Homeschooling dan Kuttab

Pada beberapa postingan sebelumnya, saya pernah mengukuhkan diri untuk menerapkan Homeschooling (HS) untuk anak-anak saya, sebagai alternatif pendidikan (baca: sekolah). Mengapa demikian? Alasannya utamanya karena kita adalah generasi akhir zaman, dan anak-anak kita adalah generasi yang akan berhadapan dengan Dajjal sekaligus mengusung kejayaan terakhir Ummat Islam insyaallah.

kiamat terjadi

Tentu memerlukan waktu yang panjang dan rumit buat kami sebagai orang tua untuk merancang pendidikan seperti apa untuk menyiapkan generasi pemegang kejayaan Islam mendatang ini. Kurikulum seperti apa yang harus dicanangkan untuk mereka. Alhamdulillah Allah memperkenalkan kami pada Kuttab Al Fatih. Saya tidak perlu membahas di sini apa itu Kuttab Al Fatih, silakan klik saja di sini. Singkat cerita, apa yang dicita-citakan Kuttab Al Fatih sejalan dengan cita-cita kami sebagai orang tua. Tentu ini memudahkan kami dalam menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak kami.

Pada akhirnya saya menyebut terminologi “Homeschooling” sebagai antitesis dari “Sekolah”. Mengapa demikian? Karena banyak sekali pendidikan alternatif selain sekolah umum yang kurikulumnya jauh berbeda dengan kurikulum Kemendikbud. Bahkan ada (mungkin) ribuan keluarga dan komunitas yang menyelenggarakan homeschooling di wilayah masing-masing.

Saya bukan anti sekolah atau anti kurikulum Kemendikbud. Justru saya bersyukur karena Kemendikbud mengakui adanya pendidikan-pendidikan alternatif tersebut atau yang sering disebut sebagai pendidikan nonformal. Hanya saja, saya dan suami memilih suatu penyelenggaraan pendidikan yang tidak mubazir, sehingga anak-anak benar-benar belajar hal yang pasti akan ia butuhkan kelak, baik di dunia maupun di akhirat insyaallah.

Lucunya, pendidikan alternatif–yang bisa dibilang anti mainstream–ini peminatnya justru membludak. Wajar sih, karena jumlah tenaga pengajar dan kelas yang masih terbatas. Berbeda dengan sekolah umum yang jumlah guru dan kelasnya sangat banyak dan tersebar dimana-mana. Itu sebabnya, saya tidak kaget ketika anak saya tersisih saat tes masuk Kuttab Al Fatih. Bayangkan saja, kuota murid hanya 48, tapi pendaftarnya mencapai lebih dari 150 orang! Karena itu dalam sebuah status di facebook, saya sempat menulis bahwa kami insyaallah akan menjadi praktisi homeschooling (HS). Yap, kami akan menjalankan HS dengan kurikulum Kuttab Al Fatih atau bisa disebut ikuttab.

Qodarullah, di akhir masa pendaftaran ulang anak kami ternyata bisa diterima bersekolah di Kuttab Al Fatih karena ada siswa yang mengundurkan diri. Alhamdulillah… ternyata Allah menakdirkan anak kami untuk belajar langsung pada ustadz-ustadz hafidz Quran dan kompeten di bidangnya.

IMG-20170204-WA0002

Kai saat tes masuk Kuttab Al Fatih

Buat para orang tua yang bercita-cita sama seperti saya, namun belum bisa menyekolahkan anak-anaknya ke Kuttab Al Fatih, jangan sedih. Ternyata ada banyak lembaga pendidikan yang se-visi dengan Kuttab Al Fatih. Sepanjang yang saya tahu, mereka adalah Kuttab As Sakinah di Pekanbaru, Riau dan SDQ Al Hayyah di Condet, Jakarta Timur.

Bimbing kami Ya Allah… agar anak-anak kami siap menyambut kegemilangan Islam di akhir zaman. Amiiin Ya Rabb.

