Tragedi Mina ‘Sebenarnya’

Lepas sholat Jumat siang tadi, saya ngobrol dengan teman saya yang baru banget pulang dari liputan haji 1436 H tahun ini. Mas Totok Sulistiyanto, namanya. Beliau ini bertugas bersama dengan para petugas haji Kemenag. Jadi, selama 2,5 bulan Mas Totok bertugas di tanah suci, sebelum kloter pertama tiba hingga kloter terakhir pulang.

Selepas bertanya kabar dan ‘kangen-kangenan’, saya melontarkan rasa penasaran saya terkait tragedi Mina kemarin. Intinya adalah wallahua’lam bishawab tentang apa penyebab sebenarnya. Mengapa demikian? Karena sampai detik ini dugaan-dugaan yang beredar luas di media sosial tidak pernah terkonfirmasi kebenarannya. Pemerintah Saudi pun tidak pernah mempublikasikan rekaman cctv kejadian. Padahal ada ribuan cctv di sana.

Tentang isu adanya penutupan jalan, karena ada anggota kerajaan yang lewat, telah terbantahkan lewat medsos beberapa waktu lalu. Karena foto-foto yang beredar ternyata adalah kejadian satu tahun lalu. Itu pun bukan saat musim haji. Lagipula, untuk tamu VVIP, ada jalur sendiri untuk melontar jumrah, yaitu lewat bawah tanah atau naik helikopter. Terbukti dengan adanya beberapa helipad di dekat jamarat. Para tamu kerajaan pun tidak bermalam di tenda seperti jamaah haji pada umumnya. Mereka bermalam di ‘istana’ yang terletak di atas bukit batu di kawasan Mina.

Lalu, soal ledakkan gas beracun lantaran korban selamat tragedi ini hampir semuanya amnesia pun masih praduga. Sebab amnesia pun bisa terjadi pada orang yang dehidrasi, tidak harus kena gas beracun. Selain itu, pihak Saudi pun membantah adanya gas beracun tersebut.

Kemudian, dugaan adanya pasukan berani mati Syiah dari Iran yang sengaja berbalik arah untuk menimbulkan korban jiwa pun wallahua’lam bishawab. Tanpa bermaksud memihak siapapun, tapi memang berita ini tidak terkonfirmasi sampai saat ini. Terlebih perihal taqqiyyah, hanya Allah Yang Maha Tahu.

Sebagai catatan, Mas Totok cukup paham agama–Islam tentu saja. Jadi, bukan jurnalis yang awam Islamnya. Beliau juga sunni tulen.

Bagaimana dengan fakta adanya jalan yang ditutup? Menurut Mas Totok, memang benar ujung jalan 204–lokasi tragedi Mina–ditutup. Bahkan sebelum pelaksanaan wukuf pun jalan tersebut sudah ditutup dengan maksud untuk memecah arus pejalan kaki.

denah Armina oleh Mas Totok

Oret-oretan Jalan 204 oleh Mas Totok

Jalan 204 atau yang sering disebut sebagai “Jalan Arab” adalah jalan dua arah selebar 6 meter yang diapit tenda-tenda jamaah asal Timur Tengah. Jalan tersebut bukanlah jalan utama menuju jamarat. Jalan 223 (seperti tampak pada gambar) adalah jalan persimpangan di ujung jalan 204. Seperti tampak di gambar, ujung Jalan 204 memang ditutup. Bukan untuk blokade jalan karena ada tamu kehormatan lewat, melainkan untuk memecah arus pejalan kaki agar melewati Jalan 223.

Sehari sebelum insiden Mina, Mas Totok dan juga beberapa petugas dan pembimbing haji mengecek jalur menuju jamarat. Untuk jamaah haji Indonesia dan Asia Tenggara, ada jalan ‘resmi’, seperti tampak pada gambar. Jalan ‘resmi’ ini adalah jalan utama selebar 12 meter dan satu arah. Memang jalan ini tergolong ramai. Selain itu, secara jarak lebih jauh menuju ke jamarat, kurang lebih 28 km.

Pada saat mengecek jalur dari tenda Indonesia ke jamarat, mereka juga sempat melewati Jalan 204. Pada saat itu, jalan tersebut sepi, tidak seperti jalan ‘resmi’ yang merupakan jalan utama. Selain sepi, melalui Jalan 204 ini perjalanan ke jamarat juga relatif lebih cepat karena jaraknya hanya 14 km.

