Backpacking with Two Kids by Public Transport

Jadi ceritanya libur 1 Muharram 1437 H kemarin, kami sekeluarga berencana ke Pantai Ancol. Secara Kai udah sejak lama ingin lihat pantai dan laut. Saking gak pernah lihat laut, ini anak ngeliat foto laut dibilang “Banjil(r) Bu, banjil(r)!” 😦 Kasihan banget kamu Kai, sering lihat banjir tapi gak pernah lihat laut ya :p

Kesannya tega banget ya saya tidak kunjung mengajak anak-anak ke pantai terdekat dari rumah (baca: Ancol). Masalahnya tuh karena… tahu sendiri air laut di Pantai Ancol yang tidak bersih. Karena itu saya pinginnya ngajak anak-anak ke Pantai di luar Jakarta. Kalaupun di Jakarta, selain Ancol lah… Pulau Seribu misalnya. Tapi karena kelamaan rencana dan gak eksekusi juga, makanya gak keturutan juga mau ke pantai-pantai itu. Secara bapaknya anak-anak belum dapat jatah cuti gitu loh, udah gitu sering dapet tugas ke luar kota dadakan… hix 😥

Hal itu terjadi lagi pas libur tahun baru Islam kemarin. Udah rencana jauh hari mau ke Ancol, eeeh gak tahunya sehari sebelumnya ditugasin ke Solo selama 4 hari. Alhasil, Kai yang sudah siap sejak pagi terus bertanya, “Bu, kok gak ke Ancol?”

Gak tega juga membatalkan kembali rencana lihat laut. Tapi kalau ke Ancol tanpa bapaknya, kemungkinan saya yang rempong, karena bawa dua balita. Pas sholat Dhuha saya cuma mohon sama Allah, dimudahkan dan diridhoi urusan hari itu, termasuk jika Allah ijinkan kami ke Ancol.

“Ibu, kok gak berangkat-berangkat sih?” tagih Kai.

Hari menjelang siang, saya agak ragu berangkat karena mental block bakalan rempong. Akhirnya bismillah aja saya jawab, “Kita ke Ancol setelah sholat zuhur dan makan siang ya. Kalau mau ke Ancol, Kai makan yang banyak ya”.

“Iya!” dengan semangat Kai setuju.

Pertimbangan berangkat menjelang sore karena matahari sudah tidak terlalu panas, tidak perlu bawa berat bekal makan siang, dan insyaallah pingin lihat sunset di pantai. So, here we come!

14:00 : berangkat dari rumah menuju Halte Busway Transjakarta di PGC

Sambil nunggu bus, selfie dulu :)

Sambil nunggu Busway Transjakarta, selfie dulu 🙂

14:30 : Busway PGC – Ancol tiba

15:30 : sampai di shelter Busway Ancol

15:30 – 15:40 : sholat ashar di mushola dekat shelter Busway

15:40 : Naik Bus Wara-wiri gratis menuju Monumen Ancol (kudu transit bus kalau mau ke Ancol Beach City (ABC)). Sengaja pilih ABC karena kabarnya pantainya masih bersih dan pasirnya putih karena pasir urukan.

15:55: Sampai di ‘Monumen Ancol’

Kai di Ancol

Sambil nunggu bus, Kai foto dulu

Qudsi ikutan gaya juga

Qudsi ikutan gaya juga

16:10 : naik ojek menuju Ancol Beach City (ABC) karena jalanan macet dan Bus gratis Wara Wiri tak kunjung tiba

16:25 : sampai di ABC dan menikmati pantai 🙂

Janji awalnya main pasir doang, lama-lama pingin ngerendem kaki, akhirnya nyebur juga dan basah kuyup :D

Janji awalnya main pasir doang, lama-lama pingin ngerendem kaki, akhirnya nyebur juga dan basah kuyup. Gak sah emang ke Pantai kalau gak basah 😀

17:10 : meski masih mau main air, saya ‘paksa’ bocah-bocah mandi bilas dan ganti baju karena hari mau gelap