Membiasakan Anak Sholat

Saya pernah membaca sebuah hadits yang isinya memerintahkan anak-anak usia 7 tahun untuk sholat, dan jika sampai usia 10 tahun belum juga mau sholat maka dibolehkan memukul mereka. ‘Memukul’ dalam hadits Rasulullah ini menurut para ulama maksudnya adalah pemukulan yang mendidik, bukan yang menyakiti apalagi membuat trauma.

Kai baru berusia 2 tahun. Tak ada keharusan buat saya sebagai orang tua memerintahkan, apalagi memaksanya untuk sholat. Namun kejadian beberapa pekan terakhir ini membuat saya sungguh terharu;

Ahad lalu, saat silaturahim ke rumah teman, saya mengajak Kai. Kebetulan tak lama setelah kami sampai, azan ashar berkumandang. Tiba-tiba tanpa disuruh, tiba-tiba Kai berdiri sambil berkata, “Ibu, ayo sholat, udah azan”. Subhanallah T_T

foto ini diambil saat Kai sholat tarawih di masjid

foto ini diambil saat Kai sholat tarawih di masjid

Pada hari yang sama, saat saya dan teman-teman sedang asik ngobrol, tak terasa hari sudah menjelang magrib. Buru-buru saya mohon pamit pulang. Kami pun bergegas menuju pangkalan ojek terdekat yang memang terletak persis di sebelah masjid. Tiba-tiba dalam perjalanan menuju pangkalan ojek, azan berkumandang, dan saya pun tidak melihat satu pun tukang ojek di pangkalannya. Mungkin karena mereka bersiap sholat magrib.

“Kai mau ke situ,” ujar Kai sambil menunjuk masjid.

Saya tidak menghiraukan permintaan Kai. Saya menggandengnya dengan bergegas hendak mencari ojek di pangkalan lain yang letaknya lebih jauh. Namun saat kami tepat melewati pintu gerbang masjid, Kai menarik tangan saya sambil merengek, “Kai mau sholat di masjiiiid!”

Masyaallah… Subhanallah… Rasanya berdosa bagi saya jika tidak menghiraukan rengekan mulianya. Maka saya pun memenuhi keinginan Kai sambil berharap semoga tukang ojek sudah bermunculan usai sholat magrib.

Maka dengan keki saya masuk ke masjid yang isinya pria semua. Lebih keki lagi, ketika saya hendak wudhu, ternyata tempat wudhu wanita dikunci. Mau tak mau saya harus wudhu di tempat pria. Sambil memohon pada Allah semoga tindakan ini tidak menjadi fitnah, saya pun wudhu dengan tidak membuka jilbab. Kai juga ikut wudhu di samping saya.

Sejurus kemudian kami sholat magrib berjamaah di masjid tersebut. Kai senang sekali, meskipun gerakan sholatnya masih belum sempurna dan tertib. Tapi wajah bahagia nampak jelas di wajahnya. Saya pun merasa lega karena telah menjalankan kewajiban. Alhamdulillah.

Beberapa hari belakangan ini, sepulang kantor ketika hari menjelang magrib, Kai selalu antusias menunggu azan magrib. Dan begitu azan berkumandang, tanpa aba-aba Kai langsung menuju kran air untuk wudhu, kemudian bersama-sama menunaikan sholat. Bahkan usai sholat magrib, Kai juga antusias untuk membaca Quran bersama. Subhanallah walhamdulillah.

Kai ngaji (padahal belum bisa baca)

Kai ngaji (padahal belum bisa baca)

Pagi tadi, saat azan Subuh berkumandang, Kai terbangun ngelilir (mengigau. Red). Karena hari masih gelap, maka saya tenangkan kembali dia untuk tidur lagi. Setelah dia kembali tenang, saya pun bergegas sholat qobliyah subuh. Tanpa diduga, Kai menangis, “Ibuuu… Kai mau sholat…”.

Buru-buru saya selesaikan sholat sunnah rawatib yang sedang saya kerjakan. “Kai mau sholat?” tanya saya.

