Catatan Mantan Demonstran

Kala itu tahun 2003, saat negri ini dipimpin Megawati Sukarnoputri. Aku ikut turun ke jalan bersama para mahasiswa se- Bandung Raya memprotes beberapa kebijakan pemerintah, terutama kenaikan harga BBM. Kalau tidak salah, massa kami lima ratusan orang.

20190522_100833

Masih segar dalam ingatan, siang itu selepas zuhur kami merapatkan barisan di depan Gedung Sate Bandung. Berkali-kali Korlap aksi mengingatkan kami untuk waspada penyusup dan provokasi. Kami semakin erat bergandengan tangan agar aksi mahasiswa ini tidak disusupi. Kami saling mengingat siapa saja teman di sebelah kanan, kiri, depan, dan belakang kami sambil terus erat bergandengan tangan.

Semakin maju barisan kami mendekati pagar gerbang depan Gedung Sate. Di hadapan kami sudah ada barikade polisi. Di belakang barikade polisi nampak para jurnalis yang lalu lalang. Ada yang sibuk ambil gambar, live report, ada juga yang hanya memperhatikan sambil sibuk menulis. Agak jauh di belakang barikade polisi tampak mobil pemadam kebakaran atau branwier. Di pinggir barikade polisi tampak juga beberapa pria yang turut menonton aksi mahasiswa ini.

Ketika suasana aksi mulai memanas, terdengar teriakan-teriakan provokasi, “Lari! Lari!” Namun kami tetap patuh pada Korlap yang berdiri di mobil sound system untuk tetap berdiri tenang dan merapatkan barisan. Lalu kami sama-sama bernyanyi berulang-ulang, “Hati-hati… Hati-hati… Hati-hati provokasi.” Namun teriakan-teriakan lantang untuk lari itu terus terdengar.

Aku perhatikan teriakan-teriakan itu ternyata berasal dari pria-pria yang tadi berdiri di pinggir barikade polisi. Pria-pria ini kemudian berjalan menyebar dan berusaha membaur (baca: menyusup) dengan kami para mahasiswa. Namun karena kami bergandengan erat, maka mereka sulit masuk.

Tapi ternyata pria-pria ini tidak menyerah. Dengan teriakan-teriakan agresif mereka berupaya membuat kami kocar-kacir. Korlap aksi pun berulang-ulang menyerukan, “Satu komando, satu perjuangan!”

Kami semua patuh berdiri bergeming dengan barisan rapat. Tiba-tiba dari belakang barikade polisi mobil pemadam kebakaran menyemprotkan air ke arah kami. Spontan barisan para mahasiswi yang takut basah agak merenggang. Kesempatan ini terus dimanfaatkan pria-pria provokator itu agar kami tercerai berai. “Lari! Lari!” Teriak mereka. Tapi kami yang ada di pinggir barisan buru-buru bergandengan tangan lagi agar barisan kembali rapat, meskipun tidak serapat sebelumnya, karena di tengah barisan kami, para mahasiswi yang takut basah itu sibuk dengan jaket almamaternya yang basah.

“Lari! Lari!” Provokasi itu terus terdengar lantang. Aku perhatikan, suara itu salah satunya keluar dari mulut seorang pria gondrong berpakaian preman, kulitnya agak gelap dan berperawakan sedang.

Tiba-tiba kami kembali disemproti air. “Aaaiiih…” jerit para mahasiswi takut basah. Maka barisan kami pun kembali renggang. Kesempatan ini kembali dimanfaatkan para provokator. Selang beberapa detik kemudian pria gondrong itu mencabut sebuah pohon kecil yang tertanam di sisi pagar Gedung Sate, lalu melemparkannya ke arah kami sambil terus berteriak agresif. Spontan kami (termasuk aku) yang takut ketimpuk pohon menghindari lemparan pohon. Otomatis kami melepas gandengan tangan dan barisan kami pun kocar-kacir. Dari situlah chaos pun terjadi.