Namun Qodarullah, pada saat kejadian, Jalan 204 justru padat dan menimbulkan ribuan korban jiwa 😦 Wallahua’lam bishawab…

Satu hal pasti, para mukimin (orang Indonesia yang bermukim di Saudi) sangat besar jasanya untuk membuka akses bagi para petugas haji kita. Mengapa? Karena perbedaan budaya dan bahasa yang masih awam untuk kebanyakan orang Indonesia yang non mukimin menyebabkan para petugas haji Indonesia tidak mendapatkan akses, bahkan informasi tentang kondisi jamaah haji Indonesia. Bayangkan, bahkan Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, pun diusir satpam dan cleaning service di lobi Rumah Sakit di Mina!

Nah, para mukimin yang fasih Berbahasa Arab dan sudah paham budaya orang Arab inilah yang bisa meluluhkan hati para asykar dan petugas-petugas Arab Saudi. Sehingga para petugas yang tadinya hanya bergeming ini alhamdulillah bisa berbalik 180 derajat sikapnya pada petugas-petugas haji Indonesia. Masyaallah…

Semoga tulisan ini bermanfaat adanya. Wallahua’lam bishawab.

Advertisements

Backpacking with Two Kids by Public Transport

Jadi ceritanya libur 1 Muharram 1437 H kemarin, kami sekeluarga berencana ke Pantai Ancol. Secara Kai udah sejak lama ingin lihat pantai dan laut. Saking gak pernah lihat laut, ini anak ngeliat foto laut dibilang “Banjil(r) Bu, banjil(r)!” 😦 Kasihan banget kamu Kai, sering lihat banjir tapi gak pernah lihat laut ya :p

Kesannya tega banget ya saya tidak kunjung mengajak anak-anak ke pantai terdekat dari rumah (baca: Ancol). Masalahnya tuh karena… tahu sendiri air laut di Pantai Ancol yang tidak bersih. Karena itu saya pinginnya ngajak anak-anak ke Pantai di luar Jakarta. Kalaupun di Jakarta, selain Ancol lah… Pulau Seribu misalnya. Tapi karena kelamaan rencana dan gak eksekusi juga, makanya gak keturutan juga mau ke pantai-pantai itu. Secara bapaknya anak-anak belum dapat jatah cuti gitu loh, udah gitu sering dapet tugas ke luar kota dadakan… hix 😥

Hal itu terjadi lagi pas libur tahun baru Islam kemarin. Udah rencana jauh hari mau ke Ancol, eeeh gak tahunya sehari sebelumnya ditugasin ke Solo selama 4 hari. Alhasil, Kai yang sudah siap sejak pagi terus bertanya, “Bu, kok gak ke Ancol?”

Gak tega juga membatalkan kembali rencana lihat laut. Tapi kalau ke Ancol tanpa bapaknya, kemungkinan saya yang rempong, karena bawa dua balita. Pas sholat Dhuha saya cuma mohon sama Allah, dimudahkan dan diridhoi urusan hari itu, termasuk jika Allah ijinkan kami ke Ancol.

“Ibu, kok gak berangkat-berangkat sih?” tagih Kai.

Hari menjelang siang, saya agak ragu berangkat karena mental block bakalan rempong. Akhirnya bismillah aja saya jawab, “Kita ke Ancol setelah sholat zuhur dan makan siang ya. Kalau mau ke Ancol, Kai makan yang banyak ya”.

“Iya!” dengan semangat Kai setuju.

Pertimbangan berangkat menjelang sore karena matahari sudah tidak terlalu panas, tidak perlu bawa berat bekal makan siang, dan insyaallah pingin lihat sunset di pantai. So, here we come!

14:00 : berangkat dari rumah menuju Halte Busway Transjakarta di PGC

Sambil nunggu bus, selfie dulu :)

Sambil nunggu Busway Transjakarta, selfie dulu 🙂

14:30 : Busway PGC – Ancol tiba

15:30 : sampai di shelter Busway Ancol

15:30 – 15:40 : sholat ashar di mushola dekat shelter Busway

15:40 : Naik Bus Wara-wiri gratis menuju Monumen Ancol (kudu transit bus kalau mau ke Ancol Beach City (ABC)). Sengaja pilih ABC karena kabarnya pantainya masih bersih dan pasirnya putih karena pasir urukan.