“Mau,” jawab Kai.

“Wudhu dulu, yuk!”

Lalu Kai bangkit dan menuju kran air untuk wudhu. Setelah itu kami gelar sajadah kecilnya dan kami bersama-sama sholat subuh. Subhanallah walhamdulillah…

Kalau kita kembali kepada hadits Rasulullah tentang pendidikan sholat untuk anak-anak, sejatinya pemukulan itu tidak akan pernah terjadi jika para orang tua muslim membiasakan anak-anaknya ikut sholat. Tidak hanya itu, memberikan contoh/teladan dengan tidak melalaikan sholat adalah pendidikan sejak dini untuk mencintai sholat. wallahua’lam bishawab.

Tips Sukses Mendidik Anak Bagi Ibu Bekerja

WorkingMomDi zaman modern ini, tidak sedikit para ibu yang menjalani peran ganda, sebagai ibu sekaligus pekerja. Beragam alasan melatarbelakangi para ibu harus bekerja, salah satunya alasan ekonomi. Kondisi ini membuat para ibu bekerja mau tak mau harus mempercayakan urusan rumah tangga dan mendidik anak kepada orang lain.

Lalu, bagaimana agar Anda sebagai ibu bekerja juga sukses mendidik anak?

1. Jangan Merasa Bersalah

Mungkin banyak kasus kenakalan anak dan remaja yang disebabkan oleh sedikitnya perhatian dari ayah ibu mereka yang sibuk bekerja. Namun tidak sedikit juga anak dan remaja bermasalah ternyata tumbuh dalam keluarga yang ibunya di rumah saja alias tidak bekerja. Karena itu, kesuksesan mendidik anak tidak diukur dari jumlah waktu bersama anak di rumah. Sebagai contoh, kita bisa melihat Barack Obama yang sukses terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat kulit hitam pertama. Ternyata seorang Barack Obama dibesarkan oleh Ann Dunham, seorang ibu bekerja yang memiliki kesibukan sebagai antropolog.Karena itu, para ibu bekerja jangan pernah merasa bersalah karena meninggalkan sang anak demi pekerjaan. Apalagi jika alasan Anda bekerja adalah untuk membantu perekonomian keluarga. Itu adalah alasan yang mulia. Toh Anda bekerja demi anak Anda juga kan?

2. Sisi Positif Ibu Bekerja

Selain memiliki kemandirian finansial, ada sisi positif lain dari ibu bekerja, antara lain pengetahuan lebih luas. Karena biasanya ibu bekerja bergaul dengan lebih banyak orang, daripada ibu yang di rumah saja, maka pengetahuan ibu bekerja lebih luas. Pengetahuan ini tentu penting dalam mendidik anak. Sisi positif lainnya adalah belajar kerja keras. Dengan menyaksikan sang ibu bekerja, maka anak belajar tentang kerja keras. Ia belajar memahami bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini, butuh kerja keras dan perjuangan untuk memperoleh sesuatu. Karena itu, ia pun juga belajar untuk bertanggung jawab dan tidak menyia-nyiakan uang.

3. Pengasuh dan Guru Sebagai Partner

Karena ibu bekerja harus menitipkan anaknya pada orang lain, tentu orang yang dititipkan tersebut juga harus menjadi partner dalam mendidik. Jika sang anak dalam kesehariannya berada di rumah bersama pengasuh, maka jadikan sang pengasuh sebagai partner. Sering-seringlah berdiskusi dan transfer ilmu dengan sang pengasuh agar memiliki kesamaan visi dan misi dalam mendidik anak. Jika sehari-hari ketika ibu bekerja sang anak berada di day care atau Tempat Penitipan Anak (TPA), maka komunikasi yang intens dengan para guru dan asisten di TPA adalah keharusan. Sempatkan untuk berkomunikasi dengan mereka di sela-sela waktu kerja Anda.

