Janji Harus Ditepati

image

Pagi kemarin Kai tantrum karena HP saya yang sedang ia jajah saya ambil. Padahal ngambilnya juga udah baik-baik, tapi teteup aja gak diijinin sama si penjajah cilik. Alhasil HP gak jadi saya pakai, tapi teteup donk doi ngamuk gak jelas alias tantrum.

Tantrum di usia 2 – 5 tahun menurut referensi yang saya baca adalah normal adanya. Karena di usia ini anak masih belajar berekspresi dan belum bisa mengendalikan emosi. Selain itu, anak-anak dengan asupan gizi cukup akan melepaskan hormon sorotein (kalo gak salah). Nah, hormon inilah yang menyebabkan ia tantrum.

Menyebalkan memang menghadapi balita tantrum. Ibunya bisa-bisa ikut tantrum juga. Emang kudu banyak dzikir supaya bisa sabaaarrrr. Karena solusinya memang cuma satu kata: SABAR. Demikian menurut pakar psikologi.

Menurut referensi yang saya baca juga, gak berguna marahin atau nasehatin anak sedang tantrum, pun membiarkannya atau mengurungnya. Solusinya adalah dengan memeluknya, mengusap-usap punggungnya, dan sikap-sikap lain yang menunjukkan rasa kasih sayang dan empati dengannya. Mudah? Wow… tentu butuh perjuangan menundukkan ego sebagai orang yang merasa ‘senior’ karena lahir duluan.

Lantas bagaimana dengan Kai? Alhamdulillah tantrumnya mereda saat saya janjikan ia naik bus Tansjakarta. Tentu saja setelah saya elus-elus punggungnya :). Meskipun saya sadar, saat itu kami hendak kondangan sekeluarga siang-siang. Namun janji harus ditepati, kalau tidak nanti dia bisa tantrum lagi karena kecewa.

Saya jadi ingat perkataan Ali bin Abi Thalib RA tentang pengasuhan anak;

Usia 0 – 7 tahun perlakukan ia sebagai raja. Usia 8 – 12 tahun perlakukan ia sebagai tawanan. Usia 12 tahun ke atas perlakukan ia sebagai sahabat.

Seringkali yang membuat anak kita tersenyum bukanlah hal rumit dan mahal. Namun seringkali juga kita yang membuatnya rumit dan mahal. Semoga Allah senantiasa membimbing keluarga kita di jalanNya hingga sampai ke surga… amiiin.

Kronologi Kelahiran Putra Kedua Kami

Jakarta, 1 Juni 2014
10:00: Saya, Kai, suami (sedang pincang krn kecelakaan motor), bersiap2 berangkat ke tukang urut ahli patah tulang di Cibubur rekomendasi teman
10:30: Saya kembali mendapati noda darah bercampur lendir di pakaian dalam disertai kontraksi & mules ringan tak teratur (kontraksi palsu)
11:00: Nyegat taksi setelah memutuskan check kondisi kehamilan ke RS Harapan Bunda terlebih dulu sblm ke tukang urut.
11:30: Sampai di RS langsung menuju ruang bidan jaga & langsung direkam jantung bayi dan periksa dalam
12:00: Detak jantung & gerak bayi normal dan sudah pembukaan dua. Sedianya saya dibolehkan pulang, tapi karena ada riwayat melahirkan cepat–kurang dari 3 jam–wkt anak pertama, maka saya disuruh menunggu 2 jam utk dicek pembukaan lagi.
13:30: Periksa dalam. Masih pembukaan dua.
13:53: Mulai merasakan mules teratur 4 menit sekali dan segera mencatat sendiri waktu2 mulesnya di HP
14:10: Setelah lapor ke dokter kandungan by phone ttg pembukaan saya, para bidan menyarankan saya pulang. Tapi saya segera lapor ttg mules teratur sambil menunjukkan catatan menit2 mules yg saya rasakan.
14:16: Bidan kembali observasi ttg mules teratur yg saya laporkan utk kemudian disampaikan ke dokter kandungan.
14:30: Saya tdk diperbolehkan pulang dan langsung direkomendasi rawat inap
16:15: Mulai terasa ingin mengejan. Ternyata sudah pembukaan 7.
16:20: Dibawa ke ruang bersalin
16:40: Pembukaan 9
16:55: Alhamdulillah lahir ke dunia dg selamat & sehat putra kedua kami lewat persalinan normal dibantu para bidan (dokter kandungan msh otw di jalan. Red) dg BB 2,8 kg TB 46 cm.
17:00: IMD sambil diazani suami
18:00: dokter kandungan sampai di ruang bersalin utk membantu kelahiran plasenta dan melakukan ‘jahit-menjahit’.