17:30 : makan perbekalan sambil menanti sunset… Sayangnya mendung, jadi gak kelihatan sunsetnya 😦 FYI, sebenarnya di ABC ini dilarang bawa bekal makan & minum, tapi kami lolos dari penggeledahan security karena saya hanya bawa satu tas backpack 🙂

18:00 : mengantri wudhu dan sholat Magrib di mushola ABC

18:30 : naik ojek ke Shelter Busway Transjakarta

18:50 : bus tiba

19:50: sampai PGC

20:00: sampai rumah. Alhamdulillah hepi meskipun teparrrr :))

Biaya:

Tiket Busway @Rp3,500 x 2 orang (anak di atas 2 tahun sudah dihitung) PP : Rp 14,000,-

Tiket masuk Pantai Ancol @Rp 25,000 x 2 orang : Rp 50,000,-

Ojek di Kawasan Ancol @Rp 20,000 PP : Rp 40,000,-

TOTAL Rp 104,000,- sajah :p

Bermain di Perpus DKI

Setelah membaca serunya kisah Bu Retno berkunjung ke Perpustakaan Daerah Provinsi DKI Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM) tempo hari, saya pun bertekad kesana suatu hari nanti. Dan suatu hari itu adalah Selasa (9/6) kemarin. Kebetulan sepupu saya dari Kediri beserta anak-anaknya berkunjung ke Jakarta. Maka kemarin kami sepasukan bermain kesana. Berikut keseruan kami semua di sana 😉

Mendaki Air Terjun Bersama Balita

Kai (4 th) pingin banget lihat air terjun dan sungai di gunung. Ini karena sering saya pertontonkan video murotal Al Quran yang visualisasinya pemandangan alam, termasuk air terjun dan sungai-sungai yang jernih airnya.

Kebetulan Kamis (28/05) lalu sekolahnya Kai mengadakan karya wisata ke Taman Safari Indonesia (TSI), Cisarua, Bogor. Maka sejak jauh hari saya mencari informasi tentang perjalanan ke Air Terjun Curug Jaksa yang berada di area TSI ini. Menurut hasil googling dan survey di youtube sih, medan menuju air terjun ini cukup mudah dijangkau, terutama untuk anak-anak usia balita. Namun ketika saya mengutarakan keinginan kami ini kepada kepala sekolahnya Kai, beliau tidak menyarankan–padahal beliau sendiri belum pernah ke sana 😦

Saya agak galau juga saat Ibu Kepala Sekolah tidak menyarankan, namun hati kecil saya yakin bahwa medannya sangat mudah dijangkau. Ditambah lagi, Kai sangat-sangat ingin lihat air terjun. Kesempatan langka buat kami yang tinggal di kota besar untuk merasakan segarnya air terjun.

Maka, saat tiba di area TSI, saya minta pendapat beberapa karyawan TSI tentang medan menuju Curug Jaksa untuk anak-anak.

“Jaraknya cuma 100 meter kok, Bu,” ujar salah seorang penjaga toilet di TSI.

“Kalau anaknya capek, ya pelan-pelan saja jalannya,” timpal petugas yang lain.

Berbekal testimoni mereka, saya makin yakin kalau perjalanan ke Curug Jaksa ramah anak. Maka, setelah mengisi perut di area Baby Zoo, kami pun membulatkan tiket pergi ke sana. Kami lalu menuju Plaza Gajah untuk membeli tiket kereta wisata seharga Rp 20 ribu per orang untuk keliling seharian. Begitu kereta datang, kami segera naik dan ikut berkeliling area TSI.

Jalan masuk Curug Jaksa berada di tempat parkir paling belakang TSI, dimana medannya berupa tanjakan cukup curam. Karena itu, untuk menghemat tenaga, sebaiknya memang naik kereta wisata menuju ke sini.

Gerbang menuju Air Terjun Curug Jaksa

Gerbang menuju Air Terjun Curug Jaksa

Jarak dari gerbang Curug Jaksa ke lokasi air terjun hanya 100 meter, which is deket banget!! Tak perlu khawatir terpeleset, karena medan pendakian ini sudah dibuat tangga-tangga bersemen oleh pihak TSI. Sejak mendaki tangga-tangga tersebut pun sudah terdengar suara gemericik air terjun.

