Homeschooling dan Kuttab

Pada beberapa postingan sebelumnya, saya pernah mengukuhkan diri untuk menerapkan Homeschooling (HS) untuk anak-anak saya, sebagai alternatif pendidikan (baca: sekolah). Mengapa demikian? Alasannya utamanya karena kita adalah generasi akhir zaman, dan anak-anak kita adalah generasi yang akan berhadapan dengan Dajjal sekaligus mengusung kejayaan terakhir Ummat Islam insyaallah.

kiamat terjadi

Tentu memerlukan waktu yang panjang dan rumit buat kami sebagai orang tua untuk merancang pendidikan seperti apa untuk menyiapkan generasi pemegang kejayaan Islam mendatang ini. Kurikulum seperti apa yang harus dicanangkan untuk mereka. Alhamdulillah Allah memperkenalkan kami pada Kuttab Al Fatih. Saya tidak perlu membahas di sini apa itu Kuttab Al Fatih, silakan klik saja di sini. Singkat cerita, apa yang dicita-citakan Kuttab Al Fatih sejalan dengan cita-cita kami sebagai orang tua. Tentu ini memudahkan kami dalam menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak kami.

Pada akhirnya saya menyebut terminologi “Homeschooling” sebagai antitesis dari “Sekolah”. Mengapa demikian? Karena banyak sekali pendidikan alternatif selain sekolah umum yang kurikulumnya jauh berbeda dengan kurikulum Kemendikbud. Bahkan ada (mungkin) ribuan keluarga dan komunitas yang menyelenggarakan homeschooling di wilayah masing-masing.

Saya bukan anti sekolah atau anti kurikulum Kemendikbud. Justru saya bersyukur karena Kemendikbud mengakui adanya pendidikan-pendidikan alternatif tersebut atau yang sering disebut sebagai pendidikan nonformal. Hanya saja, saya dan suami memilih suatu penyelenggaraan pendidikan yang tidak mubazir, sehingga anak-anak benar-benar belajar hal yang pasti akan ia butuhkan kelak, baik di dunia maupun di akhirat insyaallah.

Lucunya, pendidikan alternatif–yang bisa dibilang anti mainstream–ini peminatnya justru membludak. Wajar sih, karena jumlah tenaga pengajar dan kelas yang masih terbatas. Berbeda dengan sekolah umum yang jumlah guru dan kelasnya sangat banyak dan tersebar dimana-mana. Itu sebabnya, saya tidak kaget ketika anak saya tersisih saat tes masuk Kuttab Al Fatih. Bayangkan saja, kuota murid hanya 48, tapi pendaftarnya mencapai lebih dari 150 orang! Karena itu dalam sebuah status di facebook, saya sempat menulis bahwa kami insyaallah akan menjadi praktisi homeschooling (HS). Yap, kami akan menjalankan HS dengan kurikulum Kuttab Al Fatih atau bisa disebut ikuttab.

Qodarullah, di akhir masa pendaftaran ulang anak kami ternyata bisa diterima bersekolah di Kuttab Al Fatih karena ada siswa yang mengundurkan diri. Alhamdulillah… ternyata Allah menakdirkan anak kami untuk belajar langsung pada ustadz-ustadz hafidz Quran dan kompeten di bidangnya.

IMG-20170204-WA0002

Kai saat tes masuk Kuttab Al Fatih

Buat para orang tua yang bercita-cita sama seperti saya, namun belum bisa menyekolahkan anak-anaknya ke Kuttab Al Fatih, jangan sedih. Ternyata ada banyak lembaga pendidikan yang se-visi dengan Kuttab Al Fatih. Sepanjang yang saya tahu, mereka adalah Kuttab As Sakinah di Pekanbaru, Riau dan SDQ Al Hayyah di Condet, Jakarta Timur.

Bimbing kami Ya Allah… agar anak-anak kami siap menyambut kegemilangan Islam di akhir zaman. Amiiin Ya Rabb.

