Asing dengan Anak Sendiri

Saat kuliah dulu, saya pernah berkunjung ke rumah dosen saya bersama teman-teman kampus. Di rumahnya saya bertemu istrinya yang juga mengajar di kampus saya dan anak-anaknya yang saat itu masih balita dan SD.

Yang saya tahu, pasangan dosen ini merupakan lulusan-lulusan terbaik kampus kami. Selain mengajar dan membimbing skripsi, mereka juga memegang jabatan di kampus, jadi bisa dibayangkan kesibukan pasangan ini. Anak mereka yang SD juga terlihat smart.

Yang menarik perhatian saya adalah si balita yang masih belum jelas bicaranya. Berkali-kali ia menangis frustasi karena tidak ada satu orang pun di rumah itu yang mengerti kata-katanya.

Di lain waktu, saya berkunjung ke rumah kakak sepupu saya yang sudah lama tak bertemu karena tinggal di luar kota. Ia punya dua balita (5 dan 3 tahun). Kakak sepupu saya ini IRT full.

Anak pertamanya sangat lancar dan jelas bicaranya, namun anak keduanya hampir tak pernah saya dengar suaranya. Jika ia menginginkan sesuatu, ia menggunakan isyarat tubuhnya. Ajaibnya, sang ibu paham apa yang dimau anak bungsunya itu. Bahkan saat si anak diam saja, sang ibu tahu betul apa yang harus dilakukannya, sehingga tak sempat terjadi tantrum.

Saat itu sempat saya menduga bahwa si bungsu mengalami delay speech. Alhamdulillah setelah bertemu setahun kemudian, si bungsu sudah mahir bicara meskipun cenderung pendiam dan tidak se-‘bawel’ kakaknya.

Hikmah yang saya petik dari dua pengalaman di atas; kuantitas waktu dengan anak itu sangat penting. Bukan sekedar untuk ‘meluangkan’ waktu bermain dengan mereka, tetapi untuk mengenal dan memahami mereka, seperti apa karakter mereka, bagaimana mereka bersikap atas sesuatu, bagaimana mereka memecahkan masalah.

Mungkin tidak sedikit dari para orang tua bekerja yang kuantitas waktu bersama anaknya relatif sedikit. Karena itu waktu bersama anak harus berkualitas. Matikan HP atau gadget saat bersama dengan anak jika tidak mau asing dengan anak sendiri!

img_20130421_093645

Kebersamaan dengan anak sangat penting agar orang tua mengenal karakter anaknya

Backpacking with Two Kids by Public Transport

Jadi ceritanya libur 1 Muharram 1437 H kemarin, kami sekeluarga berencana ke Pantai Ancol. Secara Kai udah sejak lama ingin lihat pantai dan laut. Saking gak pernah lihat laut, ini anak ngeliat foto laut dibilang “Banjil(r) Bu, banjil(r)!” 😦 Kasihan banget kamu Kai, sering lihat banjir tapi gak pernah lihat laut ya :p

Kesannya tega banget ya saya tidak kunjung mengajak anak-anak ke pantai terdekat dari rumah (baca: Ancol). Masalahnya tuh karena… tahu sendiri air laut di Pantai Ancol yang tidak bersih. Karena itu saya pinginnya ngajak anak-anak ke Pantai di luar Jakarta. Kalaupun di Jakarta, selain Ancol lah… Pulau Seribu misalnya. Tapi karena kelamaan rencana dan gak eksekusi juga, makanya gak keturutan juga mau ke pantai-pantai itu. Secara bapaknya anak-anak belum dapat jatah cuti gitu loh, udah gitu sering dapet tugas ke luar kota dadakan… hix 😥

Hal itu terjadi lagi pas libur tahun baru Islam kemarin. Udah rencana jauh hari mau ke Ancol, eeeh gak tahunya sehari sebelumnya ditugasin ke Solo selama 4 hari. Alhasil, Kai yang sudah siap sejak pagi terus bertanya, “Bu, kok gak ke Ancol?”

Gak tega juga membatalkan kembali rencana lihat laut. Tapi kalau ke Ancol tanpa bapaknya, kemungkinan saya yang rempong, karena bawa dua balita. Pas sholat Dhuha saya cuma mohon sama Allah, dimudahkan dan diridhoi urusan hari itu, termasuk jika Allah ijinkan kami ke Ancol.

“Ibu, kok gak berangkat-berangkat sih?” tagih Kai.