4. Jangan Memanjakan Anak

Ketika hampir seharian Anda meninggalkan anak, tentu ada keinginan untuk memanjakannya sebagai kompensasi waktu yang hilang bersamanya. Hal ini berbahaya untuk tumbuh kembang karakter anak. Ia akan tumbuh menjadi anak yang manja dan tidak mandiri. Lain halnya jika Anda pulang dengan membawa oleh-oleh untuk sang buah hati, karena ia telah menjadi anak yang manis selama Anda tidak di rumah. Ini lebih bernilai edukasi untuk anak, karena ini adalah hadiah atas perilakunya yang baik.

5. Tetaplah Berkomunikasi

Meskipun terpisah jarak antara ibu dan anak, bukan berarti kedekatan ibu bekerja dengan sang buah hati pun terentang jarak. Apalagi saat ini banyak teknologi canggih yang bisa mendekatkan Anda dan si buah hati. Sempatkanlah untuk berkomunikasi dengan anak di sela jam kerja, baik melalui telepon, sms, chatting, atau webcam. Hal ini juga bermanfaat untuk memastikan keadaan anak Anda baik-baik saja dengan pengasuhnya. Selain berkomunikasi menggunakan teknologi, bisa juga menggunakan media sederhana seperti papan tulis, secarik kertas yang ditempel di muka kulkas, atau pun buku komunikasi. Ide ini untuk mengakomodir keinginan anak untuk curhat panjang lebar dengan sang ibu di kala ibunya sedang bekerja. Kebiasaan ini pun lama kelamaan akan melatihnya untuk lancar menulis.

6. Lakukan dengan Cinta

Ketika ibu bekerja sedang bersama sang buah hati, nikmati kebersamaan tersebut dengan cinta. Karena itu, meskipun jumlah waktu dengan anak lebih sedikit, namun jauh lebih bermakna. Bahkan ketika ibu bekerja menyiapkan bekal makanan untuk anak-anaknya, lakukan pula dengan sepenuh hati. Anda bisa menata dan membentuk makanan bekalnya dengan bentuk-bentuk lucu ala bento atau nasi bekal khas Jepang. Tak lupa beri label tulisan pada kotak makanannya, seperti “Ibu sayang kamu” atau “habiskan bekalnya ya, sayang”. Tentu sang anak akan lebih bersemangat memakan masakah buah cinta ibunya daripada jajan sembarangan.

Selamat bekerja, Ibu!

Tulisan pernah dimuat di situs ini

Anakmu Bukan Anakmu

Puisi karya Kahlil Gibran ini adalah favorit saya, karena selalu menyadarkan diri yang ‘serakah’ ini akan hakikat kehidupan dan menjalankan amanah Tuhan sebagai orang tua

Anakmu Bukan Anakmu
Anak adalah kehidupan,
mereka sekedar lahir melaluimu
tetapi bukan berasal darimu

Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayangmu tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya,
karena jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun

Bisa saja mereka mirip dirimu,
tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan,
dan tidak tenggelam di masa lampau

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur
Sang Pemanah Mahatahu sasaran bidikan keabadian
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap

Pekerjaan Bergengsi

Setelah membuat iklan lowongan ini, saya jadi tergelitik menulis…

Beberapa menit setelah saya klik tombol publish, beberapa e-mail, komentar, dan sms masuk menanyakan perihal lowongan tersebut. Ketika saya beri tahu besaran honor yang akan diterima, para pengontak tersebut masih berminat. Saat saya beri tahu jam kerja yang fleksibel, para pengontak tersebut juga tak bergeming. Namun ketika masuk pada pembahasan au pair, saya pun menjelaskan deskripsi pekerjaannya. Maka spontan mereka mundur perlahan.

Memang au pair itu apa sih?

Menurut wikipedia, ‘au pair’ adalah sebuah profesi yang fungsinya sebagai asisten rumah tangga, dimana pekerjaannya seputar pekarjaan rumah tangga dan merawat anak. Istilah “au pair” sendiri berasal dari Bahasa Perancis yang artinya “sama”. Ini mengindikasikan bahwa, au pair mendapat perlakuan “sama” seperti anggota keluarga lainnya. Inilah yang membedakan antara ‘au pair’ dan ‘servant’ (pembantu).