Beruntung aku tidak kena pentung polisi atau semprotan branwier. “Lari.. lari…” itu yang ada dalam pikiranku sambil terus berlari menuju kampus Unpad di Jl Dipati Ukur. Berikut link berita aksi mahasiswa yang sempat aku ikuti:

https://www.google.com/amp/s/nasional.tempo.co/amp/6411/mahasiswa-bandung-demo-istana-menuntut-mega-hamzah-turun

Dua tahun berlalu. Aku lulus dan wisuda akhir tahun 2004. Lepas itu aku bekerja sebagai reporter sebuah radio di Bandung. Dari sinilah aku sering ‘nongkrong’ bareng jurnalis Bandung lainnya di komplek Gedung Sate. ‘Base camp’ kami kala itu adalah tangga masuk gedung DPRD Provinsi Jawa Barat. Maka kami sering disebut “wartawan tangga” πŸ™‚

Saat sedang nongkrong rame-rame di tangga, tiba-tiba mataku terpaku pada sosok pria gondrong yang duduk tak jauh dari kami. Ia tampak sedang asik ngobrol dengan temannya. “Itu kan provokator aksi yang dulu,” batinku.

“Kang, itu wartawan dari media mana?” tanyaku pada akang jurnalis yang lebih senior.

“Sstt… eta mah bukan wartawan, tapi intel,” jawabnya setengah berbisik.

Ooooh…

Tahun demi tahun berlalu. Aku sudah hijrah ke Jakarta. Tak lagi jadi reporter lapangan, tapi di redaksi berita sebuah TV swasta nasional.

Saat itu sedang ramai kasus kopi beracun, yaitu dugaan pembunuhan Mirna Salihin oleh Jesicca lewat kopi vietnam yang sudah diracuni.

Saat sedang menjelajahi lewat internet kantor berita dan foto-foto rekonstruksi dan olah TKP kasus tersebut, tiba-tiba mata saya kembali terbelalak oleh sosok intel gondrong yang pernah menjadi provokator aksi demonstrasi. Sosok itu terlihat sedang membantu polisi dalam olah TKP kasus kopi beracun. Ia nampak memakai kaos ‘Turn Back Crime”.

“Mas, kenal sama orang ini gak?” Tanya saya pada reporter senior yang biasa meliput di kepolisian.

“Aduh… mas siapa ya namanya. Saya lupa.”

“Dia polisi ya?”

“Iya.”

[]

Tantrum Si Calon Kakak

Image

Kai

Kata orang, balita yang menyadari dirinya akan segera menjadi kakak menjadi lebih ‘rewel dan manja’. Saya tidak tahu benar atau tidak, tapi yang pasti saya merasakan itu.

Di usia Kai yang menginjak tiga tahun, saya tengah mengandung empat bulan. Saya sadar, sebagai anak kecil, pasti ada rasa ‘cemburu’ akan kehadiran manusia baru dalam keluarganya. Karena itu saya berusaha sekuat hati untuk tidak menunjukkan rasa sayang yang berkurang pada Kai. Namun entah kenapa belakangan ini ia lebih sering temper tantrum. Meskipun saya sadar, tantrum adalah hal wajar untuk anak seusianya. Tapi saya merasa sejak perut saya membesar, tantrumnya seringkali menguras kesabaran.

Terkadang ketika saya super letih, kesabaran ini terkikis juga hingga lepaslah bentakan saya. Namun ternyata bentakan dan kata-kata bernada tinggi tidak pernah mempan meredakan tantrumnya–bahkan sebaliknya, tantrumnya semakin menjadi. Bahkan pernah ia sampai tertidur karena lelah menangis dan menjerit. Dan ketika saya tatap wajah polosnya yang terlelap…. saya menjadi amat menyesal telah membentaknya. Astaghfirullahalaziim…

Karena itu di kesempatan lain (dan insyaallah seterusnya) saya selalu berusaha menahan diri untuk tidak membentak. Setiap kali Kai menunjukkan sikap tidak korporatif atau tanda-tanda tantrum, saya hanya berusaha istighfar sambil merendahkan ego serendah-rendahnya agar bisa bersikap sabar dan penuh cinta. So far, alhamdulillah cara seperti ini selalu berhasil meredakan dan mencegah tantrum. Ya Allah, semoga saya selalu bisa sabar dan penuh cinta…

Di lain kesempatan, setiap saya hendak bersiap-siap berangkat kerja, Kai selalu bertanya, “Ibu ke kantol gak?”

