: ★★★★
Category: Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Harun Yahya

Keabadian Telah Dimulai, Eternity Has Already Begun Keabadian Telah Dimulai, Eternity Has Already Begun by Harun Yahya

My review


rating: 3 of 5 stars
Buku ini sebenarnya adalah salah satu bab dalam buku Harun Yahya yang lain, berjudul “Mengenal Allah Lewat Akal” (Allah Is Known Trough Reason), dimana bercerita tentang relativitas waktu. Harun Yahya yang bernama asli Adnan Octar ini secara cerdas dan memikat menjelaskan sifat waktu yang fana. Membaca buku ini seperti membangunkan kita dari mimpi panjang yang sebenarnya adalah tidur beberapa menit saja. Dan inilah hakikat hidup yang sementara itu… masyaallah.

View all my reviews.