Di Eropa dan Amerika, au pair biasanya adalah pelajar atau mahasiswa dari negara lain yang bekerja pada sebuah keluarga di suatu negara. Au pair tersebut tinggal bersama keluarga tempat ia bekarja. Layaknya anggota keluarga, au pair diperlakukan seperti anak sendiri. Ia mendapat uang saku, kursus bahasa, dan tentu saja makan bersama di satu meja yang sama di keluarga tersebut.

Di negara-negara maju, au pair adalah hal lumrah. Bekerja pada sebuah keluarga untuk melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak tidak pernah dipandang sebelah mata. Bahkan tidak jarang para pelajar atau mahasiswa di sana memanfaatkan kesempatan ini untuk mengisi liburan mereka. Sambil berlibur, tambah pengalaman, tentu saja mereka juga mendapatkan tambahan uang jajan.

Namun sayangnya di Indonesia, pekerjaan domestik masih dipandang sebelah mata. Tidak peduli besaran honor yang diberikan, jika pekerjaan tersebut tidak prestis, lebih baik tidak. Gaji kecil tapi berdasi dianggap lebih layak, daripada gaji lebih besar tapi ‘tak berdasi’.

Saya tidak menyalahkan para calon pelamar yang mundur teratur. Mungkin saja pekerjaan ini tidak bisa membuat bangga calon mertua mereka

Saya juga tidak menyalahkan budaya kita yang memandang sebelah mata pekerjaan domestik. Saya hanya ingin zaman berubah. Mungkin pengalaman ini mengajarkan saya dan anak saya kelak untuk menghargai semua profesi yang menghasilkan uang secara halal. Insyaallah saya juga akan mendorong anak saya untuk bekerja sebagai ‘au pair’ saat musim libur sekolahnya nanti.

Sekolah Impian

“Hari ini kita belajar apa, Bu?”

“Hari ini kita belajar matematika. Nah, ayo kita ke pasar!”

Dengan berbekal keranjang belanja dan dompet berisi sejumlah uang, sang ibu dan anaknya belajar matematika dengan praktek langsung.

Selama perjalanan ke pasar dan ketika berada di pasar, ternyata sang anak tidak hanya belajar matematika, tetapi juga pelajaran budi pekerti, karena ketika naik bis, ada nenek tua yang harus diberikan tempat duduk.

Selain budi pekerti, sang anak juga belajar agama, betapa Allah SWT Maha Adil dan Pemurah, karena meskipun penjual tempe di pasar ada puluhan kios, tetapi masing-masing mereka tetap meraup untung. Bahkan para buruh pekerja kasar yang hanya bermodal tenaga pun ternyata bisa mendapatkan uang dengan memanggul berkarung-karung beras. Maka firman Allah yang berbunyi, “Allah tidak akan merubah nasib seseorang, jika orang itu tidak berusaha mengubah nasibnya,” menjadi terasa nyata di mata sang anak.

Tidak berhenti di situ. Sang anak juga belajar mata pelajaran ekonomi (IPS) dengan melihat pedagang sayur-mayur yang jumlahnya lebih banyak daripada jumlah pedagang buah. Hal itu merupakan wujud dari teori ‘supply on demand‘, dimana pembeli (demand) sayur-mayur lebih banyak daripada buah-buahan.

Pelajaran matematika sederhana pun tentu saja telah didapatkan sang anak. Dengan berbekal selembar uang Rp 10 ribu yang telah dibelanjakannya, sang anak jadi memahami penambahan dan pengurangan. Ia pun sekaligus belajar manajemen keuangan sederhana. Bagaimana dengan uang Rp 10 ribu ia bisa sampai ke pasar dan pulang lagi ke rumah (kebutuhan ongkos), serta membeli barang-barang yang ingin (atau dibutuhkan) dibelinya.