Menjadi Orang Tua Asuh Anak ‘Bermasalah’

Bebarapa hari belakangan saya terlibat proses administratif Kejar Paket B di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Negeri 12 Tengah, Jakarta Timur. Singkat cerita, saya memberanikan diri menjadi orang tua asuh dari pemuda 16 tahun yang putus sekolah saat ia duduk di kelas 2 SMP.

Sebenarnya niatan ini sudah lama ingin saya wujudkan, namun saya merasa ragu akan kemampuan finansial keluarga kami, ditambah lagi dengan konsekuensi mengasuh anak orang lain yang notabene ‘bermasalah’ di sekolahnya.

Sebut saja “Ardi”. Ia dikeluarkan dari sekolah saat duduk di kelas 2 SMP lantaran nilai rapornya kosong karena bolos dua bulan berturut-turut tanpa diketahui ibunya. Pemuda yatim ini setiap hari pamit berangkat ke sekolah pada ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci/setrika dari rumah ke rumah-termasuk rumah saya. Namun belakangan baru ketahuan ternyata Ardi tidak ke sekolah, melainkan main PS.

Ibunya luput mengawasi anak bungsunya ini lantaran setiap hari sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Suaminya sudah lama meninggal dunia, sementara anak tertuanya pun sibuk bekerja di sebuah pabrik elektronik dan sering pulang larut malam. Bahkan belakangan, anak tertuanya di-PHK karena sering sakit-sakitan.

Surat drop out dari sekolah kala itu bagaikan petir di siang bolong buat sang ibu. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi agar anaknya bisa sekolah, sementara sekolah swasta mahal biayanya. Karena itu, sang ibu memberanikan diri menghadap kepala sekolah agar anaknya diberi kesempatan belajar lagi. Singkat cerita, kepala sekolah memberikan kesempatan Ardi untuk sekolah lagi meskipun harus tinggal kelas.

Namun ternyata kesempatan kedua tersebut disia-siakan oleh Ardi. Ia kembali bolos sekolah dan main PS seperti sebelumnya. Akhirnya rapornya kosoang dan ia kembali DO. Ibunya pun marah, sedih, prihatin, campur aduk jadi satu. Maka kesempatan berikutnya adalah bersekolah di sekolah swasta atas biaya dari kerabat almarhum suaminya. Namun lagi-lagi kejadian serupa berulang di sekolahnya yang baru. Akhirnya Ardi kembali DO dan tak ada lagi yang mau membiayai sekolahnya.

Sang ibu benar-benar muntab. “Mau kamu apa sih Ardi?!!!”

Lalu Ardi mengungkapkan bahwa ia ingin bekerja sebagai buruh perkebunan di Puncak seperti tetangganya. Ibunya pun mengabulkan keinginan anaknya itu. Sang ibu lalu menitipkan Ardi pada mantan tetangganya yang kini tinggal di kawasan Puncak.

Hasilnya? Baru dua pekan di sana, Ardi minta pulang. Alasannya tidak cocok dengan pekerjaan itu….. (capee deeh!!!)

Maka selama dua tahun Ardi menganggur. Ia tak sekolah, tak pula bekerja. Terkadang dengan entengnya ia minta uang jajan pada ibunya yang tengah bekerja.

Jujur saya amat prihatin melihat kenyataan ini. Dengan kondisi Ardi yang nganggur seperti itu, saya khawatir ia terjebak pada aktivitas negatif (na’uzubillahiminzalik). Karena itu saya beranikan diri untuk ikut turun tangan ‘menyelamatkan’ masa depan salah satu tunas bangsa ini (taelah).