15:55: Sampai di ‘Monumen Ancol’

Kai di Ancol

Sambil nunggu bus, Kai foto dulu

Qudsi ikutan gaya juga

Qudsi ikutan gaya juga

16:10 : naik ojek menuju Ancol Beach City (ABC) karena jalanan macet dan Bus gratis Wara Wiri tak kunjung tiba

16:25 : sampai di ABC dan menikmati pantai 🙂

Janji awalnya main pasir doang, lama-lama pingin ngerendem kaki, akhirnya nyebur juga dan basah kuyup :D

Janji awalnya main pasir doang, lama-lama pingin ngerendem kaki, akhirnya nyebur juga dan basah kuyup. Gak sah emang ke Pantai kalau gak basah 😀

17:10 : meski masih mau main air, saya ‘paksa’ bocah-bocah mandi bilas dan ganti baju karena hari mau gelap

17:30 : makan perbekalan sambil menanti sunset… Sayangnya mendung, jadi gak kelihatan sunsetnya 😦 FYI, sebenarnya di ABC ini dilarang bawa bekal makan & minum, tapi kami lolos dari penggeledahan security karena saya hanya bawa satu tas backpack 🙂

18:00 : mengantri wudhu dan sholat Magrib di mushola ABC

18:30 : naik ojek ke Shelter Busway Transjakarta

18:50 : bus tiba

19:50: sampai PGC

20:00: sampai rumah. Alhamdulillah hepi meskipun teparrrr :))

Biaya:

Tiket Busway @Rp3,500 x 2 orang (anak di atas 2 tahun sudah dihitung) PP : Rp 14,000,-

Tiket masuk Pantai Ancol @Rp 25,000 x 2 orang : Rp 50,000,-

Ojek di Kawasan Ancol @Rp 20,000 PP : Rp 40,000,-

TOTAL Rp 104,000,- sajah :p

“Jadikan orang tuamu Raja, maka rezeki mu seperti Raja”.

Self reminder >.<

ihei

ibu

Budi Harta Winata,
Pengusaha baja/Pemilik PT. Artha Mas Graha Andalan.                      
Ketika ditanya rahasia suksesnya menjadi Pengusaha, jawabnya singkat:
“Jadikan orang tuamu Raja, maka rezeki mu seperti Raja”.

Pengusaha yang kini tinggal di Cikarang ini pun bercerita bahwa orang hebat dan sukses yang ia kenal semuanya memperlakukan orang tuanya seperti Raja.

Mereka menghormati, memuliakan, melayani dan memprioritaskan orang tuanya.
Lelaki asal Banyuwangi ini bertutur, “Jangan perlakukan Orang tua seperti Pembantu”.

Orang tua sudah melahirkan dan membesarkan kita, lha kok masih tega-teganya kita minta harta ke mereka, pada hal kita sudah dewasa.

Atau orang tua diminta merawat anak kita sementara kita sibuk bekerja.

Bila ini yang terjadi maka rezeki orang itu adalah rezeki pembantu, karena ia memperlakukan orang tuanya seperti pembantu.

Walau suami/istri bekerja, rezekinya tetap kurang bahkan nombok setiap bulannya.

Menurut sebuah lembaga survey yang mengambil sampel pada 700 keluarga di Jepang, anak-anak yang sukses adalah : mereka yang memperlakukan dan…

View original post 103 more words

Menjadi Orang Tua Asuh Anak ‘Bermasalah’

Bebarapa hari belakangan saya terlibat proses administratif Kejar Paket B di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Negeri 12 Tengah, Jakarta Timur. Singkat cerita, saya memberanikan diri menjadi orang tua asuh dari pemuda 16 tahun yang putus sekolah saat ia duduk di kelas 2 SMP.

Sebenarnya niatan ini sudah lama ingin saya wujudkan, namun saya merasa ragu akan kemampuan finansial keluarga kami, ditambah lagi dengan konsekuensi mengasuh anak orang lain yang notabene ‘bermasalah’ di sekolahnya.

