Homeschooling dan Kuttab

Pada beberapa postingan sebelumnya, saya pernah mengukuhkan diri untuk menerapkan Homeschooling (HS) untuk anak-anak saya, sebagai alternatif pendidikan (baca: sekolah). Mengapa demikian? Alasannya utamanya karena kita adalah generasi akhir zaman, dan anak-anak kita adalah generasi yang akan berhadapan dengan Dajjal sekaligus mengusung kejayaan terakhir Ummat Islam insyaallah.

kiamat terjadi

Tentu memerlukan waktu yang panjang dan rumit buat kami sebagai orang tua untuk merancang pendidikan seperti apa untuk menyiapkan generasi pemegang kejayaan Islam mendatang ini. Kurikulum seperti apa yang harus dicanangkan untuk mereka. Alhamdulillah Allah memperkenalkan kami pada Kuttab Al Fatih. Saya tidak perlu membahas di sini apa itu Kuttab Al Fatih, silakan klik saja di sini. Singkat cerita, apa yang dicita-citakan Kuttab Al Fatih sejalan dengan cita-cita kami sebagai orang tua. Tentu ini memudahkan kami dalam menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak kami.

Pada akhirnya saya menyebut terminologi “Homeschooling” sebagai antitesis dari “Sekolah”. Mengapa demikian? Karena banyak sekali pendidikan alternatif selain sekolah umum yang kurikulumnya jauh berbeda dengan kurikulum Kemendikbud. Bahkan ada (mungkin) ribuan keluarga dan komunitas yang menyelenggarakan homeschooling di wilayah masing-masing.

Saya bukan anti sekolah atau anti kurikulum Kemendikbud. Justru saya bersyukur karena Kemendikbud mengakui adanya pendidikan-pendidikan alternatif tersebut atau yang sering disebut sebagai pendidikan nonformal. Hanya saja, saya dan suami memilih suatu penyelenggaraan pendidikan yang tidak mubazir, sehingga anak-anak benar-benar belajar hal yang pasti akan ia butuhkan kelak, baik di dunia maupun di akhirat insyaallah.

Lucunya, pendidikan alternatif–yang bisa dibilang anti mainstream–ini peminatnya justru membludak. Wajar sih, karena jumlah tenaga pengajar dan kelas yang masih terbatas. Berbeda dengan sekolah umum yang jumlah guru dan kelasnya sangat banyak dan tersebar dimana-mana. Itu sebabnya, saya tidak kaget ketika anak saya tersisih saat tes masuk Kuttab Al Fatih. Bayangkan saja, kuota murid hanya 48, tapi pendaftarnya mencapai lebih dari 150 orang! Karena itu dalam sebuah status di facebook, saya sempat menulis bahwa kami insyaallah akan menjadi praktisi homeschooling (HS). Yap, kami akan menjalankan HS dengan kurikulum Kuttab Al Fatih atau bisa disebut ikuttab.

Qodarullah, di akhir masa pendaftaran ulang anak kami ternyata bisa diterima bersekolah di Kuttab Al Fatih karena ada siswa yang mengundurkan diri. Alhamdulillah… ternyata Allah menakdirkan anak kami untuk belajar langsung pada ustadz-ustadz hafidz Quran dan kompeten di bidangnya.

IMG-20170204-WA0002

Kai saat tes masuk Kuttab Al Fatih

Buat para orang tua yang bercita-cita sama seperti saya, namun belum bisa menyekolahkan anak-anaknya ke Kuttab Al Fatih, jangan sedih. Ternyata ada banyak lembaga pendidikan yang se-visi dengan Kuttab Al Fatih. Sepanjang yang saya tahu, mereka adalah Kuttab As Sakinah di Pekanbaru, Riau dan SDQ Al Hayyah di Condet, Jakarta Timur.

Bimbing kami Ya Allah… agar anak-anak kami siap menyambut kegemilangan Islam di akhir zaman. Amiiin Ya Rabb.

Advertisements

Asing dengan Anak Sendiri

Saat kuliah dulu, saya pernah berkunjung ke rumah dosen saya bersama teman-teman kampus. Di rumahnya saya bertemu istrinya yang juga mengajar di kampus saya dan anak-anaknya yang saat itu masih balita dan SD.

Yang saya tahu, pasangan dosen ini merupakan lulusan-lulusan terbaik kampus kami. Selain mengajar dan membimbing skripsi, mereka juga memegang jabatan di kampus, jadi bisa dibayangkan kesibukan pasangan ini. Anak mereka yang SD juga terlihat smart.