“Iya, ibu ke kantor,” jawab saya.

“Ibu jangan ke kantol,” ujar Kai spontan sambil memeluk saya, “Kai mau sama ibu…”.

Siapa coba yang gak mbrebes mili coba mendengar ini. Terkadang ritual saya berangkat ke kantor berjalan damai setelah Kai saya sayang-sayang atau saya alihkan perhatiannya. Tapi terkadang juga ritual berangkat kantor harus diiringi dengan tantrum, sampai adegan Kai nekat lari ke jalanan 😦 Hati siapa sih yang gak ngenes menyaksikan pemandangan ini *melow*

Jujur saja, sejak hamil anak kedua ini, saya sering sekali datang terlambat ke kantor. Alhamdulillah teman seruangan saya pada baik-baik–meskipun sebenarnya saya gak enaaak banget sama mereka. Tapi itulah…. setiap hari Kai selalu ‘berulah’ ketika saya mau ke kantor. Dilematis memang, di satu sisi gak enak sama teman kantor, tapi di sisi lain juga iba sama anak sendiri… Dan saya lebih memilih iba padamu, nak….

Nabi Adam itu Monyet?

Siang itu, Bu Natalie menerangkan tentang masa pra sejarah dan sejarah manusia di kelas kami. Setelah selesai menerangkan, beliau membuka sesi tanya jawab. Teman saya pun mengacungkan tangan.

“Bu, katanya manusia berasal dari monyet. Tapi di Bible dibilang, semua manusia itu keturunan Nabi Adam. Berarti Nabi Adam itu monyet ya, Bu?”

Bu Natalie hanya terdiam. “Ada yang bisa jawab?” ia balik bertanya.

Image

bagan teori evolusi Darwin

Sekelas hening, entah karena bingung, mengantuk, lapar, atau pusing. Saya pun diam seribu bahasa karena bingung. Saat itu saya yakin seratus persen dengan teori evolusi Charles Darwin yang juga diajarkan di mata pelajaran Biologi. Namun di pihak lain, pada mata pelajaran Agama Islam, kami diajarkan persis seperti teman kami yang bertanya tadi. Seluruh umat manusia adalah keturunan Nabi Adam as.

Karena tidak ada yang bisa menjawab, Bu Natalie pun angkat bicara. Guru sejarah yang beragama Kristen itu akhirnya menyimpulkan bahwa terdapat dualisme antara ilmu pengetahuan dan agama. Menurutnya, ketika belajar sejarah, maka fakta yang benar adalah manusia berasal dari kera. Sementara ketika belajar tentang wahyu (agama), maka manusia adalah anak keturunan Nabi Adam.

Peristiwa di atas terjadi sekitar 16 tahun lalu, saat saya masih duduk di bangku SMA. Namun kejadian itu tidak pernah terlupa dalam ingatan. Sampai akhirnya ketika kuliah saya membaca dan menonton karya Harun Yahya, “Runtuhnya Teori Evolusi”. Maka saya pun paham, bahwa agama dan ilmu pengetahuan bukanlah hal yang terpisahkan, tidak ada dualisme diantaranya. Lewat paparan dalam karyanya, Harun Yahya secara detil membuktikan bahwa teori evolusi Darwin adalah palsu.

Alhamdulillah ilmu baru ini membuat saya makin yakin bahwa Al Quran itu benar. Dan belakangan ini, ternyata masyarakat dunia pun sudah terbuka wawasannya dan tidak lagi memercayai teori evolusi Darwin. Namun para ilmuwan rupanya tidak hentinya penasaran tentang asal muasal manusia hingga penelitian mutakhir pun dilakukan, termasuk penelitian unsur-unsur kimia yang ada di bumi dan unsur-unsur kimia di luar angkasa lewat batu-batu meteorit yang jatuh ke bumi. Maka baru-baru ini muncul teori baru, yaitu nenek moyang manusia berasal dari alien.