Saya memutuskan untuk mengikutsertakan Ardi di kelas Kejar Paket B lantaran usianya yang sudah 16 tahun namun belum memiliki ijazah SMP. Sementara jika Ardi ingin melamar kerja ataupun ikut kursus keterampilan di Balai Latihan Kerja (BLK), minimal ia harus punya ijazah SMA. Karena itu, untuk mengejar ketertinggalannya, Ardi saya daftarkan Kejar Paket B di PKBM Negeri 12 yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya. Dan jika ia lulus Kejar Paket B, maka lanjut ke Kejar Paket C insyaallah.

PKBM Negeri 12 Tengah, Jakarta Timur

PKBM Negeri 12 Tengah, Jakarta Timur

Dua hari pertama sekolah di PKBM, ia selalu datang terlambat. Ibunya sudah marah-marah karena Ardi selalu bangun kesiangan. Bahkan saking gemesnya, ibu saya pun ikut emosi dan menyarankan saya untuk membatalkan menjadi orang tua asuh dari anak ‘bermasalah’ ini.

Bismillah… semoga Allah selalu meluruskan niat saya. Tidak ada yang bisa membolak-balik hati seseorang kecuali Allah SWT. Semoga Allah membukakan hati dan pikiran Ardi agar ia bersemangat dan mau berjuang untuk masa depannya dan Memudahkan jalannya untuk mendapatkan ijazah SMP dan SMA secara jujur… amiiin ya Allah.

The Future of Learning

Video keren tentang pembelajaran/pendidikan masa depan (meskipun sebenarnya masa kini pun sudah berlaku. Red). Must watch video! Semoga jadi pencerahan buat kita semua

Membiasakan Anak Sholat

Saya pernah membaca sebuah hadits yang isinya memerintahkan anak-anak usia 7 tahun untuk sholat, dan jika sampai usia 10 tahun belum juga mau sholat maka dibolehkan memukul mereka. ‘Memukul’ dalam hadits Rasulullah ini menurut para ulama maksudnya adalah pemukulan yang mendidik, bukan yang menyakiti apalagi membuat trauma.

Kai baru berusia 2 tahun. Tak ada keharusan buat saya sebagai orang tua memerintahkan, apalagi memaksanya untuk sholat. Namun kejadian beberapa pekan terakhir ini membuat saya sungguh terharu;

Ahad lalu, saat silaturahim ke rumah teman, saya mengajak Kai. Kebetulan tak lama setelah kami sampai, azan ashar berkumandang. Tiba-tiba tanpa disuruh, tiba-tiba Kai berdiri sambil berkata, “Ibu, ayo sholat, udah azan”. Subhanallah T_T

foto ini diambil saat Kai sholat tarawih di masjid

foto ini diambil saat Kai sholat tarawih di masjid

Pada hari yang sama, saat saya dan teman-teman sedang asik ngobrol, tak terasa hari sudah menjelang magrib. Buru-buru saya mohon pamit pulang. Kami pun bergegas menuju pangkalan ojek terdekat yang memang terletak persis di sebelah masjid. Tiba-tiba dalam perjalanan menuju pangkalan ojek, azan berkumandang, dan saya pun tidak melihat satu pun tukang ojek di pangkalannya. Mungkin karena mereka bersiap sholat magrib.

“Kai mau ke situ,” ujar Kai sambil menunjuk masjid.

Saya tidak menghiraukan permintaan Kai. Saya menggandengnya dengan bergegas hendak mencari ojek di pangkalan lain yang letaknya lebih jauh. Namun saat kami tepat melewati pintu gerbang masjid, Kai menarik tangan saya sambil merengek, “Kai mau sholat di masjiiiid!”

Masyaallah… Subhanallah… Rasanya berdosa bagi saya jika tidak menghiraukan rengekan mulianya. Maka saya pun memenuhi keinginan Kai sambil berharap semoga tukang ojek sudah bermunculan usai sholat magrib.

