Kena Musibah Malah Dikenai Denda

Pagi ini saya ‘disetrap’ PT KAI Commuterline Jabodetabek alias PT KCJ. Bayangkan, sejak jam 9:30 sampai jam 12:30 saya tidak bisa keluar stasiun! Apa pasal? Saya kehilangan tiket elektronik atau lebih dikenal dengan kartu multi trip (KMT).

KMT saya ini berupa kartu flazz BCA yang dapat digunakan untuk berbagai macam transaksi, termasuk tiket KRL, Bus Transjakarta.

flazz-bca-commuterline

Saya baru menyadari kehilangan KMT saat sampai di stasiun tujuan. Saya sudah obrak-abrik isi tas dan saku baju, namun tidak ketemu. Dengan lesu, saya lapor ke petugas PKD yang berjaga di pintu kelauar dengan harapan ada solusi positif.

Ironisnya, laporan tentang musibah kehilangan ke petugas justru membuat saya makin jantungan. Bagaimana tidak? Saya malah ditodong denda sebesar Rp 50,000! Padahal tari perjalanan saya dari Stasiun Duren Kalibata sampai ke Stasiun Gondangdia hanya Rp 2,000. Gimana gak jantungan? wong saya cuma punya uang Rp 20,000. Itu pun untuk makan siang dan ongkos pulang naik Kopaja😥

Dengan setengah merengek, saya minta keringanan ke petugas, karena saya tidak punya uang. Ternyata solusi yang ditawarkan malah membuat saya meneteskan air mata. Saya malah disuruh meninggalkan KTP untuk ditebus di kemudian hari dengan denda sebesar Rp 50,000 tadi.

“Ya Allah, Mas… masak tega. Wong saya sudah kehilangan, malah disuruh bayar lima puluh ribu?”

Akhirnya saya dibawa ke ruang kepala stasiun yang akhirnya juga tidak membawa solusi karena kepala stasiun dan stafnya tidak ada di tempat. Saya disuruh menunggu sampai waktu yang entah kapan sementara saya sudah sangat terlambat untuk masuk kantor.

Akhirnya saya minta tolong petugas tersebut untuk menghubungi stasiun tempat saya berangkat tadi. Siapa tahu KMT saya jatuh di peron tempat saya menunggu. Lalu saya pun disuruh naik tangga lagi ke lantai tiga tempat ruang staf informasi.

Di sana petugas informasi yang ramah mempersilahkan saya duduk sambil menghubungi Stasiun Duren Kalibata. Dia juga menghubungi petugas PKD yang berada di dalam KRL 12 gerbong yang tadi saya naiki, barangkali menemukan KMT saya terjatuh di dalam gerbong.

Sambil menunggu laporan dari petugas di Stasiun Duren Kalibata dan PKD di KRL 12 gerbong, petugas informasi itu terus mengumumkan posisi KRL kepada calon penumpang di Stasiun Gondangdia.

Singkat cerita, KMT saya tidak ditemukan. Kemungkinan besar KMT saya terjatuh dan diambil orang, apalagi KMT saya berupa kartu flazz yang dapat digunakan untuk belanja di supermarket meskipun saldonya ‘hanya’ Rp 23,000.

Saya sangat menyayangkan kebijakan PT KCJ yang membebankan denda sebesar itu untuk orang yang kehilangan kartu tiket elektronik, baik KMT maupun THB (Tiket Harian Berjamin. Red). Ibaratnya, orang kena musibah kehilangan uang (berupa kartu) malah disuruh keluar uang. Dan ketika orang tersebut tidak punya uang, malah disuruh menggadaikan KTP dan tetap harus menebusnya. Sangat tidak adil!

 

 

 

Bahagia itu…

Dua hari lalu Kai ulang tahun yang kelima. Sungguh tak terasa, sudah lima tahun saya jadi ibu. Kami pun mengadakan syukuran sederhana bersama Ibu Guru dan teman-teman Kai di TK Mutiara. Alhamdulillah semua berjalan lancar.