Yang menarik perhatian saya adalah si balita yang masih belum jelas bicaranya. Berkali-kali ia menangis frustasi karena tidak ada satu orang pun di rumah itu yang mengerti kata-katanya.

Di lain waktu, saya berkunjung ke rumah kakak sepupu saya yang sudah lama tak bertemu karena tinggal di luar kota. Ia punya dua balita (5 dan 3 tahun). Kakak sepupu saya ini IRT full.

Anak pertamanya sangat lancar dan jelas bicaranya, namun anak keduanya hampir tak pernah saya dengar suaranya. Jika ia menginginkan sesuatu, ia menggunakan isyarat tubuhnya. Ajaibnya, sang ibu paham apa yang dimau anak bungsunya itu. Bahkan saat si anak diam saja, sang ibu tahu betul apa yang harus dilakukannya, sehingga tak sempat terjadi tantrum.

Saat itu sempat saya menduga bahwa si bungsu mengalami delay speech. Alhamdulillah setelah bertemu setahun kemudian, si bungsu sudah mahir bicara meskipun cenderung pendiam dan tidak se-‘bawel’ kakaknya.

Hikmah yang saya petik dari dua pengalaman di atas; kuantitas waktu dengan anak itu sangat penting. Bukan sekedar untuk ‘meluangkan’ waktu bermain dengan mereka, tetapi untuk mengenal dan memahami mereka, seperti apa karakter mereka, bagaimana mereka bersikap atas sesuatu, bagaimana mereka memecahkan masalah.

Mungkin tidak sedikit dari para orang tua bekerja yang kuantitas waktu bersama anaknya relatif sedikit. Karena itu waktu bersama anak harus berkualitas. Matikan HP atau gadget saat bersama dengan anak jika tidak mau asing dengan anak sendiri!

img_20130421_093645

Kebersamaan dengan anak sangat penting agar orang tua mengenal karakter anaknya

From Working Mom to Housewife

Setahun rumah ini tak dikunjungi. Banyak debu rupanya. Maklum, setahun kemarin load kerjaan kantor makin menggila yang bikin saya gak sempat ngeblog plus semakin mantap untuk resign.

Yup, hampir 4 bulan saya bukan lagi emak-emak kantoran. Banyak yang menyayangkan saya undur diri dari perusahaan “terpandang”. Tapi tidak sedikit juga yang mendukung. Yang pasti, keputusan ini berdasarkan kontemplasi, doa, dan istikharah panjang. Serta tentu saja atas persetujuan pak suami sebagai imam.

Keinginan untuk resign dan mengurus anak sejujurnya muncul saat anak pertama lahir, tapi ibu menentang keras dengan alasan suami belum bekerja tetap. Kami pun tidak bisa membantah. Qodarullah, beberapa bulan setelah anak pertama lahir, saya justru diangkat sebagai karyawan tetap. Hal yang makin memberatkan langkah saya untuk resign.

Waktu berjalan. Anak kedua lahir. Suami diterima menjadi CPNS. Pekerjaan saya di kantor makin menyita waktu, sehingga sampai di rumah malam hari saat anak-anak sudah mengantuk atau sudah tidur. Ibu pun sering sakit karena kelelahan menjaga dua cucu yang makin gesit, meskipun ada ART yang membantu. Kami pun ber-azzam, jika SK PNS suami turun, maka saya resign.

Alhamdulillah di sinilah saya sekarang. Dan saya tidak menyesal dengan keputusan ini. Justru saya sedikit menyesal kenapa tidak dari dulu resign. Tapi ini semua takdir Allah yang harus dirhidoi. Yang terpenting, tak putus menimba ilmu meski ‘hanya’ di rumah. Semoga Allah merahmati. Amiin.