Hari menjelang siang, saya agak ragu berangkat karena mental block bakalan rempong. Akhirnya bismillah aja saya jawab, “Kita ke Ancol setelah sholat zuhur dan makan siang ya. Kalau mau ke Ancol, Kai makan yang banyak ya”.

“Iya!” dengan semangat Kai setuju.

Pertimbangan berangkat menjelang sore karena matahari sudah tidak terlalu panas, tidak perlu bawa berat bekal makan siang, dan insyaallah pingin lihat sunset di pantai. So, here we come!

14:00 : berangkat dari rumah menuju Halte Busway Transjakarta di PGC

Sambil nunggu bus, selfie dulu :)

Sambil nunggu Busway Transjakarta, selfie dulu 🙂

14:30 : Busway PGC – Ancol tiba

15:30 : sampai di shelter Busway Ancol

15:30 – 15:40 : sholat ashar di mushola dekat shelter Busway

15:40 : Naik Bus Wara-wiri gratis menuju Monumen Ancol (kudu transit bus kalau mau ke Ancol Beach City (ABC)). Sengaja pilih ABC karena kabarnya pantainya masih bersih dan pasirnya putih karena pasir urukan.

15:55: Sampai di ‘Monumen Ancol’

Kai di Ancol

Sambil nunggu bus, Kai foto dulu

Qudsi ikutan gaya juga

Qudsi ikutan gaya juga

16:10 : naik ojek menuju Ancol Beach City (ABC) karena jalanan macet dan Bus gratis Wara Wiri tak kunjung tiba

16:25 : sampai di ABC dan menikmati pantai 🙂

Janji awalnya main pasir doang, lama-lama pingin ngerendem kaki, akhirnya nyebur juga dan basah kuyup :D

Janji awalnya main pasir doang, lama-lama pingin ngerendem kaki, akhirnya nyebur juga dan basah kuyup. Gak sah emang ke Pantai kalau gak basah 😀

17:10 : meski masih mau main air, saya ‘paksa’ bocah-bocah mandi bilas dan ganti baju karena hari mau gelap

17:30 : makan perbekalan sambil menanti sunset… Sayangnya mendung, jadi gak kelihatan sunsetnya 😦 FYI, sebenarnya di ABC ini dilarang bawa bekal makan & minum, tapi kami lolos dari penggeledahan security karena saya hanya bawa satu tas backpack 🙂

18:00 : mengantri wudhu dan sholat Magrib di mushola ABC

18:30 : naik ojek ke Shelter Busway Transjakarta

18:50 : bus tiba

19:50: sampai PGC

20:00: sampai rumah. Alhamdulillah hepi meskipun teparrrr :))

Biaya:

Tiket Busway @Rp3,500 x 2 orang (anak di atas 2 tahun sudah dihitung) PP : Rp 14,000,-

Tiket masuk Pantai Ancol @Rp 25,000 x 2 orang : Rp 50,000,-

Ojek di Kawasan Ancol @Rp 20,000 PP : Rp 40,000,-

TOTAL Rp 104,000,- sajah :p

Jelajah Hutan Bakau PIK

Libur lebaran kemarin gak klop rasanya kalau gak berwisata sama keluarga, apalagi kami gak mudik. Tapi nyari tempat wisata yang gak rame pun rada mustahil yak, secara hampir semua orang pergi berwisata.

Jadilah kami googling tempat tujuan wisata yang masih belum populer di bilangan Jakarta. Selain itu, kami juga  mempertimbangkan lokasi yang tidak jauh dari RSUD Cengkareng, karena mau sekalian jenguk keponakan yang baru melahirkan. Maka terpilihlah Hutan Konservasi Mangrove a.k.a. Taman Wisata Alam (TWA) di Pantai Indah Kapuk (PIK).

Perjalanan super lancar menggunakan taksi lewat tol Bandara Soetta keluar di pintu Tol PIK. Perdana nih pake app Grab Taxi. Simple and cepet juga loh responnya. Jadi gk perlu panas-panasan nunggu taksi pinggir jalan. Taksinya juga bukan merk ecek-ecek loh;).

TWA PIK ini berada persis di belakang Sekolah Budha Tzu Chi. Gak usah takut nyasar, ada penunjuk arahnya kok.

Tiket masuk pengunjung Rp 25,000 per orang. Anak-anak tidak dihitung alias gratis. Parkir motor dan mobil nambah lagi, tapi saya gak tahu berapa secara kami gak parkir karena pake taksi yah.