Saya pun mengambil cuti tepat di hari ulang tahun Kai. Setiap saya tanya, “Kai mau hadiah apa?”, jawabannya selalu sederhana, “Naik kereta”. Alhamdulillah banget ya… permintaannya gak bikin Ibu tekor, Nak hihihi :)…

Karena saya cuti, maka sepulang sekolah, kami pun naik kereta rel listrik (KRL) ke Stasiun Jakartakota. Kebetulan Kai memang sudah lama sekali penasaran sama yang namanya “vending machine” alias mesin penjual tiket.

image

Kami baru tahu, ternyata semua transaksi tiket KRL commuterline, baik untuk kartu multi trip (KMT) maupun tiket harian berjamin (THB), di stasiun ini menggunakan vending machine. Jadi tidak ada lagi transaksi manual.

Antrian vending machine ini cukup panjang, meskipun mesin yang tersedia banyak. Maklum, masih banyak yang gaptek… termasuk saya hehehe 😆. Tapi sebenarnya kalau sudah paham, mesin ini sangat praktis dan bisa memangkas waktu antrian. Cara kerjanya persis mesin ATM.

image

Alih-alih penasaran sama vending machine, Kai juga terpikat dengan KRL “KFW” yang tengah ngetem di jalur 4 Stasiun Jakartakota.

“Ibu, aku mau naik KFW!” serunya.

FYI, KFW ini adalah KRL buatan PT INKA di Madiun, Jawa Timur. Tidak seperti KRL commuter line lainnya yang mayoritas buatan Jepang. Indonesia Railfans menyebutnya “KFW” karena pembuatan kereta ini dibiayai oleh institusi KFW (lupa kepanjangannya apa. Red) di Jerman.

Kami pun menaiki KFW jurusan Jakartakota – Kampung Bandan ini. Waktu tempuh dua stasiun ini cuma lima menit. Maklum, hanya dua stasiun. KFW ini adalah kererta feeder bagi penumpang yang ingin transit di Stasiun Kampung Bandan dan meneruskan perjalanannya ke berbagai tujuan, seperti Stasiun Duri, Jatinegara, atau Bogor.

Kai dan adiknya, Qudsi, bahagia bukan main. Perjalanan singkat, mudah, murah, dan berkesan. Jadi, bahagia itu sederhana🙂.

image

www.kaheel7.com

Situs keren tentang fakta ilmiah mukjizat Al Quran.

kaheel7

Ir. Abdel Daim Kaheel adalah seorang peneliti tentang kemukjizatan ilmiah Al-Quran dan Sunnah yang dilahirkan di kota Homs, Suriah, tahun 1966. Ia fasih berbahasa Arab dan bahasa Inggris. Saat ini bekerja di bidang teknik pengawasan, Departemen Kehakiman, seorang ahli hukum peradilan Suriah.

Ir. Abdel Daim Kaheel adalah pengawas dan pemilik website: http://www.kaheel7.com, situs dalam sembilan bahasa ini memiliki 1500 artikel ilmiah dan penelitian. Yuk mampir… ^_^

TRAGEDI 3 MARET 1924 DAN PENGARUHNYA TERHADAP DUNIA ISLAM

“Sungguh akan terurai ikatan Islam simpul demi simpul. Setiap satu simpul terlepas maka manusia akan bergantung pada simpul berikutnya. Yang paling awal terurai adalah hukum dan yang paling akhir adalah shalat,” (HR Ahmad 45/134).

Masyaallah… itu sebabnya setelah runtuhnya Khilafah Islamiah pada 3 Maret 1924, semua yang berusaha menegakkan hukum Islam selalu diberangus Barat. Bahkan semasa sekolah pun kita dicuci otak lewat pelajaran sejarah versi Belanda. Tapi fakta sejarah tidak pernah bohong. Dan sebentar lagi–sesuai hadits–insyaallah Khalifah Islam kembali bangkit!

Laesya's Blog

O l e h :

LASRI EKA SYAFMI

409.029

Dibalik 3 maret 1924

Tidak banyak muslim yang tahu bahwa 85 tahun yang lalu telah terjadi sebuah peristiwa yang sangat mempengaruhi perjalanan kehidupan umat Islam di seantero dunia. Persisnya pada tanggal 3 Maret 1924 Majelis Nasional Agung yang berada di Turki menyetujui tiga buah Undang-Undang yaitu: (1) menghapuskan kekhalifahan, (2) menurunkan khalifah dan (3) mengasingkannya bersama-sama dengan keluarganya.