Maka dengan keki saya masuk ke masjid yang isinya pria semua. Lebih keki lagi, ketika saya hendak wudhu, ternyata tempat wudhu wanita dikunci. Mau tak mau saya harus wudhu di tempat pria. Sambil memohon pada Allah semoga tindakan ini tidak menjadi fitnah, saya pun wudhu dengan tidak membuka jilbab. Kai juga ikut wudhu di samping saya.

Sejurus kemudian kami sholat magrib berjamaah di masjid tersebut. Kai senang sekali, meskipun gerakan sholatnya masih belum sempurna dan tertib. Tapi wajah bahagia nampak jelas di wajahnya. Saya pun merasa lega karena telah menjalankan kewajiban. Alhamdulillah.

Beberapa hari belakangan ini, sepulang kantor ketika hari menjelang magrib, Kai selalu antusias menunggu azan magrib. Dan begitu azan berkumandang, tanpa aba-aba Kai langsung menuju kran air untuk wudhu, kemudian bersama-sama menunaikan sholat. Bahkan usai sholat magrib, Kai juga antusias untuk membaca Quran bersama. Subhanallah walhamdulillah.

Kai ngaji (padahal belum bisa baca)

Kai ngaji (padahal belum bisa baca)

Pagi tadi, saat azan Subuh berkumandang, Kai terbangun ngelilir (mengigau. Red). Karena hari masih gelap, maka saya tenangkan kembali dia untuk tidur lagi. Setelah dia kembali tenang, saya pun bergegas sholat qobliyah subuh. Tanpa diduga, Kai menangis, “Ibuuu… Kai mau sholat…”.

Buru-buru saya selesaikan sholat sunnah rawatib yang sedang saya kerjakan. “Kai mau sholat?” tanya saya.

“Mau,” jawab Kai.

“Wudhu dulu, yuk!”

Lalu Kai bangkit dan menuju kran air untuk wudhu. Setelah itu kami gelar sajadah kecilnya dan kami bersama-sama sholat subuh. Subhanallah walhamdulillah…

Kalau kita kembali kepada hadits Rasulullah tentang pendidikan sholat untuk anak-anak, sejatinya pemukulan itu tidak akan pernah terjadi jika para orang tua muslim membiasakan anak-anaknya ikut sholat. Tidak hanya itu, memberikan contoh/teladan dengan tidak melalaikan sholat adalah pendidikan sejak dini untuk mencintai sholat. wallahua’lam bishawab.

7 Habits of Highly Effective Homeschooling

7 Habits of Highly Effective Homeschooling

Alhamdulillah nemu link tulisan yang lumayan mencerahkan buat saya yang sedang ‘galau’ bagaimana memulai dan membuat kurikulum untuk homeschooling (HS). Semoga bermanfaat!

Homeschooler Wannabe

fullsize-our-education-system-19912Jauh hari sebelum Kai lahir, saya sudah memfavoritkan sebuah sekolah, dimana saya ingin anak saya kelak bersekolah di sana. Kini setelah anak saya menginjak usia 2,5 tahun pemikiran itu perlahan bergeser.

Pergeseran tersebut bukan karena sekolah tersebut ternyata jelek, sangat bukan. Justru karena sekolah tersebut menyajikan proses belajar mengajar yang menyenangkan alias fun learning sehingga diminati begitu banyak orang. Alhasil jauh hari sebelum proses penerimaan siswa baru, antrean para calon siswa pun mengular. Tidak hanya itu. Inflasi tahunan yang membuat harga rata-rata naik 10% tiap tahunnya membuat biaya sekolah juga naik. Ditambah lagi, lokasi sekolah favorit ini yang kurang strategis membuat saya jadi berpikir ulang untuk menyekolahkan anak saya di sana.

Bukannya saya taklid dan menutup mata terhadap sekolah lain, tetapi menurut pandangan saya, sampai saat ini saya belum menemukan ‘sekolah impian’ seperti itu. Wallahua’lam.

