Adikku Mainanku

image

Qudsi

Assalamu’alaikum… Perkenalkan, namaku Qudsi. Umurku 1 tahun. Aku sedang belajar berjalan sendiri.

Sejak dalam perut ibu, aku sudah jadi kesayangan kakakku. Waktu masih di perut ibu, Mas Kai suka mengelus-elus dan mengajakku bicara. Tak jarang kakakku teriak-teriak di perut ibu. Mungkin itu sebabnya kalau menangis, lengkinganku amat keras.

Tidak cuma bicara, sesekali pernah kakakku naik ke perut ibu. Mungkin Mas Kai memang tak sabar ingin main denganku.

Ketika umurku baru satu hari, Mas Kai sudah mengajakku main, yaitu main kaget-kagetan. Mas Kai suka membuat suara gaduh saat aku tidur sehingga taganku refleks ke atas. Dan itu membuatnya bahagia.

Mas Kai amat perhatian denganku. Sehingga saat aku menangis, ia berusaha menenangkanku dengan berbagai cara, mulai dari berusaha menggendong, sampai memberikan ‘nenennya’. Tapi ibu dan bapakku malah khawatir jika Mas Kai yang menenangkanku. Mungkin karena Mas Kai masih belum kuat menggendongku.

Pernah juga mukaku dicoret-coret kakakku dengan pulpen sampai ibu terpingkal-pingkal melihatku. “Kai lagi gambar Jam Big Ben,” ujar kakakku.

Itu sebabnya aku selalu ingin ikut kemana kakakku pergi. Makanya aku sering menangis kalau ditinggal Mas Kai sekolah.

Sekarang, aku sudah pandai merangkak dan jalan merembet sambil pegangan. Kakakku suka mengajakku bergurau dengan cara mendorongku saat aku belajar berjalan. Tapi kalau aku jatuh dan kesakitan, aku pasti menangis.

Aku juga suka mengikuti kakakku main kereta api mainannya, tapi aku heran kenapa ia sering berteriak di depan mukaku saat aku memegang mainannya.

Aku pun suka mengikuti apa yang dilakukannya. Saat ia masuk ke dalam keranjang baju, aku pun mengikutinya… hingga keranjang itu terguling bersama tubuhku diiringi jerit tangisku.

Tapi aku tak pernah menyerah dengan apa yag kumau. Aku menjerit kencang jika keasyikanku diganggu, termasuk keasyikanku ngempeng sama ibu.

Aku juga suka binatang loh. Tawaku mengembang kalau lihat kucing, ayam, burung bertengger di depan rumah. Sering aku ingin memanggil mereka, tapi aku masih belum mahir bicara. Sehingga isyarat tangan saja kuarahkan pada mereka.

Demikian perkenalan singkatku. Doakan aku ya agar jadi anak pintar, sehat, dan sholeh… amiiin.

Bermain di Perpus DKI

Setelah membaca serunya kisah Bu Retno berkunjung ke Perpustakaan Daerah Provinsi DKI Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM) tempo hari, saya pun bertekad kesana suatu hari nanti. Dan suatu hari itu adalah Selasa (9/6) kemarin. Kebetulan sepupu saya dari Kediri beserta anak-anaknya berkunjung ke Jakarta. Maka kemarin kami sepasukan bermain kesana. Berikut keseruan kami semua di sana 😉

Hari ini Setahun Lalu

Ibu, Mas Kai, dan Dedek Qudsi di RS Harapan Bunda

Ibu, Mas Kai, dan Dedek Qudsi di RS Harapan Bunda

Hari ini setahun lalu kau meluncur dari perutku

Puji syukur pada-Nya kau lahir dengan mudahnya

Seolah kau tahu ‘derita’ ayah ibumu kala itu.

wpid-img_20140602_071015.jpg

New born Qudsi

Hari ini setahun lalu

Allah kirimkan hadiah buat kami

kado terindah untuk kami,

penyejuk mata kami,

penghilang peluh dan penat kami,

sumber kerinduan kala kita terpisah jauh seharian.

Selamat ulang tahun Qudsiku sayang

Semoga Allah senantiasa merahmati dan membimbingmu

menjadi hamba-Nya yang taat… amiin.

1 year Qudsi

1 year Qudsi

Kai Takut Sama Eyang

Pagi tadi saya temui Kai duduk di pojokan lemari sambil minum susu UHT cokelat.