Meskipun ramai pengunjung, alhamdulillah gak seramai Ancol atau Ragunan yang sampe bikin macet jalan. Mungkin karena tempat ini belum populer. Terbukti dari pertanyaan sopir taksi yang mangkal di depan Budha Tzu Chi, “Di belakang situ ada perkampungan ya, kok rame?” 😆

Anyway, kegiatan yang bisa dilakukan di sini macam-macam, antara lain jalan kaki menyusuri hutan sambil menikmati pemandangan eksotis. Kalau lagi beruntung bisa lihat burung bangau menyambar ikan atau biawak berenang. Karena eksotisnya, tempat ini sering jadi obyek foto prewed. Malahan kemarin itu banyak banget pengunjung yang selfie pake tongsis.

image

Bayi aja seneng main di sini 🙂

Kalau malas jalan kaki bisa keliling naik perahu motor dengan biaya sewa Rp 400 ribu per perahu kapasitas 8 orang atau Rp 300 ribu per perahu kapasitas 6 orang.

Pemandangan dari perahu motor

Pemandangan dari perahu motor

Ada juga perahu dayung dan kano dengan biaya sewa Rp 100 ribu per perahu dan mendayung sendiri. Kalau mau didayungin kasih tips Rp 50 ribu ke orang yang mendayungkan perahu

image

Bapak ikut mendayung

image

Didayungin Cang Hasan, nelayan lokal

Saran saya kalau datangnya serombongan, mending sewa perahu motor karena bisa mengelilingi seluruh wilayah dalam waktu kurang lebih 45 menit. Atau kalau datang cuma berdua bisa juga patungan dengan orang lain seperti yang saya lakukan kemarin.

Sementara kalau sewa perahu dayung wilayah jelajahnya lebih terbatas dengan durasi waktu yang sama. Kami kemarin mencoba perahu motor dan dayung karena selama di perahu motor Kai tantrum minta naik perahu dayung 😥.

Kegiatan lain yang bisa dilakukan di sini yaitu mengamati burung-burung di menara pengamatan. Sayang kami tidak sempat naik ke menara karena hari menjelang sore. Selain itu, untuk anak-anak ada juga berbagai perangkat mainan untuk motorik kasar, seperti meniti tali, jembatan gantung, dll.

wpid-20150721_115716.jpgUntuk perlengkapan outbound lebih lengkap, seperti flying fox harus menghubungi petugas terlebih dulu dan ada biaya tambahan. Mungkin aktivitas outbound lengkap ini cocok buat mereka yang ingin berkemah di sini.

FYI, tempat ini juga bisa untuk kemah loh. Buat yang ogah tidur di tenda, TWA PIK juga menawarkan bungalow-bungalow untuk menginap. Di beberapa titik juga terdapat aula untuk disewakan.

Jangan khawatir ketinggalan sholat fardhu dengan nyaman saat jalan-jalan kesini, karena terdapat masjid dan beberapa mushola di sini.

Wanna try this place? Why not?!

Mendaki Air Terjun Bersama Balita

Kai (4 th) pingin banget lihat air terjun dan sungai di gunung. Ini karena sering saya pertontonkan video murotal Al Quran yang visualisasinya pemandangan alam, termasuk air terjun dan sungai-sungai yang jernih airnya.

Kebetulan Kamis (28/05) lalu sekolahnya Kai mengadakan karya wisata ke Taman Safari Indonesia (TSI), Cisarua, Bogor. Maka sejak jauh hari saya mencari informasi tentang perjalanan ke Air Terjun Curug Jaksa yang berada di area TSI ini. Menurut hasil googling dan survey di youtube sih, medan menuju air terjun ini cukup mudah dijangkau, terutama untuk anak-anak usia balita. Namun ketika saya mengutarakan keinginan kami ini kepada kepala sekolahnya Kai, beliau tidak menyarankan–padahal beliau sendiri belum pernah ke sana 😦

Saya agak galau juga saat Ibu Kepala Sekolah tidak menyarankan, namun hati kecil saya yakin bahwa medannya sangat mudah dijangkau. Ditambah lagi, Kai sangat-sangat ingin lihat air terjun. Kesempatan langka buat kami yang tinggal di kota besar untuk merasakan segarnya air terjun.

Maka, saat tiba di area TSI, saya minta pendapat beberapa karyawan TSI tentang medan menuju Curug Jaksa untuk anak-anak.

“Jaraknya cuma 100 meter kok, Bu,” ujar salah seorang penjaga toilet di TSI.