Saya pun terbahak-bahak membaca temuan ini. Ketika ilmuwan di tahun 2013 ini baru bisa membuktikan bahwa manusia berasal dari ‘langit’, 1400-an tahun yang lalu Al Quran telah mengatakan bahwa manusia pertama itu berasal dari surga (baca: langit). Bahkan 3000-an tahun yang lalu Injil dan Taurat telah mengatakan hal serupa.

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga… (Quran Surah Al A’raf: 27)

Sayang saya kehilangan kontak dengan guru sejarah saya di jaman SMA dulu. Kalau ada kesempatan bertemu, saya ingin sekali menyampaikan ini. Semoga saja, pelajaran sejarah di bangku sekolah sekarang ini tidak menyesatkan seperti di jaman saya dulu.

Kai dan PT KAI

Anak kami bernama “Kairo” yang berasal dari kata “Al Qahirah” yang berarti kemenangan. Yup, nama Kairo kami sematkan sebagai nama depannya dengan harapan kelak ia akan menjadi pemenang, baik di dunia maupun akhirat. Toh sejatinya ia adalah pemenang sejak masih berupa embrio, karena telah menjadi satu-satunya sel yang menang diantara jutaan sel sejenis.

Sehari-hari kami memanggilnya “Kai” yang dalam Bahasa Jepang artinya “anak laki-laki” dan dalam Bahasa Hawai berarti “samudera”. Kami suka dengan panggilan itu karena terdengar simple dan artinya dalam. Dan dengan lidahnya yang masih cadel, nama panggilan tersebut dengan mudah diucapkannya.

Seiring bertambah usianya, ternyata kami dapati Kai sangat suka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kereta api, mulai dari lokomotifnya, gerbongya, rel-nya, stasiunnya, sampai pengumuman di stasiun pun dia hafal. Di usianya yang masih 2,5 tahun, Kai sudah bisa membedakan KRL AC dan (almarhum) KRL Ekonomi. Ia juga sudah tahu mana kereta rel listrik (KRL) dan kereta disel.

Image

Kai dan mainan kereta apinya

Saya baru menyadari, bahwa perkeretaapian di Indonesia semuanya dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI), dimana singkatannya sama dengan nama panggilan anak saya “Kai” πŸ˜€

Entah kebetulah atau bukan, wallahua’lam bishawab… yang pasti saya hanya bisa berdoa, semoga dengan kesukaannya itu bisa membawanya menjadi orang berguna bagi ummat dan bangsa ini. Yah… minimal jadi dirut PT KAI atau menteri perhubungan RI… amiiiin ya robbal’alamin πŸ™‚

[Menyapih Kai] Sirih Merah

Setelah gagal menggunakan trik Yupi worm, kali ini saya mencoba sesuatu yang rasanya puahiiit, yaitu daun sirih merah. Rasa pahit tumbuhan herbal yang menjadi obat beberapa penyakit ini telah dibuktikan oleh ibu saya yang doyan berbagai jamu.

Ya, lidah ibu saya sangat toleran dengan berbagai rasa pahit karena seringnya mengonsumsi jamu tradisional. Namun rasa pahit daun sirih merah ini cukup membuat ibu saya melet-melet yang berarti cukup puahiiit sekali.

Setelah membulatkan tekad dan memanjatkan doa, usai mandi saya usapkan dauh sirih merah yang telah diremas-remas ke payudara. Bismillah…

Daun sirih merah tumbuh subur di pekarangan rumah kami

Daun sirih merah tumbuh subur di pekarangan rumah kami

Pagi Hari di Hari Pertama

“Ibu, Kai mau nekke…,” rengek Kai seperti biasa kalau saya sedang libur.

Segera ketika saya duduk, Kai langsung duduk di pangkuan dan meraih daster saya. Gelagatnya berubah setelah merasakan ‘rasa lain’ nekke-nya. Bibirnya mengecap-ngecap aneh. Kai mendesis seperti orang kepedasan.

“Kenapa? Nekke-nya udah gak enak kan?!” ujar saya.