Sebut saja “Ardi”. Ia dikeluarkan dari sekolah saat duduk di kelas 2 SMP lantaran nilai rapornya kosong karena bolos dua bulan berturut-turut tanpa diketahui ibunya. Pemuda yatim ini setiap hari pamit berangkat ke sekolah pada ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci/setrika dari rumah ke rumah-termasuk rumah saya. Namun belakangan baru ketahuan ternyata Ardi tidak ke sekolah, melainkan main PS.

Ibunya luput mengawasi anak bungsunya ini lantaran setiap hari sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Suaminya sudah lama meninggal dunia, sementara anak tertuanya pun sibuk bekerja di sebuah pabrik elektronik dan sering pulang larut malam. Bahkan belakangan, anak tertuanya di-PHK karena sering sakit-sakitan.

Surat drop out dari sekolah kala itu bagaikan petir di siang bolong buat sang ibu. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi agar anaknya bisa sekolah, sementara sekolah swasta mahal biayanya. Karena itu, sang ibu memberanikan diri menghadap kepala sekolah agar anaknya diberi kesempatan belajar lagi. Singkat cerita, kepala sekolah memberikan kesempatan Ardi untuk sekolah lagi meskipun harus tinggal kelas.

Namun ternyata kesempatan kedua tersebut disia-siakan oleh Ardi. Ia kembali bolos sekolah dan main PS seperti sebelumnya. Akhirnya rapornya kosoang dan ia kembali DO. Ibunya pun marah, sedih, prihatin, campur aduk jadi satu. Maka kesempatan berikutnya adalah bersekolah di sekolah swasta atas biaya dari kerabat almarhum suaminya. Namun lagi-lagi kejadian serupa berulang di sekolahnya yang baru. Akhirnya Ardi kembali DO dan tak ada lagi yang mau membiayai sekolahnya.

Sang ibu benar-benar muntab. “Mau kamu apa sih Ardi?!!!”

Lalu Ardi mengungkapkan bahwa ia ingin bekerja sebagai buruh perkebunan di Puncak seperti tetangganya. Ibunya pun mengabulkan keinginan anaknya itu. Sang ibu lalu menitipkan Ardi pada mantan tetangganya yang kini tinggal di kawasan Puncak.

Hasilnya? Baru dua pekan di sana, Ardi minta pulang. Alasannya tidak cocok dengan pekerjaan itu….. (capee deeh!!!)

Maka selama dua tahun Ardi menganggur. Ia tak sekolah, tak pula bekerja. Terkadang dengan entengnya ia minta uang jajan pada ibunya yang tengah bekerja.

Jujur saya amat prihatin melihat kenyataan ini. Dengan kondisi Ardi yang nganggur seperti itu, saya khawatir ia terjebak pada aktivitas negatif (na’uzubillahiminzalik). Karena itu saya beranikan diri untuk ikut turun tangan ‘menyelamatkan’ masa depan salah satu tunas bangsa ini (taelah).

Saya memutuskan untuk mengikutsertakan Ardi di kelas Kejar Paket B lantaran usianya yang sudah 16 tahun namun belum memiliki ijazah SMP. Sementara jika Ardi ingin melamar kerja ataupun ikut kursus keterampilan di Balai Latihan Kerja (BLK), minimal ia harus punya ijazah SMA. Karena itu, untuk mengejar ketertinggalannya, Ardi saya daftarkan Kejar Paket B di PKBM Negeri 12 yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya. Dan jika ia lulus Kejar Paket B, maka lanjut ke Kejar Paket C insyaallah.

PKBM Negeri 12 Tengah, Jakarta Timur

PKBM Negeri 12 Tengah, Jakarta Timur

Dua hari pertama sekolah di PKBM, ia selalu datang terlambat. Ibunya sudah marah-marah karena Ardi selalu bangun kesiangan. Bahkan saking gemesnya, ibu saya pun ikut emosi dan menyarankan saya untuk membatalkan menjadi orang tua asuh dari anak ‘bermasalah’ ini.

Bismillah… semoga Allah selalu meluruskan niat saya. Tidak ada yang bisa membolak-balik hati seseorang kecuali Allah SWT. Semoga Allah membukakan hati dan pikiran Ardi agar ia bersemangat dan mau berjuang untuk masa depannya dan Memudahkan jalannya untuk mendapatkan ijazah SMP dan SMA secara jujur… amiiin ya Allah.