Saya (S): Kai kok minum susunya di sini? Kenapa?

Kai (K): (senyum malu-malu)

S: Kai lagi ngumpet?

K: (mengangguk)

S: Kenapa ngumpet? Kai takut?

K: (mengangguk)

S: Takut sama apa?

K: Sama eyang

S: Kenapa takut sama eyang?

K: suka mal(r)ah

S: (speechless) Jadi, Kai minum susu cokelat sambil ngumpet karena takut dimarahi eyang?

K: Iya

S: 😥

Gagal Meeting Sukses Piknik

Sabtu (09/05) kemarin saya berencana menghadiri temu penulis web abiummi.com di seputaran Depok Town Square (Detos). Berhubung tidak ada orang yang bisa dititipi bocah-bocah, maka saya memutuskan membawa serta Kai (4 tahun) dan Qudsi (11 bulan). Lagipula kalau saya libur kerja, bocah-bocah pasti maunya ikut kemanapun ibunya pergi. Apalagi kalau perginya naik kereta, Kai sudah pasti minta ikut 😀

Sabtu pagi yang cerah. Kai dan Qudsi sudah beraktivitas, mulai dari berjemur hingga main sepeda, meskipun belum mandi 😀 Tapi setelah sarapan, Kai paling antusias mandi pagi karena mau ikut naik kereta rel listrik (KRL) ke Stasiun Pondok Cina. Detos memang terletak tak jauh dari Stasiun Pondok Cina.

Singkat cerita, pagi itu setelah Kai dan Qudsi sudah rapi, saya pun menyiapkan tas gembolan. Maklum, membawa balita itu artinya membawa serta perlengkapan makan/minum beserta baju dan popok gantinya. Nah, saat sedang menyiapkan tas gembolan itulah saya tersandung kaki kursi. Rasa sakitnya membuat saya meringis seketika. Ingin rasanya rebahan saja, namun mengingat janji yang sudah kadung saya buat, maka saya abaikan rasa sakit itu. Dengan sedikit terpincang-pincang, saya lanjutkan mengemasi tas, lalu menggendong Qudsi yang bobotnya 10 kg.

Kai di KRL menuju St Pd Cina

Kai di KRL menuju St Pd Cina

Sampai di Stasiun Pondok Cina sekitar jam 11 lewat. Saya duduk agak lama di kursi peron, karena kaki mulai cenut-cenut. Saya baru tahu kalau lokasi pertemuan dipindah ke Sawangan setelah whatsapp-an dengan empunya hajat. Itu artinya, kami harus meneruskan perjalanan sampai Stasiun Depok Baru dan berjalan kaki ke terminal Depok yang dilanjutkan dengan naik angkot dan berjalan kaki lagi. Dengan kaki yang mulai cenut-cenut, saya agak ragu. Namun saya akan mengusahakan sampai di tempat.

“Ibu, Kai mau makan di danau,” pinta Kai.

Saya memang merencanakan ‘piknik’ di pinggir danau UI sambil anak-anak makan siang. Lokasi danau UI memang tak jauh dari Stasiun Pondok Cina.

Kai & Qudsi bergaya di pinggir danau UI

Kai & Qudsi bergaya di pinggir danau UI

Meskipun piknik ala kadarnya–karena lupa bawa alas duduk :p –tapi Kai dan Qudsi tampak hepi. Berkali-kali Qudsi menggaruk-garuk tanah dengan sendok. Kai juga bolak-balik memperhatikan semut-semut yang keluar masuk tanah, sehingga pertanyaannya tentang semut dan tanah bermacam-macam. Ternyata hikmah lupa bawa alas duduk adalah anak-anak jadi kreatif hehehehe… #ngeles 🙂

mejeng dulu yaa :)

mejeng dulu yaa 🙂

Usai makan, kami sholat zuhur di Masjid UI yang letaknya di pinggir danau. Air wudhu benar-benar menyegarkan di siang yang terik hari itu. Tapi usai wudhu, PR besar buat saya yang harus naik tangga sambil menggendong Qudsi dengan kaki pincang. FYI, tempat sholat perempuan ada di lantai dua 😦

Usai sholat, saya baru menyadari kaki saya bengkak! Akhirnya saya menyerah. Saya tidak sanggup menghadiri pertemuan di Sawangan 😦 hix.. hix… Maka setelah leyeh-leyeh di masjid, kami memutuskan untuk pulang. Namun sebelum pulang Kai minta dibelikan minum, karena bekal minum kami habis tapi tenggorokan rasanya masih hauuuus banget karena cuaca yang panas terik.