Kai hanya mendesis. Lalu ia meraih nekke yang sebelah lagi dan siap mengisapnya. Gelagatnya tak berbeda dari yang sebelumnya. Ia kembali mendesis. Tak lama kemudian, Kai turun dari pangkuan dan kembali bermain. Ia tampak tidak tertarik lagi untuk nekke. Horee… berhasil…

Sore Hari di Hari Pertama

Sore hari menjelang magrib, ketika kantuknya mulai datang, seperti biasa Kai minta nekke. Dan seperti di pagi dan siang hari tadi, saya sudah siap dengan olesan daun sirih merah. Senyum keberhasilan mengembang di bibir saya. Kali ini Kai pasti emoh nekke lagi.

Kali ini Kai mengendus terlebih dahulu sebelum menghisap nekke. Setelah mengendus, Kai meluncurkan bibir mungilnya untuk nekke. Saya tunggu reaksinya… Kai menghisap dengan tenang. Tidak ada gelagat kepahitan seperti yang ditampakkannya tadi pagi. Saya tunggu lagi… nihil. Oh my God

Pagi Hari di Hari Kedua

Kejadian di pagi hari kedua persis seperti di pagi hari pertama. Kai mendesis dan mengecap-ngecap lidah. Sejurus kemudian Kai tidak meneruskan keinginannya untuk nekke.

Sore Hari di Hari Kedua

Karena pada hari kedua ini saya masuk kantor, maka sepanjang siang Kai tidak nekke. Dan ini tidak masalah buat Kai, karena ia bisa mengalihkan perhatiannya pada hal-hal lain.

Sore hari pun tiba. Sepulang kantor, saya langsung mandi dan kembali mengoleskan daun sirih merah yang telah diremas-remas. Karena ritual selanjutnya biasanya Kai langsung minta nekke begitu saya keluar kamar mandi. Dan benar saja, ketika pintu kamar mandi saya buka, dari kejauhan Kai berseru, “Tuuuh… ibu udah selesai!”

“Sebentar ya Kai, ibu ganti baju dulu,” ujar saya.

Seraya menuju kamar, saya melirik jam dinding. Jam 18:30. Saatnya Kai ngantuk nih. Apalagi sepanjang siang, menurut laporan eyangnya, Kai belum tidur. Memang, balita 2, 5 tahun ini betah melek sepanjang siang.

“Ibu, Kai mau nekke,” rengek Kai.

Baiklah. Saya pun duduk di tempat tidur. Lalu Kai memanjat ke pangkuan saya dan segera menggeledah daster saya. Ibu saya yang melihat dari kejauhan hanya geleng-geleng kepala.

“Emang nekke-nya masih enak, Kai? Kan udah gak enak nekke-nya,” ujar Ibu saya.

“Iya, orang nekke-nya udah gak enak, Kai,” saya menimpali.

Lalu tanpa kami duga, sambil memonyongkan bibir yang siap menghisap, Kai menjawab, “Enak kok nekke-nya. Daun silih Kai doyan.”.

Oh la la… *tepok jidat* 😦

[Menyapih Kai] Yupi Worm

Tidak sedikit yang membelalakkan maupun memicingkan mata ketika tahu Kai masih menyusu di usia 2 tahun 5 bulan. Ada yang takjub, namun ada pula yang nyinyir. “Kan di Al Quran disuruhnya cuma sampai 2 tahun,” ujar salah seorang teman.

Ya saya tahu, tapi nyatanya menyapih Kai tepat di usia 2 tahun tidak semulus paha Cherybelle (loh?)… maksudnya tidak semudah membalikkan telapak tangan πŸ™‚

Saya ingat betul menjelang ulang tahun ke-2 Kai. Saat itu Kai sedang diare dan flu. Amat tidak tega saya dan keluarga menyapih Kai yang sedang sakit. Itu sebabnya saya menundanya sebulan. Nah, kejadian sebulan kemudian itulah persis seperti apa yang saya ceritakan di sini dan sini.

Setelah tangan saya benar-benar pulih dan kondisi kesehatan Kai yang sedang prima, bismillah saya mencoba kembali menyapih Kai. Tentu saja semua saya awali dengan doa dan mohon pertolongan-Nya.