 

Backpacking with Two Kids by Public Transport

Jadi ceritanya libur 1 Muharram 1437 H kemarin, kami sekeluarga berencana ke Pantai Ancol. Secara Kai udah sejak lama ingin lihat pantai dan laut. Saking gak pernah lihat laut, ini anak ngeliat foto laut dibilang “Banjil(r) Bu, banjil(r)!” 😦 Kasihan banget kamu Kai, sering lihat banjir tapi gak pernah lihat laut ya :p

Kesannya tega banget ya saya tidak kunjung mengajak anak-anak ke pantai terdekat dari rumah (baca: Ancol). Masalahnya tuh karena… tahu sendiri air laut di Pantai Ancol yang tidak bersih. Karena itu saya pinginnya ngajak anak-anak ke Pantai di luar Jakarta. Kalaupun di Jakarta, selain Ancol lah… Pulau Seribu misalnya. Tapi karena kelamaan rencana dan gak eksekusi juga, makanya gak keturutan juga mau ke pantai-pantai itu. Secara bapaknya anak-anak belum dapat jatah cuti gitu loh, udah gitu sering dapet tugas ke luar kota dadakan… hix 😥

Hal itu terjadi lagi pas libur tahun baru Islam kemarin. Udah rencana jauh hari mau ke Ancol, eeeh gak tahunya sehari sebelumnya ditugasin ke Solo selama 4 hari. Alhasil, Kai yang sudah siap sejak pagi terus bertanya, “Bu, kok gak ke Ancol?”

Gak tega juga membatalkan kembali rencana lihat laut. Tapi kalau ke Ancol tanpa bapaknya, kemungkinan saya yang rempong, karena bawa dua balita. Pas sholat Dhuha saya cuma mohon sama Allah, dimudahkan dan diridhoi urusan hari itu, termasuk jika Allah ijinkan kami ke Ancol.

“Ibu, kok gak berangkat-berangkat sih?” tagih Kai.

Hari menjelang siang, saya agak ragu berangkat karena mental block bakalan rempong. Akhirnya bismillah aja saya jawab, “Kita ke Ancol setelah sholat zuhur dan makan siang ya. Kalau mau ke Ancol, Kai makan yang banyak ya”.

“Iya!” dengan semangat Kai setuju.

Pertimbangan berangkat menjelang sore karena matahari sudah tidak terlalu panas, tidak perlu bawa berat bekal makan siang, dan insyaallah pingin lihat sunset di pantai. So, here we come!

14:00 : berangkat dari rumah menuju Halte Busway Transjakarta di PGC

Sambil nunggu bus, selfie dulu :)

Sambil nunggu Busway Transjakarta, selfie dulu 🙂

14:30 : Busway PGC – Ancol tiba

15:30 : sampai di shelter Busway Ancol

15:30 – 15:40 : sholat ashar di mushola dekat shelter Busway

15:40 : Naik Bus Wara-wiri gratis menuju Monumen Ancol (kudu transit bus kalau mau ke Ancol Beach City (ABC)). Sengaja pilih ABC karena kabarnya pantainya masih bersih dan pasirnya putih karena pasir urukan.

15:55: Sampai di ‘Monumen Ancol’

Kai di Ancol

Sambil nunggu bus, Kai foto dulu

Qudsi ikutan gaya juga

Qudsi ikutan gaya juga

16:10 : naik ojek menuju Ancol Beach City (ABC) karena jalanan macet dan Bus gratis Wara Wiri tak kunjung tiba

16:25 : sampai di ABC dan menikmati pantai 🙂

Janji awalnya main pasir doang, lama-lama pingin ngerendem kaki, akhirnya nyebur juga dan basah kuyup :D

Janji awalnya main pasir doang, lama-lama pingin ngerendem kaki, akhirnya nyebur juga dan basah kuyup. Gak sah emang ke Pantai kalau gak basah 😀

17:10 : meski masih mau main air, saya ‘paksa’ bocah-bocah mandi bilas dan ganti baju karena hari mau gelap

17:30 : makan perbekalan sambil menanti sunset… Sayangnya mendung, jadi gak kelihatan sunsetnya 😦 FYI, sebenarnya di ABC ini dilarang bawa bekal makan & minum, tapi kami lolos dari penggeledahan security karena saya hanya bawa satu tas backpack 🙂

18:00 : mengantri wudhu dan sholat Magrib di mushola ABC

18:30 : naik ojek ke Shelter Busway Transjakarta

18:50 : bus tiba

19:50: sampai PGC

20:00: sampai rumah. Alhamdulillah hepi meskipun teparrrr :))

Biaya:

Tiket Busway @Rp3,500 x 2 orang (anak di atas 2 tahun sudah dihitung) PP : Rp 14,000,-

Tiket masuk Pantai Ancol @Rp 25,000 x 2 orang : Rp 50,000,-

Ojek di Kawasan Ancol @Rp 20,000 PP : Rp 40,000,-

TOTAL Rp 104,000,- sajah :p

Menjadi Orang Tua Asuh Anak ‘Bermasalah’

Bebarapa hari belakangan saya terlibat proses administratif Kejar Paket B di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Negeri 12 Tengah, Jakarta Timur. Singkat cerita, saya memberanikan diri menjadi orang tua asuh dari pemuda 16 tahun yang putus sekolah saat ia duduk di kelas 2 SMP.