Sampai pada akhirnya saya mengenal yang namanya ‘personalised education’ dimana pendidikan dan kurikulum yang bersifat personal sesuai dengan minat, bakat, dan kebutuhan anak. Ibarat baju, kita menjahit sendiri baju yang sesuai dengan ukuran tubuh dan selera kita. Dan personalized education ini hanya bisa didapatkan lewat homeschooling (HS).

Tidak seperti sekolah atau public school yang bersifat massive education, HS memperlakukan siswa secara personal. Ibarat baju, sekolah menghasilkan pakaian jadi yang diproduksi massal. Sementara HS menghasilkan pakaian yang dijahit sendiri.

Saya sendiri awalnya ragu, bisakah saya menjadi guru yang baik? Bisakah saya mengajarkan semua mata pelajaran untuk anak saya? Ternyata orang tua HS tidak harus menguasai semua mata pelajaran. Ketika ia kesulitan mengajari satu mata pelajaran, maka ia bisa menyewa guru atau me-les-kan anaknya ke sebuah lembaga belajar yang kompeten. Ibarat baju, ketika kita tidak bisa menjahit sendiri, maka kita akan minta tolong tukang jahit.

So, saya jatuh hati pada HS dan saya tengah belajar bagaimana memulainya insyaallah… Semoga Allah meridhoi…

How to Start A Home School

Buat para orang tua yang ingin memulai homeshooling alias sekolah rumah… Semoga bermanfaat 😉

Baca… Baca… Baca…!!!

ImageDarwis Tere Liye menulis…

(1) Tak akan merugi orang2 yg menghabiskan waktu dgn membaca buku.

(2) Membaca adalah hobi orang2 yg taat agama.
Karena perintah pertama agama adalah membaca. Dan Tuhan mengajarkan ilmu pengetahuan dengan perantara kalam (pena/tulisan)

(3) Membaca itu jika tidak bermanfaat sekarang, esok lusa akan berguna. Maka banyak2 membaca sekarang, esok lusa akan berguna banyak. Tidak akan menyesal orang2 yg suka membaca.

(4) Banyak sekali salah paham, buruk sangka, tuduhan, hinaan, bahkan perang antar umat manusia tdk akan terjadi jika semua memilih membaca dulu dengan baik daripada bicara dulu.
Betapa menariknya kebiasaan membaca.

(5) Orang-orang sok tahu, pada umumnya sedikit sekali membaca buku. Termasuk sok tahu di jejaring sosial, minim sekali membaca buku. Tapi dengan senang hati, maksimal sekali menunjukkan hal tersebut lewat komen2nya.

(6) Maka membacalah. Kita bisa menggapai tepi-tepi pengetahuan hari ini dengan membaca. Bisa menyentuh pinggir2 kebijaksanaan orang tua dengan membaca. Dan yang lebih menakjubkan lagi, kalian bisa membuka tepi itu, pinggir itu lebih jauh lagi.

(7) Jaringan perpustakaan nasional Singapura, mengacu data tahun 2007, dikunjungi oleh 37 juta pengunjung, alias 100.000 lebih pengunjung per hari. Masih mau bertanya kenapa Singapura masuk dalam daftar negara2 maju, bersih, jujur, dan hal2 menakjubkan lainnya?

Itu artinya, dalam setahun, rata2 penduduk Singapura berkunjung ke perpustakaan nasional mereka 7,4x (diluar toko buku, kafe buku, dsbgnya). Nah, kalau kota Jakarta mau menyamai Singapura, kita harus memiliki 74 juta pengunjung di jaringan perpustakaan daerah Jakarta. atau kalau seluruh Indonesia 1,7 milyar pengunjung di jaringan perpustakaan nasional seluruh Indonesia.

Mari didik anak2 kita agar suka membaca. Jangan biarkan, justeru orang lain yang lebih paham betapa pentingnya budaya membaca. Indonesia ini mayoritas muslim, di mana perintah pertama agamanya adalah: bacalah.