Yah… demikianlah… Allah punya rencana. Alhamdulillah 🙂

image

Welcome to the world dede Qudsi!

image

Kai resmi jadi kakak 🙂

PS. Lalu bagaimana nasib suami saya yg otomatis batal ke tukang pijit di Cibubur? Alhamdulillah Allah menunjukkan takdirNya dg mempertemukan suami dg tukang pecel ayam RS Harapan Bunda yg ternyata ahli pijat dari Malingping, Banten. Alhamdulillah dg izin Allah, dua kali dipijat suami sudah bisa menapakkan kedua kakinya.

Jongkok Itu Anugerah

Ternyata bisa jongkok itu anugerah tak terkira. Sebab orang-orang yang bisa jongkok sudah pasti bisa duduk, sementara orang-orang yang bisa duduk belum tentu bisa jongkok. Secara medis pun, dalam beberapa kasus, terbukti posisi jongkok itu menyehatkan (asal jangan terlalu lama. Red).

Untuk melahirkan, posisi jongkok (squat position) disarankan banyak bidan karena memudahkan bayi keluar. Untuk memperkuat otot kaki, ada latihan yang namanya squat jump. Bahkan untuk BAB (Buang Air Besar. Red), posisi yang paling baik adalah jongkok karena lebih lancar keluar. Orang-orang Barat pun kini mulai beralih dari kebiasaan BAB duduk menjadi jongkok. Kalo gak percaya, googling ajah 🙂

Saya pun baru ngerasa bahwa bisa jongkok itu anugerah sekitar seminggu ini ketika saya sulit sekali untuk jongkok. Apalagi di rumah toilet untuk jongkok 😦 Sumpah deh, sengsara banget gak bisa jongkok…. Mulai dari sholat harus terseok-seok, karena tidak bisa menekuk lutut secara ekstrim untuk gerakan duduk antara dua sujud, sampai urusan toilet!!!

Pernah suatu pagi sebelum berangkat ke RS untuk kontrol rutin dokter, saya harus melakukan ‘ritual’ ke toilet, tapi karena situasi tidak memungkinkan, maka saat itu juga saya diantar suami ngebut ke RS yang jaraknya 20 menit dari rumah dengan kendaraan bermotor dan lalu lintas tidak macet. Kebayang dong sepanjang jalan saya seperti orang mau melahirkan yang menahan mengejan. Maka selama menunggu dokter dan antre apotek, saya puas-puasin deh pake toilet duduk di RS. Sampai menjelang pulang pun, tidak lupa ‘meninggalkan jejak’ di toilet RS 😀

Maka kami terpikir untuk mengganti toilet di rumah menjadi toilet duduk. Masalahnya adalah, tidak ada tukang bangunan yang available membantu pemasangan toilet duduk di rumah kami. Kalo beli toiletnya doang mah gampang, tinggal telpon trus dianter. Ya sudah lah…. Atas ide beberapa teman, maka kami pun membuat kursi toilet sendiri. Saya yang menggambar polanya, lalu suami tercinta yang menggergajinya dengan penuh peluh… Love you hunny :*

Image

kursi toilet homemade

Foto di atas diambil oleh suami saya beberapa jam sebelum postingan ini saya tulis alias baru jadi. Yup, baru jadi. So, selama seminggu susah jongkok ini dimanakah saya BAK dan BAB… Apalagi bumil 8 bulan seperti saya yang sering banget beser? Yang pasti selama saya berada di tempat yang ada toilet duduknya, saya akan maksimalkan tuh penggunaan toilet 😀 Pernah beberapa kali ‘terpaksa’ di rumah dengan posisi berdiri. Hehehehe… gak usah dibayangin yah :p