Sesampainya di rumah, kegiatan seru di pasar tadi harus diceritakannya dalam bentuk tulisan. Maka sang anak belajar pelajaran Bahasa Indonesia.

***

Demikianlah secuil imajinasi saya tentang konsep sekolah impian saya…

Meskipun saya menyadari, sekolah yang melakukan kegiatan praktek yang banyak biasanya biayanya pun mahal. Tidak heran sih, karena butuh banyak prasarana dan fasilitas pendukung yang dibutuhkan. Sementara kegiatan seperti pergi ke pasar sebenarnya bukanlah kegiatan ‘wah’, karena hampir setiap pekan para ibu mendatangi tempat ini.

Rekreasi ke kebun binatang pun bisa dibilang kegiatan akhir pekan yang kerap dilakukan para orang tua bersama buah hati mereka. Kegiatan ini sebenarnya merupakan praktek pelajaran Biologi, dimana sang anak melihat–bahkan mendengarkan dan merasakan–langsung wujud hewan-hewan yang disebutkan oleh buku teks. Tiket masuk Kebun Binatang Ragunan (KBR) Rp 5000 per orang. Jika pergi bertiga (Ayah, Ibu, anak) maka butuh biaya Rp 15 ribu. Sementara biaya perjalanan menuju KBR naik busway Rp 3500 per orang. Maka ongkos bertiga pulang pergi Rp 21 ribu. Untuk makan siang dan snack bisa bawa bekal sendiri. Maka dibutuhkan biaya Rp 36 ribu untuk belajar Biologi di ‘laboratorium’ KBR. Namun bayangkan jika kegiatan berkunjung ke kebun binatang ini diselenggarakan oleh sekolah, bisa dipastikan biayanya lebih dari Rp 36 ribu per anak.

Itu sebabnya saya terpikir untuk menyekolahkan anak saya di ‘Sekolah Rumah’ alias home schooling. Meskipun banyak yang memaparkan kelemahan home schooling terutama dari segi sosialisasi. Karena anak hanya terbiasa bersosialisasi dengan ibunya sendiri, atau guru yang dipanggil ke rumah, maka anak produk home schooling dikhawatirkan kelak akan susah bersosialisasi.

Saya tidak menampik kekhawatiran itu. Namun saya yakin kendala itu bisa diatasi antara lain dengan sering mengikutkan sang anak dengan komunitas-komunitas lain selain keluarganya. Misalnya dengan mengikutkannya les musik, menari, kumon, pencak silat, dan lain-lain.

Well, yang pasti apa yang saya tulis ini adalah sekolah impian yang insyaallah paling mungkin saya wujudkan untuk anak saya, yaitu home schooling. Wallahua’lam bishawab…

List sekolah di Jabar

http://data.ictjabar.org/index.php?naon=rekapjenis
Semoga link ini bermanfaat buat para ortu di wilayah Jawa Barat yang sedang dan akan mencari sekolah untuk anak tercintanya

Sarjana Wajib Mengajar

“Di Jawa sarjana terbuang. Di Papua sarjana kurang,” ungkap seorang guru asal Merauke, Papua, yang tidak sempat saya tanya namanya.

Obrolan bermula dari membunuh kejenuhan macet di sore hari menjelang pergantian tahun. Meskipun awalnya basa-basi, namun obrolan dengan pak guru di angkot 06 jurusan Kp Melayu-Gandaria, Jakarta, cukup mengetuk hati saya.

Pak guru matematika yang ternyata juga kepala sebuah SD swasta di Merauke ini harus merangkap satpam di tempat ia bekerja. Pasalnya, hanya 4 guru yang bertugas di SD-nya. Sehingga 1 guru harus mengajar lebih dari 1 kelas.

Kondisi serupa dialami sekolah-sekolah lain di Papua. Bahkan menurutnya, rata-rata kualifikasi guru di sana tamatan SMA dan D2. Jarang sekali yang S1.

“Ada juga guru sukwan (sukarelawan. Red) dari Jawa,” ujarnya. Tapi tetap saja jumlahnya masih belum mencukupi kebutuhan tenaga pengajar di sana.