Di usia 2 tahun 4 bulan, saya mencoba tips dari seorang teman yang berhasil menyapih anaknya menggunakan permen Yupi berbentuk cacing. Menurutnya, permen kenyal ini menempel dengan sendirinya di payudara ketika diletakkan. Dan berdasarkan testimoni teman saya ini, anaknya jadi emoh nenen lagi karena jijik melihat ‘cacing’.

permen Yupi worm

permen Yupi worm (cacing)

Saya melakukan persis seperti yang dilakukan teman saya. Ketika kai sedang ‘sakau’ dan minta nekke (istilah Kai untuk nenen. Red), dibalik baju saya telah tertempel ‘cacing-cacing’ itu. Ketika Kai menarik baju saya dan memonyongkan mulutnya, ia terkejut dengan pemandangan tak biasa di hadapannya.

“Ini apa?” tanya Kai.

“Cacing,” jawab saya.

“Cacing ya?” ujar Kai menirukan.

Sejurus kemudian, Kai menarik ‘cacing-cacing’ itu tanpa rasa jijik dan meneruskan keinginannya untuk nekke. 😦

(bersambung)

Low Back Pain & Shalat

Apa hubungannya low back pain dengan sholat? Ada banget!

low back pain

sakit punggung bawah (low back pain)

Dua hari lalu saya mengalami sakit tulang punggung belakang bagian bawah (low back pain) yang luar biasa. Sampai-sampai saya harus sholat sambil duduk. Duduk pun harus diatur sedemikian rupa posisinya, karena sakitnya menjalar sampai ke bokong.

Padahal suami mau berangkat ke Mesir dan Gaza. Mau tidak mau, dia harus packing sendiri perlengkapannya. Pada saat mengantar ke bandara Soekarno-Hatta pun akhirnya saya ditemani ibu, karena saya tidak bisa menggendong Kai yang baru 2 tahun. Gerakan saya pun jadi serba slow motion 😦

Ini pasti gara-gara saya duduk terlalu lama dalam posisi yang tidak benar. Yeah… beberapa hari yang lalu saya bisa duduk 10 jam non stop sehari karena mengerjakan transkrip verbatim FGD (focus group discussion) berdurasi 2,5 jam yang harus selesai dalam dua hari. Sementara, sebagai 8 to 4 worker, sehari-harinya saya kerja di belakang meja mantengin monitor PC. Kebayang kan bagaimana tidak sehatnya aktivitas saya yang lebih banyak duduk diam ketimbang bergerak! Ditambah lagi ngerjain side job mengetik transkrip yang juga mengharuskan saya duduk diam 😦

Tapi dibalik ini semua ini, saya menjadi sangat bersyukur. Lho kok bisa? Yup, karena

ruku

ruku dengan punggung lurus menjadi salah satu terapi low back pain

dengan ‘memaksakan’ diri melakukan gerakan sholat secara normal–tidak sambil duduk–low back pain saya makin lama makin mereda. Memang awalnya sakit banget, terutama ketika ruku dan sujud. Namun dengan memperpanjang waktu ruku dan sujud secara perlahan, low back pain pun perlahan mereda. Alhamdulillah..

Semakin sering saya sholat, semakin mendingan deh ini keluhan. Jadinya, tidak hanya sholat fardhu, berbagai sholat sunnah saya kerjakan. Subhanallah… jadi makin cinta deh sama Allah SWT. Sholat rasanya jadi semakin nikmat. Sambil berdoa pada Allah, sambil terapi gerakan sholat secara perlahan (tuma’ninah), beban/sakit ini rasanya menjadi begitu ringan. Alhamdulillah… Gak percaya? Buktiin sendiri deh πŸ˜‰

Menyapih Kai (Day 1)

Image

Kai bobo’an

18 Januari kemarin Kai tepat 2 tahun. 2 tahun sudah saya memberikan ASI. Kini saatnya menyapih, sesuai perintah Allah dalam Al Quran surah Al Baqarah 233. Meskipun ada sedikit keengganan dalam hati ini, namun ‘perpisahan’ ini harus terjadi (taelah) demi kemaslahatan bersama (halagh).