Mungkin ada yang bertanya, mengapa saya susah jongkok? Sebelumnya saya sudah konsul ke orthopedi, dr paru, dr umum, dan besok mau ke internis. Belum diketahui pasti penyebabnya apa. Tapi dugaan dr paru adalah efek samping salah satu obat TB yang sedang saya konsumsi. Rabu (14/05) kemarin sudah diambil sampel darah dan hasilnya insyaallah Jumat (16/05) besok sekalian konsultasi ke internis. Yah…. semoga hasil tes darahnya baik-baik sajah dan semoga segera bisa kembali jongkok seperti semula…. Karena bisa jongkok itu anugerah tak terkira 🙂

(Update tulisan @24/08/2015)

Berhubung postingan ini saya tinggal begitu saja dan tidak saya lanjutkan kisahnya. Maka saya tambahkan endingnya demi kemaslahatan bersama (taelah..)

Setelah tes darah dan konsultasi ke internis, ternyata benar saya menderita “asam urat”. Penyebabnya memang karena saya mengonsumsi obat anti TB (OAT) yang mengandung purin tinggi. Nah, endapan purin dalam darah inilah yang menyebabkan sakit di persendian, seperti lutut, pergelangan tangan, dan tumit.

Dokter hanya menyarankan saya untuk minum banyak air putih untuk mengencerkan endapan purin tadi. Selain itu juga, banyak minum membantu meringankan kerja ginjal yang selama pengobatan TB ini diforsir karena OAT termasuk obat keras. Dokter juga menyarankan saya banyak mengonsumsi sayur dan buah.

Nasihat dokter pun saya jalankan. Namun saat itu kondisi sulit jongkok yang saya alami cukup meresahkan, sampai akhirnya saya mencoba bekam di sebuah klinik herbal di bilangan Condet, Jakarta Timur. Ini adalah pertama kalinya saya bekam. Itu pun niat awalnya hanya mengantar suami yang memang rutin bekam. Karena di ruang tunggu saya bercerita tentang keluhan saya pada terapis bekam, maka ia pun menyarankan saya untuk bekam.

bekam (ilustrasi)

bekam (ilustrasi)

Memang ada beberapa kondisi untuk ibu hamil yang tidak disarankan untuk bekam, antara lain usia kehamilan di bawah 3 bulan dan anemia. Namun karena kondisi kehamilan saya saat itu diluar pengecualian tersebut, maka saya boleh bekam.

FYI, bekam untuk wanita dilakukan oleh terapis wanita. Bekam untuk pria dilakukan oleh terapis pria. Jadi jangan khawatir, aurat Anda tidak akan dilihat oleh yang bukan muhrim 🙂

Pengalaman pertama saya bekam adalah; sakit dan mual!!! Saya bukan termasuk orang yang jijik melihat darah, namun entah mengapa usai bekam dan melihat tempat sampah penuh dengan tisu bekas melap darah kotor membuat saya mual dan mau muntah. Kalau kata terapis bekamnya sih, mungkin karena kondisi saya yang sedang hamil.

Selang satu jam setelah bekam alhamdulillah badan saya terasa jauh lebih nyaman. Dan yang membuat saya terharu, saya bisa duduk diantara dua sujud!!! Subhanallah. 🙂 Memang saya tidak langsung ekstrim bisa jongkok, namun berangsur-angsur saya bisa kembali jongkok. Alhamdulillahirabbil’alamiin.

Selain karena izin Allah SWT, bekam berfungsi mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh. Sehingga endapan purin dll di dalam tubuh pun berkurang. Maka nyeri di persendian jadi berkurang dan gerak tubuh bisa kembali normal.

Saat saya menulis update tulisan ini saya telah selesai menjalani pengobatan TB dan alhamdulillah telah kembali sehat. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kesehatan kita… amiin.