Saya jadi bepikir, kenapa tidak pemerintah membuat program yang intinya mengatasi pengangguran di Pulau Jawa sekaligus pemerataan pembangunan & pendidikan di wilayah Timur Indonesia.

Andai saya menjadi anggota DPD RI, saya akan mencetuskan program ‘Wajib Mengajar‘. Saya akan menggandeng seluruh anggota DPD RI dari seluruh daerah di Indonesia untuk berkolaborasi dengan Kemendikbud dan seluruh pemda. Tujuannya adalah membuat program ‘wajib mengajar di daerah minus guru’ sebagai syarat mengantongi ijazah S1 di semua perguruan tinggi di daerah yang kelebihan sarjana, seperti Pulau Sumatera dan Jawa.

Program ini sendiri mirip seperti Praktek Tidak Tetap (PTT) untuk para calon dokter umum, dimana para calon dokter diwajibkan berpraktek di puskesmas di pelosok tanah air dalam jangka waktu tertentu, sebagai syarat kelulusan. Demikian pula dengan Wajib Mengajar. Para sarjana yang telah lulus secara akademis diwajibkan mengajar di pelosok tanah air dalam jangka waktu tertentu, sebagai syarat mendapatkan ijazah sarjana.

Andai pun saya tidak menjadi anggota DPD RI, saya tetap berharap program seperti ini benar-benar akan terwujud demi Indonesia yang lebih baik… Semoga.

Mimpi Masa Depan

Sebelumnya aku tak pernah berpikir untuk punya rumah sendiri. Toh aku anak tunggal yang tinggal bersama ibu yang sudah sepuh. Ayahku pun sudah 11 tahun dipanggil Allah. Karena itu, yang ada di pikiranku, ketika aku menikah nanti, suamiku harus tinggal di rumah ibu. Dan alhamdulillah suamiku pun tidak masalah.

Namun sesuatu mulai mengusik pikiranku ketika aku sudah menimang bayi. Tentu aku memikirkan masa depannya nanti. Selain berkewajiban memfasilitasi pendidikannya kelak, aku dan suami sebagai orang tua juga bertanggungjawab membesarkannya dalam lingkungan yang kondusif untuk pembentukan kepribadiannya.

Sebagai warga Cililitan, Jakarta Timur yang lahir dan dibesarkan di sana, aku sudah sangat merasa nyaman. Meskipun rumah kami kecil, tapi lokasinya sangat strategis. Ingar bingar jalan raya dan polusi kendaraan sedikit bisa diredam karena lokasi rumah yang masuk gang kecil. Kerindangan 3 pohon belimbing dan puluhan pot tanaman di sekeliling rumah amat menyejukkan area rumah kami. Ditambah lagi, kami sudah mengenal baik para tetangga yang memang asli Betawi. Pokoknya zona nyaman deh!

Tetapi zona nyamanku terusik ketika menyadari tidak adanya fasilitas bermain untuk anak-anak di RW kami. Jangankan lapangan, sepetak tanah kosong untuk sekedar main karet saja tidak ada. Waktu aku kecil masih sedikit beruntung, karena sebelah rumahku tanah kosong. Tapi sekarang sudah dibangun rumah tingkat. Alhasil anak-anak harus bermain di jalan, bahkan kadang di pinggir jalan raya!

Angka kepemilikan sepeda motor yang terus meningkat pun tak kalah memprihatinkanku yang tinggal di gang. Pasalnya, kini sepanjang jalan gang kami dipenuhi parkir sepeda motor. Belum lagi ketika jam macet ibukota mendera, tak sedikit para pengemudi sepeda motor yang memanfaatkan gang kecil kami sebagai jalan alternatif menghindari kemacetan di Jl Dewi Sartika. Otomatis gang kecil kami kerap ramai sepeda motor. Selain berisik dan membahayakan anak-anak, tentu juga polusi udara .