Kai dengan sangat mudah dan semangat sampai di lokasi. Ia begitu terpukau melihat air terjun untuk pertama kalinya. Adiknya, Qudsi (11 bln), yang saya gendong pun ikut bersemangat. Qudsi tak henti-hentinya berteriak senang. Ia bahkan ingin ikut main air seperti kakaknya 😀

Alhasil, kami menghabiskan waktu satu jam lebih di sana. Apalagi kalau bukan main air hehehe… Qudsi pun tak mau kalah sama kakaknya 🙂 Bedanya, Qudsi tak lepas dari pegangan saya karena dia belum bisa jalan, tapi maunya jalan sendiri wkwkwkwk ^_^

Qudsi ikut main air

Qudsi ikut main air

Kai sueneeeng banget

Kai sueneeeng banget

Airnya dingiiin tapi suegeeerrr ya Kai :)

Airnya dingiiin tapi suegeeerrr ya Kai 🙂

Menikmati Transportasi Publik di Jakarta

Selasa (4/11) kemarin jadwal libur saya. Pingin banget ke Indonesia International Book Fair (IIBF) 2014 di Istora Senayan, apalagi tiap hari ada undian dengan hadiah haji gratis dari Kerajaan Arab Saudi. Berhubung di rumah gak ada orang yang bisa jagain bocah-bocah, maka saya bawa Kai dan Qudsi ikut serta.

Kai yang memang hobi naik KRL dan busway sangat antusias waktu saya bilang mau ke pameran buku naik busway. Cukup rempong memang bawa bayi dan balita plus stroller naik kendaraan umum. Karena itu niat saya, nanti pulangnya naik taksi saja.

Maka perjalanan dimulai jam 09:30 pagi dari halte busway PGC yang deket banget dari rumah. So far, perjalanan cukup nyaman, karena stroller bisa terus di dorong sampai naik ke dalam bus, bahkan sampai ke tempat tujuan. Karena memang halte busway yang kami lalui sangat compatible untuk stroller atau kursi roda alias tidak ada tangga. Selain itu, jalur pejalan kaki di area Jl Jendral Sudirman cukup nyaman dan lebar untuk dilalui stroller. Hanya saja, proyek pembangunan stasiun MRT tepat di depan Pintu II Senayan membuat jalur yang dulunya rindang, jadi panas dan berdebu.

Sampai di pintu utama Istora, kami ngaso dulu karena haus dan lumayan capek jalan kaki buat kaki kecil Kai. Lanjut lihat-lihat stan Kerajaan Saudi yang ramai dengan pengunjung. Mungkin karena di stan ini dibagikan air zamzam, Quran, dan kurma gratis. Namun sayang kami hanya kebagian kurma saja. Lanjut lagi ke tengah arena Istora yang AC-nya lebih dingin sekalian ngadem 🙂 Di sana saya membeli beberapa buku jenis ensiklopedi anak-anak dengan harga miring. Lanjut lagi makan siang di bangku penonton yang terletak di belakang stan-stan itu. Namun baru beberapa suap, Kai minta pulang naik KRL dari Stasiun Kota. Weleh-weleh… Padahal niatnya kan ikut undian haji gratis yang diundi jam 16:30 😦

Ya sudahlah, mungkin karena suasana pameran buku saat itu sangat menjemukan buat Kai. Jadi saya mengalah. “Tapi sebelum pulang, sholat dzuhur dulu ya,” ujar saya pada Kai.

“Iya!” sahut Kai mendadak jadi bersemangat.

Selepas sholat, tiba-tiba Kai bertanya, “Bu, di pameran buku ada keleta gak?”

“Nanti kita cari ya,” jawab saya.