“Kalau anaknya capek, ya pelan-pelan saja jalannya,” timpal petugas yang lain.

Berbekal testimoni mereka, saya makin yakin kalau perjalanan ke Curug Jaksa ramah anak. Maka, setelah mengisi perut di area Baby Zoo, kami pun membulatkan tiket pergi ke sana. Kami lalu menuju Plaza Gajah untuk membeli tiket kereta wisata seharga Rp 20 ribu per orang untuk keliling seharian. Begitu kereta datang, kami segera naik dan ikut berkeliling area TSI.

Jalan masuk Curug Jaksa berada di tempat parkir paling belakang TSI, dimana medannya berupa tanjakan cukup curam. Karena itu, untuk menghemat tenaga, sebaiknya memang naik kereta wisata menuju ke sini.

Gerbang menuju Air Terjun Curug Jaksa

Gerbang menuju Air Terjun Curug Jaksa

Jarak dari gerbang Curug Jaksa ke lokasi air terjun hanya 100 meter, which is deket banget!! Tak perlu khawatir terpeleset, karena medan pendakian ini sudah dibuat tangga-tangga bersemen oleh pihak TSI. Sejak mendaki tangga-tangga tersebut pun sudah terdengar suara gemericik air terjun.

Kai dengan sangat mudah dan semangat sampai di lokasi. Ia begitu terpukau melihat air terjun untuk pertama kalinya. Adiknya, Qudsi (11 bln), yang saya gendong pun ikut bersemangat. Qudsi tak henti-hentinya berteriak senang. Ia bahkan ingin ikut main air seperti kakaknya 😀

Alhasil, kami menghabiskan waktu satu jam lebih di sana. Apalagi kalau bukan main air hehehe… Qudsi pun tak mau kalah sama kakaknya 🙂 Bedanya, Qudsi tak lepas dari pegangan saya karena dia belum bisa jalan, tapi maunya jalan sendiri wkwkwkwk ^_^

Qudsi ikut main air

Qudsi ikut main air

Kai sueneeeng banget

Kai sueneeeng banget

Airnya dingiiin tapi suegeeerrr ya Kai :)

Airnya dingiiin tapi suegeeerrr ya Kai 🙂

Ketika Kai Sakau Naik Kfw

Usai mandi Ahad pagi menjelang siang kemarin (24/11) Kai tiba-tiba minta jalan-jalan. “Kai mau jalan-jalan,” ujarnya.

“Jalan-jalan kemana?” tanya saya.

“Naik busway (bus Transjakarta. Red),” jawabnya.

“Naik busway kemana?”

“Naik busway ke kampus bapak, ke danau UI.”

“Emang bisa naik busway ke kampus bapak?”

“Iya, bisa.”

“Ya udah, bilang bapak sana.”

Lalu Kai berlari menuju kamar sambil berteriak, “Bapaaaak, Kai mau naik busway.”

“Naik busway kemana?” ujar bapak yang tengah rebahan di tempat tidur.

“Ke kampus bapak, ke Danau UI!” jawab Kai dengan lantang.

“Kalo ke kampus bapak mah naik kereta.”

“Iyah, kel(r)eta ajah gapapah.”

“Gimana tuh, anaknya mau jalan-jalan?” tanya saya ke suami.

“Ya udah, ayo,” jawab suami saya sambil menggeliat.

“Kalo mau jalan-jalan, pakai baju dulu yang bener,” ujar saya sambil mengejar Kai yang gak bisa diem kalo lagi dipakein baju. Tapi dasar anak-anak yah, begitu keinginannya untuk jalan-jalan dikabulkan, dia malah loncat-loncat kegirangan sambil berdendang sehingga tambah susah saya memakaikan bajunya. “Eh, diem dulu. Sini, pake baju dulu. Ntar kalo gak pake baju gak boleh naik kereta sama masinis,” bujuk saya.

Akhirnya Kai mau diam sebentar untuk pakai baju. Ketika ia sudah berpakaian rapih, kini giliran dia yang protes, “Bapak, ganti baju bapak!”

“Iya… iya,” suami saya bangkit perlahan dari tempat tidur.

“Aku gak ikut ya? Cucian numpuk nih,” ujar saya ke suami.

“Oke,” jawabnya.

“Kai jalan-jalan sama bapak aja ya?”

“Iyah.”

“Ibu gak ikut gapapa ya?”

“Iyah.”