(8) Segera tanamkan kebiasaan membaca ke anak2 kita, secepat mungkin. Biasakan mereka dengan buku2, batasi televisi, dan sejenisnya. Jangan biarkan anak2 meniru generasi kita, orang tuanya yang jarang membaca.

Beda antara sebuah bangsa yang mendidik anak2nya untuk suka membaca dengan tidak bisa sebesar: yang satu tumbuh maju mengirim astronot ke luar angkasa; yang satunya lagi, duduk di balai2 bambu di malam dingin, sambil ngopi, berbual cerita hanya menatap luar angkasa.

(9). Terakhir, omong kosong bila membaca itu butuh uang, apalagi mendaftar argumen: harga buku2 mahal.

Lihatlah sekitar kita:
a. menghabiskan ratusan ribu untuk pulsa setiap bulan no problem

b. Sekali makan di kedai fast food puluhan ribu nggak masalah

c. beli gagdet jutaan, beli kosmetik, pakaian, dsbgnya tidak jadi perdebatan dan lebih

d. menakjubkan lagi, sehari merokok 1-2 bungkus, hingga 10rb/hari, lumrah saja di negeri ini.

Membaca hanya butuh niat. Tidak memiliki niat-nya, maka jangan salahkan hal lain. Salahkan diri sendiri. Bisa pinjam, menambah teman dan silaturahmi. Bisa ke perpustakaan, bisa apapun, kalau memang niat membaca.

(copas dari milis sekolahrumah)

Kai berimajinasi ‘goyang2’ di kereta

Kai was very happy playing in As Salam mosque playground located in Joglo, West Jakarta, Indonesia, with his cousin Afifah. He enjoyed the ‘shaking bridge’ while imagining it was on a train 🙂

UN & Kurikulum untuk Siapa?

UN

UN

Mungkin kalau diranking, beberapa pekan ini Kemendiknas menduduki ranking pertama penerima ‘hujatan’ dari berbagai pihak. Mulai dari karut marut Ujian Nasional (UN) sampai pro kontra kurikulum baru. Siapakah yang menghujat? Saya yakin mulai dari praktisi pendidikan, orang tua murid, sampai murid-murid sendiri pasti menjerit. Dan yang menjadi korban siapa lagi selain para murid yang nota bene adalah anak-anak kita, generasi penerus bangsa.

Maka tak berlebihan kiranya jika marak bermunculan gerakan-gerakan sekolah alternatif, seperti unschooling atau home schooling (HS). Meskipun sejatinya HS adalah pola pendidikan paling tua yang ada di muka bumi, namun menjamurnya HS saat ini bisa jadi cermin atas kekecewaan banyak pihak atas pola pendidikan lembaga sekolah yang merupakan kepanjangan tangan dari Kemendiknas.

Saya sendiri sebagai orang tua dari seorang batita tengah bimbang menentukan sekolah untuk anak saya kelak. Bukannya saya tidak percaya dengan lembaga sekolah, saya hanya khawatir apakah pengajaran di sekolah-sekolah itu betul-betul berpihak pada anak saya? Apakah pola pendidikan yang diterapkan memang ditujukan dan dibutuhkan anak saya?

Apakah tingkat kesulitan soal-soal UN yang tinggi tujuannya untuk meningkatkan kualitas intelektual generasi muda kita? Apakah standar kelulusan yang tinggi itu bertujuan agar lebih banyak yang tidak lulus? Sehingga lebih sedikit yang mengenyam pendidikan tinggi yang murah (baca: PTN)?

Apakah dengan diberlakukan kurikulum baru, maka generasi muda kita menjadi lebih cerdas secara intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ)? Atau justru dengan kurikulum baru, mereka menjadi lebih stres karena guru-guru mereka kebingungan beradaptasi dengan perubahan?

Jadi, untuk siapa sebenarnya UN dan Kurikulum baru ini? Untuk para siswa, guru, orang tua, atau penguasa?