Memang manusia hanya bisa berencana yah, Allah SWT yang menentukan. Qodarullah hari itu saya gagal meeting, tapi ‘sukses’ piknik seadanya dengan kaki pincang. Qodarullah juga pulangnya langsung didatangi tukang urut, karena tetangga melihat saya jalan pincang dan langsung inisiatif manggil ‘Nek Muna’.

Alhamdulillah setelah diurut sudah lebih baik meskipun masih agak sakit. Semoga bisa segera normal dan kembali mengejar kereta 😀 amiiin…

Kai Mau ke Ka’bah Naik Pesawat

Jadi ceritanya yah… pasca disunat tempo hari, alhamdulillah Kai dapat banyak amplop–beserta isinya tentu saja–dari para tetangga, saudara, dan handai taulan. Panen nih Kai hihihi… Terima kasih yah buat om, tante, bude, pakde, dan eyang-eyang yang sudah berbaik hati 🙂 Dan tahukah saudara-saudara, apa celetukannya saat ‘panen’ ini?

“Kai mau ke Ka’bah ya naik pesawat, kan duitnya udah banyak,” ujar Kai ringan.

“Tapi duitnya belum cukup buat ke Ka’bah, Kai,” ujar saya.

“Kan duit Kai udah banyak,” sergahnya ngotot.

Baiklah Nak, semoga sisa duitnya Allah cukupkan yah untukmu mengunjungi Ka’bah… amiiin.

Entah dapat inspirasi dari mana, bahwa Ka’bah menjadi top of mind Kai saat duitnya banyak. Mungkin juga karena Kai sering saya pertontonkan film animasi “Muhammad The Last Prophet” dan “The Story of Prophet Ibrahim and Ismail“. Atau bisa jadi karena buku cerita “365 Hari Bersama Nabi Muhammad Saw“. Wallahua’lam. Alhamdulillah…

Foto kenangan saat haji tahun 2006. Semoga Allah izinkan kembali mengunjungi Baitullah sekeluarga, amiin.

Foto kenangan saat haji tahun 2006. Semoga Allah izinkan kembali mengunjungi Baitullah sekeluarga, amiin.

Anyway, selepas celetukannya itu, saya jadi terinspirasi untuk berumroh sekeluarga. Mimpi yang agak nekat yah hehehe… Ya iyalah nekat, wong buat umroh satu orang aja duitnya belum ada… Lha ini mau sekeluarga lagi?! Mimpi boleh kaan? Mumpung gratis 🙂

Melihat kondisi keuangan saat ini yang rasanya mustahil berumroh sekeluarga membuat hasrat lama saya kembali bergelora, yaitu umroh backpacker 😀 Semoga bapaknya bocah-bocah juga ikut tertantang yaahh 🙂 Dan saya merasa makin yakin setelah beberapa hari kemarin membaca sejumlah blog orang-orang yang telah menjalani umroh backpacker ini.

Ya Allah, ridhoilah keinginan hamba-Mu ini. Izinkanlah keinginan hamba-Mu ini terwujud… amiiin Ya Robbal’alamin. Labaiikallahumma labaik… Labaiikallasyarika labaiik…

Saat Kembali Ditinggal Bekerja

Ketika menghitung hari seiring berakhirnya masa cuti melahirkan, rasanya sediiiih banget plus khawatir. Sedih karena gak bisa lagi seharian penuh bersama anak-anakku tercinta. Khawatir kalau-kalau Kai tantrum melihat saya pergi ke kantor, apalagi di hari-hari menjelang saya bekerja, Kai masih belum mau ditinggal sebelum berbaris dan masuk kelas bersama. Rasa khawatir juga jika si kecil Qudsi rewel tidak dibuai ibunya dan harus minum asi perah (asip) dari botol.

Jujur, kegusaran tersebut membuat saya sempat stress di hari-hari menjelang saya kembali bekerja, ditambah lagi ART yang biasa datang setiap hari menyatakan tidak bisa datang di hari pertama saya masuk kantor. Hal ini membuat saya tambah tidak bisa tidur malam sehingga saya hanya bisa mohon sama Allah agar dilancarkan dan dimudahkan segala urusan dengan cara yang damai.