Sementara bapaknya Kai berganti baju, saya menyiapkan tas dan perbekalan yang perlu dibawa untuk piknik ke Danau UI. Sebelumnya kami memang terbiasa piknik murmer ke tempat ini, sehingga Kai familiar dengan kampus dan Danau UI.

Sambil menunggu bapaknya bersiap-siap, tiba-tiba Kai berseru, “Kai mau naik Kfw!” Kfw adalah Kereta Rel Listrik (KRL) buatan PT INKA Madiun hasil kerjasama dengan Bank Kfw Jerman. Indonesia Railfans biasa menyebut kereta jenis ini dengan “Kfw”.

“Lho, katanya mau ke Danau UI? Kalau Kfw-nya gak ke UI gimana?”

“Gapapa,” Jawab Kai.

“Kalo Kfw-nya ke Kota gimana?”

“Gapapa.”

“Kalo Kfw-nya ke Tanah Abang gimana?”

“Gapapa.”

“Tuh, dengerin anaknya tuh,” ujar saya ke suami. Yang diajak ngomong cuma senyum-senyum melihat tingkah Kai.

Sambil kegirangan, Kai berceloteh, “Kai mau naik Kfw yang pintunya wal(r)na ol(r)en. AC-nya dingiiiiiin.”

Akhirnya mereka berdua berangkat ke Stasiun Duren Kalibata, sementara saya di rumah sambil mengikuti perjalanan Kai lewat whatsapp.

Berdasarkan laporan suami lewat whatsapp, rupanya setelah menunggu 30 menit di stasiun, tibalah kereta Kfw dari Depok menuju Kota. Naiklah mereka berdua ke dalam kereta yang diidam-idamkan itu. Sampai di Stasiun Kota, mereka berdua tetap di dalam kereta tersebut dan ikut kembali menuju ke arah Depok. Rencananya, mereka akan turun di Stasiun Pondok Cina, lalu berjalan kaki menuju Danau UI. Namun ternyata baru sampai di Stasiun Lentent Agung, Kai tertidur pulas. Maklum, karena kereta ini memang nyaman. Selain AC yang dingin, tempat duduknya juga empuk dan lega.

Image

Kai di dalam Kereta Kfw produksi PT INKA Madiun kerjasama dengan Bank Kfw Jerman

Maka, rencana piknik ke Danau UI dibatalkan karena Kai tidur. Akhirnya mereka berdua ikut kereta Kfw sampai pemberhentian terakhir di Stasiun Depok. Dan karena Kai masih juga tidur, maka mereka berdua ikut kereta tersebut kembali lagi ke arah Kota 😀 Rupanya ke-sakau-an Kai naik Kfw terbayar sudah. Puas dia muter satu setengah rit perjalanan, bahkan tidur siang di Kfw xixixixi…

Image

Kai dan Bapak menempuh rute Duren Kalibata-Jakarta Kota-Depok-Cawang (yang garis merah)… Kebayang kan gimana muter-muternya 🙂

Akhirnya Kai terbangun saat kereta berhenti di Stasiun Pasar Minggu Baru. Lalu mereka berdua turun di Stasiun Cawang yang terhubung dengan shelter busway. Sambil menunggu bus Transjakarta ke arah PGC, Kai dan bapak ‘piknik’ di halte busway Stasiun Cawang sambil menikmati bekal makan siang. Alhamdulillah… kesampaian juga keinginan Kai naik Kfw dan busway 😀

Image

Paket kumplit jalan-jalan Kai: Kereta Kfw + busway 🙂

Stroller Naik KRL

Berhubung anakku, Kai (2,5 tahun) maniak banget sama kereta, maka Hari Minggu kemarin kami memutuskan ke Pasar Baru naik Kereta Rel Listrik (KRL). Sebenarnya tujuannya gak jadi masalah, karena yang menjadi keasyikan utamanya adalah perjalanan menggunakan kereta 🙂

Kebetulan sepatu Kai sudah mulai kekecilan dan sepatu bapaknya baru saja hilang dicuri di Masjid, dan kebetulan juga baru dapet THR, maka kami pun menuju Pasar Baru yang terkenal dengan aneka koleksi sepatu dengan harga bersaing.

Mengingat medan Pasar Baru yang cukup bikin capek kalau harus jalan kaki, apalagi menggendong bayi, maka kami pun membawa stroller. Kami pun sudah siap jika harus membeli satu tiket kereta untuk Kai yang belum genap 3 tahun, karena ia naik stroller.