Awalnya saya memilih metode ‘membiarkan’ Kai sampai ia berhenti dengan sendirinya. Meskipun metode ini agaknya susah diterapkan ke Kai yang galak banget kalau minta “nekke” (istilah Kai untuk menyusu. Red). Ditambah lagi, Kai tidak kenal dot dan botol susu. Sehingga tidak akan ada kompensasi dari kebiasaan menghisap alias ‘mentil’-nya.

Yang pasti, menjelang Kai 2 tahun, saya mengumpulkan berbagai referensi metode dan testimoni penyapihan. Mulai dari ‘membiarkan’, dikasih pengertian, diolesi jamu, sampai dijampi-jampi.

Nah, Hari Senin kemarin officially saya terpaksa memulai penyapihan, gara-gara puting yang sakit, mungkin karena tergigit oleh Kai. Untuk keputusan dadakan ini mustahil menggunakan metode ‘membiarkan’. Maka saya memilih memberi pengertian dan diolesi jamu.

“Kai sudah besar sekarang, sudah dua tahun, jadi gak nekke lagi yah,” ujar saya. Entah Kai paham atau tidak karena tidak menunjukkan reaksi apapun. “Nekke Ibu nanti habis lho, gak keluar susu lagi.,” lanjut saya.

Nekke aja, Ibu,” rengek Kai minta menyusu.

Nekke nya udah gak enak,” ujar saya lagi.

“Udah gak enak…” tiru Kai. “Nekke aja, Ibu,” rengek Kai lagi sambil menggeledah daster saya mencari nekke.

Saya hanya membiarkan Kai mencari nekke yang diam-diam sudah saya olesi rendaman bawang putih dan minyak zaitun. Begitu mulut mungilnya hendak menyusu, tiba-tiba terhenti karena mencium aroma bawang putih dan minyak zaitun.

“Nasi goreng…,” ujar Kai.

(BERSAMBUNG…)

Klasifikasi Social Media Saya

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, ngenet seolah menjadi keharusan. Selain sebagai sumber informasi, ngenet juga punya fungsi untuk ‘gaul’. Itu sebabnya banyak banget bermunculan fasilitas sosial media (sosmed) di dunia maya, mulai dari facebook, twitter, multiply, wordpress, goodreads, blogspot, tumblr, pinterest, dll.

Saya sendiri, yang awalnya mau tetap setia ngeblog dan menjalin silaturahmi di multiply. Namun karena peruntukan tiap-tiap sosmed ini beda-beda, maka tidak bisa saya tune in di satu sosmed saja. Apalagi multiply sebentar lagi menutup fasilitas blogging dan sosmednya. Alhasil, saya pun punya berbagai akun sosmed di dunia maya yang masing-masing peruntukannya berbeda-beda. Berikut klasifikasinya:

https://mbakje.wordpress.com buat ngeblog

http://www.facebook.com/jatining buat eksis dan gaul

http://mbakje.multiply.com buat jualan karena ongkir gratis πŸ˜€

https://twitter.com/mbakjeΒ buat ngecek info lalin dan update isu

http://www.goodreads.com buat update info buku

http://pinterest.com buat inspirasi

Bagaimana dengan Anda ? πŸ™‚

Jadi binguuuung!!

Sama seperti Kak Ogie, Tya, dll… awalnya niat pindah dari multiply (MP) ke blogspot. Pertimbangannya karena blogspot dimiliki oleh Google. Jadi kalo posting-posting lebih simple gitu karena tandem sama gmail, google+, dan facebook. Tapi sayangnya pada saat itu susah and ribet untuk impor blog dari MP ke blogspot. Dan karena pada saat itu impor blog dari MP ke Word Press (WP) berjalan muluss…. maka jadilah aku menempati rumah baru di home page ini.Image

Tapiii……… Setelah pihak MP membuat transfer tool untuk impor blog beserta review, recipe, notes, agenda, dan album foto. Barusan sukses impor blog ke http://jatining.blogspot.com!!! Jiyaaaah…. tambah bingung dah mau nentuin ‘rumah’ mana yang bakal menjadi rumah utama πŸ˜₯