Ngedapetin Ijazah itu Gampang, Jendral!

Pendidikan hari ini seolah mengejar ijazah semata. Keilmuan seseorang diukur dari lembaran-lembaran ijazah yang diperolehnya. Belum disebut ‘pakar’ apabila belum bersekolah di sekolah tertentu dan mendapatkan gelar tertentu.

Yang lebih sinting lagi, tidak sedikit oknum yang hanya mengejar ijazah semata tanpa perlu sekolah. Mereka rela mengeluarkan jutaan rupiah demi selembar ijazah, hanya demi karir mereka entah sebagai PNS, dosen, wakil rakyat, dll. Tak heran jika negeri ini dipimpin orang-orang sinting.

Wahai orang yang bersekolah, sesungguhnya mendapatkan ijazah itu gampang banget! Karena itu, rugilah Kamu jika sekolah hanya mengejar ijazah, tapi tidak dapat menggali ilmu!

Pada postingan sebelumnya di blog ini beberapa tahun lalu, saya pernah berkisah ketika saya menjadi orang tua asuh anak putus sekolah. Ia putus sekolah karena drop out, akibat sering bolos, sehingga nilainya kosong. Ia pernah diberi kesempatan kedua oleh pihak sekolah, mengingat ia adalah anak yatim dari keluarga kurang mampu. Namun kesalahan yang sama berulang, hingga DO jadi keputusan yang tidak bisa ditawar.

Tahun berganti, si anak beranjak 16 tahun, namun hanya ijazah SD yang ia punya. Tentu saja hal ini karena ia DO saat kelas 2 SMP. Akibatnya, ketika ia hendak melemar kerja, tak satupun lowongan kerja yang melirik ijazah SD.

Hal inilah yang saat itu menggerakkan hati saya untuk membantunya mendapatkan ijazah SMP lewat program Kejar Paket B di sebuah PKBM Negeri di Jakarta Timur. Karena sudah lama tidak bersentuhan dengan buku pelajaran, maka saya ikutkan ia pada bimbingan belajar yang diselenggarakan oleh PKBM tersebut. Waktu belajarnya tidak seperti sekolah yang tiap hari harus datang. Untuk bimbingan belajar Kejar Paket B, setiap hari Rabu jam 1 – 2 siang.

Sadar menjadi orang tua asuh anak ‘bermasalah’, saya mohon kerjasama yang baik dengan kepala sekolah dan wali kelasnya. Karena saya tak mungkin mengawasinya 24 jam, apalagi saat itu saya bekerja di kantor alias 9 to 5 person.

Lima bulan berlalu. Wali kelasnya menghubungi saya. Ternyata absensi anak ini kosong alias tak pernah hadir bimbingan belajar. O-oh… Tentu saja saya tak tinggal diam. Saya datangi anak itu di rumahnya. Dengan sedikit ‘ceramah’ sambil ditemani ibunya yang bekerja serabutan menyetrika dari rumah ke rumah, saya memintanya untuk rajin datang ke bimbingan belajarnya.

Singkat cerita, UN tiba. Wali kelasnya kembali menelpon saya.

“Bu, kok UN kemarin Faldo tidak datang?”

“Apaa?? Jadi Faldo tidak ikut ujian, Pak?”

“Iya bu. Tapi masih ada kesempatan UN susulan besok, bu.”

Hari itu juga sepulang kantor saya datangi rumahnya. Saya sampaikan bahwa besok harus datang ke PKBM jam 8 pagi untuk ujian.

Keesokan paginya, setelah mengantar anak sulung saya ke TK, saya mampir ke rumah Faldo untuk memastikan anak itu sudah berangkat. Tapi olalaaa… Ternyata anak ini masih tidur!!! Padahal sudah jam 8 pagi!

Ibunya yang sudah angkat tangan meminta saya untuk membangunkannya. Sedikit rikuh saya masuk kamar anak bujang. Tapi mau bagaimana lagi.

Singkat cerita, ia bergegas mandi. Saya terus menungguinya, hingga mengantarnya sampai ke PKBM demi memastikan ia benar-benar ikut ujian.

Saat bertemu wali kelasnya, saya memohon maaf atas kelalaian yang terjadi. Dan ternyata wali kelasnya pun menyampaikan bahwa selama ini Faldo tak pernah datang bimbingan belajar. Lantas bagaimana ia bisa menjawab soal-soal ujian itu, pikir saya.

Saya melihat anak itu mengerjakan soal-soal ujian dari kejauahan. Rupanya ia mengandalkan kancing untuk menjawab soal pilihan bergada alias “ngitung kancing”.

“Biarin deh nih anak kalo gak lulus, gak dapat ijazah juga gak papa,” gumam saya kesal.

Dan bagaimana hasilnya saudara-saudara? Ternyata anak ini lulus ujian dong -_- ! Dan tentu saja mendapatkan ijazah SMP.

Jadi, buat dapat ijazah itu gampang, Jendral! []

Asing dengan Anak Sendiri

Saat kuliah dulu, saya pernah berkunjung ke rumah dosen saya bersama teman-teman kampus. Di rumahnya saya bertemu istrinya yang juga mengajar di kampus saya dan anak-anaknya yang saat itu masih balita dan SD.

Yang saya tahu, pasangan dosen ini merupakan lulusan-lulusan terbaik kampus kami. Selain mengajar dan membimbing skripsi, mereka juga memegang jabatan di kampus, jadi bisa dibayangkan kesibukan pasangan ini. Anak mereka yang SD juga terlihat smart.

Yang menarik perhatian saya adalah si balita yang masih belum jelas bicaranya. Berkali-kali ia menangis frustasi karena tidak ada satu orang pun di rumah itu yang mengerti kata-katanya.

Di lain waktu, saya berkunjung ke rumah kakak sepupu saya yang sudah lama tak bertemu karena tinggal di luar kota. Ia punya dua balita (5 dan 3 tahun). Kakak sepupu saya ini IRT full.

Anak pertamanya sangat lancar dan jelas bicaranya, namun anak keduanya hampir tak pernah saya dengar suaranya. Jika ia menginginkan sesuatu, ia menggunakan isyarat tubuhnya. Ajaibnya, sang ibu paham apa yang dimau anak bungsunya itu. Bahkan saat si anak diam saja, sang ibu tahu betul apa yang harus dilakukannya, sehingga tak sempat terjadi tantrum.

Saat itu sempat saya menduga bahwa si bungsu mengalami delay speech. Alhamdulillah setelah bertemu setahun kemudian, si bungsu sudah mahir bicara meskipun cenderung pendiam dan tidak se-‘bawel’ kakaknya.

Hikmah yang saya petik dari dua pengalaman di atas; kuantitas waktu dengan anak itu sangat penting. Bukan sekedar untuk ‘meluangkan’ waktu bermain dengan mereka, tetapi untuk mengenal dan memahami mereka, seperti apa karakter mereka, bagaimana mereka bersikap atas sesuatu, bagaimana mereka memecahkan masalah.

Mungkin tidak sedikit dari para orang tua bekerja yang kuantitas waktu bersama anaknya relatif sedikit. Karena itu waktu bersama anak harus berkualitas. Matikan HP atau gadget saat bersama dengan anak jika tidak mau asing dengan anak sendiri!

img_20130421_093645

Kebersamaan dengan anak sangat penting agar orang tua mengenal karakter anaknya

Al Fathihah Kai

Alhamdulillah my 2 year old son, Kai, has remembered surah Al Fathihah.
Praise to Allah!