Turki pada masa itu merupakan pusat pemerintahan Khilafah Islamiyah terakhir. Kekhalifahan terakhir umat Islam biasa dikenal sebagai Kesultanan Utsmani Turki alias The Ottoman Empire, demikian penyebutannya dalam kitab-kitab sejarah Eropa. Kekhalifahan Utsmani Turki merupakan kelanjutan sejarah panjang sistem pemerintahan Islam di bawah Ridha dan Rahmat Allah yang berawal jauh ke belakang semenjak Nabi Muhammad pertama kali memimpin Daulah Islamiyyah (Tatanan/Negara Islam) Pertama di kota Madinah.

Secara garis besar kita dapat membagi periode sejarah kepemimpinan Islam ke dalam lima periode utama berdasarkan sebuah Hadits…

View original post 3,952 more words

“Sudah Tobat”

(ilustrasi) sumber foto: MediaIslamNet

(ilustrasi) sumber foto: MediaIslamNet

Beberapa tahun lalu seorang saudara bertamu ke rumah, tepat saat saya baru tiba dari kantor. Dengan senang hati saya menyambutnya, karena kami sudah lama tak bertemu. Buru-buru saya menyiapkan suguhan, tak peduli badan yang berkeringat karena saya belum sempat mandi.

Setelah mengobrol ngalor-ngidul, ujung-ujungnya dia menawarkan produk asuransi (yang katanya) syariah. Al hasil pertemuan malam itu hingga larut, karena ia panjang lebar memaparkan berbagai keunggulan produknya. Perut saya yang mulai keroncongan seolah berteriak-teriak, “Hentikan… Hentikan!”

Sejujurnya ingin sekali saya menghentikan pertamuan malam itu, namun tak mungkin saya ‘mengusir’-nya. Berkali-kali saya melirik jam dinding yang menunjukkan waktu tak lazim untuk bertamu. Lelah dan kantuk pun mulai menyergap, namun saudara saya masih semangat menjajakan produknya.

Inikah strategi pemasaran produk asuransi, pikir saya. Dalam kondisi lelah, lapar, bercampur iba, diharapkan calon konsumen meng-iya-kan semua tawaran sang agen, agar ‘semua’ segera berakhir. Tapi sayangnya saya bukan tipe “yes man”. Saya justru tidak mau memutuskan sesuatu di kala lelah, lapar, dan terdesak.

Singkat cerita, malam itu berakhir dengan permohonan maaf saya. Saudara saya tidak berhasil mendapatkan konsumen. Namun pertamuan malam itu ditutup dengan manis.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya Hari Minggu lalu, saya sekeluarga bertamu ke rumahnya. Ia dan istrinya sedang sibuk melayani pembeli yang hilir-mudik ke warungnya. Sambil mengobrol pun, berkali-kali obrolan kami terinterupsi oleh pembeli yang datang. Rupa-rupanya, usaha warungnya terbilang sukses. Bahkan banyak pihak yang menitipkan dagangan di warungnya itu.

“Masih jadi agen asuransi, Mas?” tanya saya di sela-sela obrolan.

“Sudah tobat!” jawabnya tersenyum lebar. “Saya pernah menawarkan asuransi, terus orang itu jawab, ‘Hidup saya sudah saya asuransikan ke Allah, Mas’. Lha mau jawab apa saya??” kisahnya sambil tertawa.

Masyaallah…🙂

Alhamdulillah Allah karuniakan kepada keluarga saudara ini rezeki yang barokah lewat usaha warungnya yang laris manis. Bahkan sejak Ramadhan kemarin, warungnya berhenti menjual rokok. Padahal rokok adalah best selling item di warungnya.

“Memang omset sempat menurun beberapa bulan, tapi alhamdulillah Allah ganti dengan yang lain. Sejak sebulan kemarin penjualan beras yang paling tinggi,” cerita istrinya.

Kalau ditanya pembeli kenapa tidak jual rokok lagi, saudara saya menjawab singkat, “Sudah tobat, Pak!”🙂

Tragedi Mina ‘Sebenarnya’

Lepas sholat Jumat siang tadi, saya ngobrol dengan teman saya yang baru banget pulang dari liputan haji 1436 H tahun ini. Mas Totok Sulistiyanto, namanya. Beliau ini bertugas bersama dengan para petugas haji Kemenag. Jadi, selama 2,5 bulan Mas Totok bertugas di tanah suci, sebelum kloter pertama tiba hingga kloter terakhir pulang.