Sebenarnya niatan ini sudah lama ingin saya wujudkan, namun saya merasa ragu akan kemampuan finansial keluarga kami, ditambah lagi dengan konsekuensi mengasuh anak orang lain yang notabene ‘bermasalah’ di sekolahnya.

Sebut saja “Ardi”. Ia dikeluarkan dari sekolah saat duduk di kelas 2 SMP lantaran nilai rapornya kosong karena bolos dua bulan berturut-turut tanpa diketahui ibunya. Pemuda yatim ini setiap hari pamit berangkat ke sekolah pada ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci/setrika dari rumah ke rumah-termasuk rumah saya. Namun belakangan baru ketahuan ternyata Ardi tidak ke sekolah, melainkan main PS.

Ibunya luput mengawasi anak bungsunya ini lantaran setiap hari sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Suaminya sudah lama meninggal dunia, sementara anak tertuanya pun sibuk bekerja di sebuah pabrik elektronik dan sering pulang larut malam. Bahkan belakangan, anak tertuanya di-PHK karena sering sakit-sakitan.

Surat drop out dari sekolah kala itu bagaikan petir di siang bolong buat sang ibu. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi agar anaknya bisa sekolah, sementara sekolah swasta mahal biayanya. Karena itu, sang ibu memberanikan diri menghadap kepala sekolah agar anaknya diberi kesempatan belajar lagi. Singkat cerita, kepala sekolah memberikan kesempatan Ardi untuk sekolah lagi meskipun harus tinggal kelas.

Namun ternyata kesempatan kedua tersebut disia-siakan oleh Ardi. Ia kembali bolos sekolah dan main PS seperti sebelumnya. Akhirnya rapornya kosoang dan ia kembali DO. Ibunya pun marah, sedih, prihatin, campur aduk jadi satu. Maka kesempatan berikutnya adalah bersekolah di sekolah swasta atas biaya dari kerabat almarhum suaminya. Namun lagi-lagi kejadian serupa berulang di sekolahnya yang baru. Akhirnya Ardi kembali DO dan tak ada lagi yang mau membiayai sekolahnya.

Sang ibu benar-benar muntab. “Mau kamu apa sih Ardi?!!!”

Lalu Ardi mengungkapkan bahwa ia ingin bekerja sebagai buruh perkebunan di Puncak seperti tetangganya. Ibunya pun mengabulkan keinginan anaknya itu. Sang ibu lalu menitipkan Ardi pada mantan tetangganya yang kini tinggal di kawasan Puncak.

Hasilnya? Baru dua pekan di sana, Ardi minta pulang. Alasannya tidak cocok dengan pekerjaan itu….. (capee deeh!!!)

Maka selama dua tahun Ardi menganggur. Ia tak sekolah, tak pula bekerja. Terkadang dengan entengnya ia minta uang jajan pada ibunya yang tengah bekerja.

Jujur saya amat prihatin melihat kenyataan ini. Dengan kondisi Ardi yang nganggur seperti itu, saya khawatir ia terjebak pada aktivitas negatif (na’uzubillahiminzalik). Karena itu saya beranikan diri untuk ikut turun tangan ‘menyelamatkan’ masa depan salah satu tunas bangsa ini (taelah).

Saya memutuskan untuk mengikutsertakan Ardi di kelas Kejar Paket B lantaran usianya yang sudah 16 tahun namun belum memiliki ijazah SMP. Sementara jika Ardi ingin melamar kerja ataupun ikut kursus keterampilan di Balai Latihan Kerja (BLK), minimal ia harus punya ijazah SMA. Karena itu, untuk mengejar ketertinggalannya, Ardi saya daftarkan Kejar Paket B di PKBM Negeri 12 yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya. Dan jika ia lulus Kejar Paket B, maka lanjut ke Kejar Paket C insyaallah.