Maka ketika hari pertama kembali bekerja pada 4 September lalu, saya cuma bisa pasrah… La hawla wa la quata illabillah. Saya pun meninggalkan Qudsi bersama eyangnya (ibu saya. Red) dengan stok asip di freezer beserta botol-botol dot yang sudah disteril. Saya juga meninggalkan Kai bersekolah. Namun di hari pertama saya ngantor, Kai bersama ayahnya mengantarkan saya ke stasiun naik motor. Kami berpisah di pintu stasiun. Lalu mereka menuju TK Mutiara.

Cemas berkecamuk di pikiran saya. Namun menurut penuturan suami saya, Kai happy happy saja ditinggal ayahnya. Dengan riang gembira ia main perosotan bersama teman-temannya. Alhamdulillah… 🙂

Kai bersiap ke sekolah :)

Kai bersiap ke sekolah 🙂

Semakin lega hati ini ketika siang hari dapat sms dari ibu saya, bahwa Kai dan Qudsi tidak rewel. Kai mau pulang dijemput ojek langganan. Bahkan Kai membantu eyangnya selama di rumah, mulai dari memasukkan baju yang sudah kering ke dalam lemari, sampai makan sendiri tanpa disuapi. Alhamdulillahirabbil’alamiin. Makin berseri hati ini ketika petang hari pulang ke rumah disambut riang sang buah hati di muka pintu… Masyaallah 🙂

Ternyata ketakutan dan kekhawatiran itu hanya ada dalam pikiran kita. Sebaik-baik Penjaga, Pengasuh, dan Perawat anak-anak kita adalah Allah SWT, karena mereka adalah milik-Nya. Kita, orang tua mereka, hanya dititipi-Nya. Dan sebagai orang yang dititipi tak jarang kita lalai.

Ya Allah, semoga kami tak pernah alpa dari menyertakan-Mu dalam mengasuh dan membesarkan anak-anak kami. Amin.

Mendadak Sekolah

Jadi ceritanya kami sama sekali tidak berniat menyekolahkan Kai di sekolah formal tahun ini. Kami hanya berniat mencari kegiatan terarah yang positif untuk Kai agar ia gak melulu isengin adeknya yang baru lahir 🙂

Gara-gara melihat anak tetangga (5th) yang mulai bersekolah TK B, Kai (3,5 th) menyatakan diri ingin bersekolah seperti temannya itu.

Singkat cerita, di hari ketiga di tahun ajaran 2014/2015, Kai bersama saya meninjau TK dekat rumah tempat anak tetangga sekolah. Di hari ketiga anak-anak masuk sekolah, kami sama sekali tidak berniat mendaftar. Tapi Kai terlihat sangat terpesona dengan sekolah ini, terutama dengan perosotan dan ayunannya 🙂

Sesaat sebelum jam masuk kelas, saya ngobrol dengan kepala sekolah. Ternyata TK tersebut menerima murid usia 3,5 th untuk kelas A. Kebetulan juga jumlah murid di kelas A belum mencapai kuota, sehingga pendaftaran masih terbuka. Sang kepala sekolah juga mempersilahkan Kai mengikuti pelajaran di kelas A sesuka hatinya (semacam trial gitu).

Saya pikir Kai akan bosan dan segera minta pulang. Di luar dugaan, ia senang sekali dan tidak mau pulang. Bahkan ketika jam pelajaran usai, ia masih menunggu anak tetangga di kelas B yang pulangnya setengah jam lebih lama dari kelas A. Subhanallah…

image

Berbaris sebelum pulang

Akhirnya di rumah, setelah diskusi dengan suami dan eyangnya Kai, kami memutuskan untuk menyekolahkan Kai di TK tersebut. Maka, jadi deh Kai anak sekolahan dadakan. Ketika teman-teman sekelasnya pakai tas dan sepatu baru, Kai pakai tas dan sepatu seadanya. Tapi itu bukan masalah buat Kai 😀

image

Makan bersama di kelas

Katanya Mau Homeschooling?

Sebelumnya saya pernah posting tentang homeschooling (HS). Jauh hari sebelum menikah, saya sudah tertarik dengan HS. Kini setelah berkeluarga, kami berniat (bahkan sudah?) menjalankan HS.

Emang sih, HS ini sifatnya sangat cair, sehingga sangat fleksibel dalam menjalankannya. Bahkan sebenarnya bayi baru lahir pun menjalani HS. Coba pikir, apakah bayi2 itu ‘sekolah’ untuk bisa jalan, bicara, berbahasa, makan, dll? Itu sebabnya saya tidak pernah memaksa anak untuk sekolah–dalam artian sekolah formal–, apalagi di usia pra sekolah.