Selepas bertanya kabar dan ‘kangen-kangenan’, saya melontarkan rasa penasaran saya terkait tragedi Mina kemarin. Intinya adalah wallahua’lam bishawab tentang apa penyebab sebenarnya. Mengapa demikian? Karena sampai detik ini dugaan-dugaan yang beredar luas di media sosial tidak pernah terkonfirmasi kebenarannya. Pemerintah Saudi pun tidak pernah mempublikasikan rekaman cctv kejadian. Padahal ada ribuan cctv di sana.

Tentang isu adanya penutupan jalan, karena ada anggota kerajaan yang lewat, telah terbantahkan lewat medsos beberapa waktu lalu. Karena foto-foto yang beredar ternyata adalah kejadian satu tahun lalu. Itu pun bukan saat musim haji. Lagipula, untuk tamu VVIP, ada jalur sendiri untuk melontar jumrah, yaitu lewat bawah tanah atau naik helikopter. Terbukti dengan adanya beberapa helipad di dekat jamarat. Para tamu kerajaan pun tidak bermalam di tenda seperti jamaah haji pada umumnya. Mereka bermalam di ‘istana’ yang terletak di atas bukit batu di kawasan Mina.

Lalu, soal ledakkan gas beracun lantaran korban selamat tragedi ini hampir semuanya amnesia pun masih praduga. Sebab amnesia pun bisa terjadi pada orang yang dehidrasi, tidak harus kena gas beracun. Selain itu, pihak Saudi pun membantah adanya gas beracun tersebut.

Kemudian, dugaan adanya pasukan berani mati Syiah dari Iran yang sengaja berbalik arah untuk menimbulkan korban jiwa pun wallahua’lam bishawab. Tanpa bermaksud memihak siapapun, tapi memang berita ini tidak terkonfirmasi sampai saat ini. Terlebih perihal taqqiyyah, hanya Allah Yang Maha Tahu.

Sebagai catatan, Mas Totok cukup paham agama–Islam tentu saja. Jadi, bukan jurnalis yang awam Islamnya. Beliau juga sunni tulen.

Bagaimana dengan fakta adanya jalan yang ditutup? Menurut Mas Totok, memang benar ujung jalan 204–lokasi tragedi Mina–ditutup. Bahkan sebelum pelaksanaan wukuf pun jalan tersebut sudah ditutup dengan maksud untuk memecah arus pejalan kaki.

denah Armina oleh Mas Totok

Oret-oretan Jalan 204 oleh Mas Totok

Jalan 204 atau yang sering disebut sebagai “Jalan Arab” adalah jalan dua arah selebar 6 meter yang diapit tenda-tenda jamaah asal Timur Tengah. Jalan tersebut bukanlah jalan utama menuju jamarat. Jalan 223 (seperti tampak pada gambar) adalah jalan persimpangan di ujung jalan 204. Seperti tampak di gambar, ujung Jalan 204 memang ditutup. Bukan untuk blokade jalan karena ada tamu kehormatan lewat, melainkan untuk memecah arus pejalan kaki agar melewati Jalan 223.

Sehari sebelum insiden Mina, Mas Totok dan juga beberapa petugas dan pembimbing haji mengecek jalur menuju jamarat. Untuk jamaah haji Indonesia dan Asia Tenggara, ada jalan ‘resmi’, seperti tampak pada gambar. Jalan ‘resmi’ ini adalah jalan utama selebar 12 meter dan satu arah. Memang jalan ini tergolong ramai. Selain itu, secara jarak lebih jauh menuju ke jamarat, kurang lebih 28 km.

Pada saat mengecek jalur dari tenda Indonesia ke jamarat, mereka juga sempat melewati Jalan 204. Pada saat itu, jalan tersebut sepi, tidak seperti jalan ‘resmi’ yang merupakan jalan utama. Selain sepi, melalui Jalan 204 ini perjalanan ke jamarat juga relatif lebih cepat karena jaraknya hanya 14 km.