PKBM Negeri 12 Tengah, Jakarta Timur

PKBM Negeri 12 Tengah, Jakarta Timur

Dua hari pertama sekolah di PKBM, ia selalu datang terlambat. Ibunya sudah marah-marah karena Ardi selalu bangun kesiangan. Bahkan saking gemesnya, ibu saya pun ikut emosi dan menyarankan saya untuk membatalkan menjadi orang tua asuh dari anak ‘bermasalah’ ini.

Bismillah… semoga Allah selalu meluruskan niat saya. Tidak ada yang bisa membolak-balik hati seseorang kecuali Allah SWT. Semoga Allah membukakan hati dan pikiran Ardi agar ia bersemangat dan mau berjuang untuk masa depannya dan Memudahkan jalannya untuk mendapatkan ijazah SMP dan SMA secara jujur… amiiin ya Allah.

T_T

Maafin ibu ya nak pagi ini kamu rewel karena ngantuk dan minta nen tapi gk bisa ibu penuhi karena rempong siapin bekal kakakmu yg mau berangkat sekolah plus beberes rumah plus siap2 ibu mau ngantor hingga kau tertidur sendiri di stroller.

Ibu sadar tak ada ibu yang sempurna. Allah lah Yang Maha Sempurna. Semoga Allah selalu menjaga dan membimbingmu menjadi anak yang sholeh… amiin.

View on Path

Adikku Mainanku

image

Qudsi

Assalamu’alaikum… Perkenalkan, namaku Qudsi. Umurku 1 tahun. Aku sedang belajar berjalan sendiri.

Sejak dalam perut ibu, aku sudah jadi kesayangan kakakku. Waktu masih di perut ibu, Mas Kai suka mengelus-elus dan mengajakku bicara. Tak jarang kakakku teriak-teriak di perut ibu. Mungkin itu sebabnya kalau menangis, lengkinganku amat keras.

Tidak cuma bicara, sesekali pernah kakakku naik ke perut ibu. Mungkin Mas Kai memang tak sabar ingin main denganku.

Ketika umurku baru satu hari, Mas Kai sudah mengajakku main, yaitu main kaget-kagetan. Mas Kai suka membuat suara gaduh saat aku tidur sehingga taganku refleks ke atas. Dan itu membuatnya bahagia.

Mas Kai amat perhatian denganku. Sehingga saat aku menangis, ia berusaha menenangkanku dengan berbagai cara, mulai dari berusaha menggendong, sampai memberikan ‘nenennya’. Tapi ibu dan bapakku malah khawatir jika Mas Kai yang menenangkanku. Mungkin karena Mas Kai masih belum kuat menggendongku.

Pernah juga mukaku dicoret-coret kakakku dengan pulpen sampai ibu terpingkal-pingkal melihatku. “Kai lagi gambar Jam Big Ben,” ujar kakakku.

Itu sebabnya aku selalu ingin ikut kemana kakakku pergi. Makanya aku sering menangis kalau ditinggal Mas Kai sekolah.

Sekarang, aku sudah pandai merangkak dan jalan merembet sambil pegangan. Kakakku suka mengajakku bergurau dengan cara mendorongku saat aku belajar berjalan. Tapi kalau aku jatuh dan kesakitan, aku pasti menangis.

Aku juga suka mengikuti kakakku main kereta api mainannya, tapi aku heran kenapa ia sering berteriak di depan mukaku saat aku memegang mainannya.

Aku pun suka mengikuti apa yang dilakukannya. Saat ia masuk ke dalam keranjang baju, aku pun mengikutinya… hingga keranjang itu terguling bersama tubuhku diiringi jerit tangisku.

Tapi aku tak pernah menyerah dengan apa yag kumau. Aku menjerit kencang jika keasyikanku diganggu, termasuk keasyikanku ngempeng sama ibu.

Aku juga suka binatang loh. Tawaku mengembang kalau lihat kucing, ayam, burung bertengger di depan rumah. Sering aku ingin memanggil mereka, tapi aku masih belum mahir bicara. Sehingga isyarat tangan saja kuarahkan pada mereka.

Demikian perkenalan singkatku. Doakan aku ya agar jadi anak pintar, sehat, dan sholeh… amiiin.

Di-‘hukum’ Malah Senang

Kai (4,5 tahun) kalau bercanda selalu main fisik, entah itu menendang, memukul, menarik/menjambak, atau mendorong. Sehingga tak jarang saya merasa ‘dianiaya’. Sering juga saya merasa kesal karena kesakitan akibat ulahnya ini, apalagi kalau Kai sudah mengajak ‘main’ adiknya yang masih belajar berjalan. Kalau emosi sedang membuncah, ingin rasanya saya menghukumnya secara fisik, apalagi omelan dengan kata-kata tidak mempan buatnya.