Family time with KRL comuter line Jabodetabek 😊 – at Stasiun Tanah Abang

View on Path

T_T

Maafin ibu ya nak pagi ini kamu rewel karena ngantuk dan minta nen tapi gk bisa ibu penuhi karena rempong siapin bekal kakakmu yg mau berangkat sekolah plus beberes rumah plus siap2 ibu mau ngantor hingga kau tertidur sendiri di stroller.

Ibu sadar tak ada ibu yang sempurna. Allah lah Yang Maha Sempurna. Semoga Allah selalu menjaga dan membimbingmu menjadi anak yang sholeh… amiin.

View on Path

Adikku Mainanku

image

Qudsi

Assalamu’alaikum… Perkenalkan, namaku Qudsi. Umurku 1 tahun. Aku sedang belajar berjalan sendiri.

Sejak dalam perut ibu, aku sudah jadi kesayangan kakakku. Waktu masih di perut ibu, Mas Kai suka mengelus-elus dan mengajakku bicara. Tak jarang kakakku teriak-teriak di perut ibu. Mungkin itu sebabnya kalau menangis, lengkinganku amat keras.

Tidak cuma bicara, sesekali pernah kakakku naik ke perut ibu. Mungkin Mas Kai memang tak sabar ingin main denganku.

Ketika umurku baru satu hari, Mas Kai sudah mengajakku main, yaitu main kaget-kagetan. Mas Kai suka membuat suara gaduh saat aku tidur sehingga taganku refleks ke atas. Dan itu membuatnya bahagia.

Mas Kai amat perhatian denganku. Sehingga saat aku menangis, ia berusaha menenangkanku dengan berbagai cara, mulai dari berusaha menggendong, sampai memberikan ‘nenennya’. Tapi ibu dan bapakku malah khawatir jika Mas Kai yang menenangkanku. Mungkin karena Mas Kai masih belum kuat menggendongku.

Pernah juga mukaku dicoret-coret kakakku dengan pulpen sampai ibu terpingkal-pingkal melihatku. “Kai lagi gambar Jam Big Ben,” ujar kakakku.

Itu sebabnya aku selalu ingin ikut kemana kakakku pergi. Makanya aku sering menangis kalau ditinggal Mas Kai sekolah.

Sekarang, aku sudah pandai merangkak dan jalan merembet sambil pegangan. Kakakku suka mengajakku bergurau dengan cara mendorongku saat aku belajar berjalan. Tapi kalau aku jatuh dan kesakitan, aku pasti menangis.

Aku juga suka mengikuti kakakku main kereta api mainannya, tapi aku heran kenapa ia sering berteriak di depan mukaku saat aku memegang mainannya.

Aku pun suka mengikuti apa yang dilakukannya. Saat ia masuk ke dalam keranjang baju, aku pun mengikutinya… hingga keranjang itu terguling bersama tubuhku diiringi jerit tangisku.

Tapi aku tak pernah menyerah dengan apa yag kumau. Aku menjerit kencang jika keasyikanku diganggu, termasuk keasyikanku ngempeng sama ibu.

Aku juga suka binatang loh. Tawaku mengembang kalau lihat kucing, ayam, burung bertengger di depan rumah. Sering aku ingin memanggil mereka, tapi aku masih belum mahir bicara. Sehingga isyarat tangan saja kuarahkan pada mereka.

Demikian perkenalan singkatku. Doakan aku ya agar jadi anak pintar, sehat, dan sholeh… amiiin.

Di-‘hukum’ Malah Senang

Kai (4,5 tahun) kalau bercanda selalu main fisik, entah itu menendang, memukul, menarik/menjambak, atau mendorong. Sehingga tak jarang saya merasa ‘dianiaya’. Sering juga saya merasa kesal karena kesakitan akibat ulahnya ini, apalagi kalau Kai sudah mengajak ‘main’ adiknya yang masih belajar berjalan. Kalau emosi sedang membuncah, ingin rasanya saya menghukumnya secara fisik, apalagi omelan dengan kata-kata tidak mempan buatnya.