Namun Qodarullah, pada saat kejadian, Jalan 204 justru padat dan menimbulkan ribuan korban jiwa😦 Wallahua’lam bishawab…

Satu hal pasti, para mukimin (orang Indonesia yang bermukim di Saudi) sangat besar jasanya untuk membuka akses bagi para petugas haji kita. Mengapa? Karena perbedaan budaya dan bahasa yang masih awam untuk kebanyakan orang Indonesia yang non mukimin menyebabkan para petugas haji Indonesia tidak mendapatkan akses, bahkan informasi tentang kondisi jamaah haji Indonesia. Bayangkan, bahkan Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, pun diusir satpam dan cleaning service di lobi Rumah Sakit di Mina!

Nah, para mukimin yang fasih Berbahasa Arab dan sudah paham budaya orang Arab inilah yang bisa meluluhkan hati para asykar dan petugas-petugas Arab Saudi. Sehingga para petugas yang tadinya hanya bergeming ini alhamdulillah bisa berbalik 180 derajat sikapnya pada petugas-petugas haji Indonesia. Masyaallah…

Semoga tulisan ini bermanfaat adanya. Wallahua’lam bishawab.

Backpacking with Two Kids by Public Transport

Jadi ceritanya libur 1 Muharram 1437 H kemarin, kami sekeluarga berencana ke Pantai Ancol. Secara Kai udah sejak lama ingin lihat pantai dan laut. Saking gak pernah lihat laut, ini anak ngeliat foto laut dibilang “Banjil(r) Bu, banjil(r)!”😦 Kasihan banget kamu Kai, sering lihat banjir tapi gak pernah lihat laut ya :p

Kesannya tega banget ya saya tidak kunjung mengajak anak-anak ke pantai terdekat dari rumah (baca: Ancol). Masalahnya tuh karena… tahu sendiri air laut di Pantai Ancol yang tidak bersih. Karena itu saya pinginnya ngajak anak-anak ke Pantai di luar Jakarta. Kalaupun di Jakarta, selain Ancol lah… Pulau Seribu misalnya. Tapi karena kelamaan rencana dan gak eksekusi juga, makanya gak keturutan juga mau ke pantai-pantai itu. Secara bapaknya anak-anak belum dapat jatah cuti gitu loh, udah gitu sering dapet tugas ke luar kota dadakan… hix😥

Hal itu terjadi lagi pas libur tahun baru Islam kemarin. Udah rencana jauh hari mau ke Ancol, eeeh gak tahunya sehari sebelumnya ditugasin ke Solo selama 4 hari. Alhasil, Kai yang sudah siap sejak pagi terus bertanya, “Bu, kok gak ke Ancol?”

Gak tega juga membatalkan kembali rencana lihat laut. Tapi kalau ke Ancol tanpa bapaknya, kemungkinan saya yang rempong, karena bawa dua balita. Pas sholat Dhuha saya cuma mohon sama Allah, dimudahkan dan diridhoi urusan hari itu, termasuk jika Allah ijinkan kami ke Ancol.

“Ibu, kok gak berangkat-berangkat sih?” tagih Kai.

Hari menjelang siang, saya agak ragu berangkat karena mental block bakalan rempong. Akhirnya bismillah aja saya jawab, “Kita ke Ancol setelah sholat zuhur dan makan siang ya. Kalau mau ke Ancol, Kai makan yang banyak ya”.

“Iya!” dengan semangat Kai setuju.

Pertimbangan berangkat menjelang sore karena matahari sudah tidak terlalu panas, tidak perlu bawa berat bekal makan siang, dan insyaallah pingin lihat sunset di pantai. So, here we come!

14:00 : berangkat dari rumah menuju Halte Busway Transjakarta di PGC

Sambil nunggu bus, selfie dulu :)

Sambil nunggu Busway Transjakarta, selfie dulu🙂

14:30 : Busway PGC – Ancol tiba

15:30 : sampai di shelter Busway Ancol

15:30 – 15:40 : sholat ashar di mushola dekat shelter Busway

15:40 : Naik Bus Wara-wiri gratis menuju Monumen Ancol (kudu transit bus kalau mau ke Ancol Beach City (ABC)). Sengaja pilih ABC karena kabarnya pantainya masih bersih dan pasirnya putih karena pasir urukan.