Pernah suatu hari saya menghukumnya dengan mem-banjur-nya dengan air seember. Tapi doi ternyata malah tertawa kesenangan (Capek deeeh. Red). Pernah juga di lain waktu, saya kelitiki sekujur tubuhnya hingga dia tertawa habis. Bukannya kapok, Kai malah ketagihan. Ujung-ujungnya dia mengulangi perbuatannya agar kembali dikelitiki 😦

Baru-baru ini, Kai kembali menendang-nendang hingga tak sengaja mengenai adik dan eyangnya hingga mereka kesakitan. Saya tahu dia tidak sengaja dan tidak bermaksud menyakiti siapa pun. Namun perbuatannya bisa menyakiti orang lain. Untuk itu, saya bermaksud memberinya sedikit pelajaran.

“Ini kakinya diiket aja yah, biar gak nendang-nendang,” ujar saya sambil memegang erat kakinya.

Namun karena tenaganya cukup kuat, kakinya masih saja menendang-nendang dan tangannya mendorong-dorong. Entah dapat ide dari mana, saya lalu berdiri sambil memegang kedua kakinya, sehingga Kai tergantung terbalik seperti ‘hang-man’. Dan doi malah tertawa senang :p Ketika saya turunkan dia, Kai malah marah.

“Kai mau digantung lagi!”

Akhirnya kami malah bercanda main ‘hang-man’ lagi dan lagi. Capek juga menggantung Kai yang berbobot 15 kg. Tapi Kai malah teriak-teriak, “Mau digantung lagi, Ibu!”

Jadilah saya menggantungnya dengan kain gendongan di teralis jendela supaya gak capek 😀

Kai minta digantung terbalik

Kai minta digantung terbalik

Singkat cerita, ‘hukuman-hukuman’ tersebut malah dianggap bercanda buat Kai alias gak ngeffek. Pusing pala berbie 😦 Yang pasti, saya sangat menjauhi hukuman fisik seperti memukul, menjewer, dan mencubit.

Well, buat yang punya anak laki-laki, mungkin gak heran dengan gaya bercandanya yang selalu main fisik. Berikut ini beberapa karakter khas anak laki-laki yang saya dapat dari sini:

Karakter anak laki-laki
(referensi: tips untuk para ibu tentang cara mendidik anak laki2)

Laki2 adalah mahluk yang berbeda dengan perempuan. Untuk memahami laki2, harus dari sudut pandang laki2, tidak bisa dari sudut pandang perempuan.

1. Ga bisa diam (pecicilan)
2. Berapa kali disuruh pun, slalu lupa, slalu ga dikerjakan. Tips: Dibuat menyenangkan seperti game
3. Hanya melakukan hal yang disukai. Tips: Dibuat menyenangkan seperti game
4. Senang berpetualang, melakukan hal yg berbahaya
5. Peduli dengan kalah menang
6. Senang kelahi2an, senang dengan figur2 hero
7. Berulang2 antara berkelahi dan berteman. Jangan terburu2 merelai. Cukup diawasi, kecuali jika ada hal yg membahayakan. Anak laki2 cenderung menggunakan fisik dlm bertengkar, sementara anak perempuan menggunakan mental dan kata2.
8. Cenderung menyukai kata2 jorok. Dlm hal ini, kita gunakan ajaran islam sebagai patokan. Membiasakan anak dengan ayat Qur’an, dzikir.
9. Ga peduli dengan kotor
10. Cepat bosan, senang hal bergerak (mobil, kereta, pesawat). Ganti sudut pandang: cepat bosan -> cepat puas
11. Tulisannya jelek
12. Lambat dlm memulai dan mengerjakan sesuatu. Tips: gunakan skinship ketika menyuruh (mengusap kepala, menepuk bahu)
13. Senang mengoleksi
14. Hanya puas dengan alasan logis
15. Sayang sekali dengan ibu. Ingin melindungi ibu.

Anyway, lagi kepikiran buat ngelesin bela diri buat Kai… Tapi malah khawatir kalau dia mempraktikkan ke adiknya 😦

Janji Harus Ditepati

image

Pagi kemarin Kai tantrum karena HP saya yang sedang ia jajah saya ambil. Padahal ngambilnya juga udah baik-baik, tapi teteup aja gak diijinin sama si penjajah cilik. Alhasil HP gak jadi saya pakai, tapi teteup donk doi ngamuk gak jelas alias tantrum.

