T_T

Maafin ibu ya nak pagi ini kamu rewel karena ngantuk dan minta nen tapi gk bisa ibu penuhi karena rempong siapin bekal kakakmu yg mau berangkat sekolah plus beberes rumah plus siap2 ibu mau ngantor hingga kau tertidur sendiri di stroller.

Ibu sadar tak ada ibu yang sempurna. Allah lah Yang Maha Sempurna. Semoga Allah selalu menjaga dan membimbingmu menjadi anak yang sholeh… amiin.

View on Path

Adikku Mainanku

image

Qudsi

Assalamu’alaikum… Perkenalkan, namaku Qudsi. Umurku 1 tahun. Aku sedang belajar berjalan sendiri.

Sejak dalam perut ibu, aku sudah jadi kesayangan kakakku. Waktu masih di perut ibu, Mas Kai suka mengelus-elus dan mengajakku bicara. Tak jarang kakakku teriak-teriak di perut ibu. Mungkin itu sebabnya kalau menangis, lengkinganku amat keras.

Tidak cuma bicara, sesekali pernah kakakku naik ke perut ibu. Mungkin Mas Kai memang tak sabar ingin main denganku.

Ketika umurku baru satu hari, Mas Kai sudah mengajakku main, yaitu main kaget-kagetan. Mas Kai suka membuat suara gaduh saat aku tidur sehingga taganku refleks ke atas. Dan itu membuatnya bahagia.

Mas Kai amat perhatian denganku. Sehingga saat aku menangis, ia berusaha menenangkanku dengan berbagai cara, mulai dari berusaha menggendong, sampai memberikan ‘nenennya’. Tapi ibu dan bapakku malah khawatir jika Mas Kai yang menenangkanku. Mungkin karena Mas Kai masih belum kuat menggendongku.

Pernah juga mukaku dicoret-coret kakakku dengan pulpen sampai ibu terpingkal-pingkal melihatku. “Kai lagi gambar Jam Big Ben,” ujar kakakku.

Itu sebabnya aku selalu ingin ikut kemana kakakku pergi. Makanya aku sering menangis kalau ditinggal Mas Kai sekolah.

Sekarang, aku sudah pandai merangkak dan jalan merembet sambil pegangan. Kakakku suka mengajakku bergurau dengan cara mendorongku saat aku belajar berjalan. Tapi kalau aku jatuh dan kesakitan, aku pasti menangis.

Aku juga suka mengikuti kakakku main kereta api mainannya, tapi aku heran kenapa ia sering berteriak di depan mukaku saat aku memegang mainannya.

Aku pun suka mengikuti apa yang dilakukannya. Saat ia masuk ke dalam keranjang baju, aku pun mengikutinya… hingga keranjang itu terguling bersama tubuhku diiringi jerit tangisku.

Tapi aku tak pernah menyerah dengan apa yag kumau. Aku menjerit kencang jika keasyikanku diganggu, termasuk keasyikanku ngempeng sama ibu.

Aku juga suka binatang loh. Tawaku mengembang kalau lihat kucing, ayam, burung bertengger di depan rumah. Sering aku ingin memanggil mereka, tapi aku masih belum mahir bicara. Sehingga isyarat tangan saja kuarahkan pada mereka.

Demikian perkenalan singkatku. Doakan aku ya agar jadi anak pintar, sehat, dan sholeh… amiiin.

Anak Kejedot Malah Alhamdulillah

Sholat Ashar Hari Selasa (21/07) kemarin mungkin sholat fardhu saya yang paling tidak khusyuk. Pasalnya kami semua sedang sholat berjamaah di Masjid Al Hikmah Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Indah Kapuk (PIK), dimana TWA ini adalah hutan konservasi tanaman bakau (mangrove).

Masjid Al Hikmah TWA PIK

Masjid Al Hikmah TWA PIK

FYI, hutan bakau merupakan ekosistem berupa rawa-rawa di dekat pantai. Sehingga jika hendak menyusuri hutan ini harus naik perahu atau berjalan kaki di atas jembatan. Jadi, bisa dibayangkan dong bagaimana kondisi Masjid Al Hikmah ini berdiri. Yup, dia berdiri di atas rawa. Sekeliling masjid tak lain adalah rawa-rawa. Sementara pagar pengaman di sekeliling masjid lumayan renggang.