Pucuk di cinta ulam tiba. Ternyata stan penerbit T**a S**a**k*i tepat dekat mushola perempuan menjajakan buku stiker kereta api dengan harga miring!! 😀

Lanjut… kami pulang naik busway ke Kota yang terkoneksi dengan stasiun Jakarta Kota. Ceritanya batal deh pulang naik taksi 😥 Gapapa deh, sayang anak sayang anak 😀 So far sampai jalur koneksi ke stasiun Jakarta Kota perjalanan sangat nayaman. Stroller juga masih bisa melaju. Tapi….. saat hendak memasuki pintu stasiun Kota, tanjakan berupa tangga. sementara lift tidak berfungsi 😦

Yak, stroller harus dilipat ya nak. Rempong memang…. tapi alhamdulillah ada ibu-ibu baik banget bantuin saya sampai masuk ke dalam stasiun padahal dia sendiri gak mau ke stasiun. Subhanallah…

Lanjut… mulai dari stasiun sampai ke tempat tujuan, stroller tetap dilipat. Karena sayang sungguh disayang, tingkat ketinggian peron dan pintu kereta tidak sama sehingga stroller susah naik. Di dalam gerbong kereta pun tidak semua gerbongnya menyediakan tempat khusus kursi roda.

Kami turun di stasiun Cawang yang terkoneksi dengan halte busway. Bahu saya sudah mulai pegal menggendong Qudsi. Saya rayu Kai untuk naik taksi saja sampai rumah, tapi Kai emoh. Padahal di pintu stasiun taksi Ex***** dan Bl** B*** berjejer rapi menunggu penumpang. Para supir taksi itu juga menawarkan taksi mereka, tapi Kai ngotot naik busway sampai PGC. Ya sutra lah… Stroller tetap dilipat karena saya males ribet membukanya lagi, sementara dari Cawang ke rumah sudah dekat.

Kami sampai rumah jam 15:00. Cukup cepat untuk ukuran Jakarta yang sering macet. Alhamdulillah perjalanan lancar, nyaman, dan cepat. Mungkin karena kami jalan di jam lengang. Emang gak rempong gitu? Pastinya! Tapi Alhamdulillah banget sepanjang perjalanan ada aja orang baik yang membantu kami, mulai dari memberi kursi prioritas, membawakan tas, mendorong stroller, menggandeng dan menggendong Kai. Masyaallah…

Kesimpulan saya, transportasi publik di Jakarta cukup bisa dinikmati di jam non sibuk dan hanya di jurusan-jurusan tertentu. Misalnya, untuk busway, baru koridor I yang nyaman, karena armadanya banyak sehingga tidak berdesakan dan tidak lama menunggu. Selain itu, armadanya juga baru, sehingga AC masih dingin dan tidak mogok. Untuk KRL Commuter Jabodetabek, baru Stasiun Sudirman yang dikasih bintang lima, karena menyediakan eskalator dan lift yang berfungsi baik untuk penumpang rempong seperti saya.

Jadi, yaaa…. bintang tiga dari lima bintang deh buat transportasi publik Jakarta. Semoga ke depannya bisa bintang lima di semua koridor, halte, stasiun, dan jurusan… amiiin 😉

Banjir ‘Tahunan’

Banjir 'Tahunan'

Foto diambil dari lokasi yang sama, Jl Dewi Sartika RW 07 Kelurahan Cililitan, Jakarta Timur.

Sepenggal Banjir Jakarta Hari Ini

Seperti tahun lalu, di tanggal yang sama Jakarta hari ini kembali terkepung banjir. Inilah sepenggal bingkai banjir Jakarta di daerah rumah saya…

akses menuji jl cililitan kecil I

akses menuji jl cililitan kecil I (photo by mbakje)

jl raya kalibata

jl raya kalibata (photo by mbakje)

view from fly over kalibata

view from fly over kalibata (photo by mbakje)

pengungsi banjir di kolong fly over jl kalibata (photo by mn habibie)

pengungsi banjir di kolong fly over jl kalibata (photo by mn habibie)

Selamat Jalan Bidadari Kecil

Keceriaan membuncah di wajah Tiara ketika orang tua karibnya mengajak berakhir pekan bersama di villa keluarga mereka di Puncak, Bogor. Ajakan itu sekaligus merayakan ulang tahun sahabat gadis tujuh tahun itu yang juga teman sekolahnya. Setelah sepakat, orang tua mereka dan beberapa sanak saudara berencana menghabiskan akhir pekan di villa tersebut.