Tantrum di usia 2 – 5 tahun menurut referensi yang saya baca adalah normal adanya. Karena di usia ini anak masih belajar berekspresi dan belum bisa mengendalikan emosi. Selain itu, anak-anak dengan asupan gizi cukup akan melepaskan hormon sorotein (kalo gak salah). Nah, hormon inilah yang menyebabkan ia tantrum.

Menyebalkan memang menghadapi balita tantrum. Ibunya bisa-bisa ikut tantrum juga. Emang kudu banyak dzikir supaya bisa sabaaarrrr. Karena solusinya memang cuma satu kata: SABAR. Demikian menurut pakar psikologi.

Menurut referensi yang saya baca juga, gak berguna marahin atau nasehatin anak sedang tantrum, pun membiarkannya atau mengurungnya. Solusinya adalah dengan memeluknya, mengusap-usap punggungnya, dan sikap-sikap lain yang menunjukkan rasa kasih sayang dan empati dengannya. Mudah? Wow… tentu butuh perjuangan menundukkan ego sebagai orang yang merasa ‘senior’ karena lahir duluan.

Lantas bagaimana dengan Kai? Alhamdulillah tantrumnya mereda saat saya janjikan ia naik bus Tansjakarta. Tentu saja setelah saya elus-elus punggungnya :). Meskipun saya sadar, saat itu kami hendak kondangan sekeluarga siang-siang. Namun janji harus ditepati, kalau tidak nanti dia bisa tantrum lagi karena kecewa.

Saya jadi ingat perkataan Ali bin Abi Thalib RA tentang pengasuhan anak;

Usia 0 – 7 tahun perlakukan ia sebagai raja. Usia 8 – 12 tahun perlakukan ia sebagai tawanan. Usia 12 tahun ke atas perlakukan ia sebagai sahabat.

Seringkali yang membuat anak kita tersenyum bukanlah hal rumit dan mahal. Namun seringkali juga kita yang membuatnya rumit dan mahal. Semoga Allah senantiasa membimbing keluarga kita di jalanNya hingga sampai ke surga… amiiin.

Anak Kejedot Malah Alhamdulillah

Sholat Ashar Hari Selasa (21/07) kemarin mungkin sholat fardhu saya yang paling tidak khusyuk. Pasalnya kami semua sedang sholat berjamaah di Masjid Al Hikmah Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Indah Kapuk (PIK), dimana TWA ini adalah hutan konservasi tanaman bakau (mangrove).

Masjid Al Hikmah TWA PIK

Masjid Al Hikmah TWA PIK

FYI, hutan bakau merupakan ekosistem berupa rawa-rawa di dekat pantai. Sehingga jika hendak menyusuri hutan ini harus naik perahu atau berjalan kaki di atas jembatan. Jadi, bisa dibayangkan dong bagaimana kondisi Masjid Al Hikmah ini berdiri. Yup, dia berdiri di atas rawa. Sekeliling masjid tak lain adalah rawa-rawa. Sementara pagar pengaman di sekeliling masjid lumayan renggang.

Pagar masjid yang renggang

Pagar masjid yang renggang

Saat hendak mulai sholat, saya dudukkan Qudsi (13 bulan) di depan tempat saya sholat. Namun tanpa bisa saya kendalikan, Qudsi dengan cepat merangkak entah kemana. Spontan sejak rakaat pertama saya asli tidak khusyuk. Sambil mengikuti imam sholat, dalam hati saya hanya bisa mohon sama Allah agar Qudsi tidak tercebur ke rawa.

Sampai di rakaat ketiga, ketika sedang rukuk, saya mendengar suara “Jederrr!!” lalu diikuti suara tangis Qudsi yang melengking. Tak satu pun orang di masjid itu yang menenangkannya karena sedang shalat berjamaah. Namun saya malah berucap alhamdulillah dalam hati, karena Qudsi hanya kejedot dan tidak tercebur ke rawa 😀

Spontan begitu salam, saya langsung lari ke sumber suara. Ternyata Qudsi kejedot daun jendela karena sedang rembetan alias berlatih berjalan 🙂 Alhamdulillah…

Qudsi yang selalu penasaran :)

Qudsi yang selalu penasaran 🙂