Pernah suatu hari saya menghukumnya dengan mem-banjur-nya dengan air seember. Tapi doi ternyata malah tertawa kesenangan (Capek deeeh. Red). Pernah juga di lain waktu, saya kelitiki sekujur tubuhnya hingga dia tertawa habis. Bukannya kapok, Kai malah ketagihan. Ujung-ujungnya dia mengulangi perbuatannya agar kembali dikelitiki 😦

Baru-baru ini, Kai kembali menendang-nendang hingga tak sengaja mengenai adik dan eyangnya hingga mereka kesakitan. Saya tahu dia tidak sengaja dan tidak bermaksud menyakiti siapa pun. Namun perbuatannya bisa menyakiti orang lain. Untuk itu, saya bermaksud memberinya sedikit pelajaran.

“Ini kakinya diiket aja yah, biar gak nendang-nendang,” ujar saya sambil memegang erat kakinya.

Namun karena tenaganya cukup kuat, kakinya masih saja menendang-nendang dan tangannya mendorong-dorong. Entah dapat ide dari mana, saya lalu berdiri sambil memegang kedua kakinya, sehingga Kai tergantung terbalik seperti ‘hang-man’. Dan doi malah tertawa senang :p Ketika saya turunkan dia, Kai malah marah.

“Kai mau digantung lagi!”

Akhirnya kami malah bercanda main ‘hang-man’ lagi dan lagi. Capek juga menggantung Kai yang berbobot 15 kg. Tapi Kai malah teriak-teriak, “Mau digantung lagi, Ibu!”

Jadilah saya menggantungnya dengan kain gendongan di teralis jendela supaya gak capek 😀

Kai minta digantung terbalik

Kai minta digantung terbalik

Singkat cerita, ‘hukuman-hukuman’ tersebut malah dianggap bercanda buat Kai alias gak ngeffek. Pusing pala berbie 😦 Yang pasti, saya sangat menjauhi hukuman fisik seperti memukul, menjewer, dan mencubit.

Well, buat yang punya anak laki-laki, mungkin gak heran dengan gaya bercandanya yang selalu main fisik. Berikut ini beberapa karakter khas anak laki-laki yang saya dapat dari sini:

Karakter anak laki-laki
(referensi: tips untuk para ibu tentang cara mendidik anak laki2)

Laki2 adalah mahluk yang berbeda dengan perempuan. Untuk memahami laki2, harus dari sudut pandang laki2, tidak bisa dari sudut pandang perempuan.

1. Ga bisa diam (pecicilan)
2. Berapa kali disuruh pun, slalu lupa, slalu ga dikerjakan. Tips: Dibuat menyenangkan seperti game
3. Hanya melakukan hal yang disukai. Tips: Dibuat menyenangkan seperti game
4. Senang berpetualang, melakukan hal yg berbahaya
5. Peduli dengan kalah menang
6. Senang kelahi2an, senang dengan figur2 hero
7. Berulang2 antara berkelahi dan berteman. Jangan terburu2 merelai. Cukup diawasi, kecuali jika ada hal yg membahayakan. Anak laki2 cenderung menggunakan fisik dlm bertengkar, sementara anak perempuan menggunakan mental dan kata2.
8. Cenderung menyukai kata2 jorok. Dlm hal ini, kita gunakan ajaran islam sebagai patokan. Membiasakan anak dengan ayat Qur’an, dzikir.
9. Ga peduli dengan kotor
10. Cepat bosan, senang hal bergerak (mobil, kereta, pesawat). Ganti sudut pandang: cepat bosan -> cepat puas
11. Tulisannya jelek
12. Lambat dlm memulai dan mengerjakan sesuatu. Tips: gunakan skinship ketika menyuruh (mengusap kepala, menepuk bahu)
13. Senang mengoleksi
14. Hanya puas dengan alasan logis
15. Sayang sekali dengan ibu. Ingin melindungi ibu.

Anyway, lagi kepikiran buat ngelesin bela diri buat Kai… Tapi malah khawatir kalau dia mempraktikkan ke adiknya 😦

Janji Harus Ditepati

image

Pagi kemarin Kai tantrum karena HP saya yang sedang ia jajah saya ambil. Padahal ngambilnya juga udah baik-baik, tapi teteup aja gak diijinin sama si penjajah cilik. Alhasil HP gak jadi saya pakai, tapi teteup donk doi ngamuk gak jelas alias tantrum.