Pagar masjid yang renggang

Pagar masjid yang renggang

Saat hendak mulai sholat, saya dudukkan Qudsi (13 bulan) di depan tempat saya sholat. Namun tanpa bisa saya kendalikan, Qudsi dengan cepat merangkak entah kemana. Spontan sejak rakaat pertama saya asli tidak khusyuk. Sambil mengikuti imam sholat, dalam hati saya hanya bisa mohon sama Allah agar Qudsi tidak tercebur ke rawa.

Sampai di rakaat ketiga, ketika sedang rukuk, saya mendengar suara “Jederrr!!” lalu diikuti suara tangis Qudsi yang melengking. Tak satu pun orang di masjid itu yang menenangkannya karena sedang shalat berjamaah. Namun saya malah berucap alhamdulillah dalam hati, karena Qudsi hanya kejedot dan tidak tercebur ke rawa 😀

Spontan begitu salam, saya langsung lari ke sumber suara. Ternyata Qudsi kejedot daun jendela karena sedang rembetan alias berlatih berjalan 🙂 Alhamdulillah…

Qudsi yang selalu penasaran :)

Qudsi yang selalu penasaran 🙂

Mendaki Air Terjun Bersama Balita

Kai (4 th) pingin banget lihat air terjun dan sungai di gunung. Ini karena sering saya pertontonkan video murotal Al Quran yang visualisasinya pemandangan alam, termasuk air terjun dan sungai-sungai yang jernih airnya.

Kebetulan Kamis (28/05) lalu sekolahnya Kai mengadakan karya wisata ke Taman Safari Indonesia (TSI), Cisarua, Bogor. Maka sejak jauh hari saya mencari informasi tentang perjalanan ke Air Terjun Curug Jaksa yang berada di area TSI ini. Menurut hasil googling dan survey di youtube sih, medan menuju air terjun ini cukup mudah dijangkau, terutama untuk anak-anak usia balita. Namun ketika saya mengutarakan keinginan kami ini kepada kepala sekolahnya Kai, beliau tidak menyarankan–padahal beliau sendiri belum pernah ke sana 😦

Saya agak galau juga saat Ibu Kepala Sekolah tidak menyarankan, namun hati kecil saya yakin bahwa medannya sangat mudah dijangkau. Ditambah lagi, Kai sangat-sangat ingin lihat air terjun. Kesempatan langka buat kami yang tinggal di kota besar untuk merasakan segarnya air terjun.

Maka, saat tiba di area TSI, saya minta pendapat beberapa karyawan TSI tentang medan menuju Curug Jaksa untuk anak-anak.

“Jaraknya cuma 100 meter kok, Bu,” ujar salah seorang penjaga toilet di TSI.

“Kalau anaknya capek, ya pelan-pelan saja jalannya,” timpal petugas yang lain.

Berbekal testimoni mereka, saya makin yakin kalau perjalanan ke Curug Jaksa ramah anak. Maka, setelah mengisi perut di area Baby Zoo, kami pun membulatkan tiket pergi ke sana. Kami lalu menuju Plaza Gajah untuk membeli tiket kereta wisata seharga Rp 20 ribu per orang untuk keliling seharian. Begitu kereta datang, kami segera naik dan ikut berkeliling area TSI.

Jalan masuk Curug Jaksa berada di tempat parkir paling belakang TSI, dimana medannya berupa tanjakan cukup curam. Karena itu, untuk menghemat tenaga, sebaiknya memang naik kereta wisata menuju ke sini.

Gerbang menuju Air Terjun Curug Jaksa

Gerbang menuju Air Terjun Curug Jaksa

Jarak dari gerbang Curug Jaksa ke lokasi air terjun hanya 100 meter, which is deket banget!! Tak perlu khawatir terpeleset, karena medan pendakian ini sudah dibuat tangga-tangga bersemen oleh pihak TSI. Sejak mendaki tangga-tangga tersebut pun sudah terdengar suara gemericik air terjun.

Kai dengan sangat mudah dan semangat sampai di lokasi. Ia begitu terpukau melihat air terjun untuk pertama kalinya. Adiknya, Qudsi (11 bln), yang saya gendong pun ikut bersemangat. Qudsi tak henti-hentinya berteriak senang. Ia bahkan ingin ikut main air seperti kakaknya 😀

Alhasil, kami menghabiskan waktu satu jam lebih di sana. Apalagi kalau bukan main air hehehe… Qudsi pun tak mau kalah sama kakaknya 🙂 Bedanya, Qudsi tak lepas dari pegangan saya karena dia belum bisa jalan, tapi maunya jalan sendiri wkwkwkwk ^_^