15:55: Sampai di ‘Monumen Ancol’

Kai di Ancol

Sambil nunggu bus, Kai foto dulu

Qudsi ikutan gaya juga

Qudsi ikutan gaya juga

16:10 : naik ojek menuju Ancol Beach City (ABC) karena jalanan macet dan Bus gratis Wara Wiri tak kunjung tiba

16:25 : sampai di ABC dan menikmati pantai🙂

Janji awalnya main pasir doang, lama-lama pingin ngerendem kaki, akhirnya nyebur juga dan basah kuyup :D

Janji awalnya main pasir doang, lama-lama pingin ngerendem kaki, akhirnya nyebur juga dan basah kuyup. Gak sah emang ke Pantai kalau gak basah😀

17:10 : meski masih mau main air, saya ‘paksa’ bocah-bocah mandi bilas dan ganti baju karena hari mau gelap

17:30 : makan perbekalan sambil menanti sunset… Sayangnya mendung, jadi gak kelihatan sunsetnya😦 FYI, sebenarnya di ABC ini dilarang bawa bekal makan & minum, tapi kami lolos dari penggeledahan security karena saya hanya bawa satu tas backpack🙂

18:00 : mengantri wudhu dan sholat Magrib di mushola ABC

18:30 : naik ojek ke Shelter Busway Transjakarta

18:50 : bus tiba

19:50: sampai PGC

20:00: sampai rumah. Alhamdulillah hepi meskipun teparrrr :))

Biaya:

Tiket Busway @Rp3,500 x 2 orang (anak di atas 2 tahun sudah dihitung) PP : Rp 14,000,-

Tiket masuk Pantai Ancol @Rp 25,000 x 2 orang : Rp 50,000,-

Ojek di Kawasan Ancol @Rp 20,000 PP : Rp 40,000,-

TOTAL Rp 104,000,- sajah :p

“Jadikan orang tuamu Raja, maka rezeki mu seperti Raja”.

Self reminder >.<

ihei

ibu

Budi Harta Winata,
Pengusaha baja/Pemilik PT. Artha Mas Graha Andalan.                      
Ketika ditanya rahasia suksesnya menjadi Pengusaha, jawabnya singkat:
“Jadikan orang tuamu Raja, maka rezeki mu seperti Raja”.

Pengusaha yang kini tinggal di Cikarang ini pun bercerita bahwa orang hebat dan sukses yang ia kenal semuanya memperlakukan orang tuanya seperti Raja.

Mereka menghormati, memuliakan, melayani dan memprioritaskan orang tuanya.
Lelaki asal Banyuwangi ini bertutur, “Jangan perlakukan Orang tua seperti Pembantu”.

Orang tua sudah melahirkan dan membesarkan kita, lha kok masih tega-teganya kita minta harta ke mereka, pada hal kita sudah dewasa.

Atau orang tua diminta merawat anak kita sementara kita sibuk bekerja.

Bila ini yang terjadi maka rezeki orang itu adalah rezeki pembantu, karena ia memperlakukan orang tuanya seperti pembantu.

Walau suami/istri bekerja, rezekinya tetap kurang bahkan nombok setiap bulannya.

Menurut sebuah lembaga survey yang mengambil sampel pada 700 keluarga di Jepang, anak-anak yang sukses adalah : mereka yang memperlakukan dan…

View original post 103 more words

Menjadi Orang Tua Asuh Anak ‘Bermasalah’

Bebarapa hari belakangan saya terlibat proses administratif Kejar Paket B di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Negeri 12 Tengah, Jakarta Timur. Singkat cerita, saya memberanikan diri menjadi orang tua asuh dari pemuda 16 tahun yang putus sekolah saat ia duduk di kelas 2 SMP.

Sebenarnya niatan ini sudah lama ingin saya wujudkan, namun saya merasa ragu akan kemampuan finansial keluarga kami, ditambah lagi dengan konsekuensi mengasuh anak orang lain yang notabene ‘bermasalah’ di sekolahnya.

Sebut saja “Ardi”. Ia dikeluarkan dari sekolah saat duduk di kelas 2 SMP lantaran nilai rapornya kosong karena bolos dua bulan berturut-turut tanpa diketahui ibunya. Pemuda yatim ini setiap hari pamit berangkat ke sekolah pada ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci/setrika dari rumah ke rumah-termasuk rumah saya. Namun belakangan baru ketahuan ternyata Ardi tidak ke sekolah, melainkan main PS.