Tantrum di usia 2 – 5 tahun menurut referensi yang saya baca adalah normal adanya. Karena di usia ini anak masih belajar berekspresi dan belum bisa mengendalikan emosi. Selain itu, anak-anak dengan asupan gizi cukup akan melepaskan hormon sorotein (kalo gak salah). Nah, hormon inilah yang menyebabkan ia tantrum.

Menyebalkan memang menghadapi balita tantrum. Ibunya bisa-bisa ikut tantrum juga. Emang kudu banyak dzikir supaya bisa sabaaarrrr. Karena solusinya memang cuma satu kata: SABAR. Demikian menurut pakar psikologi.

Menurut referensi yang saya baca juga, gak berguna marahin atau nasehatin anak sedang tantrum, pun membiarkannya atau mengurungnya. Solusinya adalah dengan memeluknya, mengusap-usap punggungnya, dan sikap-sikap lain yang menunjukkan rasa kasih sayang dan empati dengannya. Mudah? Wow… tentu butuh perjuangan menundukkan ego sebagai orang yang merasa ‘senior’ karena lahir duluan.

Lantas bagaimana dengan Kai? Alhamdulillah tantrumnya mereda saat saya janjikan ia naik bus Tansjakarta. Tentu saja setelah saya elus-elus punggungnya :). Meskipun saya sadar, saat itu kami hendak kondangan sekeluarga siang-siang. Namun janji harus ditepati, kalau tidak nanti dia bisa tantrum lagi karena kecewa.

Saya jadi ingat perkataan Ali bin Abi Thalib RA tentang pengasuhan anak;

Usia 0 – 7 tahun perlakukan ia sebagai raja. Usia 8 – 12 tahun perlakukan ia sebagai tawanan. Usia 12 tahun ke atas perlakukan ia sebagai sahabat.

Seringkali yang membuat anak kita tersenyum bukanlah hal rumit dan mahal. Namun seringkali juga kita yang membuatnya rumit dan mahal. Semoga Allah senantiasa membimbing keluarga kita di jalanNya hingga sampai ke surga… amiiin.

Anak Kejedot Malah Alhamdulillah

Sholat Ashar Hari Selasa (21/07) kemarin mungkin sholat fardhu saya yang paling tidak khusyuk. Pasalnya kami semua sedang sholat berjamaah di Masjid Al Hikmah Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Indah Kapuk (PIK), dimana TWA ini adalah hutan konservasi tanaman bakau (mangrove).

Masjid Al Hikmah TWA PIK

Masjid Al Hikmah TWA PIK

FYI, hutan bakau merupakan ekosistem berupa rawa-rawa di dekat pantai. Sehingga jika hendak menyusuri hutan ini harus naik perahu atau berjalan kaki di atas jembatan. Jadi, bisa dibayangkan dong bagaimana kondisi Masjid Al Hikmah ini berdiri. Yup, dia berdiri di atas rawa. Sekeliling masjid tak lain adalah rawa-rawa. Sementara pagar pengaman di sekeliling masjid lumayan renggang.

Pagar masjid yang renggang

Pagar masjid yang renggang

Saat hendak mulai sholat, saya dudukkan Qudsi (13 bulan) di depan tempat saya sholat. Namun tanpa bisa saya kendalikan, Qudsi dengan cepat merangkak entah kemana. Spontan sejak rakaat pertama saya asli tidak khusyuk. Sambil mengikuti imam sholat, dalam hati saya hanya bisa mohon sama Allah agar Qudsi tidak tercebur ke rawa.

Sampai di rakaat ketiga, ketika sedang rukuk, saya mendengar suara “Jederrr!!” lalu diikuti suara tangis Qudsi yang melengking. Tak satu pun orang di masjid itu yang menenangkannya karena sedang shalat berjamaah. Namun saya malah berucap alhamdulillah dalam hati, karena Qudsi hanya kejedot dan tidak tercebur ke rawa 😀

Spontan begitu salam, saya langsung lari ke sumber suara. Ternyata Qudsi kejedot daun jendela karena sedang rembetan alias berlatih berjalan 🙂 Alhamdulillah…

Qudsi yang selalu penasaran :)

Qudsi yang selalu penasaran 🙂