Image

Kai jalan-jalan cari sepatu di Pasar Baru

“Tidak usah beli tiket bu,” ujar petugas di Stasiun Duren Kalibata, “Paling nanti kalau naik kereta stroller-nya dilipat saja bu.”

Okelah kalau begituh. Kami pun berjalan menyusuri peron stasiun sambil mendorong Kai yang duduk di stroller. Namun berhubung kereta yang kami naiki lumayan lengang, maka ketika di dalam kereta, stroller tidak kami lipat.

Stroller baru kami lipat ketika sampai di Stasiun Juanda dan hendak menaiki bajaj menuju Pasar Baru. FYI, ini kali pertama Kai menaiki bajaj 😀

Turun dari bajaj, stroller kembali dibuka dan kami pun berjalan santai menjelajahi toko-toko sepatu di Pasar Baru yang ramai banget dikunjungi orang menjelang Lebaran ini 🙂

Berikut ongkos jalan-jalan Kalibata – Pasar Baru:

  • taksi dari rumah ke St Duren Kalibata   Rp 10,000
  • tiket KRL St Duren Kalibata – St Juanda  Rp 2,500
  • bajaj dari St Juanda ke Ps Baru                Rp 10,000

TOTAL                                                                     Rp 22,500 sekali jalan… PP jadi Rp 45,000

murah kan?! 😉

Piknik Murmer

Tanggal tua begini, kalau mau rekreasi mungkin harus pikir-pikir… secara pundi-pundi gaji mulai menipis.

Meskipun menurut perencana keuangan Ligwina Hananto, harus ada pos/bujet khusus untuk hiburan atau rekreasi, tetapi kadang kita tidak patuh pada bujet yang kita buat.. Dan itu terjadi pada saya 😛

Saat mood sedang galau (halah…) di tanggal tua begini butuh rekreasi murmer alias murah meriah yang bikin happy tapi gak bikin kantong seret. Maka pada Ahad lalu, terpilihlah danau UI sebagai tempat tujuan wisata.

Kenapa danau UI? Pertama, karena masuknya gratis. Selain itu, aksesnya mudah. Cukup berjalan kaki sekitar 200 meter dari stasiun Pondok Cina, Depok. Pemandangannya juga cukup indah. Udaranya sejuk karena banyak pohon rindang, serta semilir angin danau yang sukses bikin suamiku tidur nyenyak hehe..

Meskipun hamparan rumput di sekeliling danau tidak terlalu luas, karena sekarang banyak dibangun bangunan di pinggir danau UI, namun cukup lega untuk keluarga kecil kami.

image

Kai (20 bulan) senang sekali melihat rumput dan daun-daun kering. Kaki-kaki kecilnya tak berhenti melangkah. Senyumnya melebar saat daun kering yang diinjaknya berbunyi “kress” 🙂 . Air danau yang berkilau memantulkan sinar matahari pun membuatnya takjub.

Dengan berbekal makan siang yang dibawa dari rumah, kami pun menikmati piknik murmer di tepi danau sambil duduk dan tiduran beralaskan koran bekas. Tentu saja kami menyiapkan kantong kresek untuk tempat sampah agar tak mengotori lingkungan.

Rekreasi hari itu ditutup dengan ditandai kumandang azan ashar yang membuana dari masjid UI yang juga terletak di tepi danau. Kai yang lagi senang-senangnya menirukan azan langsung terdiam menyimak azan. Begitu azan selesai-seperti kebiasaannya di rumah-Kai langsung berteriak, “Bapak sholat!”. Namun kali ini Kai berteriak sambil berlari kecil di atas rumput menuju bapaknya yang sedang tidur lelap beralaskan koran.

Kami pun sholat ashar bersama di masjid UI. Lucunya, acara berwudhu adalah kesenangan tersendiri buat Kai. Melihat orang-orang berwudu, Kai ikutan. Alhasil bajunya basah kuyup. Saya biarkan saja. Toh kami membawa baju ganti untuknya.

image

Usai sholat kami pun pulang menggunakan KRL (Kereta Rel Listrik) yang merupakan moda transportasi kesukaan Kai karena pintunya bisa terbuka dan tertutup sendiri :-).

Rincian pengeluaran:
– tiket KRL Jakarta-Depok pp : 6000×2 = 12000
– ongkos Kopaja Stasiun Kalibata-Cililitan pp = 4000
Subtotal : 16000 x 2 orang = TOTAL : 32000 sajah! 😉