Ibunya luput mengawasi anak bungsunya ini lantaran setiap hari sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Suaminya sudah lama meninggal dunia, sementara anak tertuanya pun sibuk bekerja di sebuah pabrik elektronik dan sering pulang larut malam. Bahkan belakangan, anak tertuanya di-PHK karena sering sakit-sakitan.

Surat drop out dari sekolah kala itu bagaikan petir di siang bolong buat sang ibu. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi agar anaknya bisa sekolah, sementara sekolah swasta mahal biayanya. Karena itu, sang ibu memberanikan diri menghadap kepala sekolah agar anaknya diberi kesempatan belajar lagi. Singkat cerita, kepala sekolah memberikan kesempatan Ardi untuk sekolah lagi meskipun harus tinggal kelas.

Namun ternyata kesempatan kedua tersebut disia-siakan oleh Ardi. Ia kembali bolos sekolah dan main PS seperti sebelumnya. Akhirnya rapornya kosoang dan ia kembali DO. Ibunya pun marah, sedih, prihatin, campur aduk jadi satu. Maka kesempatan berikutnya adalah bersekolah di sekolah swasta atas biaya dari kerabat almarhum suaminya. Namun lagi-lagi kejadian serupa berulang di sekolahnya yang baru. Akhirnya Ardi kembali DO dan tak ada lagi yang mau membiayai sekolahnya.

Sang ibu benar-benar muntab. “Mau kamu apa sih Ardi?!!!”

Lalu Ardi mengungkapkan bahwa ia ingin bekerja sebagai buruh perkebunan di Puncak seperti tetangganya. Ibunya pun mengabulkan keinginan anaknya itu. Sang ibu lalu menitipkan Ardi pada mantan tetangganya yang kini tinggal di kawasan Puncak.

Hasilnya? Baru dua pekan di sana, Ardi minta pulang. Alasannya tidak cocok dengan pekerjaan itu….. (capee deeh!!!)

Maka selama dua tahun Ardi menganggur. Ia tak sekolah, tak pula bekerja. Terkadang dengan entengnya ia minta uang jajan pada ibunya yang tengah bekerja.

Jujur saya amat prihatin melihat kenyataan ini. Dengan kondisi Ardi yang nganggur seperti itu, saya khawatir ia terjebak pada aktivitas negatif (na’uzubillahiminzalik). Karena itu saya beranikan diri untuk ikut turun tangan ‘menyelamatkan’ masa depan salah satu tunas bangsa ini (taelah).

Saya memutuskan untuk mengikutsertakan Ardi di kelas Kejar Paket B lantaran usianya yang sudah 16 tahun namun belum memiliki ijazah SMP. Sementara jika Ardi ingin melamar kerja ataupun ikut kursus keterampilan di Balai Latihan Kerja (BLK), minimal ia harus punya ijazah SMA. Karena itu, untuk mengejar ketertinggalannya, Ardi saya daftarkan Kejar Paket B di PKBM Negeri 12 yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya. Dan jika ia lulus Kejar Paket B, maka lanjut ke Kejar Paket C insyaallah.

PKBM Negeri 12 Tengah, Jakarta Timur

PKBM Negeri 12 Tengah, Jakarta Timur

Dua hari pertama sekolah di PKBM, ia selalu datang terlambat. Ibunya sudah marah-marah karena Ardi selalu bangun kesiangan. Bahkan saking gemesnya, ibu saya pun ikut emosi dan menyarankan saya untuk membatalkan menjadi orang tua asuh dari anak ‘bermasalah’ ini.

Bismillah… semoga Allah selalu meluruskan niat saya. Tidak ada yang bisa membolak-balik hati seseorang kecuali Allah SWT. Semoga Allah membukakan hati dan pikiran Ardi agar ia bersemangat dan mau berjuang untuk masa depannya dan Memudahkan jalannya untuk mendapatkan ijazah SMP dan SMA secara jujur… amiiin ya Allah.

Family time with KRL comuter line Jabodetabek 😊 – at Stasiun Tanah Abang

View on Path

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,283 other followers