Qudsi ikut main air

Qudsi ikut main air

Kai sueneeeng banget

Kai sueneeeng banget

Airnya dingiiin tapi suegeeerrr ya Kai :)

Airnya dingiiin tapi suegeeerrr ya Kai 🙂

Hari ini Setahun Lalu

Ibu, Mas Kai, dan Dedek Qudsi di RS Harapan Bunda

Ibu, Mas Kai, dan Dedek Qudsi di RS Harapan Bunda

Hari ini setahun lalu kau meluncur dari perutku

Puji syukur pada-Nya kau lahir dengan mudahnya

Seolah kau tahu ‘derita’ ayah ibumu kala itu.

wpid-img_20140602_071015.jpg

New born Qudsi

Hari ini setahun lalu

Allah kirimkan hadiah buat kami

kado terindah untuk kami,

penyejuk mata kami,

penghilang peluh dan penat kami,

sumber kerinduan kala kita terpisah jauh seharian.

Selamat ulang tahun Qudsiku sayang

Semoga Allah senantiasa merahmati dan membimbingmu

menjadi hamba-Nya yang taat… amiin.

1 year Qudsi

1 year Qudsi

Belum 4 Tahun Sudah Sunat

“Ha? Kai udah disunat? Yang bener?”

“Beneran Kai jadi disunat?”

“Masak sih? Kan masih kecil!”

Demikian sebagian besar ungkapan spontan para tetangga dan handai taulan. Saking gak percayanya, beberapa tetangga malah minta izin mengintip isi sarung Kai untuk memastikan.

Qodarullah, semua berawal dari permintaan Kai untuk disunat pada pekan kedua Desember 2014. Saya dan suami saat itu hanya menganggapnya sebagai permintaan sesaat yang mudah berubah dari seorang balita. Di luar dugaan kami, ternyata permintaan Kai tersebut konsisten dari hari ke hari. Permintaan tersebut makin membuncah ketika tetangga kami mengadakan pesta syukuran sunatan anaknya.

“Tanggal 24 ada sunatan massal dan pesertanya masih kurang sih…,” ujar suami yang bekerja di Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).

“Ya udah, Kai daftarin aja,” sahut saya. Toh kalau Kai belum berani, ya sudah tidak jadi saja. So, nothing to loose.

Jadi, bisa dibilang sunatannya Kai tanpa persiapan dan serba dadakan. Saya pun baru bisa mengambil cuti tahunan yang tinggal 1 hari pada hari ke-5 pasca sunat. Boro-boro mau bikin acara syukuran, beli sarung aja dadakan di pasar dekat kantor. Apalagi celana sunat, baru tahu kalau belinya kudu di apotek. Baru beli celana ini pas Kai sudah disunat. Tapi gak kepake juga sih, karena Kai lebih suka pakai sarung 😦

Intinya serba cuek lah. Tapi meski begitu, deep down inside sebenarnya saya deg-degan banget! Bolak-balik sholat hajat minta kelancaran sama Allah.

So far Kai konsisten dengan permintaan sunatnya. Untuk itu, sekalian saja saya kuatkan mentalnya dengan menjanjikan mainan kereta api jika sudah disunat dan mempertontonkan beberapa episode film animasi tentang sunat, mulai dari Upin Ipin Disunat, Entong Ogah Disunat, dan Sunatan Massal-nya Bang Jarwo. Alhamdulillah Kai tambah semangat, sampai hafal sejumlah dialog film-film tersebut. “Sakitnya cuma sebentar, yang penting dapat duitnya,” demikian secuplik dialog yang diingat Kai.

The D-Day

Kai semangat bangun pagi, mandi, sarapan, dan pakai baju gamis. Bahkan sambil duduk di teras, dengan semangat Kai ‘pamer’ ke tetangga yang lewat depan rumah bahwa dirinya akan disunat. Sebagian besar tidak percaya dengan pernyataannya. Apalagi yang ngomong seorang anak yang belum genap 4 tahun. Para tetangga baru percaya Kai akan sunat saat kami sekeluarga keluar rumah.

Mainan kereta api hadiah sunat

Mainan kereta api hadiah sunat

Di tempat sunatan massal sudah ramai dengan anak-anak dan para pengantar. Sunatan massal ini dalam rangka ulang tahun sebuah laboratorium klinik di bilangan Duren Tiga, Jakarta, bekerja sama dengan BSMI selaku operator sunat. Ruangan lab klinik berlantai dua tersebut berubah layaknya tempat hiburan anak-anak. Ada seperangkat home theater, balon warna-warni, kue-kue, plus dispenser kopi dan teh, serta nasi dan fried chicken sebuah waralaba terkenal.