Karena jarak yang lumayan jauh, mereka semua berangkat selepas subuh pada Hari Sabtu (7/12). Dengan mata yang masih mengantuk, Tiara dan teman-temannya menuju mobil-mobil yang siap membawa mereka berlibur. Ada empat mobil yang berkonvoi dari Sepatan, Tangerang, Banten menuju Puncak, Bogor, Jawa Barat. Karena kantuk yang masih menggelayuti, gadis-gadis kecil tersebut tidur sepanjang perjalanan. Bahkan untuk sarapan pun mereka tak sempat. Hanya beberapa potong saltcheese crackers yang sempat mengisi perut-perut siswi kelas satu SD itu.

“Wah, puas banget nih tidurnya,” ujar ayah Tiara sambil menyetir mobil.

Iring-iringan mobil itu melaju kenjang di jalan nan lengang karena masih paginya hari. Akhirnya mereka tiba di lokasi berudara sejuk itu saat matahari sudah sepenggalah tinggi. Melihat villa yang asri dan kolam renang yang cukup luas, anak-anak pun langsung berhamburan keluar. Sementara para orang tua sibuk menurunkan barang dan memarkir mobil.

Karena luput dari perhatian orang dewasa, anak-anak itu langsung menceburkan diri ke kolam renang yang belum diketahui kedalamannya. Anak-anak yang selalu tertarik dengan air tidak peduli dengan bahaya yang mungkin mengancam mereka, padahal mereka belum lihai berenang. Maka keceriaan pagi itu langsung berubah menjadi kepanikan ketika Tiara tenggelam.

Karena tidak ada yang paham mengenai CPR, maka Tiara langsung dibawa ke RS terdekat, yaitu RS Cimacan, Bogor. Namun ternyata nyawanya tidak tertolong karena terlalu banyak menelan air. Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun. Tiara milik Allah SWT dan telah kembali kepada pemiliknya.

Kedua orang tuanya sempat tak percaya dengan kejadian mendadak ini. Saya pun sebagai tantenya sempat tak percaya dengan berita ini. Tak heran jika bunda Tiara sempat tak sadarkan diri. Bahkan sang ayah sempat menepuk-nepuk anak semata wayangnya seraya berkata, “Bangun Tiara, sudah sampai nih,” ketika mereka pulang kembali ke rumah.

Peristirahatan terakhir Tiara

Peristirahatan terakhir Tiara

Air mata ini menetes bukan karena kami menolak takdir-Nya, tapi kami sedih berpisah dengannya, seperti kesedihan Rasulullah SAW ketika putra kecilnya, Ibrahim bin Muhammad, dipanggil terlebih dulu oleh-Nya. Selamat jalan bidadari kecil. Semoga kelak kita dapat berkumpul bersama di surga-Nya… amiiin Ya Rabb…

Pertemuan terakhir kami bersama Tiara (dilingkari) di Taman Cattleya

Pertemuan terakhir kami bersama Tiara (dilingkari) di Taman Cattleya

“Tidaklah sekali-kali sepasang orang muslim ditinggal mati oleh anaknya yang belum baligh, melainkan Allah akan memasukkan keduanya bersama anak-anak mereka ke surga berkat karunia & rahmatNya” (HR Bukhari)

Asinan Buah Homemade

Asinan Buah Homemade

Asinan Buah Homemade. Kuahnya memang gak terlalu merah karena tanpa pewarna dan zat aditif lainnya, tapi rasanya mak nyoss. Bumbu kuah: cabe merah, bawang putih, gula pasir, garam, perasan jeruk nipis/lemon. Hmmmmm… 😛

Brownies 3 M

Brownies 3 M

Brownies 3M (Mudah Murah Meriah) Resep nyontek dimareh http://dapurhangus.wordpress.com/2012/04/29/brownies-mudah-murah-dan-lezatosss/

Dasi Kupu-kupu

Kai Gaya

Kai (2,5 th) bergaya di depan kamera dengan dasi kupu-kupunya ^^

Photo by Mas Syekh