Meski begitu, HS bukan berarti anti sekolah loh. Banyak para pelaku HS yang menyekolahkan anak mereka di lembaga pendidikan. Bedanya, para HSers tidak pasrah bongkoan pada kurikulum dan pengajaran yang ada di lembaga pendidikan tersebut. Mereka pro aktif, sehingga anak mereka mendapatkan pengajaran dan pelajaran sesuai kebutuhan masing-masing.

So, bagi kami, bersekolahnya Kai di TK adalah bagian dari HS. Semoga Kai mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan fitrahnya, minatnya, dan bakatnya… Amiiin.

Kronologi Kelahiran Putra Kedua Kami

Jakarta, 1 Juni 2014
10:00: Saya, Kai, suami (sedang pincang krn kecelakaan motor), bersiap2 berangkat ke tukang urut ahli patah tulang di Cibubur rekomendasi teman
10:30: Saya kembali mendapati noda darah bercampur lendir di pakaian dalam disertai kontraksi & mules ringan tak teratur (kontraksi palsu)
11:00: Nyegat taksi setelah memutuskan check kondisi kehamilan ke RS Harapan Bunda terlebih dulu sblm ke tukang urut.
11:30: Sampai di RS langsung menuju ruang bidan jaga & langsung direkam jantung bayi dan periksa dalam
12:00: Detak jantung & gerak bayi normal dan sudah pembukaan dua. Sedianya saya dibolehkan pulang, tapi karena ada riwayat melahirkan cepat–kurang dari 3 jam–wkt anak pertama, maka saya disuruh menunggu 2 jam utk dicek pembukaan lagi.
13:30: Periksa dalam. Masih pembukaan dua.
13:53: Mulai merasakan mules teratur 4 menit sekali dan segera mencatat sendiri waktu2 mulesnya di HP
14:10: Setelah lapor ke dokter kandungan by phone ttg pembukaan saya, para bidan menyarankan saya pulang. Tapi saya segera lapor ttg mules teratur sambil menunjukkan catatan menit2 mules yg saya rasakan.
14:16: Bidan kembali observasi ttg mules teratur yg saya laporkan utk kemudian disampaikan ke dokter kandungan.
14:30: Saya tdk diperbolehkan pulang dan langsung direkomendasi rawat inap
16:15: Mulai terasa ingin mengejan. Ternyata sudah pembukaan 7.
16:20: Dibawa ke ruang bersalin
16:40: Pembukaan 9
16:55: Alhamdulillah lahir ke dunia dg selamat & sehat putra kedua kami lewat persalinan normal dibantu para bidan (dokter kandungan msh otw di jalan. Red) dg BB 2,8 kg TB 46 cm.
17:00: IMD sambil diazani suami
18:00: dokter kandungan sampai di ruang bersalin utk membantu kelahiran plasenta dan melakukan ‘jahit-menjahit’.

Yah… demikianlah… Allah punya rencana. Alhamdulillah 🙂

image

Welcome to the world dede Qudsi!

image

Kai resmi jadi kakak 🙂

PS. Lalu bagaimana nasib suami saya yg otomatis batal ke tukang pijit di Cibubur? Alhamdulillah Allah menunjukkan takdirNya dg mempertemukan suami dg tukang pecel ayam RS Harapan Bunda yg ternyata ahli pijat dari Malingping, Banten. Alhamdulillah dg izin Allah, dua kali dipijat suami sudah bisa menapakkan kedua kakinya.

Dekapan

Image

new born Kai 3 years ago

Pagi tadi

saat hendak berangkat

di hari terakhir masuk sebelum cuti persalinan

tiba-tiba kau peluk aku erat

“Ibu jangan ke kantol(r)”

 

Aku hanya balas memelukmu erat

kudekap tubuh mungilmu

kukecup dahi dan pipimu

 

Subhanallah…

Badanmu, kepalamu, tanganmu…

Dulu masih seukuran dekapanku

Cepat sekali kau tumbuh, Nak

 

Sebentar lagi, dalam hitungan hari,

akan ada manusia baru

yang mengisi dekapan hati kita, Nak

 

I love you my kids…

Kalianlah kado terindah Ibu dan Bapak

(more…)