Asing dengan Anak Sendiri

Saat kuliah dulu, saya pernah berkunjung ke rumah dosen saya bersama teman-teman kampus. Di rumahnya saya bertemu istrinya yang juga mengajar di kampus saya dan anak-anaknya yang saat itu masih balita dan SD.

Yang saya tahu, pasangan dosen ini merupakan lulusan-lulusan terbaik kampus kami. Selain mengajar dan membimbing skripsi, mereka juga memegang jabatan di kampus, jadi bisa dibayangkan kesibukan pasangan ini. Anak mereka yang SD juga terlihat smart.

Yang menarik perhatian saya adalah si balita yang masih belum jelas bicaranya. Berkali-kali ia menangis frustasi karena tidak ada satu orang pun di rumah itu yang mengerti kata-katanya.

Di lain waktu, saya berkunjung ke rumah kakak sepupu saya yang sudah lama tak bertemu karena tinggal di luar kota. Ia punya dua balita (5 dan 3 tahun). Kakak sepupu saya ini IRT full.

Anak pertamanya sangat lancar dan jelas bicaranya, namun anak keduanya hampir tak pernah saya dengar suaranya. Jika ia menginginkan sesuatu, ia menggunakan isyarat tubuhnya. Ajaibnya, sang ibu paham apa yang dimau anak bungsunya itu. Bahkan saat si anak diam saja, sang ibu tahu betul apa yang harus dilakukannya, sehingga tak sempat terjadi tantrum.

Saat itu sempat saya menduga bahwa si bungsu mengalami delay speech. Alhamdulillah setelah bertemu setahun kemudian, si bungsu sudah mahir bicara meskipun cenderung pendiam dan tidak se-‘bawel’ kakaknya.

Hikmah yang saya petik dari dua pengalaman di atas; kuantitas waktu dengan anak itu sangat penting. Bukan sekedar untuk ‘meluangkan’ waktu bermain dengan mereka, tetapi untuk mengenal dan memahami mereka, seperti apa karakter mereka, bagaimana mereka bersikap atas sesuatu, bagaimana mereka memecahkan masalah.

Mungkin tidak sedikit dari para orang tua bekerja yang kuantitas waktu bersama anaknya relatif sedikit. Karena itu waktu bersama anak harus berkualitas. Matikan HP atau gadget saat bersama dengan anak jika tidak mau asing dengan anak sendiri!

img_20130421_093645

Kebersamaan dengan anak sangat penting agar orang tua mengenal karakter anaknya

Advertisements

Jelajah Hutan Bakau PIK

Libur lebaran kemarin gak klop rasanya kalau gak berwisata sama keluarga, apalagi kami gak mudik. Tapi nyari tempat wisata yang gak rame pun rada mustahil yak, secara hampir semua orang pergi berwisata.

Jadilah kami googling tempat tujuan wisata yang masih belum populer di bilangan Jakarta. Selain itu, kami juga  mempertimbangkan lokasi yang tidak jauh dari RSUD Cengkareng, karena mau sekalian jenguk keponakan yang baru melahirkan. Maka terpilihlah Hutan Konservasi Mangrove a.k.a. Taman Wisata Alam (TWA) di Pantai Indah Kapuk (PIK).

Perjalanan super lancar menggunakan taksi lewat tol Bandara Soetta keluar di pintu Tol PIK. Perdana nih pake app Grab Taxi. Simple and cepet juga loh responnya. Jadi gk perlu panas-panasan nunggu taksi pinggir jalan. Taksinya juga bukan merk ecek-ecek loh;).

TWA PIK ini berada persis di belakang Sekolah Budha Tzu Chi. Gak usah takut nyasar, ada penunjuk arahnya kok.

Tiket masuk pengunjung Rp 25,000 per orang. Anak-anak tidak dihitung alias gratis. Parkir motor dan mobil nambah lagi, tapi saya gak tahu berapa secara kami gak parkir karena pake taksi yah.

Meskipun ramai pengunjung, alhamdulillah gak seramai Ancol atau Ragunan yang sampe bikin macet jalan. Mungkin karena tempat ini belum populer. Terbukti dari pertanyaan sopir taksi yang mangkal di depan Budha Tzu Chi, “Di belakang situ ada perkampungan ya, kok rame?” 😆

Anyway, kegiatan yang bisa dilakukan di sini macam-macam, antara lain jalan kaki menyusuri hutan sambil menikmati pemandangan eksotis. Kalau lagi beruntung bisa lihat burung bangau menyambar ikan atau biawak berenang. Karena eksotisnya, tempat ini sering jadi obyek foto prewed. Malahan kemarin itu banyak banget pengunjung yang selfie pake tongsis.

image

Bayi aja seneng main di sini 🙂

Kalau malas jalan kaki bisa keliling naik perahu motor dengan biaya sewa Rp 400 ribu per perahu kapasitas 8 orang atau Rp 300 ribu per perahu kapasitas 6 orang.

Pemandangan dari perahu motor

Pemandangan dari perahu motor

Ada juga perahu dayung dan kano dengan biaya sewa Rp 100 ribu per perahu dan mendayung sendiri. Kalau mau didayungin kasih tips Rp 50 ribu ke orang yang mendayungkan perahu

image

Bapak ikut mendayung

image

Didayungin Cang Hasan, nelayan lokal

Saran saya kalau datangnya serombongan, mending sewa perahu motor karena bisa mengelilingi seluruh wilayah dalam waktu kurang lebih 45 menit. Atau kalau datang cuma berdua bisa juga patungan dengan orang lain seperti yang saya lakukan kemarin.

Sementara kalau sewa perahu dayung wilayah jelajahnya lebih terbatas dengan durasi waktu yang sama. Kami kemarin mencoba perahu motor dan dayung karena selama di perahu motor Kai tantrum minta naik perahu dayung 😥.

Kegiatan lain yang bisa dilakukan di sini yaitu mengamati burung-burung di menara pengamatan. Sayang kami tidak sempat naik ke menara karena hari menjelang sore. Selain itu, untuk anak-anak ada juga berbagai perangkat mainan untuk motorik kasar, seperti meniti tali, jembatan gantung, dll.

wpid-20150721_115716.jpgUntuk perlengkapan outbound lebih lengkap, seperti flying fox harus menghubungi petugas terlebih dulu dan ada biaya tambahan. Mungkin aktivitas outbound lengkap ini cocok buat mereka yang ingin berkemah di sini.

FYI, tempat ini juga bisa untuk kemah loh. Buat yang ogah tidur di tenda, TWA PIK juga menawarkan bungalow-bungalow untuk menginap. Di beberapa titik juga terdapat aula untuk disewakan.

Jangan khawatir ketinggalan sholat fardhu dengan nyaman saat jalan-jalan kesini, karena terdapat masjid dan beberapa mushola di sini.

Wanna try this place? Why not?!