Menjelang prosesi sunat, saya berikan Kai sebuah permen loli pop besar. Selain karena terinspirasi film Upin Ipin Disunat, ini untuk mengalihkan perhatian Kai saat disunat oleh dokter 🙂

Alhamdulillah Kai berhasil melalui prosesi sunat dengan lancar. Keluar dari ruang sunat Kai langsung mencari saya dan menagih mainan kereta api. Saya menepati janji. Langsung saat itu juga Kai merangkai rel dan gerbong-gerbong keretanya di luar ruang sunatan 🙂

Day 2

Selang kurang lebih satu jam setelah proses khitan/sunat kemarin, efek bius menghilang. Inilah saat sedu sedan dimulai.

Bius hilang senyumnya juga hilang :)

Bius hilang senyumnya juga hilang 🙂

Kai mulai merasakan nyeri dan sering mengaduh-aduh sejak saat itu. Semalam setelah sunat pun Kai tidak bisa tidur nyenyak. Di sinilah kesabaran kami diuji. Mulai dari memberikan obat pereda nyeri, menghibur, memeluk, serta berdoa dan berzikir bersamanya. Ada kalanya ia malah marah-marah dan menangis. Hal yang membuat saya menangis adalah Kai takut pipis. Ia mati-matian menahan pipis hingga 16 jam!

Jam 10 malam Kai terbangun ingin pipis. Karena saya sedang menyusui adiknya, bapaknya lah yang akan mengantarnya ke kamar mandi. Namun Kai menolak. Ia minta pipis sama ibu. Usai menyusui, buru-buru saya angkat Kai ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi, ketika pipisnya sudah di ujung, tiba-tiba Kai takut untuk membuang air seninya. “Kai gak mau pipis! Kai gak mau pipis!” teriaknya sambil menangis jejeritan.

“Kai, kalau pipisnya gak dibuang, nanti badan Kai malah sakit. Itu air kotor yang harus dibuang,” saya mencoba menjelaskan sebisa saya. Namun Kai terus menolak pipis sambil teriak-teriak.

“Kai udah 12 jam lebih belum pipis. Ayo pipis dulu!” seru saya mulai panik karena mendengar adiknya terbangun dan menangis di kamar depan. Suami saya berusaha menenangkan si kecil, namun Qudsi malah menangis meraung-raung.

Drama berakhir saat akhirnya Kai melepaskan air seninya. Mungkin nyeri awalnya, namun lega setelahnya. “Ibu, Kai udah gak sakit,” ujarnya sambil tertawa dengan mata basah sisa air mata. “Alhamdulillah,” ujar saya lega sekaligus gemes. Dasar bocah >.<

Day 3

Saya harus masuk kerja, karena baru bisa cuti pada hari kelima pasca sunat. Suami saya malah harus tugas keluar kota. Asli sangat rempong sekali di rumah, karena jadi ada dua bayi di rumah. Sejak hari pertama sunat, Kai apa-apa maunya sambil tiduran. Mungkin karena memang nyeri untuk banyak bergerak. Dari makan, main, sampai mandi, Kai maunya sambil tiduran. Kecuali pipis atau pup, Kai hanya mau di kamar mandi.

Abis sunat maunya boboan aja pakai sarung ditaliin kayak Upin Ipin

Abis sunat maunya boboan aja pakai sarung ditaliin kayak Upin Ipin

Jujur saya kasihan sama ibu saya, mana ART baru bisa datang siang hari. Tapi apa mau dikata, saya harus ngantor. Drama hari ketiga adalah ketika rombongan ibu mertua, kakak ipar dan para krucils (keponakan-keponakan. Red) datang saat saya dan suami di kantor. Kami yang memang tidak menyiapkan syukuran/kenduri apa pun jadi cukup rempong. Ditambah lagi hari itu Jakarta hujan deras tanpa henti. Ibu jadi sempat esmosi juga saat itu 😦 Saya maklum, karena beliau pasti sangat lelah.

Day 4 – 5

Sejak hari keempat Kai jauh lebih baik. Ia sudah bisa jalan, lompat, bahkan panjat-panjat. Namun ia belum bisa pakai celana, karena masih ada clamp yang menjepit penisnya. FYI, Kai disunat menggunakan metode smart clamp. Dan pada hari kelima clamp-nya harus dibuka oleh dokter.

