“Sudah Tobat”

(ilustrasi) sumber foto: MediaIslamNet

(ilustrasi) sumber foto: MediaIslamNet

Beberapa tahun lalu seorang saudara bertamu ke rumah, tepat saat saya baru tiba dari kantor. Dengan senang hati saya menyambutnya, karena kami sudah lama tak bertemu. Buru-buru saya menyiapkan suguhan, tak peduli badan yang berkeringat karena saya belum sempat mandi.

Setelah mengobrol ngalor-ngidul, ujung-ujungnya dia menawarkan produk asuransi (yang katanya) syariah. Al hasil pertemuan malam itu hingga larut, karena ia panjang lebar memaparkan berbagai keunggulan produknya. Perut saya yang mulai keroncongan seolah berteriak-teriak, “Hentikan… Hentikan!”

Sejujurnya ingin sekali saya menghentikan pertamuan malam itu, namun tak mungkin saya ‘mengusir’-nya. Berkali-kali saya melirik jam dinding yang menunjukkan waktu tak lazim untuk bertamu. Lelah dan kantuk pun mulai menyergap, namun saudara saya masih semangat menjajakan produknya.

Inikah strategi pemasaran produk asuransi, pikir saya. Dalam kondisi lelah, lapar, bercampur iba, diharapkan calon konsumen meng-iya-kan semua tawaran sang agen, agar ‘semua’ segera berakhir. Tapi sayangnya saya bukan tipe “yes man”. Saya justru tidak mau memutuskan sesuatu di kala lelah, lapar, dan terdesak.

Singkat cerita, malam itu berakhir dengan permohonan maaf saya. Saudara saya tidak berhasil mendapatkan konsumen. Namun pertamuan malam itu ditutup dengan manis.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya Hari Minggu lalu, saya sekeluarga bertamu ke rumahnya. Ia dan istrinya sedang sibuk melayani pembeli yang hilir-mudik ke warungnya. Sambil mengobrol pun, berkali-kali obrolan kami terinterupsi oleh pembeli yang datang. Rupa-rupanya, usaha warungnya terbilang sukses. Bahkan banyak pihak yang menitipkan dagangan di warungnya itu.

“Masih jadi agen asuransi, Mas?” tanya saya di sela-sela obrolan.

“Sudah tobat!” jawabnya tersenyum lebar. “Saya pernah menawarkan asuransi, terus orang itu jawab, ‘Hidup saya sudah saya asuransikan ke Allah, Mas’. Lha mau jawab apa saya??” kisahnya sambil tertawa.

Masyaallah… 🙂

Alhamdulillah Allah karuniakan kepada keluarga saudara ini rezeki yang barokah lewat usaha warungnya yang laris manis. Bahkan sejak Ramadhan kemarin, warungnya berhenti menjual rokok. Padahal rokok adalah best selling item di warungnya.

“Memang omset sempat menurun beberapa bulan, tapi alhamdulillah Allah ganti dengan yang lain. Sejak sebulan kemarin penjualan beras yang paling tinggi,” cerita istrinya.

Kalau ditanya pembeli kenapa tidak jual rokok lagi, saudara saya menjawab singkat, “Sudah tobat, Pak!” 🙂

Advertisements

Full-Timed Mom VS Working Mom, Mana Lebih Baik?

WorkingMomWorking mom (WM) iri sama full-timed mom (FTM) karena FTM bisa mendampingi penuh masa golden age anaknya. Sementara FTM iri sama WM karena WM punya pnghasilan sendiri tanpa tergantung suami. Di sisi lain ada FTM yg merasa bersalah krn hrs jd WM krn pnghasilan suami tdk cukup utk kbutuhan shari-hari.

So, mana yg lebih baik, FTM atau WM? Apakah Islam mengajarkan WM lebih baik dari FTM atau sebaliknya?

Mari kita tengok rumah tangga Rasulullah & Khadijah. Adalah rahasia umum bahwa Khadijah seorang WM. Ia juga mpekerjakan asisten/khadimat di rumahnya. Lantas, apakah anak2nya menjadi anak durhaka? Tidak tuh. Fatimah binti Muhammad justru menjadi orang yg djamin Allah masuk surga.

Fatimah sendiri setelah menikah mjd FTM tanpa asisten. Bahkan ia sempat menangis krn kelelahan menggiling gandum sendirian utk makan keluarga sambil mengasuh Hasan & Husein. Melihat ini, Rasulullah mnghiburnya, “Sabar ya Fatimah, Allah akan membalas jerih payahmu sebanyak bulir gandum yang kau giling”.

Itulah luar biasanya Islam. Islam membebaskan para ibu untuk memilih jalan mereka masing-masing–mau bekerja atau di rumah saja–sejauh bertanggung jawab pada amanah utamanya, yaitu mendidik anak dengan baik dan menjadi istri yang berbakti.

Memang tanggung jawab menafkahi keluarga ada pada suami. Namun jika istri membantu suami mencari nafkah, maka pahala sedekah baginya bila dilakukan dengan ikhlas. Tentunya suami yang bertanggung jawab tidak lantas leyeh-leyeh pas pulang kerja laah… Suami juga kudu tahu diri dengan membantu pekerjaan rumah tangga. Rasulullah sendiri dengan ringan hati menjahit sendiri terompahnya tanpa minta bantuan istrinya.

Jadi, buat para WM, FTM, dan juga para ayah/suami, berhentilah merasa bersalah dan melihat rumput tetangga lebih hijau. Kita semua dibebaskan Allah untuk memilih kok, tanpa paksaan. Tentu saja setiap pilihan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Daripada ngiri-ngirian, lebih baik kita simak yuk 6 nasihat Luqman Al Hakim pada anaknya

1. Jangan mempersekutukan Allah (31:13),
2. Berbuat baik kepada ibu dan bapak (31:14),
3. Sadar akan pengawasan Allah (31:16),
4. Dirikanlah sholat, amar ma’ruf nahi munkar, dan sabar dalam menghadapi persoalan (31:17),
5. Jangan sombong dan membanggakan diri (31:18),
6. Bersikaplah sederhana dan bersuara rendah (31:19)

Anak Berbakti, Tugas Siapa?

Sudah sebulan lelaki tua itu terbaring di RS akibat stroke, namun tak satupun anaknya yg jauh di rantau datang. Hanya telepon atau sms dari mereka. Itu pun sesekali saja.

Tangis sesal mengambang di mata lelaki tua itu atas pukulan dan sabetan pada anak2nya saat mereka kecil. Sesungguhnya ia melakukan itu karena sayang, namun ekspresi kasih sayang menurut versinya adalah penegakan disiplin ala militer. Walhasil anak2nya tumbuh menjadi anak ‘baik’, tapi rasa sayang pada sang ayah tidak tertanam pada mereka. Bakti mereka pada sang ayah tak lebih dari sungkem setahun sekali saat Idul Fitri. Ironis dg mendiang istrinya saat terbaring di RS. Semua anaknya bergantian menjaganya.

Mengapa anak2nya menunjukkan kasih sayang pada ibu mereka, sementara tidak pada ayah mereka?

Kisah di atas adalah kejadian nyata yang aku saksikan sendiri. Moral of the story:
-Para ayah, ayo ikut mengasuh anak dg penuh kasih sayang, karena ini investasi masa depanmu!
-Ekspresi kasih sayang berupa kelembutan jauh lebih bermakna.
-Menumbuhkan rasa sayang anak pada orang tua memudahkannya menunaikan perintah agama, yaitu berbakti pada orang tua.