Kenyataan bahwa permukaan air tanah di DKI yang makin menyurut tak kalah menjadi kekhawatiranku. Karena ini artinya petanda krisis air bersih di masa mendatang. Meskipun sehari-hari aku mengonsumsi air PAM, aku ikut prihatin. Lha wong hampir setiap tahun PAM bermasalah dalam distribusi air. Makanya tiap tahun pasti aku mengalami ngantri air dan latihan beban karena menggotong-gotong ember .

Nah, kenyataan tersebutlah yang membawaku pada sebuah impian baru… MEMILIKI RUMAH di area yang kondusif.

Dimanakah itu? Well… menurut pemikiranku yang dhoif ini, area tersebut harus memiliki beberapa syarat, yaitu: alamnya masih asri, air tanahnya bagus, bebas banjir, akses ke ibukota mudah (e.g. dekat stasiun KA/jalan tol), tidak jauh dari masjid, sarana pendidikan yang memadai, rumah sakit, pasar, dan ada sanak saudara yang dekat dari situ. Dimana hayooo…?

*Ket foto: Kai di teras rumah kami yang rindang

Full-Timed Mom VS Working Mom, Mana Lebih Baik?

Working mom (WM) iri sama full-timed mom (FTM) karena FTM bisa mendampingi penuh masa golden age anaknya. Sementara FTM iri sama WM karena WM punya pnghasilan sendiri tanpa tergantung suami. Di sisi lain ada FTM yg merasa bersalah krn hrs jd WM krn pnghasilan suami tdk cukup utk kbutuhan shari-hari.

So, mana yg lebih baik, FTM atau WM? Apakah Islam mengajarkan WM lebih baik dari FTM atau sebaliknya?

Mari kita tengok rumah tangga Rasulullah & Khadijah. Adalah rahasia umum bahwa Khadijah seorang WM. Ia juga mpekerjakan asisten/khadimat di rumahnya. Lantas, apakah anak2nya menjadi anak durhaka? Tidak tuh. Fatimah binti Muhammad justru menjadi orang yg djamin Allah masuk surga.

Fatimah sendiri setelah menikah mjd FTM tanpa asisten. Bahkan ia sempat menangis krn kelelahan menggiling gandum sendirian utk makan keluarga sambil mengasuh Hasan & Husein. Melihat ini, Rasulullah mnghiburnya, “Sabar ya Fatimah, Allah akan membalas jerih payahmu sebanyak bulir gandum yang kau giling”.

Itulah luar biasanya Islam. Islam membebaskan para ibu untuk memilih jalan mereka masing-masing–mau bekerja atau di rumah saja–sejauh bertanggung jawab pada amanah utamanya, yaitu mendidik anak dengan baik dan menjadi istri yang berbakti.

Memang tanggung jawab menafkahi keluarga ada pada suami. Namun jika istri membantu suami mencari nafkah, maka pahala sedekah baginya bila dilakukan dengan ikhlas. Tentunya suami yang bertanggung jawab tidak lantas leyeh-leyeh pas pulang kerja laah… Suami juga kudu tahu diri dengan membantu pekerjaan rumah tangga. Rasulullah sendiri dengan ringan hati menjahit sendiri terompahnya tanpa minta bantuan istrinya.

Jadi, buat para WM, FTM, dan juga para ayah/suami, berhentilah merasa bersalah dan melihat rumput tetangga lebih hijau. Kita semua dibebaskan Allah untuk memilih kok, tanpa paksaan. Tentu saja setiap pilihan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Daripada ngiri-ngirian, lebih baik kita simak yuk 6 nasihat Luqman Al Hakim pada anaknya

1. Jangan mempersekutukan Allah (31:13),
2. Berbuat baik kepada ibu dan bapak (31:14),
3. Sadar akan pengawasan Allah (31:16),
4. Dirikanlah sholat, amar ma’ruf nahi munkar, dan sabar dalam menghadapi persoalan (31:17),
5. Jangan sombong dan membanggakan diri (31:18),
6. Bersikaplah sederhana dan bersuara rendah (31:19)