Maka hari ini Kai kembali ke tempatnya disunat dulu untuk dibuka clamp-nya. Saya tidak bisa ikut menemani Kai karena harus menjaga adiknya yang sedang rewel karena sakit sembelit. Jadi Kai hanya ditemani bapaknya.

Ternyata pasca dilepasnya clamp, penisnya kembali nyeri. Maka Kai kembali berbaring saja. Obat pereda nyeri pun kembali saya berikan. Bapaknya pun memberinya permen loli pop untuk menghiburnya dan melupakan rasa sakitnya.

Day 9 – Sekarang

Masuk hari kesembilan pasca sunat, Alhamdulillah Kai sudah jauuuuh lebih baik. Ia sudah lincah dan sudah bisa pakai celana, hanya saja ia masih enggan pakai celana dalam. Namun di hari ke-11 mau tak mau ia harus pakai CD karena ingin ikut ke kantor saya. Dan ternyata baik-baik saja tuh alias sudah sembuh 🙂

image

Alhamdulillah Allah telah mudahkan semuanya, meski harus kami lalui berbagai drama yang menguji kesabaran kami. Puji syukur Allah telah kabulkan doa-doa kami. Alhamdulillahirabbli’alamin…

*** Sedikit catatan, saat ikut sunatan massal kemarin, tidak sedikit anak yang lebih besar dari Kai tidak jadi disunat lantaran takut. Wallahua’lam apa yang menyebabkan mereka takut. Tapi satu yang pasti, jangan pernah menakut-nakuti anak perihal sunat. Dan jangan menjadikan sunat sebagai hukuman, seperti “Hayo, ntar disunat lho!”

Saat Kembali Ditinggal Bekerja

Ketika menghitung hari seiring berakhirnya masa cuti melahirkan, rasanya sediiiih banget plus khawatir. Sedih karena gak bisa lagi seharian penuh bersama anak-anakku tercinta. Khawatir kalau-kalau Kai tantrum melihat saya pergi ke kantor, apalagi di hari-hari menjelang saya bekerja, Kai masih belum mau ditinggal sebelum berbaris dan masuk kelas bersama. Rasa khawatir juga jika si kecil Qudsi rewel tidak dibuai ibunya dan harus minum asi perah (asip) dari botol.

Jujur, kegusaran tersebut membuat saya sempat stress di hari-hari menjelang saya kembali bekerja, ditambah lagi ART yang biasa datang setiap hari menyatakan tidak bisa datang di hari pertama saya masuk kantor. Hal ini membuat saya tambah tidak bisa tidur malam sehingga saya hanya bisa mohon sama Allah agar dilancarkan dan dimudahkan segala urusan dengan cara yang damai.

Maka ketika hari pertama kembali bekerja pada 4 September lalu, saya cuma bisa pasrah… La hawla wa la quata illabillah. Saya pun meninggalkan Qudsi bersama eyangnya (ibu saya. Red) dengan stok asip di freezer beserta botol-botol dot yang sudah disteril. Saya juga meninggalkan Kai bersekolah. Namun di hari pertama saya ngantor, Kai bersama ayahnya mengantarkan saya ke stasiun naik motor. Kami berpisah di pintu stasiun. Lalu mereka menuju TK Mutiara.

Cemas berkecamuk di pikiran saya. Namun menurut penuturan suami saya, Kai happy happy saja ditinggal ayahnya. Dengan riang gembira ia main perosotan bersama teman-temannya. Alhamdulillah… 🙂

Kai bersiap ke sekolah :)

Kai bersiap ke sekolah 🙂

Semakin lega hati ini ketika siang hari dapat sms dari ibu saya, bahwa Kai dan Qudsi tidak rewel. Kai mau pulang dijemput ojek langganan. Bahkan Kai membantu eyangnya selama di rumah, mulai dari memasukkan baju yang sudah kering ke dalam lemari, sampai makan sendiri tanpa disuapi. Alhamdulillahirabbil’alamiin. Makin berseri hati ini ketika petang hari pulang ke rumah disambut riang sang buah hati di muka pintu… Masyaallah 🙂

Ternyata ketakutan dan kekhawatiran itu hanya ada dalam pikiran kita. Sebaik-baik Penjaga, Pengasuh, dan Perawat anak-anak kita adalah Allah SWT, karena mereka adalah milik-Nya. Kita, orang tua mereka, hanya dititipi-Nya. Dan sebagai orang yang dititipi tak jarang kita lalai.

Ya Allah, semoga kami tak pernah alpa dari menyertakan-Mu dalam mengasuh dan membesarkan anak-anak kami. Amin.